Pilih terlahir di Surga Shukavati atau nibbana ?

Terlahir di Alam Suci dengan Membawa Serta Karma dan Terlahir di Alam Suci dengan Karma yang Terkikis

Teringat dulu sekali.
Ada dua aliran Bhiksu, saling berperang pena, bunyi ledakan di mana-mana, masing-masing saling mengutip ayat Sutra dan menulis pengalaman nyata.
Satu aliran mengatakan:
Sukhavatiloka Barat, asalkan menyebut nama Buddha pada saat jelang wafat, sepenuh hati dan tidak galau, maka bisa langsung terlahir di Buddhaloka.
Satu aliran lagi mengatakan:
Tidak boleh. Rintangan karma belum dikikis habis, sampai di Sukhavatiloka Barat, alam suci ternoda, apakah itu masih alam suci?

Satu aliran mengatakan:
Sukhavatiloka Barat, termasuk jalan yang mudah ditempuh, jika harus mengikis habis rintangan karma baru terlahir di alam suci, apakah masih dianggap jalan yang mudah ditempuh?
Satu aliran lagi mengatakan:
Buddhadharma setara, jika ada yang namanya jalan yang mudah ditempuh, jalan yang sulit ditempuh. Begitu insan melihat ada jalan yang mudah ditempuh, siapa lagi yang mau menekuni jalan yang sulit ditempuh?
Satu aliran mengatakan:
Buddha Amitabha sangat welas asih, sehingga ada Dharma penjapaan nama Buddha.
Satu aliran lagi mengatakan:
Memangnya Buddha yang lain tidak welas asih?

Satu aliran mengatakan:
Sekte Sukhavati, tidak perlu kikis karma, menjapa nama Buddha adalah kikis karma, sepuluh penjapaan dengan hati yang bersih, memutuskan terlahir di alam suci.
Satu aliran lagi mengatakan:
Mesti:
Lebih dulu menekuni Sambhara-Marga.
Kemudian menekuni Prayoga-Marga.
Hingga mencapai Darsana-Marga.
Dilanjutkan dengan Bhavana-Marga.
Terakhir barulah Parayana.
Inilah tingkat melatih diri, tidak ada yang langsung naik ke surga dalam selangkah.

Satu aliran berkata:
Dalam sejarah, banyak guru sesepuh aliran lain, terakhir kembali ke Sekte Sukhavati, karena Sekte Sukhavati bisa terlahir di alam suci dengan membawa serta karma.
Satu aliran lagi berkata:
Terlahir di alam suci Buddhaloka begitu mudah, lantas apa nilai belajar Buddha? Terlahir di alam suci semudah ke pasar, buat apa akademi Buddhis? Cukup menjapa Buddha saja?
Satu aliran berkata:
Sampai di Buddhaloka, rintangan karma pun sirna dengan sendirinya.
Satu aliran lagi berkata:
Jika rintangan karma bisa sirna dengan sendirinya, kalau begitu, buat apa Buddhadharma?

Pokoknya:
Kedua belah pihak tidak mau mengalah satu sama lain, saling berdebat, temanya masih tetap terlahir di alam suci dengan membawa serta karma dan terlahir di alam suci dengan karma yang sudah terkikis.
Seseorang bertanya pada saya, “Sebenarnya mana yang benar? Terlahir di alam suci dengan membawa serta karma atau terlahir di alam suci dengan karma yang sudah terkikis?”
Saya menjawab, “Kedua-duanya benar!”

Orang bertanya, “Membawa serta karma, karma yang sudah terkikis, keduanya berbeda, bagaimana keduanya benar?”
Saya menjawab, “Rintangan karma kembali ke rintangan karma, terlahir di alam suci kembali ke terlahir di alam suci.”
Orang bertanya, “Maksudnya?”
Saya menjawab, “Udara kembali ke udara, tanah kembali ke tanah.”

Orang bertanya, “Bukankah itu rintangan karma yang sudah dikikis?”
Saya menjawab, “Rintangan karma ibarat bayangan manusia, karma mengikuti tubuh, jika tubuh sudah tidak ada, apakah masih ada bayangan?”
Orang bertanya, “Bukankah hanya karma yang mengikuti tubuh?”
Saya menjawab, “Jika tidak ada manusia, di mana karma?”
(Kalimat ini, mohon direnungkan baik-baik, ada rahasia di dalamnya) “Sarat dengan rahasia, penuh dengan rahasia”

source : http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=265&id=18

 

Dalam buku yang lain pernah kubaca di surga shukavati terdengar musik surgawi…musik ini yang akan mengikis hawa napsu dan karma secara pasti…dan ada guru dari kalangan Buddha dan bodhisatva yang mendidik kita untuk mencapai kebuddhaan dengan pasti di alam shukavati…maaf nibbana sepertinya suatu kondisi…jadi di surga tersebut otomatis juga mencapai kondisi nibbana…bukti nyata lebih banyak kesaksian terlahir di surga shukavati seperti di youtube…sedangkan nibbana saya belum pernah baca selain para bhiksu…

Leave a comment »

Kitab Tripitaka

Gulungan Tripitaka

Saya pernah menghabiskan waktu membaca:
Sutra yang disabdakan oleh Sang Buddha.
Vinaya yang dibabarkan oleh Buddhisme.
Sastra dari para arya.
Memuji dengan kalimat, “Begitu rumitnya isi kitab suci, takkan habis dibaca seumur hidup.”

Belakangan:
Di Taoisme bersarana pada Taois Qingzhen.
Buddhisme Eksoterik bersarana pada:
Guru Yinshun.
Bhiksu Leguo.
Bhiksu Dao’an.

Saat menerima Sila Bodhisattva, 3 guru yang saya berlindung adalah:
Bhiksu Xiandun.
Bhiksu Huisan.
Bhiksu Jueguang.
(Berlokasi di Vihara Bishanyan, Nantou.)

Di Tantra Tibet, guru utama ada 4 orang:
Nyingmapa – Bhiksu Liaoming.
Gelugpa – Guru Thubten Dhargye.
Kargyupa – Gyalwa Karmapa ke-16.
Sakyapa – Guru Sakya Dezhung.

Sebenarnya, Bhiksu, Acarya, Rinpoche, Dharmaraja, Taois, arya …..  yang saya jalin jodoh. Tak terhitung!

Lalu, saya diupasampada menjadi bhiksu:
Mahathera Guoxian dari Vihara Huiquan, Hong Kong, mengupasampada saya.
Yang di atas adalah silsilah dan jodoh Dharma yang diserahkan pada saya.

*

Saya beritahu Anda semua, ingin belajar Buddha dan melatih diri, tentu mau tak mau harus ada “guru”, sehingga mencari guru bijak adalah sebuah rumus yang penting, jika Anda tidak memiliki guru, kitab sutra ibarat samudera, luas tak terhingga, bagaimana Anda mempelajarinya? Siapa guru bijak?

Pertama, mesti memiliki silsilah.
Kedua, mesti bijaksana.
Ketiga, mesti melatih diri hingga memahami hati dan mencapai pencerahan.
Keempat, mesti menyaksikan Buddhata.
Kelima, mesti memiliki bakat sekaligus pengetahuan.

Guru bijak ini mesti:
Menghentikan keserakahan dan menyingkirkan hasrat.
Kembali ke kemurnian.
Bersih dan tanpa pamrih.
Hati selalu ada Buddha.
Tidak duniawi.
Menghentikan popularitas dan keuntungan.

Ini barulah guru bijak yang sejati! Jika bukan, tidak boleh mengabdi. Atau berguru pada guru yang salah, maka menghabiskan semua waktu dan dana.

Yang namanya:
Jalan salah ada 3000.
Pintu samping ada 800.
Dan lebih banyak lagi jalan sesat.

Sehingga:
Mengenal guru bijak adalah rumus pertama.
Jika guru telah mencapai pencerahan, barulah dapat menuntun para murid mencapai pencerahan.
Jika guru menyaksikan Buddhata, barulah dapat menuntun para murid menyaksikan Buddhata.
Jika tidak ada guru, atau berguru pada guru yang salah:
Dengan usaha maksimal mendapatkan hasil minimal.
Jika ada guru, atau berguru pada guru bijak yang sejati:
Dengan usaha minimal mendapatkan hasil maksimal.

*

Ada orang bertanya pada Buddha, “Siapa paling besar?”

Buddha menjawab, “Orang yang menyatu dengan Marga adalah besar.”

Kini, siapa yang dapat menyatu dengan Marga? Siapakah guru bijak?

source : http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=260&id=3

 

 

Dizaman sekarang mencari seorang guru yang bijak seperti mencari jarum ditengah jerami…yang ada didepan mata jangan kau abaikan….setiap orang suci pasti ada yang memfitnah….telaah dengan seksama…Arya Atisha saja mengamati calon gurunya setahun…semua ada jodohnya hanya jangan mengabaikan waktu yang terus berjalan…jangan terlambat..

 

 

 

 

 

Leave a comment »

Penuturan orang yang kembali dari alam baka

Penuturan dari Orang yang Kembali dari Alam Baka

Lianhua Pinde bercerita:
Ayah saya adalah Lianhua Guizhuan, sepanjang hidupnya bersarana pada banyak guru, pernah bersarana pada guru Sekte Sukhavati, khusus menjapa nama Buddha. Bersarana lagi pada guru Sekte Zen, belajar meditasi. Bersarana lagi pada guru Kargyupa Tantra, belajar Mahamudra. Bersarana lagi pada guru Theravada, belajar Sila.

Ayah saya suka keliling tempat ibadah, ada bhiksu dari Jepang datang membabarkan Dharma, ia pun hadir:
Nichiren.
Agon Shu.
Shinji Takahashi.
Kiriyama Yasuo.
……

Ia pun pergi mendengarkan Dharma.

Ia juga pergi ke India untuk mencari tempat ibadah olah batin, sekali pergi beberapa bulan, tinggal di dalam tempat ibadah, seperti Ananda atau Sai Baba, ia pun pernah mengalami langsung.

Tibet, Nepal, Sikkim, Bhutan. Ia pun pergi, telah bersarana kepada banyak Rinpoche dan Lama.

Seperti:
Jumkun Kuntrul,
Jamyang Khyentse.
Urgyen Trinley. Urgyen Tulku.
Chiqing.
Zhajia.
……….

Ayah saya mendengar saya bersarana pada Mahaguru Lu, ia ikut saya ke Taiwan Lei Tsang Temple, juga menerima abhiseka sarana Mahaguru Lu, juga telah menjapa: “Om. Guru. Liansheng. Siddhi. Hum.”

*

Suatu hari.

Ayah jatuh sakit, panas dingin, tidak sadarkan diri 3 hari, rumah sakit mengeluarkan pemberitahuan kondisi kritis.

Dalam kondisi tidak sadarkan diri, ia siuman, memberitahu kami bahwa ia pergi ke alam akhirat, melihat banyak orang antri, begitu sampai gilirannya.

Ia memberitahu Raja Yama, “Saya adalah umat Buddha.”

Raja Yama berkata, “Anda bukan umat Buddha, Anda adalah umat beragam agama.”

Ia berkata, “Saya bisa menghapal Sutra Hati.”

Raja Yama berkata, “Hapalkan!”

Ia hapal Sutra Hati dalam Bahasa Mandarin dengan sangat lancar, kemudian hapal dalam Bahasa Tibet, masing-masing sekali.

Raja Yama berkata, “Mengucapkan tanpa memahami kebenaran sejatinya.”

Raja Yama berkata, “Apakah Anda bisa japa mantra?”

Ia pun mulai japa semua mantra yang ia ingat.

Raja Yama berkata, “Burung beo belajar bahasa.”

Terakhir ia japa, “Om. Guru. Liansheng. Siddhi. Hum.”

Raja Yama berkata, “Justru mantra inilah yang paling berkualitas!”

Ia bertanya, “Kualitas apa?”

Raja Yama menjawab, “Kualitas titisan padma, cukup satu mantra ini saja, Anda tidak perlu ke alam baka, kembalilah ke alam saka untuk melatih diri lagi!”

Sehingga, ayahanda Lianhua Pinde, Lianhua Guizhuan pun siuman, penyakit pun sembuh.

Lianhua Pinde berkata, “Ternyata mantra hati Padmakumara paling berkualitas!”

source : http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=254&id=9.

 

 Setiap siswa zhenfochung wajib menyelesaikan pr japa mantra “om guru lienseng siti hum” minimal 1 juta…usahakanlah dari sekarang.
untuk perlindungan diri masing masing. jangan lupa hapalkan tulisan sanscritnya
padmakumara1

Leave a comment »

Raja mantera Shurangama dharani

Raja mantera Shurangama Dharani
Untuk Memperoleh Vyakarana Buddha (ramalan mencapai keBuddhaan)
source : buku ke 40 (?)

Bagaimana agar bisa memperoleh vyakarana dari Sakyamuni Buddha ? tekunilah Maha Usnisa Shurangama Raja Mantra (Shurangama Dharani) dalam bahasa cina dikenal dengan nama Da Fo Ding Shou Leng Yan Wang Zhen Yan。

Saat ini, bila sadhaka tantra ingin memperoleh vyakarana dari para Buddha, maka harus mengikuti cara penekunan ini, dengan sungguh ? bahwa dengan penekunan Sadhana Mantra Surangama dapat memperoleh vyakarana dari Buddha.

Namun, pendirian mandalanya adalah yang paling istimewa, sekaligus paling sukar, dituliskan Penekunan sadhananya adalah demikian :

Penjapaan Surangama Mantra adalah sekitar jam empat pagi, terlebih dahulu membersihkan tubuh dan memasuki mandala, membakar berbagai dupa berkualitas, dengan setulus hati bersujud pada para Buddha Bodhisattva, kemudian mengitari mandala dan menjapa mantra, terlebih dahulu menjapa satu atau tiga kali Surangama Mantra versi panjang, kemudian dilanjutkan dengan mantra pendek (mantra hati Surangama) :

Mantra pendek bisa dijapa 108 kali. X1 atau X 3
「Tan cheta om anali piseti pinla paselatoli panto panto ni pasela pang nipan hu sin tulu ung pan soha.

Versi sanscrit

TADYATHA: OM! ANALE ANALE VISADA VISADA, BANDHA BANDHA BANDHANI BANDHANI, VIRA VAJRAPANI PHAT, HUM BHRUM PHAT SVAHA.

Setelah menjapa mantra, bermeditasi sambil membentuk mudra Maha Buddha Usnisa. Saat itu bervisualisasi cakra candra dari sepuluh penjuru Buddha, mengeluarkan payung ratna, tiap- tiap payung ratna berada ditengah cahaya cermin, berubah menjadi berbagai Sitatapatra yang banyaknya tak terhingga, menuju ke atas kepala sadhaka, tubuh sadhaka menjadi suci bercahaya bagaikan vaidurya, visualisasi ini harus ditekuni setiap hari, masing-masing tahapannya harus divisualisasikan sampai jelas.

Menekuni sadhana ini sampai 21 hari, sampai saat sadhaka memasuki Samadhi yang terang dan suci, saat itu sepuluh penjuru Tathagata akan muncul bersamaan di lokasi bertemunya cahaya cermin, sepuluh penjuru Buddha akan mengeluarkan tangan Buddha, memberikan vyakarana kepada sadhaka tantra. Bahkan bila orang yang memiliki jodoh agung dengan Buddha, yang pada kehidupan lampau telah membina diri, orang yang memiliki akar baik, asalkan menekuni sadhana ini seratus hari, maka akan segera mencapai tingkatan Catur Arahat. Maka sadhana ini adalah salah satu dari Maha Sadhana Anuttara Tantra.
Menekuni sadhana ini , tentu saja tidak hanya akan memperoleh vyakarana dari Buddha, bahkan berbagai Dewa Mara tidak akan sanggup melukai, selamanya tiada gangguan mara, oleh karena perlindungan payung ratna dari Usnisa agung Buddha. Segalanya akan menjadi manggala dan sesuai dengan kehendak. Semua macam racun selamanya tidak akan sanggup melukai, sadhaka tantra akan selalu dilindungi oleh delapan puluh empat ribu Dewa Vajra.

Biksu aliran eksoterik (Mahayana) tidak membentuk mudra, tidak bervisualisasi payung ratna di atas cakra usnisa, tidak memasuki Samadhi, namun hanya menjapa Surangama Dharani, tetap mendapatkan pahala yang amat besar, tetap memperoleh perlindungan dari para Dewa, apalagi yang dapat membentuk mudra, visualisasi, memasuki Samadhi, maka pasti Buddha akan datang memberikan vyakarana, tak diragukan lagi kelak pasti akan mencapai Kebuddhaan.

Saya memperoleh jamahan kepala membuka cakra usnisa dari Buddha, saya mempunyai tangan Buddha di atas cakra usnisa, menerima pesan dari Buddha, namun banyak orang yang membina diri timbul rasa iri setelah mengetahui hal ini, padahal sebenarnya mereka tidak perlu iri kepada saya. Saya akan mengajarkan kepada Anda sekalian supaya menekuni Sadhana Surangama Dharani, agar semua orang juga akan memperoleh vyakarana dari Buddha, asalkan mau dengan tulus menekuni Sadhana Tantra yang saya ajarkan, sepuluh orang menekuni , maka sepuluh orang akan memperoleh ; seratus orang menekuni, maka seratus orang akan memperoleh ; seribu orang menekuni maka seribu orang akan memperolehnya pula.

Yang utama dalam sadhana ini adalah di pendirian mandala, apalagi pertemuan cahaya cermin adalah Sadhana Memutar Seribu Cakra, rahasia Padma berkelopak seribu ada di dalamnya, bila dapat mendirikan mandala dengan baik dan benar, maka saat Anda menghaturkan pujana, Buddha Bodhisattva pasti akan hadir.

1: THE VAJRA DIVISION (EASTERN DIRECTION)
NAMO SARVA TATHAGATA SUGATAYA ARHATE SAMYAK-SAMBUDDHAYA.
NAMO SARVA TATHAGATA KOTI USHNISHA. NAMO SARVA BUDDHA BODHISATTVEBHYAH.
NAMO SAPTANAM SAMYAK-SAMBUDDHA KOTINAM, SASRAVAKA SAM-GHANAM.
NAMO LOKE ARHANTANAM.
NAMO SROTAPANNANAM. NAMO SAKRIDAGAMINAM. NAMO ANAGAMINAM.
NAMO LOKE SAMYAK-GATANAM SAMYAK-PRATIPANNANAM.
NAMO RATNA-TRAYAYA.
NAMO BHAGAVATE DRIDHA-SURA SENA PRA-HARANA RAJAYA TATHAGATAYA ARHATE SAMYAK-SAMBUDDHAYA.
NAMO BHAGAVATE AMITABHAYA TATHAGATAYA ARHATE SAMYAK-SAMBUDDHAYA.
NAMO BHAGAVATE AKSHOBHYAYA TATHAGATAYA ARHATE SAMYAK-SAMBUDDHAYA.
NAMO BHAGAVATE BHAISHAJYA-GURU-VAIDURYA-PRABHA-RAJAYA TATHAGATAYA ARHATE SAMYAK-SAMBUDDHAYA.
NAMO BHAGAVATE SAMPUSHPITA SALENDRA RAJAYA TATHAGATAYA ARHATE SAMYAK-SAMBUDDHAYA.
NAMO BHAGAVATE SAKYAMUNAYE TATHAGATAYA ARHATE SAMYAK-SAMBUDDHAYA.
NAMO BHAGAVATE RATNA KUSUMA KETU RAJAYA TATHAGATAYA ARHATE SAMYAK-SAMBUDDHAYA.
NAMO BHAGAVATE TATHAGATA KULAYA.
NAMO BHAGAVATE PADMA KULAYA.
NAMO BHAGAVATE VAJRA KULAYA.
NAMO BHAGAVATE MANI KULAYA. NAMO BHAGAVATE GAJA KULAYA.
NAMO DEVASINAM. NAMO SIDDHA VIDYA-DHARANAM.
NAMO SIDDHA VIDYA–DHARA RISHINAM, SUPANU-GRAHA SAMARTHANAM.
NAMO BRAHMANE. NAMO INDRAYA. NAMO RUDRAYA UMA-PATI SAHEYAYA.
NAMO NARAYANAYA LAKSHMI SAHEYAYA PANCA MAHA-MUDRA NAMAS-KRITAYA.
NAMO MAHAKALAYA TRIPURA-NAGARA VIDRAVANA KARAYA ADHI-MUKTIKA SMASANA VASINI MATRI-GANA NAMAS-KRITAYA.
EBHYO NAMAS-KRITVA IMAM BHAGAVANTAH TATHAGATOSHNISHAM SITATAPATRAM.
NAMO APARAJITAM PRATY-ANGIRAM.
SARVA DEVA NAMAS-KRITAM. SARVA DEVEBHYAH PUJITAM. SARVA DEVESA PARIPALITAM.
SARVA BHUTA GRAHA NIGRAHA-KARIN. PARA VIDYA CHEDANA-KARIN. DUR-DANTANAM SATTVANAM DAMAKAM DUSHTANAM NIVARANIN.
AKALA-MRITYU PRA-SAMANA-KARIN.
SARVA BANDHANA MOKSHANA-KARIN. SARVA DUSHTA DUH-SVAPNA NIVARANIN CATURASITINAM GRAHA SAHASRANAM VIDHVAMSANA-KARIN. ASHTA-VIMSATINAM NAKSHATRANAM PRASADANA-KARIN. ASHTANAM MAHA GRAHANAM VIDHVAMSANA-KARIN. SARVA SATRU NIVARANIN. GHORAM DUH-SVAPNANAM CA NASANIN. VISHA SASTRA AGNI UDAKA UT-TARANIN. APARAJITA GHORA, MAHA-BALA CANDAM, MAHA-DIPTAM, MAHA-TEJAM, MAHA-SVETAM JVARA, MAHA-BALA-SRIYA-PANDARAVASINI
ARYA-TARA BHRI-KUTIM CED VA VIJAYA VAJRA MALITI, VI-SRUTAM PADMAKSHAN, VAJRA-JIHVA CAH MALA CED VA APARAJITAM, VAJRA-DANDI VISALA CA SANTA VAIDEHA PUJITAH, SAUMI RUPA.
MAHA SVETAM, ARYA-TARA, MAHA-BALA APARAJITA, VAJRA SAMKALA CED VAH VAJRA KAUMARIH KULAM-DHARI, VAJRA HASTA CA MAHA VIDYA TATHA KANCANAH MALIKAH, KUSUMBHA RATNA CED VA VAIROCANA KUTA-STHOSHNISHA, VI-JRIMBHA MANA CA VAJRA KANAKA PRABHA LOCANAH, VAJRA-TUNDI CA SVETA CA KAMALAKSHA,SASI-PRABHA, ITY-ADI MUDRA GANAH, SARVE RAKSHAM KURVANTU ITTAM MAMASYA.

SECTION 2: THE JEWELS DIVISION (SOUTHERN DIRECTION)
OM! RISHI-GANA PRA-SASTA TATHAGATOSHNISHA SITATAPATRAM HUM BHRUM
JAMBHANA HUM BHRUM
STAMBHANA HUM BHRUM
MOHANA HUM BHRUM
MATHANA HUM BHRUM
PARA VIDYA SAM-BHAKSHANA-KARA HUM BHRUM
SARVA DUSHTANAM STAMBHANA-KARA HUM BHRUM
SARVA YAKSHA RAKSHASA GRAHANAM VIDHVAMSANA-KARA HUM BHRUM
CATURASITINAM GRAHA SAHASRANAM VINASANA-KARA HUM BHRUM
ASHTA-VIMSATINAM NAKSHATRANAM PRA-SADANA-KARA HUM BHRUM ASHTANAM MAHA GRAHANAM VIDHVAMSANA-KARA RAKSHA RAKSHA MAM.
BHAGAVAN TATHAGATOSHNISHA, MAHA PRATY-ANGIRE, MAHA SAHASRA-BHUJE,
SAHASRA-SIRSHAI, KOTI SATA SAHASRA-NETRE, ABHEDYA JVALITA NATANAKA,
MAHA VAJRA-DHARA TRIBHUVANA MANDALA,
OM! SVASTI BHAVANTU ITTAM MAMASYA.

SECTION 3: THE LOTUS DIVISION (WESTERN DIRECTION)
RAJA-BHAYA, CORA-BHAYA, AGNI-BHAYA, UDAKA-BHAYA, VISHA-BHAYA, SASTRA-BHAYA, PARACAKRA-BHAYA, DUR-BHIKSHA-BHAYA, ASANI-BHAYA, AKALA-MRITYU-BHAYA, DHARANI-BHUMI-KAMPA-BHAYA, ULKA-PATA-BHAYA, RAJA-DANDA-BHAYA, NAGA-BHAYA, VIDYUT-BHAYA, SUPARNIN-BHAYA
DEVA-GRAHA, NAGA-GRAHA, YAKSHA-GRAHA, GANDHARVA-GRAHA, ASURA-GRAHA, GARUDA-GRAHA, KIMNARA-GRAHA, MAHORAGA-GRAHA, RAKSHASA-GRAHA, PRETA-GRAHA, PISACA-GRAHA, BHUTA-GRAHA, PUTANA-GRAHA, KATAPUTANA-GRAHA, KUMBHANDA-GRAHA, SKANDA-GRAHA, UNMADA-GRAHA, CHAYA-GRAHA, APA-SMARA-GRAHA, DAKA-DAKINI-GRAHA, REVATI-GRAHA, OJAHARINYA, GARBHAHARINYA, JATAHARINYA, JIVITAHARINYA, RUDHIRAHARINYA, VASAHARINYA, MAMSAHARINYA, MEDHAHARINYA, MAJJAHARINYA, VANTAHARINYA, ASUCYAHARINYA, CITTAHARINYA,
TESHAM SARVESHAM SARVA GRAHANAM.
VIDYAM CHIDAYAMI KILAYAMI PARI-VRAJAKA KRITAM.
VIDYAM CHIDAYAMI KILAYAMI DAKA DAKINI KRITAM.
VIDYAM CHIDAYAMI KILAYAMI MAHA-PASUPATI RUDRA KRITAM.
VIDYAM CHIDAYAMI KILAYAMI TATTVA GARUDA SAHEYA KRITAM.
VIDYAM CHIDAYAMI KILAYAMI MAHA-KALA MATRI-GANA KRITAM.
VIDYAM CHIDAYAMI KILAYAMI KAPALIKA KRITAM.
VIDYAM CHIDAYAMI KILAYAMI JAYAKARA-MADHUKARA SARVARTHA-SADHANA KRITAM.
VIDYAM CHIDAYAMI KILAYAMI CATUR-BHAGINI KRITAM.
VIDYAM CHIDAYAMI KILAYAMI BHRINGI-RITI NANDIKESVARA GANAPATI SAHEYA KRITAM.
VIDYAM CHIDAYAMI KILAYAMI NAGNA SRAMANA KRITAM.
VIDYAM CHIDAYAMI KILAYAMI ARHANTA KRITAM.
VIDYAM CHIDAYAMI KILAYAMI VITA-RAGA KRITAM.
VIDYAM CHIDAYAMI KILAYAMI BRAHMA KRITAM.
VIDYAM CHIDAYAMI KILAYAMI RUDRA KRITAM.
VIDYAM CHIDAYAMI KILAYAMI NARAYANA KRITAM.
VIDYAM CHIDAYAMI KILAYAMI VAJRA-PANI GUHYAKADHIPATI KRITAM.
VIDYAM CHIDAYAMI KILAYAMI RAKSHA RAKSHA MAM BHAGAVAN ITTAM MAMASYA.

SECTION 4: THE BUDDHA DIVISION (CENTRAL DIRECTION)
BHAGAVAN SITATAPATRA NAMO STUTE.
ASITA NARAKAH PRABHA SPHUTA VI-KAS SITATAPATREH,
JVARA JVARA, DAKA DAKA, VI-DAKA VI-DAKA,
DALA DALA, VI-DALA VI-DALA, CHIDA-CHIDA,
HUM HUM PHAT PHAT PHAT PHAT PHAT SVAHA HE HE PHAT.
AMOGHAYA PHAT. APRATIHATAYA PHAT.
VARA-PRADAYA PHAT. ASURA VIDARAKAYA PHAT.
SARVA DEVEBHYAH PHAT.
SARVA NAGEBHYAH PHAT. SARVA YAKSHEBHYAH PHAT.
SARVA GANDHARVEBHYAH PHAT.
SARVA ASUREBHYAH PHAT.
SARVA GARUDEBHYAH PHAT.
SARVA KIMNAREBHYAH PHAT.
SARVA MAHORAGEBHYAH PHAT.
SARVA RAKSHASEBHYAH PHAT.
SARVA BHUTEBHYAH PHAT. SARVA PISHACEBHYAH PHAT.
SARVA KUMBHANDEBHYAH PHAT.
SARVA PUTANEBHYAH PHAT.
SARVA KATAPUTANEBHYAH PHAT.
SARVA AUSHTRAKEBHYAH PHAT. SARVA DUR-LANGHITEBHYAH PHAT.
SARVA DUSH-PREKSHITEBHYAH PHAT.
SARVA JVAREBHYAH PHAT.
SARVA KRITYA KARMANI KAKHORDEBHYAH PHAT.
SARVA APASMAREBHYAH PHAT.
SARVA SHRAMANEBHYAH PHAT.
SARVA TIRTHIKEBHYAH PHAT.
SARVA UNMADEBHYAH PHAT.
SARVA VIDYA ACHARYEBHYAH PHAT.
JAYAKARA-MADHUKARA SARVATHA-SADHAKEBHYO VIDYA ACHARYEBHYAH PHAT.
CATUR-BHAGHINIBHYAH PHAT.
VAJRA KAUMARI KULAM-DHARI VIDYARAJEBHYAH PHAT.
MAHA PRATY-ANGIREBHYAH PHAT.
VAJRA SAMKALAYA PRATY-ANGIRA RAJAYA PHAT.
MAHAKALAYA MATRI-GANA NAMAS-KRITAYA PHAT.
INDRAYA PHAT. BRAHMANAYA PHAT. RUDRAYA PHAT. VISHNUYA PHAT.
VAISNAVIYE PHAT. BRAHMIYE PHAT. VARAHIYE PHAT. AGNIYE PHAT.
MAHA-KALIYE PHAT. RAUDRIYE PHAT. KALA-DANDIYE PHAT. AINDRIYE PHAT.
MATRIYE PHAT. CHAMUNDRIYE PHAT. KALA-RATRIYE PHAT. KAPALIYE PHAT.
ADHI-MUKTIKA SMASANA VASINIYE PHAT. YE KECID SATTVA.

SECTION 5: THE KARMA DIVISION (NORTHERN DIRECTION)
DUSHTA-CITTA, PAPA-CITTA, RAUDRA-CITTA, VI-DVE-SHA-CITTA, AMITRA-CITTA,
UT-PADAYANTI, KILAYANTI, MANTRAYANTI, JAPANTI, CYUT HANTI.
OJAHARA, GARBHAHARA, RUDHIRAHARA, MAMSAHARA, MEDHAHARA, MAJJAHARA, VASAHARA, JATAHARA, JIVITAHARA, BALYAHARA, MALYAHARA, GANDHAHARA, PUSHPAHARA, PHALAHARA, SASYAHARA.
PAPA-CITTA, DUSHTA-CITTA, RAUDRA-CITTA
DEVA-GRAHA, NAGA-GRAHA, YAKSHA-GRAHA,
GANDHARVA-GRAHA, ASURA-GRAHA, GARUDA-GRAHA,
KIMNARA-GRAHA, MAHORAGA-GRAHA, RAKSHASA-GRAHA,
PRETA-GRAHA, PISACA-GRAHA, BHUTA-GRAHA,
PUTANA-GRAHA, KATAPUTANA-GRAHA, KUMBHANDA-GRAHA,
SKANDHA-GRAHA, UNMADA-GRAHA, CHAYA-GRAHA,
APASMARA-GRAHA. DAKA-DAKINI-GRAHA, REVATI-GRAHA,
JAMIKA-GRAHA, SAKUNI-GRAHA, MATRI-NANDI-GRAHA,
MUSHTIKA-GRAHA, KANTHAPANINI-GRAHA, MISHIKA-MAHISHAKA-GRAHA,
MRIGARAJA-GRAHA, MATRIKA-GRAHA, KAMINI-GRAHA,
MUKHA-MANDIKA-GRAHA, LAMBA-GRAHA.
JVARA EKAHIKA, DVAITIYAKA, TRAITIYAKA, CATURTHAKA,
NITYA-JVARA, VISHAMA-JVARA,
VATIKA, PAITTIKA, SLAISHMIKA, SAM-NIPATIKA, SARVA JVARA,
SIRO’RTI, ARDHAVABHEDAKA, AROCAKA,
AKSHI ROGAM, MUKHA ROGAM, HARDA ROGAM,
GHRANA SULAM, KARNA SULAM,
DANTA SULAM, HRIDAYA SULAM, MARMAN SULAM,
PARSVA SULAM, PRISHTHA SULAM, UDARA SULAM,
KATI SULAM, VASTI SULAM, URU SULAM, NAKHA SULAM,
HASTA SULAM, PADA SULAM, SARVA ANGA-PRATYANGA SULAM;
BHUTA, VETADA, DAKA DAKINI, JVARA, DADRU, KANDU, KITIBHA, LUTA, VAISARPA, LOHA-LINGA; SASTRA SAM-GARA, VISHA YOGA, AGNI UDAKA, MARA VAIRA KANTARA, AKALA-MRITYU;
TRY-AMBUKA, TRAI-LATA, VRISCIKA, SARPA, NAKULA, SIMHA, VYAGHRA, RIKSHA, TARAKSHA, CAMARA, JIVITA BHITE TESHAM SARVESHAM.
MAHA SITATAPATRA, MAHA VAJROSHNISHA, MAHA PRATY-ANGIRAM,
YAVAT DVADASA YOJANA ABHY-ANTARENA
SIMA BANDHAM KAROMI. DISA BANDHAM KAROMI. PARA VIDYA BANDHAM KAROMI.
TEJO BANDHAM KAROMI. HASTA BANDHAM KAROMI. PADA BANDHAM KAROMI.
SARVA ANGA-PRATYANGA BANDHAM KAROMI.
TADYATHA:
OM! ANALE ANALE VISADA VISADA, BANDHA BANDHA BANDHANI BANDHANI,
VIRA VAJRAPANI PHAT, HUM BHRUM PHAT SVAHA.
NAMO SARVA TATHAGATA SUGATAYA ARHATE SAMYAK-SAMBUDDHAYA
SIDDHYANTU MANTRAPADAYA SVAHA.

Leave a comment »

Shurangama dharani stempel

shurangama dharani stempel

sebagian umat dari vihara khawatir menjelang tgl 22 juli karena kita kaum minoritas dapat terkena dampaknya…cetaklah gambar diatas ini laminating simpan di tiap rumah, toko dan vihara yg ada altar taruh dialtar shurangama sutra dalam teks sancrit…dan bacalah sutra ini shurangama sutra setiap pagi…untuk perlindungan..

Menurut almarhum Master Hsuan Hua, bila ayat-ayat mantra ini anda print/tulis di sepotong kertas dan tempel di sebuah tempat, berdasarkan sumpah bodhisattva, akan datang Tentara Pelindung (Dharmapala) menjaga lingkungan di sekitar nya.

In the past, Great Master Hongren, the Fifth Patriarch, was cultivating in Hubei at East Mountain. He upheld the precepts strictly and cultivated with unusual intensity. Once when a group of bandits surrounded the city of Hubei, Great Master Hongren could bear it no longer and decided to try to save the people in that city. He came down the mountain and walked into that city. As soon as the bandits saw Great Master Hongren coming, they were terrified, dropped their armor and weapons, and fled. Why? Because although Great Master Hongren came alone into the city, the bandits saw an army of heavenly generals and heavenly troops clad in golden armour. It was as if the gods themselves had come down to earth–all donning golden armour and carrying jeweled swords and other awesome weapons. That’s what caused the bandits to retreat in such haste. And so, without the use of a single knife, spear, or arrow, he routed the bandits. It was because Great Master Hongren recited the Shurangama Mantra that the bandits found him to be so terrifying. You could say that was a manifestation created by the Vajra Treasury Bodhisattvas or you could say it was the awesome virtue of Great Master Hongren that frightened them. That a cultivator was able to frighten the bandits into retreat without the use of a single soldier or weapon is verification of his genuine skill.

jika anda membacanya setiap pagi akan menciptakan perisai energi sejauh 12 yojana untuk melindungi pembacanya….suasana sekitar akan berasa tenang tidak ada hawa ketakutan dan seram…

Konon kabarnya, selama ada orang yang hapal mantra ini, bumi tidak bakal kiamat dan Dharma akan bertahan. Kalau mantra dan sutra ini lenyap, maka proses lenyapnya Dharma buddha akan dimulai. dharma buddha yang pertama hilang adalah shurangama sutra yg terakhir Amitofo…

sebagian isi sutra…

Ananda, saat putera yang berbudi menjapa Dharani ini, akan mampu melenyapkan segala pelanggaran sila yang telah dilakukannya sebelum memperoleh dan memulai menjapa Dharani ini, baik itu pelanggaran ringan maupun berat. Dari bermabuk-mabukkan, gemar mengkonsumsi lima sayuran menyengat dan berbagai kebiasaan yang tidak suci yang dilakukannya sebelum mengenal Dharani ini , setelah dia menjapanya, maka Para Buddha Bodhisattva, Vajra dan para Deva tidak akan memandangnya sebagai pendosa.
Walaupun mengenakan pakaian usang dan tidak bersih, namun segala aktivitasnya akan menjadi murni. Walau tak membangun mandala, tak memasuki tempat ibadah, dan tak menjalankan formalitas ajaran tertentu, bila melafalkan Dharani ini, maka akan memperoleh pahala bagaikan memasuki mandala dan menjalankan segala aturannya.
Bila melakukan pancanantaryakarma (membunuh ayah, membunuh ibu, membunuh arahat, memecah belah Sangha) dan catvarahparajikadharmah , namun telah bertobat dan tak mengulanginya lagi, dengan menjapa Dharani ini, maka karma berat seperti itu akan sirna bagaikan angin kencang meniup pasir sampai tak tersisa sedikitpun.
Ananda, bila ada insan yang telah melakukan berbagai karma buruk baik itu ringan maupun berat , yang dilakukan sejak berkalpa yang lampau, dan tidak sempat melakukan formalitas pertobatan, bila dapat melafal , menyalin, membawa serta dan mempersemayamkannya di rumah maupun halaman, maka karma buruk tersebut akan sirna bagaikan salju yang tersiram air panas, dan dalam waktu singkat akan mewujudkan anuttpatikadharmaksanti.
Dan lagi, Ananda, bila ada seorang wanita yang belum melahirkan putera atau puteri dan memohon ingin mengandung, bila dapat dengan sepenuh hati mengingat dan merenungkan Dharani ini, atau membawa serta Dharani ini, maka akan melahirkan putera maupun puteri yang memiliki berkah dan kebijaksanaan. Bagi yang menginginkan panjang usia, akan memperoleh panjang usia ; Barangsiapa ingin supaya perbuatan baiknya segera berbuah , maka akan segera memperoleh buah karma baiknya. Mengenai nyawa dan kesehatan juga demikian halnya. Setelah akhir hidupnya, akan terlahir di sepuluh penjuru Tanah Suci sesuai kehendak. Dan sudah pasti tidak akan terlahir di tempat yang menderita, apalagi alam rendah.
Ananda, jika di berbagai Negara atau wilayah, terjadi bencana kelaparan dan wabah penyakit, atau bencana senjata dan kejahatan merajalela, atau peperangan yang tiada hentinya, ataupun wilayah yang dilanda becana kekeringan , angin rebut/topan dan hujan es,tulislah Dharani ini dan semayamkan di empat penjuru pintu kota serta berbagai tempat ibadah/vihara maupun dvaja Dharani, kerahkanlah supaya para insan di negeri itu menyambut dan menerima Dharani ini, bersujud dan menghormati, sepenuh hati

memberikan pujana, setiap penduduk membawanya serta di badan, masing-masing mempersemayamkannya di rumah kediamannya,maka semua petaka itu akan sirna.  Ananda, bila dimana – mana ada Dharani ini, tiap penduduk mempunyai Dharani ini, maka Dewa dan Naga akan bersuka cita, hujan akan turun pada waktunya, hasil panen akan melimpah , aman dan tenteram. Demikian pula, Dharani ini dapat mengendalikan segala bintang kesialan dan petaka supaya tidak membuat kekacauan. Segala malapetaka tidak akan timbul, penduduk juga tidak akan memperoleh bencana yang membuat pendek usia, segala jerat dan belenggu tak akan membelenggu tubuh, tidur dengan tenteram tanpa mimpi buruk.
Ananda, ketahuilah bahwa dunia saha ini ada delapan puluh empat ribu bintang petaka dan kesialan yang dikepalai oleh dua puluh delapan bintang petaka, dengan delapan bintang malapetaka sebagai pimpinannya. Saat mereka dengan berbagai rupa muncul di dunia, maka akan menimbulkan berbagai malapetaka bagi para insan, namun di tempat dimana ada Dharani ini, semua petaka akan sirna. Dalam jarak dua belas yojana akan menjadi simabandhana, segala petaka selamanya tidak akan sanggup memasuki. Oleh karena itulah Tathagata membabarkan Dharani ini, supaya di masa yang akan datang dapat melindungi para sadhaka yang baru belajar, sehingga mampu memasuki Samadhi, jasamani dan rohani nya selalu diliputi ketenangan, memperoleh ketenteraman. Bahkan tidak akan ada para mara , setan dan dewa, maupun para musuh sejak berbagai kehidupan yang lampau, tidak akan ada yang sanggup melukai (praktisi ini). Engkau dan para siswa di tengah pasamuan ini, serta para sadhaka di masa yang akan datang, dengan berdasarkan instruksi pendirian mandala dari KU, jalankanlah sila, terimalah sila dari seorang biksu yang benar ? benar menjalankan sila dengan murni, saat melafal Dharani ini , dalam hati jangan sampai timbul keraguan maupun kemalasan.

by Tripitaka Master Hsuan Hua
Within Buddhism, there are very many important sutras.
However, the most important Sutra is the Shurangama Sutra. If
there are places which have the Shurangama Sutra, then the Proper
Dharma dwells in the world. If there is no Shurangama Sutra, then
the Dharma Ending Age appears. Therefore, we Buddhist disciples,
each and every one, must bring our strength, must bring our blood,
and must bring our sweat to protect the Shurangama Sutra. In the
Sutra of the Ultimate Extinction of the Dharma, it says very, very
clearly that in the Dharma Ending Age, the Shurangama Sutra is
the first to disappear, and the rest of the sutras disappear after it. If
the Shurangama Sutra does not disappear, then the Proper Dharma
Age is present. Because of that, we Buddhist disciples must use our
lives to protect the Shurangama Sutra, must use vows and
resolution to protect the Shurangama Sutra, and cause the
Shurangama Sutra to be known far and wide, reaching every nook
and cranny, reaching into each and every dust-mote, reaching out to
the exhaustion of empty space and of the Dharma Realm. If we can
do that, then there will be a time of Proper Dharma radiating great
light. Now there are even heavenly demons and externalists who claim that the Shurangama Sutra and the Shurangama Mantra are false. These heaven demons and externalists send their demon sons and grandsons to stir up rumors that cause people to not believe in the Shurangama Sutra and the Shurangama Mantra. This sutra and mantra are critically important to the preservation of the Proper Dharma. The Shurangama Sutra was spoken for the sake of the Shurangama Mantra. There’s no way to ever finish expressing the importance of the Shurangama Sutra and the Shurangama Mantra; to the ends of all time their merits, virtues, and wonderful functions could never be told–so absolutely inconceivable and ineffable are they! When all is said and done, the Shurangama Sutra is an ode to the Shurangama Mantra.

Leave a comment »

Mantra Khai Guang untuk Pratima Baru

Sebelum membaca mantra dan tata cara kai guang anda terlebih dahulu harus menerima abhiseka dari Mula Acharya.

Mantranya:

Kai guang, kai guang, kai guang cou 3x
jek de guang, yek de guang, tian de guang.
kai yan guang kan shi jie
kai er guang ting cung shen de you qiu
kai kou guang shuo fa du cung
kai xin guang fa pu di xin
kai shou guang bang man cung shen
kai cuk guang fei wan ri, jiu cung shen
kai shen guang fang da guang min, zhia ce cung shen.

membentuk mudra pedang
terus bervisualisasi aksara “OM ,AH ,HUM ,SHIE”

Ada juga cara lain utk khai kuang pratima, Langkah2nya sbb:

1.Bersihkan rupang.
2.Percikkan air Maha Karuna atau bilas dgn air suci (tergantung bahannya)
3.Siapkan persembahan
4. Lafal Sutra Tiandibayangshenzhoujing 3x utk memutar balikkan pengaruh
jelek atau segala chiong.
5.Sadhana spt biasa, sebelum tahap mantra pengundang, japa 108x Mantra Guru dan mohon Guru turun dan hadir memberkati rupang, mengundang dewata yg bersangkutan. Mantra pengundang dan sebut nama adinata bersangkutan, dan visualisasikan masuk dalam rupang. Rupang bercahaya memenuhi Dharmadathu..lalu di.lanjutkan dengan sadhana.

Leave a comment »

Pernapasan Botol(Bhadrakumbha Prana)

Kemudian Dharmaraja Liansheng melanjutkan Dharmadesana Dzogchen, serta secara langsung menjelaskan dan memperagakan kiat Bhadrakumbha Prana yaitu : TARIK, PENUH, MENYEBAR dan MELUNCURKAN. Demikianlah langkah-langkahnya :

Meditasi Anapanasati

1. Duduk dalam Tujuh Postur Vairocana.
2. Bervisualisasi di angkasa hadir Kesadaran Tertinggi Semesta berupa cahaya terang.
3. TARIK : Melakukan pernafasan penuh, menarik nafas sampai ke perut dan turun ke Dan-tian. ( Untuk wanita cukup sampai ke cakra hati / Dan-tian tengah )
4. PENUH : Penuh prana dalam Dan-tian, mengetatkan otot anus, ujung lidah disentuhkan langit-langit mulut, menekan tenggorokan.( Prana atas ditekan ke bawah, prana bawah dinaikkan ke atas ) , menahan nafas, menjadi bentuk Bhadrakumbha.
5. MENYEBAR : Menyebar yang pertama adalah prana masuk ke dalam Sushumna ; Menyebar yang kedua adalah prana diarahkan ke semua nadi di sekujur tubuh, bahkan sampai ke pembuluh darah kapiler. ( Pertama kali bisa mulai dari setengah menit, kemudian sampai satu menit, kemudian bisa ditingkatkan ) menahan prana dalam waktu lama, dengan alamiah prana akan memasuki Sushumna, dan dengan sendirinya juga ke sekujur tubuh.
6. MELUNCURKAN : Saat sudah tidak kuat menahan nafas, keluarkan. Langkah pertama adalah terlebih dahulu diarahkan ke ubun-ubun ( Ini merupakan Metode Phowa, namun begitu usnisa terbuka, satu bulan hanya boleh dilatih satu kali, tidak boleh lebih, juga harus bervisualisasi kaki Yidam menginjak dan menutup usnisa sadhaka, jika tidak demikian bisa menyebabkan pendek usia. )Yang kedua, baru mengeluarkannya lewat hidung.

Penekunan Bhadrakumbha Prana termasuk metode olah prana golongan keras, ada efeknya ( ada bahayanya ) , yang harus diperhatikan adalah :

1. Paling tepat dilakukan pagi hari kala perut kosong.
2. Setiap harinya dalam penekunan tidak boleh lebih dari 21 tarikan nafas.
3. Dalam menahan nafas tidak boleh dipaksakan, cukup dengan cara meningkatkan waktu secara bertahap.
4. Hanya menggunakan hidung untuk menghirup dan mengeluarkan nafas, tidak boleh melalui mulut.
5. Jika terlampau banyak menembus ubun-ubun, bisa mengakibatkan pendek usia, setelah usnisa telah terbuka, setiap bulan hanya boleh menembusnya satu kali.
6. Jika menekuninya secara berlebihan, dapat mengakibatkan telinga berdenging, mata merah, mimisan, gusi bengkak, pusing, sakit kepala dan aneka efek samping lainnya, harus menekuninya dengan disesuaikan.
7. Akan timbul fenomena abhijna dan tembus alam roh.
8. Wanita tidak boleh menekuninya saat sedang datang bulan, bisa mengakibatkan pendarahan.
9. Saat sakit, flu, saat kurang fit, samasekali tidak boleh menekuninya.

Dharmaraja Liansheng mengatakan jika penekunan Bhadrakumbha Prana bisa dipadukan dengan Metode Air Dewata, maka manfaat yang diperoleh akan lebih baik lagi, demikianlah tahapan penekunanya :

1. Lidah diputar – putar di garis gigi.
2. Menghasilkan air liur.
3. Menggunakan lidah untuk mengaduk liur menjadi buih.
4. Menelan buih liur.
5. TARIK : Nafas memasuki Dantian.
6. PENUH : Menjadi Bhadrakumbha.
7. MENYEBAR : Sampai ke Sushumna dan sekujur tubuh.
8. MELUNCURKAN : Prana dikeluarkan melalui hidung.

Berikut merupakan manfaat dari penekunan Air Devata yang dipadukan dengan Bhadrakumbha Prana :
1. Bindu ( Hormon ) akan terus tumbuh.
2. Tubuh sehat dan kuat, awet muda, menyehatkan otot dan tulang.
3. Prana asali melimpah, penuh semangat.
4. Prana dan darah akan mengalir lancar tidak terrintangi, menghindarkan dari penyakit pembuluh darah jantung.
5. Usus dan lambung sehat, pencernaan baik.
6. Prana memasuki Sushumna, membuka cakra, dapat menyaksikan sinar gemilang, melihat asap, melihat cahaya terang, pada akhirnya dapat menyaksikan terangnya Buddhatta.

Dharmaraja Liansheng mengatakan bahwa Bhadrakumbha Prana merupakan sarva-guna ; Dapat mencapai Anasrava, dapat membangkitkan Kundalini, dapat menaikkan dan menurunkan bindu, merupakan dasar semua Sadhana Dalam, sangat penting !

Buddha Dharma ada sejati juga ada yang dipalsukan, namun yang diajarkan oleh Dharmaraja Liansheng merupakan yang sejati, bahkan gratis tidak dipungut biaya !

( Note Penterjemah : Sadhana Dalam memerlukan abhiseka sarana dan abhiseka penekunan Sadhana Dalam secara langsung. Penekunannya memerlukan bimbingan Vajra Acarya sejati yang benar-benar menekuninya. Semua syarat ini mutlak diperlukan , jika diabaikan bisa mengakibatkan pelanggaran ketentuan Dharma, hasil yang menyimpang dan bahkan berbagai efek samping yang buruk )

bagi pemula sebaiknya belajar sadhana Ta Wen yang terlebih dahulu yang lebih simple ada di buku seri padmakumara

Leave a comment »