Archive for Memulai puja bakti Hal-hal yang harus diketahui

Mantra Khai Guang untuk Pratima Baru

Sebelum membaca mantra dan tata cara kai guang anda terlebih dahulu harus menerima abhiseka dari Mula Acharya.

Mantranya:

Kai guang, kai guang, kai guang cou 3x
jek de guang, yek de guang, tian de guang.
kai yan guang kan shi jie
kai er guang ting cung shen de you qiu
kai kou guang shuo fa du cung
kai xin guang fa pu di xin
kai shou guang bang man cung shen
kai cuk guang fei wan ri, jiu cung shen
kai shen guang fang da guang min, zhia ce cung shen.

membentuk mudra pedang
terus bervisualisasi aksara “OM ,AH ,HUM ,SHIE”

Ada juga cara lain utk khai kuang pratima, Langkah2nya sbb:

1.Bersihkan rupang.
2.Percikkan air Maha Karuna atau bilas dgn air suci (tergantung bahannya)
3.Siapkan persembahan
4. Lafal Sutra Tiandibayangshenzhoujing 3x utk memutar balikkan pengaruh
jelek atau segala chiong.
5.Sadhana spt biasa, sebelum tahap mantra pengundang, japa 108x Mantra Guru dan mohon Guru turun dan hadir memberkati rupang, mengundang dewata yg bersangkutan. Mantra pengundang dan sebut nama adinata bersangkutan, dan visualisasikan masuk dalam rupang. Rupang bercahaya memenuhi Dharmadathu..lalu di.lanjutkan dengan sadhana.

Leave a comment »

Hio atau Dupa dan maknanya

Dupa atau Hio dan maknanya

Hampir semua orang Tionghoa tahu apa itu Dupa/Hio karena setiap ritual persembahyangan yang dilakukan selalu menggunakan benda yang satu  ini. Bahkan pernah saya mengdengar seorang sesepuh berkata, “Kalau tidak mau memegang dan tidak tahan dengan bau Dupa/Hio janganlah jadi orang Tionghoa.” Namun tahukah anda makna yang tersirat dari penggunaan Hio didalam ritual persembahyangan tersebut. Berikut sedikit penjelasan tentang makna dari Hio, jenis-jenisnya, dan cara penggunaannya.
Hio artinya harum. Yang dimaksud harum disini ialah Dupa, yaitu bahan pembakar yang dapat mengeluarkan asap berbau sedap/harum. Dupa yang dikenal pada jaman Nabi Khongcu (Kongzi) berwujud bubuk atau belahan kayu, misalnya : Tiem Hio (Cheng Xiang), Bok Hio (Mu Xiang)/Gaharu, Than Hio (Tan Siang)/Cendana dan lain-lain.
Makna dan Kegunaan

Membakar dupa/hio mangandung makna :
– Jalan Suci itu berasal dari kesatuan hatiku. (Dao You Xin He)
– Hatiku dibawa melalui keharuman dupa. (Xin Jia Xiang Chuan)
Selain itu dupa juga berfungsi untuk:
– Menenteramkan pikiran, memudahkan konsentrasi, meditasi. (seperti aroma therapy pada jaman sekarang)
– Mengusir hawa atau hal-hal yang bersifat jahat.
– Mengukur waktu : terutama pada jaman dahulu, sebelum ada lonceng atau jam. (seperti pada saat duel di film-film kungfu)
1. Dupa yang bergagang Hijau
Gunanya khusus untuk bersembahyang di depan jenasah keluarga sendiri atau dalam masa perkabungan.
2. Dupa yang bergagang Merah
Gunanya untuk bersembahyang pada umumnya. (contoh : ke altar Tian/Tuhan, altar Nabi, Shen Ming (para suci), dan leluhur)
3. Dupa yang tidak bergagang, berbentuk piramida, bubukan dsb-nya
Gunanya untuk menenteramkan pikiran, mengheningkan cipta, mengusir hawa jahat; dinyalakan pada Swan Lo (Xuan Lu)/tempat dupa –> tidak sama dengan tempat menancapkan dupa.(gambar menyusul)
4. Dupa yang berbentuk spiral, seperti obat nyamuk.
Hanya untuk bau-bauan. Sering ditemui ketika upacara perkabungan.
5. Dupa besar bergagang panjang (Kong Hio/Gong Xiang)
Gunanya khusus untuk upacara sembahyang besar.
6. Tiang Siu Hio/Chang Shou Xiang
Dupa tanpa gagang, panjang lurus, dibakar pada kedua ujungnya. Gunanya untuk bersembahyang kepada Tuhan atau untuk dipasang pada Swan Lo (Xuan Lu). Bisa juga lagi dalam masalah gawat sekali, urgent memohon pertolongan sang Dewa dengan segera.
Ketentuan Jumlah/Penggunaan Dupa

1. Dupa yang bergagang Hijau
2 batang : digunakan untuk menghormat jenasah keluarga sendiri atau kehadapan altarnya yang masih belum melampaui masa berkabung atau belum lewat sembahyang Tai Siang/Da Xiang (sembahyang 3 tahun). Boleh juga dipakai satu batang saja.
2. Dupa yang bergagang Merah
1 batang : dapat digunakan untuk segala upacara sembahyang; bermakna memusatkan pikiran untuk sungguh-sungguh bersujud.
2 batang : untuk menghormat kepada arwah orang tua/yang meninggalnya telah melampaui 2 x 360 hari/setelah sembahyang Tai Siang; atau ke hadapan altar jenasah bukan keluarga sendiri. Mengandung makna : ada hubungan Iem Yang atau Negatif dan Positif, ada hubungan duniawi.
3 batang : untuk bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa/Nabi/Para Suci.
4 batang : sama makna dengan 2 batang.
5 batang : untuk menghormat arwah umum, umpamanya pada sembahyang bulan VIII Imlek(Yin Li) : sembahyang King Hoo Ping (Jing He Ping). Mengandung makna melaksanakan Lima Kebajikan (Ngo Siang/Wu Chang) atau sembahyang Thu thi kung (hok tek ceng sin).
8 batang : sama guna dengan 2 batang, khusus untuk upacara kehadapan jenasah oleh Pimpinan Upacara dari Majelis Agama (MAKIN). Mengandung makna Delapan Kebajikan.
9 batang : untuk bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa/Nabi/Para Suci.
1 pak : Boleh sebagai pengganti 9 batang atau 1 batang; ini kurang/tidak perlu.

Cara Menancapkan Dupa

1. Untuk 2 batang dupa
Langsung ditancapkan sekaligus, setelah dinaikkan 2 kali. Ini juga berlaku untuk 4 atau 8 batang.
2. Untuk 3 batang dupa
berlaku juga di Hio Lo berbentuk
bulat
Hio pertama ditancapkan di tengah-tengah, hio kedua ditancapkan disebelah kiri (ditinjau dari altar), hio ketiga ditancapkan disebelah kanan. (lihat gambar)
3. Untuk 5 batang dupa
a. Pada tempat menancapkan dupa (Hio Lo/Xiang Lu) yang berbentuk bulat, 5 batang dupa itu ditancapkan sbb (ditinjau dari altar):
– dupa pertama : tengah-tengah
– dupa kedua : kiri (dalam)
– dupa ketiga : kanan (dalam)
– dupa keempat : kiri (luar)
– dupa kelima : kanan (luar)
b. Pada tempat dupa yang bentuknya persegi panjang. 5 batang dupa itu ditancapkan seperti pada penancapan 3 batang, ditambah dengan dupa keempat disebelah kiri dupa kedua dan dupa kelima di samping kanan dupa ketiga.

4. Untuk 9 batang dupa

Cara menancapkan seperti pada penancapan 3 batang, dinaikkan 3 kali dan tiap kali ditancapkan 3 batang dupa.
Catatan : untuk setiap penancapan dupa selalu menggunakan tangan kiri
Penjelasan : Didalam prinsip-prinsip ajaran yang terdapat di Kitab Ya King (I-Ching) yang menguraikan tentang garis-garis Pat Kwa (Ba Gua), dinyatakan kiri ialah melambangkan unsur Yang atau Positif, dan kanan melambangkan unsur Yin atau Negatif. Maka untuk hal-hal yang bersifat seperti menancapkan dupa, wajib menggunakan tangan kiri. Ada keterangan lain yang peninjauannya secara anatomis (untuk diketahui saja):
Jantung atau Siem (Xin) kita ada disebelah kiri, menancapkan dupa adalah hal kesujudan hati/Siem (jantung), maka digunakanlah tangan kiri.
Fakta tambahan : coba lihat lintasan lari di stadion pasti mengarah kekiri atau lihat atraksi “roda gila” pasti pemainnya muter ke arak kiri.  Chi/angin bergerak dari arah sebelah kiri menyusuri tembok kiri (sisi naga ).
source : koleksikoin.blogspot.com
sumber : SGSK XXVIII No 4-5 Tata Agama dan Tata Laksana Upacara Agama Khonghucu, MATAKIN
Penelitian yang dilakukan di Taiwan pada tahun 2001 terkait pembakaran dupa dapat mengakumulasi bahan kimia dalam tubuh, penelitian tersebut dilakukan di sebuah kuil Budha. Membakar dupa dengan bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi dapat menyebabkan masalah-masalah pernapasan dalam tubuh manusia seperti sesak nafas karena jumlah bahan kimia yang dihasilkan dalam proses pembakaran dupa.Penelitian ini juga yang membuat sebagian vihara di indonesia tidak memperbolehkan menyalakan hio lagi untuk umum , hio hanya dinyalakan pada waktu sembahyang.
 Ciri-ciri dari dupa yang terbuat dari bahan alami adalah :
1. Abu dupa tidak panas di tangan.
2. Pembakaran tidak akan padam di tengah.
ada tips lain lagi, sisa lidi-lidi yang menancap di hiolo jangan dibuang sembarangan, karena sering ditempel oleh roh yang mengisap hio tersebut.  roh2 tersebut biasanya yang sering membantu kita dalam kehidupan sehari-hari, karena kita telah memberi makan kepadanya… (makan wewangian).
 untuk membuangnya ,sebaiknya dibakar dengan kertas mas (kimcoa) setiap ce it atau cap go

Leave a comment »

Catur Prayoga = Sadhana Awal

 Sadhana Awal untuk pemula yaitu Catur Prayoga

Karena banyak pemula dalam TBSN yang masih malu2 bertanya di vihara kita bahas bersama disini, juga banyak umat luar yang ikut antrian abhiseka dari Mahaguru ketika datang ke Indonesia tahun ini 2011 otomatis juga menjadi abhiseka menjadi murid TBSN dapat belajar dari sini.

Catur prayoga mempunyai pengertian 4 langkah dasar untuk membentuk fondasi untuk semua sadhana. ibarat membentuk fondasi dulu dari sebuah bangunan, jadi penting sekali untuk dijalankan.

Empat Langkah Dasar meliputi :

1. Sadhana Maha Namaskara
2. Sadhana Catur Sarana
3. Sadhana Maha Puja
4. Sadhana Vajrasattva – Vajra Citta Bodhisattva, yang merupakan penjelmaan kemurnian Panca Dhyani Buddha.

di Tibet setiap orang yang baru masuk tantrayana, semuanya harus berlatih catur prayoga dulu, bahkan harus melakukannya masing2 100.000 kali. setelah selesai baru boleh mempelajari sadhana tantra lainnya, kalau tidak dikhawatirkan akan banyak menghadapi banyak gangguan dan mudah tersesat.

Banyak orang bertanya, catur prayoga dilatih sekaligus dalam sehari atau boleh cuma 2 tahap saja ?

Jawaban Maha guru :

Semuanya tergantung waktu yang tersedia, tidak usah terlalu kaku, bagi yang memiliki waktu banyak lakukanlah ke empatnya jika tidak mulai melatih dengan satu saja.

1. Sadhana Mahanamaskara

Mahanamaskara TBSN sedikit berbeda dari aliran tibet umumnya, dibagi menjadi 3 jenis

a. Mahanamaskara dengan seluruh badan menelungkup di lantai.
ini adalah gaya tibet, umumnya dilakukan di lantai yang berkarpet atau alas tikar kalau tidak bisa cedera mesti berhati-hati.

b. Panca mandala Mahanamaskara.
Hanya kedua lutut, kedua telapak tangan dan dahi yang menyentuh lantai saja.

c. Mahanamaskara Visualisasi.
hanya ada di TBSN ciptaan Mahaguru, bila ruangan vihara terlalu penuh sesak semuanya boleh sambil duduk dan menerakan mudra namaskara tidak perlu bersujud
karena tempat tidak memungkinkan.

Setiapkali melakukan Mahanamaskara apapun, harus membayangkan Mula Acarya dan Triratna berada di depan (Maha guru dan Amitofo, Kwanseim pusat dan Tasecepusat).
Diri sendiri dan bayangkan anggota keluarga lainnya seperti saudara , orang tua, anak dan pasangan hidupnya melakukan namaskara bersama-sama.

Mula-mula mudra di terakan didahi, bayangkan ada sinar putih menyinari dahi = semua karma badan dibersihkan.

kemudian diterakan di leher dengan sinar merah menyinari leher = semua karma ucapan disucikan.

Lalu diterakan di dada dengan sinar biru menyinari dada/hati = semua karma pikiran disucikan.

setelah semua karma badan, ucapan dan pikiran disucikan mudra kembali disentuhkan ke dahi lalu dileraikan badan kemudian bersujud/membungkuk ke depan sesuai dengan 3 macam namaskara di atas.

untuk yang khusus melatih namaskara, dapat melakukannya 21 kali / 49 kali / 108 kali atau lebih banyak lagi setiap hari boleh hanya menggunakan mudra Jinajik saja bersujud berulang-ulang dengan menyamaratakan semua Buddha, Bodhisatva dan semua mahluk suci lainnya sebagai Buddha, terus menerus bersujud semakin banyak semakin baik.

Yang terpenting dalam namaskara adalah visualisasi sinar putih, merah dan biru untuk menyucikan semua tubuh, ucapan dan pikiran.

ada 4 mudra namaskara
1. mudra Jinajik = Untuk menghormati para Buddha.
2. mudra Arolik = untuk menghormati para Bodhisatva
3. mudra Vajradherk = untuk menghormati para Dharmapala
4. mudra Samaropa = untuk menghormati semua mahluk yang melatih diri

untuk lebih jelas dengan gambarnya coba kunjungi http://www.scribd.com/doc/39588464/TUNTUNAN-PUJA-BHAKTI

Pada waktu bernamaskara boleh menjapa mantera namaskara yaitu :

OM NAMO MANJUSRIYE , NAMO SUSRIYE, NAMO UTTAMASRIYE SVAHA

atau sebuah gatha/syair penghormatan

Namaskara dapat menghilangkan sifat kesombongan, pada saat kita membungkuk dan bersujud, kita belajar untuk berbakti dan rendah hati dengan tujuan menghilangkan keserakahan, kebencian dan kegelapan bathin.

Kunci Mahanamskara :

bersujud kepada angkasa raya (kekosongan) = bayangkan di angkasa raya ada Para Buddha dan Bodhisatva tak terhitung banyaknya.

Diri sendiri adalah angkasa raya = bayangkan diri sendiri dan semua mahluk di enam alam samsara tak terhitung banyaknya

Dengan kata lain membayangkan aku yang tak terhingga jumlahnya bersujud kepada para Buddha yang tak terhitung banyaknya,

pada saat bersujud dan membungkukkan diri kita harus diliputi perasaan berbakti dan rendah hati

Kita ingin bernamaskara berarti kita harus melenyapkan keangkuhan diri (pikiran) kita , hati demikian baru bisa seluas angkasa raya

Mahaguru berkata :

Angkasa raya tiada batasnya, oleh karena yang kita sujudi adalah angkasa yang tiada taranya , sedangkan svabava kita juga harus ditranformasikan menjadi tak ada batasnya. Ini merupakan kunci Mahanamaskara angkasa raya yang tiada taranya. Makna yang terkandung didalamnya, amat dalam, amat menakjubkan merupakan sejenis peleburan , semacam pertukaran suatu penghayatan yang tiada taranya.

Buddha yang tidak terhingga jumlahnya semuanya berubah menjadi aku yang tak terbatas dan tak terhingga jumlahnya.

Para Buddha, Bodhisatva dan mahluk suci lainnya berubah menjadi seberkas sinar putih, mengabhiseka aku yang tak terbatas.

Keduanya menjadi satu manunggal, sinar dan cahaya saling berbaur. Bahagia, ringan melayang beralaskan bunga teratai.

Kunci yang tiada taranya ini adalah bersujud kepada Buddha yang tak terhitung jumlahnya di angkasa raya, diri sendiri yang tak terhitung jumlahnya merupakan angkasa raya. Buddha adalah saya..ini dilambangkan dengan aksara jah.

pencapaian demikian adalah

sekali sujud = bersujud beribu-ribu kali, sekali sujud merupakan manunggalnya aku dengan Buddha.

Ada syair dari Mahaguru yang patut kita baca berulangkali sambil diresapkan mengenai namaskara :

Perhatian tertuju keluar itulah praktek duniawi
Menyelidiki ke dalam bathin itulah jalan menuju pencerahan
Laku Mahanamaskara usaha menjinakkan pikiran yang liar
Berbakti dan mengikis karmawarana
Manfaatnya sangat banyak.

satu lagi syair untuk kunci mahanamskara

Bersujud kepada para Buddha, Guru yang tiada taranya

Sang Guru, Sang Vajradhara

Tiada batas seperti awan laksana samudra

sujudkupun demikian tiada batas

betapa mendalam laku bodhi pradnya

Abhiseka cahaya menuang jenjang menjenjang

lenyaplah sudah trikarma diri

Suci murni melebur tiada batas

Diri sendiri dan Buddha manunggal memperoleh pencapaian

Karuna pradnya  tiada putus, oh…Putra Padmakumara

Duduk diatas bunga teratai , oh…betapa menakjubkan

Memasuki sang jalan dan mengedarkan pelita dharma

Leave a comment »

Sadhana di Waktu Gerhana Terjadi

「Sadhana pada saat Gerhana」 adalah Ajaran Buddha

gerhana

Mahaguru pernah menjelaskan bahwa waktu yang terbaik untuk melakukan sadhana Akasagarbha Boddhisattva menambah kekuatan pikiran adalah saat gerhana matahari dan bulan?

Yang dimaksud dengan sadhana pada saat gerhana adalah menekuni sadhana tertentu pada saat terjadinya gerhana matahari atau bulan, untuk memperoleh siddhi duniawi maupun adi duniawi (lokiya maupun lokuttara) , tata cara ini semua telah tercatat dalam Tripitaka.

Beberapa Sutra yang memuat tentang sadhana pada saat gerhana.

《佛說大悲空智金剛大教王儀軌經》(《喜金剛本續》 T. 417)
Sutra Tata Cara Mahakarunasunyajnanavajragururaja / Hevajratantra

《蘇悉地羯羅經》(T. 807)
Susiddhikara Sutra

《佛說大摩裏支菩薩經》和《末利支提婆華鬘經》(T. 564 ~ T. 566)
Sutra Bodhisattva Marici dan Sutra Sanggul Maricideva

《佛說妙吉祥最勝根本大教經》(T. 604)
Sutra Manjusrivijayamulagururaja

Sebenarnya pemilihan waktu gerhana adalah mirip dengan pemilihan 10 hari suci untuk atasila Mahayana. Namun kita masih memerlukan bukti dari sutra maupun sastra karya Guru Leluhur Buddhisme sebagai acuan instruksi dari mulut Suciwan, sehingga dapat mencegah terjadi nya fitnahan dari orang yang kurang memahami dan hanya berkomentar memakai emosi belaka (fenomena katak dalam tempurung).

1. Bagian Sutra yang diterjemahkan dalam bahasa mandarin:

(mencakup Cina, Jepang dan Korea)
Salah satu praktisinya adalah leluhur pendiri Tantra Timur di Jepang (Shin Gon) yaitu Kobo Daishi / Konghai Dashi (空海大師) yang menekuni Sadhana Akasagarbha hingga Memperoleh Kekuatan Ingatan dan berhasil membuktikan yukta.

Dalam Sutra Tilisamaya dan Sutra Kumpulan Dharani ada Tata Cara Ritual Memperoleh Kekuatan Pikiran, ada petunjuk sadhana saat gerhana untuk memperoleh siddhi. 《底哩三摩耶經》和《陀羅尼集經》

Tentu saja menurut Para Guru leluhur Budhist yang menjadi penterjemah sutra ke dalam bahasa mandarin, bahwa segala catatan dan instruksi dalam sutra tersebut adalah ajaran Sejati dari Sakyamuni Buddha. Maka kita perlu menyajikan terjemahan sutra yang memuat mengenai sadhana saat gerhana,serta bukti pengesahan dari Para Guru Leluhur Buddhist mengenai manfaat sadhana pada saat gerhana.

Selain Tiga Guru Pelopor tantrayan pada jaman Dinasti Tang, masih ada lagi Yasogupta, Subhakarasiṃha、Atigupta、Zhitong、Ratnacinta、Ajitase na、…..dan lain lain. Biksu Ajitasena telah menterjemahkan Sutra Sutra ucchusma 「穢跡金剛」. Selain itu biksu penterjemah Sutra mahaprajnaparmita 《大般若波羅蜜多經》yaitu Mahabiksu Xuanzang dan penterjemah Maharatnakuta Sutra 《大寶積經》Mahabiksu Bodhiruci,juga ada menterjemahkan sutra tantrayana yang membahas sadhana saat gerhana.

Bahkan Mahabiksu dari Dinasti Song, yaitu Tianxizai dan Fa Hsien atau Dharmadeva serta Dharmapala ,dalam terjemahan sutra tantra juga ada hal sadhana saat gerhana.

2. Bagian Sutra Tibetan

Dalam Tibetan Tantra mempunyai sastra yang lebih lengkap daripada Buddhism Tiongkok .

Dalam Kalacakratantra,Ada hubungan antara tubuh manusia sebagai mikrokosmos dengan fenomena makrokosmos yaitu kemunculan bulan dan matahari serta gerhananya, dalam nadi tengah manusia ada pergerakan angin prajna, orang biasa tidak bisa merasakannya, namun seseorang yang memiliki pencapaian tertentu bisa merasakannya. Sedangkan kebiasaan di Tibet saat gerhana matahari atau rembulan, orang orang akan keluar rumah untuk melafal sutra dan mantra, karena pada saat itu akan ada perubahan mendadak dari garis cahaya, ini dapat menyebabkan kematian mendadak bagi makhluk yang hidupnya bergantung pada cahaya maupun kegelapan, maka pelafalan sutra dan mantra pada saat itu dapat membantu mereka bertumimbal lahir di alam bahagia. (latihan belas kasih dan kepedulian)

Mipham Rinpoche
Menurut keempat aliran besar di Tibet semua berpendapat bahwa sadhana saat gerhana adalah ajaran dari Sakyamuni Buddha buktinya :
Di Nyingmapa, Riwayat Mipham Rinpoche yang menekuni White Manjusri, memperoleh mujijat yang nyata dari penekunan saat gerhana. Dalam “Sastra Mula Pranidhana dari Samanthabadra Tathagata memunculkan prajna” 《普賢王如來祈禱能顯自然智根本願文》,juga disinggung bahwa melafalnya hendaknya pada saat gerhana.

『Saat gerhana matahari, dalam Surya Sutra 《太陽經》 dikatakan : pahala bertambah bilion kali
Dalam Candra Sutra 《太陰經》 :Saat gerhana bulan, pahala menjadi 70juta kali.
Bila gerhana muncul di saat waktu yg baik, maka pahalanya akan berlipat lagi dari keterangan di atas.』

(4 waktu unggul adalah tiap bulan lunar, tanggal 1, 8, 14, 30, ada juga penelitian yang menyebutkan bahwa gerhana matahari pasti terjadi di saat imlek tanggal 1 atau sekitarnya, dan gerhana bulan terjadi di tanggal 15 atau sekitarnya.
(Surya Sutra 「太陽經」dan Candra Sutra 「太陰經」yang dimaksud diatas adalah Sutra Tibetan,bukan Sutra mandarin yang seperti biasa dilafal di vihara,ada kesamaan nama tapi berbeda isinya. Sutra ini terdapat dalam Tibetan Tripitaka )

Panchensakyasri mengatakan : “Ada perbedaan buah pahala saat empat waktu unggul dengan hari biasa. ..Saat gerhana matahari pahala bertambah billion kali, saat gerhana bulan, 70juta kali. Bila di empat waktu unggul terjadi gerhana, pahalanya tak terhingga.

Panchensakyasri adalah pimpinan vihara yang terakhir di Vihara Nalanda India. Tahun 1204 Masehi diundang membabarkan Dharma ke Tibet.

Di tiga silsilah sila Tibetan, salah satunya adalah Silsilah Panchen yang diwariskan oleh Beliau.
Sedangkan 4 Leluhur Sakyapa menerima sila biksu di bawah pintu Dharma Beliau dan mempelajari Pancavidya.

Selain itu dalam Gelugpa, Tsongkapa juga mengambil sila kebiksuan dalam naungan pintu silsilah Panchensakyasri.

(2). Menurut Kalender Kalacakra《時輪曆精要》seperti yang tertuang dalam terjemahan dalam bahasa mandarin di buku Penelitian dan Praktek Penanggalan Tibetan:《藏曆的原理與實踐》

Disitu terdapat :『Buddha banyak mengajarkan dalam Sutra Mahayana dan Vajrayana,bahwa saat terjadi gerhana bulan, efek segala kebajikan dan kejahatan akan meningkat 7 koti . Sedangkan saat gerhana matahari, meningkat 10 koti. Meskipun di tanah ini tidak dapat melihat gerhana, hanya di tanah lain yang tampak, efeknya tetap akan meningkat juga. . Oleh karena itu wahai para sadhaka yang bijaksana, saat itu hendaklah tambah tekun bersadhana, tahap pembangkitan (sadhana awal / luar) maupun sadhana tahap penyempurnaan. Lakukan pelafalan, berziarah, beramal, melepas satwa dan perbuatan bajik lainnya』

Juga dikatakan :『Dulu Buddha mencapai ke Buddha an, Rahu memasuki cakra gerhana bulan, para suciwan saat ini juga demikian saat merealisasikan kebenaran rahasia dan trikaya, kalacakra external (外時輪) memasuki gerhana matahari rembulan, Kalacakra internal (內時輪) terjadi penyatuan antara bija merah dan putih, Kalacakra lain (別時輪) mengalami penyatuan antara Sukha dan Sunya, menghasilkan Mahasuka yang langka. 』

(Mengenai Kalcakra, external, internal dan lain, bisa kita ketahui dari penjelasan Mahaguru Liansheng tentang Kalacakra dalam buku khusus Kalacakra )

Hasil yang istimewa ini diperoleh dari menuruti instruksi dari Kalacakra Sutra.

Dalam Tantrayana dikatakan bahwa nadi pergerakan yang paling penting bagi prana adalah nadi tengah atau “rtsa dbu ma” .
dan nadi kiri dan kanan atau “cang ma” dan “ro ma”
Pergerakan prana di nadi kanan dan nadi kiri berhubungan dengan pergerakan matahari dan bulan.
Pergerakan prana di nadi tengah berhubungan dengan rahu.
waktu pertemuan antara prana di ketiga nadi adalah sama dengan gerhana.

Ditinjau dari beberapa hal diatas, kita sudah bisa yakin bahwa hal tersebut sesuai dengan ajaran Buddha dalam Mahayana dan Tantrayana.

Namun, walaupun cara diatas adalah bagaikan obat yang sangat ampuh, kedisiplinan dan ketekunan sehari hari merupakan sebuah syarat yang tak boleh kurang.

Point penting dari Intisari Penanggalan kalacakra 《時輪曆精要》adalah :

1、Cakra dari tubuh langit、intisari alam semesta.
2、waktu dan posisi derajat bumi
3、posisi bulan dan matahari
4、pergerakan lima bintang besar
5、Rahu (titik pertemuan antara jalur kuning dan putih) dan laporan gerhana
6、pengaturan bulan dan matahari
7、musim
8、panjang pendeknya siang dan malam, waktu per hari.

Leave a comment »

Pentingnya Sadhana Anasrava (stop kebocoran)

Saya Mementingkan “Sadhana Anasrava” (Bebas dari Kebocoran)

Di dalam Sutra “Hevajra”, kita mudah sekali memahami:

Prathama-mudita – kebahagiaan awal.

Uttara-mudita – kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan sebelumnya.

Apagata-mudita — kebahagiaan tak bercabang.

Sahaja-mudita — kebahagiaan final.

Juga mengandung arti:

Prathama-mudita — kondisi menengah.

Uttara-mudita — tumimbal lahir.

Apagata-mudita — nirvana.

Sahaja-mudita — bukan tumimbal lahir,

bukan nirvana, juga bukan menengah. (Pengertian sahaja-mudita, bukan kemudahan, bukan kebijaksanaan, tidak dapat diperoleh dari orang lain, tidak terungkapkan, nikmat dan luas, dengan kata lain pemandangan setempat, sepenuhnya merupakan kondisi “anupada” (tiada kelahiran), tak terungkapkan pada orang lain, juga tak terlukiskan) Inilah samyaksambodhi dari “Hevajra”.

Saya boleh memberitahu Anda seperti ini,

Anda harus mulai dari “prathama-mudita”, sampai “sahaja-mudita”.

Lalu dari “sahaja-mudita” berbalik ke “prathama-mudita”,

jika tanpa “keberhasilan anasrava”, bicara tentang catur-mudita dan catur-sunya, bisa menjadi bahan tertawaan orang, dusta sepenuhnya. Singkat kata: “Tidak sanggup!” Jika tanpa “keberhasilan anasrava”, seseorang sama sekali tidak akan mencapai “prathama-mudita” dan “sahaja-mudita”. Saat “uttara-mudita”, sekali bindu bocor, maka terkuras habis, ibarat bola kempes atau mayat berjalan yang terkulai tak berdaya. (usus besar yang tidak dimasuki nasi ) Tidak hanya demikian.

Seseorang ingin menekuni “api tummo”, “api tummo”

justru mengandalkan “bradha kumbha prana”, serta “pernafasan menyeluruh”, yang terpenting adalah “bindu material” adalah sumbu kayu yang terpenting. Ibarat menyulut api. Harus ada kayu bakar. Harus ada bahan penyulut api. Harus ada angin. (prana) Orang yang sering kebocoran bindu, hawa vitalnya sama sekali tidak mencukupi, kayu bakar yang paling mendasar tidak ada, juga tidak ada bahan penyulut api, juga tidak ada prana yang mencukupi, bagaimana menyulut “api tummo”? “Api tummo” harus mantap. “Api tummo” harus meningkat. “Api tummo” harus terang dan panas. Prana harus mencukupi, bindu tidak bocor, semangat harus membara-bara, itu mutlak. Orang yang sering kebocoran bindu, pasti rugi ketiga hal ini, lantas bagaimana ia mencapai keberhasilan “api tummo”.

Saya melihat banyak buddha hidup Tibet (rinpoche), tak disangka melahirkan anak di mana-mana. Apa tidak salah? Apakah buddha hidup-buddha hidup Tibet (rinpoche) ini telah mencapai keberhasilan “anasrava”? Apakah telah mencapai keberhasilan “api tummo”? Apakah telah mencapai keberhasilan “sadhana bindu”? Terkesan seperti sebuah lelucon besar. Bagaimana mereka menyucikan diri? Mereka “bocor” parah, bagaimana bisa meraih: Pencapaian “mahasukha”. Pencapaian “penerangan”. Pencapaian “samyaksambodhi”. “Hevajra” harus menjadikan keberhasilan “anasrava” sebagai landasan, tanpa keberhasilan “anasrava”, penekunan berikutnya tidak ada artinya sama sekali.

Saya merasa penekunan “Hevajra”, enam belas jenis sunyata, menghancurkan empat mara, delapan pembebasan, kebersihan perbuatan-upacan-pikiran, tentu berdiri di atas keberhasilan “anasrava”. Untuk mencapai kesucian, mau tak mau harus menekuni “sadhana anasrava”, jadi, saya mementingkan keberhasilan “anasrava”.

from gm. book 201

Leave a comment »

Menyingkirkan Rintangan dalam Bersadhana

Banyak Tantrika, setelah menerima abhiseka Sadhana “Hevajra” dan “Pancavajra” di tempat Acarya (Guru). Setiap hari menekuni “empat kali sadhana” berdasarkan “Kye-rim atau Tahap Permulaan”. Namun, setelah menekuni sebulan, setahun, atau empat tahun, sepuluh tahun, tak disangka bahkan seberkas bayangan kontak yoga pun tidak ada, tidak merasakan pahala apapun. Ini berarti “sebab” telah ada, namun, dengan adanya “rintangan” menandakan belum “berjodoh”, makanya tidak dapat membuahkan hasil.

Ada 6 jenis rintangan yang saya kenali:

1. Melanggar sila — melanggar Sila Samaya.

2. Setan dan Mara — rintangan yang ditimbulkan oleh setan dan Mara.

3. Teman menyesatkan — berteman dengan orang menyesatkan.

4. Pola makan – pola makan yang bertentangan dengan ikrar.

5. Tidak bersih — mandala dan jasmani tidak bersih.

6. Kerasukan setan — kerasukan setan orang yang meninggal dunia.

Sebenarnya keenam jenis rintangan ini akan ditunjukkan lewat pertanda mimpi, dengan adanya pertanda mimpi, seharusnya mengerti bahwa ada “rintangan”! Jika bermimpi dibentak-bentak oleh acarya (secun), ditinggalkan oleh acarya,  acarya marah,  acarya menatap dengan pandangan murka. Bermimpi diri sendiri jatuh ke air, jatuh ke jurang, dan lain-lain, ini berarti melanggar Sila Samaya. Jika bermimpi tanah longsor, bumi retak, rumah ambruk, air bah, matahari dan bulan jatuh dari langit, ini berarti diganggu oleh setan dan Mara. Jika bermimpi dari tubuh keluar caplak, kutu, ulat, tubuh dikerubuti oleh serangga, diikat oleh pakaian yang dikenakan, dikejar teman, dan lain-lain, ini berarti diri Anda terlibat dengan teman yang melanggar sila. Jika bermimpi makan abu, makan serangga, makan air seni, makan kotoran, makan lalat, ini berarti rintangan dalam hal pola makan. Jika bermimpi rumah kediaman Anda bagaikan tumpukan sampah, rumah kediaman Anda berbau busuk, rumah kediaman Anda dipenuhi oleh benda-benda kotor, bermimpi tubuh Anda dekil, dijerat benda kotor, ini berarti mandala dan jasmani tidak bersih. Jika bermimpi setan mengejar sadhaka, setan menyemburkan api membakar sadhaka, setan memegang pisau memenggal sadhaka, ini semua adalah pertanda mimpi dari kerasukan setan. Dengan adanya “rintangan” demikian, bersadhana dengan sendirinya tidak akan mengalami kontak yoga, juga tidak merasakan pahala.

Yang lebih parahnya adalah:

1. Nyawa melayang.

2. Lahir dan batin didera penyakit.

3. Tidak ada kekuatan samadhi.

4. Tidak ada jodoh dengan sesama.

5. Tubuh lemah dan prana terpencar.

6. Murung.

Saya pribadi pernah memaparkan pada saat upacara homa “Kalachakra”, ada tiga macam cara untuk menyingkirkan rintangan-rintangan ini.

Pertama,

saya mengimbau, sadhaka sebaiknya menerima abhiseka lagi, malah harus 3 kali berturut-turut. Sebenarnya menerima abhiseka adalah cara untuk menyingkirkan rintangan atas pelanggaran sila, setan dan Mara, serta teman yang menyesatkan, apalagi tiga kali abhiseka dari Mulacarya dapat memberantas segala rintangan.

Kedua,

saya menghimbau, sadhaka sebaiknya menggelar Trimulapuja, memberi persembahan kepada Buddha, Bodhisattva, Vajra, Dharmapala, dakini, para dewa. Atau sadhaka melakukan homa, membersihkan dengan abu homa, cara ini dapat membersihkan pola makan, mandala, jasmani yang kurang bersih, dan lain sebagainya. (misalnya bervegetarian dulu)

Ketiga,

saya mengimbau, sadhaka menggunakan metode berbasuh, cara ini juga dapat menyingkirkan rintangan. Pada hari “Chu” ri, menggunakan bunga putih yang tidak terhingga, setiap kuntum bunga putih dijapa “Mantra Yidam”, lalu lempar ke dalam bak mandi, hingga bunga putih mengapung memenuhi bak mandi, kemudian sadhaka berbasuh di dalam bak mandi, cara ini juga bisa menyingkirkan “rintangan”.

Pertanda mimpi dari tersingkirnya rintangan:

1. Sadhaka memuntahkan benda-benda kotor.

2. Serangga-serangga merangkak keluar dari dalam tubuh sadhaka.

3. Sadhaka bermimpi berbasuh dan mengenakan busana putih.

4. Sadhaka terbang bagaikan kuda sembrani. Semua ini adalah pertanda mimpi bahwa “rintangan” telah habis dibasmi!

from gm. book 201

Leave a comment »

Letak Meja Altar

LETAK MEJA SEMBAHYANG/ABU LELUHUR YANG
MEMBAWA KEBERUNTUNGAN & SIAL
1. Tempat pemujaan Dewa/meja sembahyang hendaknya di tempat yang tenang, jarang dilalui atau disentuh orang, barulah dapat membawa keberuntungan. Ada sementara orang yang meletakan tempat pemujaan di atas atau di sisi televisi, berhubung ‘-erlampau berisik, akan membuat kehidupan keluarga tak tenang.
2. Tempat pemujaan/meja sembahyang haruslah merapat ke dinding, baru akan membawa keberuntungan. Harus diperhatikan benar, bahwa ada sebagian Dewa yang tak dapat dipuja di rumah, seperti Hoan Si Hud, Si Bian Hud, Ce Kung Goan Sew dan beberapa lainnya.
3. Dewa yang Anda puja haruslah yang benar-benar suci, seperti Ri Lek Hud, Dewi Kwan Im, Tee Cong Pou-sat, Lu Chou, Oey Toa Sian, Kwan Tee Kun (Kwan Kong) dan lain sebagainya. Tak baik/ pantang kalau Anda memuja Malaikat dari golongan hitam, di samping akan membawa sial, dapat mengakibatkan pula Anda atau anggota keluarga meninggal.
4. Meja sembahyang/tempat pemujaan jangan sekali-sekali diletakkan di bawah tiang rumah atau di muka/sisi pintu maupun di dinding toiletlVV.C. dan dapur, akan membawa sial. Rejeki pemilik rumah buruk sekali, ada kemungkinan masuk penjara.
5. Tempat pemujaan/meja sembahyang jangan diletakkan dalam kamar tidur, tak baik pengaruhnya bagi hubungan suami isteri, akan cerai hidup atau cerai mati.
6. Tempat pemujaan meja sembahyang jangan sekali-sekali diletakkan di titik pusat rumah ataupun di dekat tangga, di mana banyak orang yang berlalu lalang, akan sangat buruk pengaruhnya bagi kehidupan keluarga.kehidupan tuan rumah jadi tak tenang, anggota keluarga banyak yang jatuh sakit dan sering terjadi pertengkaran dalam rumahtangga.Bahkan ada kemungkinan akan mengalami musibah
7. Tempat pemujaan/meja sembahyang jangan diletakkan di atas lemari  pakaian atau di sembarang rak kayu, akan buruk akibatnya. Peruntungan pemilik rumah akan buruk sekali, sering jatuh rudin.
8. Tempat pemujaan yang terlihat dari jalan, akan buruk pengaruhnya. Pemilik rumah lebih banyak mengeluarkan uang dari pada pemasukan, sulit dapat mengumpulkan harta.
9. Begitu masuk ke rumah orang langsung dapat melihat tempat pemujaan/meja sembahyang, kurang baik pengaruhnya. Kehidupan pemilik rumah tak tenang, orangtua akan sering jatuh sakit dan anak-anak acapkali terluka akibat jatuh.
10.Letak tempat pemujaan/meja sembahyang jangan menghadap ke jalan  raya ataupun ke sudut rumah orang lain, akan buruk akibatnya. Pemilik rumah akan berurusan dengan pihak yang berwajib atau mengalami musibah, masuk penjara.
11. Meletakkan meja sembahyang atau pratima pilih hari “man” jam “cong”
Pagi hari pada kalender cina. Membersihkan meja sembahyang pada
Hari “chu”.Bersihkan kamar sembahyang dengan air tapeicou.

Dan yang benar-benar harus diperhatikan baik-baik oleh Anda adalah
TEMPAT ABU ORANG TUA,/LELUHUR JANGAN SEKALI­SEKALI DILETAKKAN SATU TEMPAT DENGAN PEMUJAAN DEWA. Bila Anda lakukan hal itu, hidup Anda akan morat-marit, menderita tekanan bathin sepanjang hidup dan juga melarat.

Comments (19) »