Archive for April, 2009

Namo A M I T O F O

” Namo Amitofo “

Tsongkapa menyebutkan ” Menjapa Buddha adalah menyebutkan nama Buddha.”

“Melafalkan mantra adalah menyebutkan bahasa hati Buddha.” Dengan adanya yoga manjapa nama Buddha, maka rintangan segera tersingkirkan dan kebijaksanaanpun bertambah, berubah dari orang awam menjadi orang suci, memiliki kekuatan dewa yang dahsyat, tak terbayangkan. Menjapa nama Buddha dan melafalkan mantra kedua-duanya dianjurkan. tidak ada perbedaan tinggi dan rendah. Maha guru Lian Chi menganjurkan : Yang khusus menjapa nama Amithaba Buddha mengungguli semua pahala, manjapa nama Buddha dengan penuh konsentrasi, menjapa satu kali nama Buddha maka dosa berat samsara selama 80 koti kalpapun tersingkirkan. Dengan sepuluh penjapaan maka akan memperoleh kelahiran yang tidak akan mundur. kedahsyatan dan kemanjurannya tak terukur, itulah Maha Deva Mantra.

Doa Parinamana Pengangkatan sumpah pelafalan “Namo Amitofo” di rumah atau Vihara.

” Saya siswa yang bernama ………………………….., setulus hati berpasrah pada Amithaba Buddha di Sukhavatiloka, Semoga Buddha menyinariku dengan cahaya suci, membimbingku dengan sumpah Maitri, kini Aku dengan pikiran yang benar melafalkan nama Tathagata, lewat sepuluh pelafalan seketika, demi jalan Bodhi, Aku berharap terlahir di Tanah Suci.

Pada masa silam Sang Buddha memiliki sumpah dasar yang berbunyi “barang siapa yang Ingin terlahir di negeriKu maka Dia harus setulus hati, yakin dan bersuka cita, bahkan sampai sepuluh pelafalan, jika ada yang tidak terlahir maka Sang Buddha bersumpah

Untuk tidak mencapai pencerahan. Hanya dengan menyingkirkan lima perbuatan durhaka Dan pengecaman terhadap Dharma yang benar, kini aku merenungkan bahwa mulai dari kehidupan ini, takkan mengecam mahayana, semoga dengan sepuluh pelafalan ini dapat memasuki samudera maha ikrar Tathagata, di bawah daya maitri Sang Buddha,semua dosa tersingkirkan, karma suci bertambah, jika ajal menjelang dengan sendirinya akan tahu kapan waktunya tiba, diri ini tidak mengalami penderitaan sakit, pikiran tidak serakah juga tidak bercabang, ibarat memasuki Samadhi, Buddha dan para Arya dengan menggenggam padma emas, datang menjemputku dengan pelafalan seketika demikian terlahir di Sukhavatiloka, bunga mekar dan tampaklah Sang Buddha, seketika mendengar Buddhayana sesaat terbukalah prajna Buddha, menyelamatkan mahluk banyak dan memenuhi ikrar Bodhi. Om mani pad me hum.

Bila sedang bepergian. Doa pelimpahan jasa setelah pembacaan ” Namo Amitofo”

” Siswa anda yang bernama ………………………………. ini sekarang adalah seorang manusia biasa yang masih terikat oleh kelahiran dan kematian, yang berkarma berat, yang masih harus bertumimbal lahir di enam alam kehidupan. Sekarang saya telah sadar, menyadari betapa besar pahala menyebut “Namo Amitofo,” saya menyebut Namo Amitofo

dengan sepenuh hati dan berharap dapat terlahir di alam Surga Sukhavati-Mu. Kasihanilah

saya dan terimalah saya sebagai siswamu. Saya belum pernah melihat kateristik cemer- lang dari Buddha, dapatkah Buddha menampakkan diri di hadapanku. Saya juga berharap

dapat melihat “Kwan Se Im Pousat” dan “Ta Se Ce Pousat” dan para Bodhisatva lainnya. Di Surga-MU segalanya adalah murni, agung, indah dan cemerlang. Betapa saya ingin melihat Buddha Amitofo dan SurgaNya. Om mani pad me hum.

Bila rajin membaca “Namo Amitofo”setiap saat seumur hidup dan menjalankan pancasila, ketika menjelang ajal maka Buddha Amitofo (Amithaba), Kwan Se Im Pou sat dan Ta Se Ce Pou sat pasti datang menjemput untuk terlahir di Tanah Suci Buddhaloka. Ada yang bertanya jika Mara (iblis) menjelma menjadi Buddha yang datang menjemput, Bagaimana ?Panjatkanlah mantera rahasia Amithaba Buddha “Om Guru Lien Seng Siddhi Hum” tiga kali. Jika itu Buddha sejati cahayanya semakin cemerlang. Jika itu Mara yang menjelma menjadi Buddha akan lenyap.

Leave a comment »

Karma Ucapan

*Hukum Langit Atas Karma Ucapan*

Dari semua dosa yang paling gampang dan tidak disadari dilanggar semua mahluk adalah karma ucapan dan sering dilakukan sedari usia muda. Ingat pepatah

Mulutmu adalah harimaumu “. Kita semua harus berhati-hati dengan ucapan kita. Keberuntungan atau bencana dapat datang sebagian besar dari ucapan kita sehari-hari. Simaklah dengan baik::

Hukum langit yang mengatur karma ucapan dari Dewa Wen Chang Ti Chun

Pada saat seseorang menikmati mengucapkan kata-kata yang memperdayai dan

berbicara kata-kata cabul, perkataan manis dan bahasa yang genit sehingga mengganggu pikiran orang lain, menggunakan istilah yang berlebihan untuk

mengggambarkan tindakan yang menjijikan, memfitnah dan membuat pernyataan

palsu sehingga reputasi seseorang hancur, menggosiipkan hubungan gelap cinta

orang lain, dan seterusnya. Jika seseorang melakukan salah satu pelanggaran

karma ucapan ini, maka

satu kejadian akan dihitung sebagai sepuluh” kesalahan

Dua puluh kejadian akan dihitung sebagai satu “Kesalahan besar”

Satu “Kesalahan besar ” akan mengakibatkan masa hidup orang tersebut berku-

rang satu tahun. Seratus “Kesalahan besar” akan mengakibatkan pengurangan

masa hidup hingga tiga tahun dan keberuntungannya akan dikurangi.Umur dan keberuntungan orang akan dikurangi sesuai dengan banyak pelanggaran yang

telah dilakukannya.

Jika kesalahan besar yang dilakukan terlalu banyak akan mengakibatkan kema-

Langan bagi anaknya yang mungkin terlahir cacat. Bagi yang merasa telah mem

buat pelanggaran dan berkeinginan bertobat dapat membuat sumpah pertobatan seperti dibawah ini :

Pada hari………., tanggal………….dan tahun………. , saya bersumpah dan bersedia menahan diri dari tindakan asusila termasuk perkataan yang memperdayai. Pada kesempatan ini murid ………………… berpuasa dan mandi , menyalakan dupa serta membuat permohonan dalam tulisan. Dengan hormat dan ketulusan hati, saya bersumpah di depan dewa Wen Chang Ti Chun (dewa pelajar). Pada zaman dahu-

lu seorang guru yang bijaksana mengajarkan kesalehan merupakan prioritas uta-

ma dari semua perbuatan baik, dan tindakan asusila adalah yang terburuk dalam

hidup manusia. Diharapkan sedari usia muda kita dapat menjaga ucapan kita sehingga tdak menimbulkan sesal di hari tua.

Leave a comment »

Menjapa Mantera dalam agama Buddha

Dalam menjalankan Agama Buddha Tantrayana ada 3 hal yang harus dijalankan untuk mencapai keBuddhaan dalam tubuh sekarang.

Yaitu :

1. Menjapa Mantera

2. Meditasi

3. Melaksanakan Api Homa

Dari ketiga hal, yang paling gampang dan harus dijalankan adalah  yang nomor satu Menjapa Mantera. Simak syair di bawah ini

M e n j a p a M A N T E R A B U D D H A

Jangan ragu-ragu menjapa mantera Mudah mengikis dosa dan karma Menyadari dunia fana bagaikan penjara

Harta dan tahta hanyalah lilin yang menyala

Lahir, tua , sakit , mati sudah hal biasa

Timbul lenyapnya cinta kembali sirna

Mendalami mantra Buddha dan mulai bersadhana

Kelak menetap abadi di Surga Sukhavatiloka.

Mantera dalam tantra Buddha disebut juga Dharani, memiliki makna penjapaan pokok artinya segala penjapaan mantra tiada batas, kita menyebutkan-nya sebagai kata sejati, cahaya mantera, hati Tathagata, Ratna manikam. Yang menapaki sadhana dalam Buddha dharma akan menyadari bahwa Buddha dharma adalah maha tinggi, takjub dan unik. Memiliki banyak ratna permata antara lain sunya yang sejati, kebijaksanaan, pandangan benar dari Madyami-ka, Abhijna dari Vijnapti dan yoga ekarasa. Paling dasar mendalami Yoga eka-rasa memasuki mantera Buddha. Mantera Buddha bisa mengabulkan semua doa kita yang bajik, bisa meluruskan segala urusan besar seperti pertobat-an,rejeki, kerukunan, penaklukan agar kemakmuran bisa tercapai, panjang umur bahkan mencapai Anuttara Bodhi (keBuddhaan). Semua mantera berasal dari Buddha Bodhisatva yang prihatin atas penderitaan mahluk hidup, demi menolong mahluk hidup agar terbebas dari duka maka dharani itu diwariskan langsung oleh Buddha Bodhisatva. Kitab intisari Tantrayana menyebutkan “ pahala menjapa mantra dan menye-but nama Buddha bagaikan gunung semeru dan samudra luas. Bila hanya menyebut nama Buddha tanpa menjapa mantra, pahala hanya sebatas gunung wangi saja”. Kitab Anuttarje mengatakan “ menyebut nama Buddha memang bisa mencakupi tiga akar, namun umat yang terlahir di pantai seberang belum sepenuhnya mencapai alam yang paling suci. Apabila menekuni sesuai Tantra-yana, sepuluh penjuru alam suci dapat dijelajahi sesuai kehendak dan merupa-kan hal yang pasti terlahir di tingkat paling suci. Menyebut nama Buddha akan memperoleh rupa nama Buddha, manjapa mantera akan memperoleh hati Tathagata . Dengan menyebut nama Buddha serta menjapa mantra, pencapaiannya paling sempurna.

Contoh mantera dan nama Buddha yang dapat ditekuni. Pilih yang paling berjodoh dengan anda (yang paling disukai)

1. Mantera rahasia Amithaba Buddha : “Om Ku Lu Lien Seng Siti Hum” Menjapa penuh setiap hari hingga 100.000 x semua doa positip terkabul Menjapa penuh setiap hari hingga 350.000x semua siddhi akan diperoleh jauh dari penyakit dan bencana/santet. Menjapa lebih banyak lagi semua malapetaka dan gangguan jahat akan lenyap. Bila mampu menjapa 8.000.000X dalam hidupnya akan dijamin terlahir di Surga Sukhavatiloka. Bila bertemu mahluk suci dalam meditasi dan untuk menguji mahluk suci itu sejati atau siluman/mara japalah “om kulu lienseng Siti hum” 3x jika sejati sinarnya akan lebih terang jika palsu akan ditampakkan wujud aslinya. Nama Buddha yang dilafalkan : “Namo Amitofo”

2. Mantera Avalokitesvara : “Om Mani Pad Me Hum” Menjapa 108x setiap hari seumur hidup tidak akan terlahir ke tiga alam yang lebih rendah dalam kehidupan mendatang mendapat tubuh manusia kembali dan dapat melihat Avalokitesvara (Kwan Se Im Posat) Menjapa 21 x setiap hari seumur hidup akan menjadi cerdas dan mampu mengingat apapun yang telah dipelajari. Memiliki suara yang merdu menjadi ahli dalam makna semua Buddha dharma. Menjapa 7 x setiap hari seumur hidup, semua kesalahan akan disucikan dan semua rintangan hidup akan disingkirkan dalam kehidupan mendatang. Tidak perduli dilahirkan dimana senantiasa berjodoh dengan Avalokitesvara.

Nama Buddha yang dilafalkan : “Namo Kwan Se Im Posat”

Avalokitesvara pernah mengatakan pahala terbesar dalam Tantrayana adalah menjapa Mantra!  Mengapa ? Mantra meliputi segalanya. Meliputi angkasa luas. Tetapi besar kecil pahala dan kekuatan dharma penjapaan mantra berbeda pada setiap orang. Tergantung tingkat kesucian pikiran / hati orang tersebut. Menjapa mantra dapat menghapus kotoran, membersihkan karma, menyembuhkan penyakit, menghapus kerisauan bathin merupakan abhiseka manjur sungguh tak terbatas nilainya. Bagi yang berjodoh dan mempunyai pahala besar akan segera menekuninya dengan rajin, segera mencapai kontak bathin dan mencari ajaran selanjutnya. Bagi yang belum berjodoh/berniat menekuni simpanlah hingga waktunya tiba. Bagi sedang bermasalah jangan ragu-ragu lagi, segeralah menjapa mantra !

Comments (1) »

waspadalah dengan wabah penyakit

Mahluk Wabah penyakit Turun dari Langit

Saya beberapa kali dalam samadhi di pertapaan melihat para mahluk wabah penyakit turun dari angkasa. Wujud mereka berbeda-beda. Ada yang tinggi seperti raksasa, antara kepala dan kaki mereka tidak bisa dibedakan lagi, mulut luar biasa besarnya, sekali lahap bisa menelan beberapa ekor sapi (sakit sapi gila).
* Ada yang bersuara gemuruh bak petir dari ujung kepala hingga ke ujung kaki memancarkan cahaya aneh. Dalam cahaya itu terdapat virus, manusia yang terkena virus atau menghirup virus tersebut, paru-parunya akan digerogoti dan menjadi basah, langsung mati (penyakit sars).
* Ada juga yang seperti ular, kepalanya besar seperti topi caping badannya kecil
seperti jarum, mulutnya menyemburkan hawa berbisa, sekali mengembuskan napas langsung mematikan beberapa ekor unggas(burung). Semua ayam dan itik mati tanpa sisa. Kedatangan mahluk wabah ini sungguh menakutkan unggas di bumi (Flu burung).
*Ada lagi mahluk wabah yang ganas, mata mereka sebesar mulut cangkir, wujudnya beringas sangat menakutkan. Sapi, babi dan kambing merasa sangat ketakutan.Mahluk wabah ini sangat ganas dan berbau amis, kulitnya penuh dengan borok bagaikan penyakit kusta.(penyakit kuku dan mulut).
*Ada mahluk wabah yang berjumlah banyak seperti prajurit setan, mereka dipimpin oleh beberapa jendral setan yang berbaju zirah, dipinggang tergantung sebilah golok. Manusia yang bertemu dengan mahluk ini langsung ditebas. Korban yang jatuh tak terhitung lagi banyaknya. Prajurit setan ini berperawakan kecil bagaikan gumpalan bayangan hitam kecil kebanyakan baju mereka berwana hitam. Dan pada baju zirahnya terdapat bintik-bintik putih (penyakit demam berdarah).
*Masih banyak lagi mahluk wabah yang tidak diketahui namanya.Yang saya lihat bukan hanya itu saja. Sebagian mahluk wabah turun ke bumi atas titah dari langit. Bahkan ada yang sedari awal telah bersembunyi di hati manusia.
Dengan kedatangan mahluk wabah yang demikian bencana besar bagi umat
manusia pun tiba. Bencana alam dan malapetaka takkan terelakkan lagi.

Saya memasuki mimpi para umat, “Lekas menjapa mantra Cin Mu (penguasa langit arah barat dalam Tao) “om cin mu siddhi hum” dan memanggil Dewi Yao Che Cin MU dengan memanggil namanya “Namo Wu Chi Ta Seng Yao Che Cin Mu Ta Thien Cun.” Setahu saya mereka semua dibawah pengawasan Maha Dewi Yao Che, Seluruh mahluk wabah takut terhadap Maha Dewi Yao Che. Demi Ketentraman dunia dan keamanan manusia, Hendaknya setiap orang senantiasa menjapa/menyebut “Namo Wu Chi Ta Seng Yao Che Cin Mu Ta Thien Cun.” dengan demikian para mahluk wabah tidak berani beraksi.kalau tidak, sekali mahluk wabah ini masuk ke satu daerah itu langsung akan merajalela, dunia akan celaka. yang telah menderitasakit senantiasa menjapa “om cin mu siddhi hum” Jika mahluk wabah berkembang banyak seperti debu manusiapun tak punya ruang lagi untuk bertahan hidup.

Terjemahan bebas dari buku “Satu mimpi satu dunia”oleh Rinpoche Lien Shen

Leave a comment »