Archive for Agustus, 2010

Sacred Buddhist Mountain in China

Wu Tai Shan A holy place of Buddhism Unity

One’s of Sacred buddhist mountain in China

The center of Chinese Buddhism for two thousand years, Wu Tai Shan was originally a Taoist sacred mountain known as Tzu-fu Shan, meaning ’Purple Palace Mount,’ and was believed to be the abode of various Taoist immortals. Wu Tai Shan actually encompasses a number of different mountains, but long ago Buddhists chose five particular flat-topped peaks as the perimeter of the sacred area, hence the name which means ’Five Terrace Mountain’. The highest peak, at 10,033 feet, is called Northern Terrace and the lowest, at 8153 feet, is called Southern Terrace; between these two peaks stretch twelve miles of mountains.

The first temples on Wu Tai Shan were built during the reign of Emperor Ming Di, 58-75 AD and textual sources describe an estimated 200 temples erected during the Northern Ch’i dynasy of 550-577 AD, but subsequently destroyed. Today, fifty-eight temples built after the Tang Dynasty (A.D. 684-705) still stand as well as the oldest wooden temple in all of China, the Nan Chan Si temple built in 782 AD. There are forty-eight temples of Chinese Buddhism and ten Tibetan Lamasaries. Taihuai town, in the center of the Wu Tai mountains, is surrounded by the five peaks. Most of the temples are located near the town. The peaks of Wu Tai and all the surrounding temples are sacred to Manjushri, the Buddhist Bodhisattva of Wisdom and Virtue. Scholars trace the beginning of the Manjushri association with Wu Tai Shan to the visit of an Indian monk who visited in the 1st century AD and reported a vision of the Bodhisattva. Manjushri (called Wenshu Pusa in Chinese) is believed to reside in the vicinity of Wu Tai Shan and numerous legends speak of apparitions of the Bodhisattva riding a blue lion in the high mountains above the monasteries.

Wu Tai Shan is widely known not only to the people of China but also to Buddhists in Japan, India, Sri Lanks, Burma, Tibet and Nepal. Wu Tai’s Buddhism is indissolubly tied up with that of Japan and had a great influence on that country. Seeking after the Buddhist truth, such famous monks as Ennin and Ryoosen in the Tang Dynasty, and Choonen and Seisan in the Song Dynasty made long pilgrimages to Wu Tai Shan. The Tantric master Amoghavajra also came to meditate here.

Iklan

Leave a comment »

Sadhana di Waktu Gerhana Terjadi

「Sadhana pada saat Gerhana」 adalah Ajaran Buddha

gerhana

Mahaguru pernah menjelaskan bahwa waktu yang terbaik untuk melakukan sadhana Akasagarbha Boddhisattva menambah kekuatan pikiran adalah saat gerhana matahari dan bulan?

Yang dimaksud dengan sadhana pada saat gerhana adalah menekuni sadhana tertentu pada saat terjadinya gerhana matahari atau bulan, untuk memperoleh siddhi duniawi maupun adi duniawi (lokiya maupun lokuttara) , tata cara ini semua telah tercatat dalam Tripitaka.

Beberapa Sutra yang memuat tentang sadhana pada saat gerhana.

《佛說大悲空智金剛大教王儀軌經》(《喜金剛本續》 T. 417)
Sutra Tata Cara Mahakarunasunyajnanavajragururaja / Hevajratantra

《蘇悉地羯羅經》(T. 807)
Susiddhikara Sutra

《佛說大摩裏支菩薩經》和《末利支提婆華鬘經》(T. 564 ~ T. 566)
Sutra Bodhisattva Marici dan Sutra Sanggul Maricideva

《佛說妙吉祥最勝根本大教經》(T. 604)
Sutra Manjusrivijayamulagururaja

Sebenarnya pemilihan waktu gerhana adalah mirip dengan pemilihan 10 hari suci untuk atasila Mahayana. Namun kita masih memerlukan bukti dari sutra maupun sastra karya Guru Leluhur Buddhisme sebagai acuan instruksi dari mulut Suciwan, sehingga dapat mencegah terjadi nya fitnahan dari orang yang kurang memahami dan hanya berkomentar memakai emosi belaka (fenomena katak dalam tempurung).

1. Bagian Sutra yang diterjemahkan dalam bahasa mandarin:

(mencakup Cina, Jepang dan Korea)
Salah satu praktisinya adalah leluhur pendiri Tantra Timur di Jepang (Shin Gon) yaitu Kobo Daishi / Konghai Dashi (空海大師) yang menekuni Sadhana Akasagarbha hingga Memperoleh Kekuatan Ingatan dan berhasil membuktikan yukta.

Dalam Sutra Tilisamaya dan Sutra Kumpulan Dharani ada Tata Cara Ritual Memperoleh Kekuatan Pikiran, ada petunjuk sadhana saat gerhana untuk memperoleh siddhi. 《底哩三摩耶經》和《陀羅尼集經》

Tentu saja menurut Para Guru leluhur Budhist yang menjadi penterjemah sutra ke dalam bahasa mandarin, bahwa segala catatan dan instruksi dalam sutra tersebut adalah ajaran Sejati dari Sakyamuni Buddha. Maka kita perlu menyajikan terjemahan sutra yang memuat mengenai sadhana saat gerhana,serta bukti pengesahan dari Para Guru Leluhur Buddhist mengenai manfaat sadhana pada saat gerhana.

Selain Tiga Guru Pelopor tantrayan pada jaman Dinasti Tang, masih ada lagi Yasogupta, Subhakarasiṃha、Atigupta、Zhitong、Ratnacinta、Ajitase na、…..dan lain lain. Biksu Ajitasena telah menterjemahkan Sutra Sutra ucchusma 「穢跡金剛」. Selain itu biksu penterjemah Sutra mahaprajnaparmita 《大般若波羅蜜多經》yaitu Mahabiksu Xuanzang dan penterjemah Maharatnakuta Sutra 《大寶積經》Mahabiksu Bodhiruci,juga ada menterjemahkan sutra tantrayana yang membahas sadhana saat gerhana.

Bahkan Mahabiksu dari Dinasti Song, yaitu Tianxizai dan Fa Hsien atau Dharmadeva serta Dharmapala ,dalam terjemahan sutra tantra juga ada hal sadhana saat gerhana.

2. Bagian Sutra Tibetan

Dalam Tibetan Tantra mempunyai sastra yang lebih lengkap daripada Buddhism Tiongkok .

Dalam Kalacakratantra,Ada hubungan antara tubuh manusia sebagai mikrokosmos dengan fenomena makrokosmos yaitu kemunculan bulan dan matahari serta gerhananya, dalam nadi tengah manusia ada pergerakan angin prajna, orang biasa tidak bisa merasakannya, namun seseorang yang memiliki pencapaian tertentu bisa merasakannya. Sedangkan kebiasaan di Tibet saat gerhana matahari atau rembulan, orang orang akan keluar rumah untuk melafal sutra dan mantra, karena pada saat itu akan ada perubahan mendadak dari garis cahaya, ini dapat menyebabkan kematian mendadak bagi makhluk yang hidupnya bergantung pada cahaya maupun kegelapan, maka pelafalan sutra dan mantra pada saat itu dapat membantu mereka bertumimbal lahir di alam bahagia. (latihan belas kasih dan kepedulian)

Mipham Rinpoche
Menurut keempat aliran besar di Tibet semua berpendapat bahwa sadhana saat gerhana adalah ajaran dari Sakyamuni Buddha buktinya :
Di Nyingmapa, Riwayat Mipham Rinpoche yang menekuni White Manjusri, memperoleh mujijat yang nyata dari penekunan saat gerhana. Dalam “Sastra Mula Pranidhana dari Samanthabadra Tathagata memunculkan prajna” 《普賢王如來祈禱能顯自然智根本願文》,juga disinggung bahwa melafalnya hendaknya pada saat gerhana.

『Saat gerhana matahari, dalam Surya Sutra 《太陽經》 dikatakan : pahala bertambah bilion kali
Dalam Candra Sutra 《太陰經》 :Saat gerhana bulan, pahala menjadi 70juta kali.
Bila gerhana muncul di saat waktu yg baik, maka pahalanya akan berlipat lagi dari keterangan di atas.』

(4 waktu unggul adalah tiap bulan lunar, tanggal 1, 8, 14, 30, ada juga penelitian yang menyebutkan bahwa gerhana matahari pasti terjadi di saat imlek tanggal 1 atau sekitarnya, dan gerhana bulan terjadi di tanggal 15 atau sekitarnya.
(Surya Sutra 「太陽經」dan Candra Sutra 「太陰經」yang dimaksud diatas adalah Sutra Tibetan,bukan Sutra mandarin yang seperti biasa dilafal di vihara,ada kesamaan nama tapi berbeda isinya. Sutra ini terdapat dalam Tibetan Tripitaka )

Panchensakyasri mengatakan : “Ada perbedaan buah pahala saat empat waktu unggul dengan hari biasa. ..Saat gerhana matahari pahala bertambah billion kali, saat gerhana bulan, 70juta kali. Bila di empat waktu unggul terjadi gerhana, pahalanya tak terhingga.

Panchensakyasri adalah pimpinan vihara yang terakhir di Vihara Nalanda India. Tahun 1204 Masehi diundang membabarkan Dharma ke Tibet.

Di tiga silsilah sila Tibetan, salah satunya adalah Silsilah Panchen yang diwariskan oleh Beliau.
Sedangkan 4 Leluhur Sakyapa menerima sila biksu di bawah pintu Dharma Beliau dan mempelajari Pancavidya.

Selain itu dalam Gelugpa, Tsongkapa juga mengambil sila kebiksuan dalam naungan pintu silsilah Panchensakyasri.

(2). Menurut Kalender Kalacakra《時輪曆精要》seperti yang tertuang dalam terjemahan dalam bahasa mandarin di buku Penelitian dan Praktek Penanggalan Tibetan:《藏曆的原理與實踐》

Disitu terdapat :『Buddha banyak mengajarkan dalam Sutra Mahayana dan Vajrayana,bahwa saat terjadi gerhana bulan, efek segala kebajikan dan kejahatan akan meningkat 7 koti . Sedangkan saat gerhana matahari, meningkat 10 koti. Meskipun di tanah ini tidak dapat melihat gerhana, hanya di tanah lain yang tampak, efeknya tetap akan meningkat juga. . Oleh karena itu wahai para sadhaka yang bijaksana, saat itu hendaklah tambah tekun bersadhana, tahap pembangkitan (sadhana awal / luar) maupun sadhana tahap penyempurnaan. Lakukan pelafalan, berziarah, beramal, melepas satwa dan perbuatan bajik lainnya』

Juga dikatakan :『Dulu Buddha mencapai ke Buddha an, Rahu memasuki cakra gerhana bulan, para suciwan saat ini juga demikian saat merealisasikan kebenaran rahasia dan trikaya, kalacakra external (外時輪) memasuki gerhana matahari rembulan, Kalacakra internal (內時輪) terjadi penyatuan antara bija merah dan putih, Kalacakra lain (別時輪) mengalami penyatuan antara Sukha dan Sunya, menghasilkan Mahasuka yang langka. 』

(Mengenai Kalcakra, external, internal dan lain, bisa kita ketahui dari penjelasan Mahaguru Liansheng tentang Kalacakra dalam buku khusus Kalacakra )

Hasil yang istimewa ini diperoleh dari menuruti instruksi dari Kalacakra Sutra.

Dalam Tantrayana dikatakan bahwa nadi pergerakan yang paling penting bagi prana adalah nadi tengah atau “rtsa dbu ma” .
dan nadi kiri dan kanan atau “cang ma” dan “ro ma”
Pergerakan prana di nadi kanan dan nadi kiri berhubungan dengan pergerakan matahari dan bulan.
Pergerakan prana di nadi tengah berhubungan dengan rahu.
waktu pertemuan antara prana di ketiga nadi adalah sama dengan gerhana.

Ditinjau dari beberapa hal diatas, kita sudah bisa yakin bahwa hal tersebut sesuai dengan ajaran Buddha dalam Mahayana dan Tantrayana.

Namun, walaupun cara diatas adalah bagaikan obat yang sangat ampuh, kedisiplinan dan ketekunan sehari hari merupakan sebuah syarat yang tak boleh kurang.

Point penting dari Intisari Penanggalan kalacakra 《時輪曆精要》adalah :

1、Cakra dari tubuh langit、intisari alam semesta.
2、waktu dan posisi derajat bumi
3、posisi bulan dan matahari
4、pergerakan lima bintang besar
5、Rahu (titik pertemuan antara jalur kuning dan putih) dan laporan gerhana
6、pengaturan bulan dan matahari
7、musim
8、panjang pendeknya siang dan malam, waktu per hari.

Leave a comment »

Vajradhara-Jin Gang Zong Chi (Dorje Chang)

Mulaguru Sakyamuni memutar Dharmacakra

Namo Mahamulacarya Liansheng Fo
Namo Mulaguru Sakyamuni Buddhaya

sebelumnya kita telah membahas tingkatan Buddha dalam Vajrayana, nah…

Apakah Buddha ada yang lebih rendah atau ada yang lebih tinggi tingkatannya???

lalu mana yang tertinggi di antara Amitabha, Sakyamuni atau Dorje Chang ?

Kenapa Tingkatan Dorje Chang berada di urutan teratas ?

apakah ini maksudnya ?

jawabannya ada di buku Mahaguru yang ke- 200 “Helai Helai pencerahan”
yang full membahas Sakyamuni Buddha !

silahkan periksa, dan disana ada juga pernyataan Mahaguru bahwa :
“Kita lihat bersama bahwa manifestasi Sakyamuni Buddha setelah Parinirvana juga tak lepas dari fitnahan ! “


Dorje Chang

Jin Gang Zong Chi – 金刚总持
Vajradhara

Jin Gang Zong Chi (Tibetan – Dorje Chang)adalah Buddha awal (Yuanshifo – 原始佛) Menyimbulkan Buddhata (Kesadaran Sejati Paripurna) , adalah Dharmakaya yang tak berwujud.

Pahala dan kemuliaan yang dikandung Nya adalah tiada yang tak diliputi serta melampaui pikiran awam.

Buddha ada trikaya : Dharmakaya, Sambhogakaya dan Nirmanakaya.

Dalam mengejawantahkan rupa, Dharmakaya menggunakan 2 cara berbeda, yaitu :

1. Nirmanakaya yang memiliki wujud
contohnya adalah Buddha yang bisa dilihat , disentuh dan dirasakan oleh para insan yang masih keruh.

2. Sambhogakaya
rupa yang murni, atau Tubuh Vimala Sukha, adalah Buddha yang hanya bisa dilihat oleh para insan yang berpikiran suci dan Para Bodhisattva tingkat tinggi.

2500 tahun lalu, Sakyamuni Buddha (Nirmanakaya Buddha) merupakan Buddha ke 4 dari 1000 Buddha kalpa saat ini, Pangeran Sidharta Dharmakaya Kesadaran Paripurna , merupakan Nirmanakaya Buddha yang oleh karena Belas Kasih Nya yang tanpa batas sehingga mengambil rupa demi mengajar para insan.

Namun berdasarkan rupa sejati Nya, Sakyamuni Buddha dengan Vajradhara sama sekali tiada beda !

Karena Prajna Sakyamuni Buddha adalah Dharmakaya, ucapan Nya adalah Sambhogakaya, tubuh Nya adalah Nirmanakaya.

Sedangkan wujud Mahaunggul yang ditunjukkan oleh Vajradhara dihadapan Guru leluhur kita Tilopa, semua atribut Nya adalah simbul dari Kesadaran Sempurna. (lihat gambar)

dorje chang
Misal :

Tubuh biru Vajradhara bagai angkasa, menyimbulkan batin Kesempurnaan Sejati atau Dharmakaya.

Hiasan dewata , anting, mahkota permata, gelang, menyimbulkan kemurnian batin yang Sadar atau Sambhogakaya.

Sedangkan tubuh yang menyerupai manusia, merupakan Nirmanakaya yang bisa ditangkap oleh panca indera manusia biasa.

Vajra dan gantha di posisi dada Vajradhara menyimbulkan gabungan antara Prajna dan upaya kausalya.

Maka semua tubuh dan semua kondisi batin yang ditampilkan dapat dijelaskan dengan cara yang berbeda, namun ketiga Tubuh, bagi Buddha yang Sempurna adalah satu belaka, gabungan Trikaya ini adalah :

The Trikaya doctrine (Sanskrit, literally “Three bodies or personalities”; 三身 Chinese: Sānshén, Japanese: sanjin) is an important Buddhist teaching both on the nature of reality, and what a Buddha is. By the 4th century CE the Trikaya Doctrine had assumed the form that we now know. Briefly the doctrine says that a Buddha has three kayas or bodies:

the nirmanakaya or created body which manifests in time and space;

the sambhogakaya or body of mutual enjoyment which is an archetypal manifestation; and

the Dharmakaya or reality body which embodies the very principle of enlightenment and knows no limits or boundaries.[5] In the view of Anuyoga, the ‘Mindstream‘ (Sanksrit: citta santana) is the ‘continuity’ (Sanskrit: santana; Wylie: rgyud) that links the Trikaya.[5] The Trikaya, as a triune, is symbolised by the Gankyil.

source wikipedia.

Sifat Buddha Para Insan.

jadi tidak ada yang namanya Buddha yang tertinggi dan Buddhayang lebih rendah , semua nampak berbeda hanya demi misi menyadarkan insan yang berbeda.

Dari semua ini , pemetaan ini digunakan oleh Para Guru Leluhur Yang Telah mencapai Pencerahan demi mengajar para insan dalam penjelasan kondisi batin supaya mudah dicerna.

Dorje Chang

Vajradhara (Sanskrit: वज्रधार Vajradhāra, Tibetan: རྡོ་རྗེ་འཆང་། rdo rje ‘chang (Dorje Chang); Chinese: 金剛總持 or 多傑羌佛; Javanese: Kabajradharan; Japanese: 執金剛神; English: Diamond-holder) is the ultimate primordial Buddha, or Adi Buddha, according to the Gelug and Kagyu schools of Tibetan Buddhism.

Vajradhara displaced Samantabhadra who remains the ‘Primordial Buddha’ in the Nyingma, or ‘Ancient School’ and the Sakya school. However the two are metaphysically equivalent. Achieving the ‘state of vajradhara’ is synonymous with complete realisation.

According to Kagyu Vajradhara, the primordial buddha, is the dharmakaya buddha, depicted as dark blue in color, expressing the quintessence of buddhahood itself and representing the essence of the historical Buddha’s realization of enlightenment.[1].

As such Vajradhara is thought to be the supreme essence of all (male) Buddhas (his name means the bearer of the thunderbolt). It is the Tantric form of Sakyamuni which is called Vajradhara. Tantras are texts specific to Tantrism and are believed to have been originally taught by the Tantric form of Sakyamuni called Vajradhara. He is an expression of Buddhahood itself in both single and [yab-yum] form.[2]. Vajradhara is considered to be the prime Buddha of the Father tantras [3] (tib. pha-rgyud) such as Guhyasamaja, Yamantaka, and so on [4].

From the primordial Vajradhara/Samantabhadra were manifested the Five Wisdom Buddhas (Dhyani Buddhas):

Vajradhara and the Wisdom Buddhas are often subjects of mandala.

Vajradhara and Samantabhadra are cognate deities in Tibetan Buddhist cosmology with different names, attributes, appearances and iconography. Both are Dharmakaya Buddhas, that is primordial Buddhas, where Samantabhadra is unadorned, that is depicted without any attributes. Conversely, Vajradhara is often adorned and bears attributes, which is generally the iconographic representation of a Sambhogakaya Buddha. Both Vajradhara and Samantabhadra are generally depicted in yab-yum unity with their respective consorts and are primordial buddhas, embodying void and ultimate emptiness.

Leave a comment »

Bija Aksara “Hrih”

HRIH/ xie adalah bijaksara dari Amitabha, Padmasambhava  dan Avalokitesvara, serta berbagai deitis lainnya yg berhubungan dengan keluarga Nya.

Menurut pelafalan Mahaguru Liansheng, HRIH ini dilafal “Xie atau Chuli”

Om mani pedda me hum chuli (om mani pad me hum dari silsilah sukong)

Dalam Tripitaka 《大正藏》No. 1956,
Kumpulan Mantratantra Kelahiran Kembali 《密咒圓因往生集》。
Bagian Sutra Samaya Heruka 《大樂金剛三昧經般若理趣釋》dikatakan:

「HRIH adalah empat huruf yg menjadi satu suku kata mantra 」
Karena suku kata sanskrit adalah gabungan dari beberapa suara.

Dalam Sutra tersebut juga dikatakan :
「Bila seseorang dapat menjapakan mantra satu suku kata ini, dapat menyingkirkan malapetaka dan penyakit. Saat meninggal dunia terlahir di bagian atas dari Tanah Tanah Suci yang tenteram dan bahagia.

source lienhua sian

As Bucknell, et al. (1986: p. 15) opine, the complete Avalokiteshvara Mantra includes a final Hrīh (hrih, pronounced “heRee”[needs IPA]), which is iconographically depicted in the central space of the syllabic mandala as seen in the ceiling decoration of the Potala Palace.[9] The hrīh is not always vocalized audibly, and may be resonated ‘internally’ or ‘secretly’ through intentionality.

source wikipedia

Leave a comment »