Vajradhara-Jin Gang Zong Chi (Dorje Chang)

Mulaguru Sakyamuni memutar Dharmacakra

Namo Mahamulacarya Liansheng Fo
Namo Mulaguru Sakyamuni Buddhaya

sebelumnya kita telah membahas tingkatan Buddha dalam Vajrayana, nah…

Apakah Buddha ada yang lebih rendah atau ada yang lebih tinggi tingkatannya???

lalu mana yang tertinggi di antara Amitabha, Sakyamuni atau Dorje Chang ?

Kenapa Tingkatan Dorje Chang berada di urutan teratas ?

apakah ini maksudnya ?

jawabannya ada di buku Mahaguru yang ke- 200 “Helai Helai pencerahan”
yang full membahas Sakyamuni Buddha !

silahkan periksa, dan disana ada juga pernyataan Mahaguru bahwa :
“Kita lihat bersama bahwa manifestasi Sakyamuni Buddha setelah Parinirvana juga tak lepas dari fitnahan ! “


Dorje Chang

Jin Gang Zong Chi – 金刚总持
Vajradhara

Jin Gang Zong Chi (Tibetan – Dorje Chang)adalah Buddha awal (Yuanshifo – 原始佛) Menyimbulkan Buddhata (Kesadaran Sejati Paripurna) , adalah Dharmakaya yang tak berwujud.

Pahala dan kemuliaan yang dikandung Nya adalah tiada yang tak diliputi serta melampaui pikiran awam.

Buddha ada trikaya : Dharmakaya, Sambhogakaya dan Nirmanakaya.

Dalam mengejawantahkan rupa, Dharmakaya menggunakan 2 cara berbeda, yaitu :

1. Nirmanakaya yang memiliki wujud
contohnya adalah Buddha yang bisa dilihat , disentuh dan dirasakan oleh para insan yang masih keruh.

2. Sambhogakaya
rupa yang murni, atau Tubuh Vimala Sukha, adalah Buddha yang hanya bisa dilihat oleh para insan yang berpikiran suci dan Para Bodhisattva tingkat tinggi.

2500 tahun lalu, Sakyamuni Buddha (Nirmanakaya Buddha) merupakan Buddha ke 4 dari 1000 Buddha kalpa saat ini, Pangeran Sidharta Dharmakaya Kesadaran Paripurna , merupakan Nirmanakaya Buddha yang oleh karena Belas Kasih Nya yang tanpa batas sehingga mengambil rupa demi mengajar para insan.

Namun berdasarkan rupa sejati Nya, Sakyamuni Buddha dengan Vajradhara sama sekali tiada beda !

Karena Prajna Sakyamuni Buddha adalah Dharmakaya, ucapan Nya adalah Sambhogakaya, tubuh Nya adalah Nirmanakaya.

Sedangkan wujud Mahaunggul yang ditunjukkan oleh Vajradhara dihadapan Guru leluhur kita Tilopa, semua atribut Nya adalah simbul dari Kesadaran Sempurna. (lihat gambar)

dorje chang
Misal :

Tubuh biru Vajradhara bagai angkasa, menyimbulkan batin Kesempurnaan Sejati atau Dharmakaya.

Hiasan dewata , anting, mahkota permata, gelang, menyimbulkan kemurnian batin yang Sadar atau Sambhogakaya.

Sedangkan tubuh yang menyerupai manusia, merupakan Nirmanakaya yang bisa ditangkap oleh panca indera manusia biasa.

Vajra dan gantha di posisi dada Vajradhara menyimbulkan gabungan antara Prajna dan upaya kausalya.

Maka semua tubuh dan semua kondisi batin yang ditampilkan dapat dijelaskan dengan cara yang berbeda, namun ketiga Tubuh, bagi Buddha yang Sempurna adalah satu belaka, gabungan Trikaya ini adalah :

The Trikaya doctrine (Sanskrit, literally “Three bodies or personalities”; 三身 Chinese: Sānshén, Japanese: sanjin) is an important Buddhist teaching both on the nature of reality, and what a Buddha is. By the 4th century CE the Trikaya Doctrine had assumed the form that we now know. Briefly the doctrine says that a Buddha has three kayas or bodies:

the nirmanakaya or created body which manifests in time and space;

the sambhogakaya or body of mutual enjoyment which is an archetypal manifestation; and

the Dharmakaya or reality body which embodies the very principle of enlightenment and knows no limits or boundaries.[5] In the view of Anuyoga, the ‘Mindstream‘ (Sanksrit: citta santana) is the ‘continuity’ (Sanskrit: santana; Wylie: rgyud) that links the Trikaya.[5] The Trikaya, as a triune, is symbolised by the Gankyil.

source wikipedia.

Sifat Buddha Para Insan.

jadi tidak ada yang namanya Buddha yang tertinggi dan Buddhayang lebih rendah , semua nampak berbeda hanya demi misi menyadarkan insan yang berbeda.

Dari semua ini , pemetaan ini digunakan oleh Para Guru Leluhur Yang Telah mencapai Pencerahan demi mengajar para insan dalam penjelasan kondisi batin supaya mudah dicerna.

Dorje Chang

Vajradhara (Sanskrit: वज्रधार Vajradhāra, Tibetan: རྡོ་རྗེ་འཆང་། rdo rje ‘chang (Dorje Chang); Chinese: 金剛總持 or 多傑羌佛; Javanese: Kabajradharan; Japanese: 執金剛神; English: Diamond-holder) is the ultimate primordial Buddha, or Adi Buddha, according to the Gelug and Kagyu schools of Tibetan Buddhism.

Vajradhara displaced Samantabhadra who remains the ‘Primordial Buddha’ in the Nyingma, or ‘Ancient School’ and the Sakya school. However the two are metaphysically equivalent. Achieving the ‘state of vajradhara’ is synonymous with complete realisation.

According to Kagyu Vajradhara, the primordial buddha, is the dharmakaya buddha, depicted as dark blue in color, expressing the quintessence of buddhahood itself and representing the essence of the historical Buddha’s realization of enlightenment.[1].

As such Vajradhara is thought to be the supreme essence of all (male) Buddhas (his name means the bearer of the thunderbolt). It is the Tantric form of Sakyamuni which is called Vajradhara. Tantras are texts specific to Tantrism and are believed to have been originally taught by the Tantric form of Sakyamuni called Vajradhara. He is an expression of Buddhahood itself in both single and [yab-yum] form.[2]. Vajradhara is considered to be the prime Buddha of the Father tantras [3] (tib. pha-rgyud) such as Guhyasamaja, Yamantaka, and so on [4].

From the primordial Vajradhara/Samantabhadra were manifested the Five Wisdom Buddhas (Dhyani Buddhas):

Vajradhara and the Wisdom Buddhas are often subjects of mandala.

Vajradhara and Samantabhadra are cognate deities in Tibetan Buddhist cosmology with different names, attributes, appearances and iconography. Both are Dharmakaya Buddhas, that is primordial Buddhas, where Samantabhadra is unadorned, that is depicted without any attributes. Conversely, Vajradhara is often adorned and bears attributes, which is generally the iconographic representation of a Sambhogakaya Buddha. Both Vajradhara and Samantabhadra are generally depicted in yab-yum unity with their respective consorts and are primordial buddhas, embodying void and ultimate emptiness.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: