Archive for meditasi

Tahap awal sebelum belajar samadhi

Sadhana Tantra terdiri dari tahap awal, tahap inti, dan tahap akhir.

Tahap awal antara lain:
Mahanamaskara. (menundukkan keangkuhan)
Mahapuja. (menundukkan kepentingan pribadi)
Catursarana. (menundukkan hati sendiri)
Bertobat. (menundukkan tabiat)
Perlindungan diri. (menundukkan luar dan dalam)
Catur Apramana. (maitri, karuna, mudita, dan upeksa)
Visualisasi sunya. (anatman)

Tahap inti antara lain:
Bentuk mudra. (perbuatan)
Visualisasi. (pikiran)
Japa mantra. (ucapan)
Memasuki samadhi.

Tahap akhir antara lain:
Melantunkan gatha.
Penyaluran jasa.
Berdoa.
Melengkapi kekurangan…..

Tentu saja, tahap awal, tahap inti, dan tahap akhir ini sangat penting. Namun, yang paling penting sekali adalah memasuki samadhi.
Kalau begitu, apakah tahap awal itu?
Tahap awal adalah mengamalkan Dharma.
Tahap awal adalah membangun landasan Buddhadharma.
Tahap awal adalah menyingkirkan tabiat, misalnya:
Uang.
Hasrat cinta.
Reputasi.
Angkuh.
Dengki.
Kegelapan batin.
Pandangan tak benar.

Tahap awal itu untuk membebaskan diri sendiri, kemudian membantu bebaskan makhluk lain.
Bersih dan sukacita itu sangat penting.
Tahap awal sedang mengalami sunyata.
Tahap awal harus memiliki hati catur apramana antara lain: maitri, karuna, mudita, dan upeksa.
Harus menyelamatkan insan.

*

Tujuan saya menulis tahap awal adalah untuk membangun esensi samadhi.
Misalnya kita tahu bahwa tingkatan melatih diri terdiri dari:
Sambhara Marga.
Prayoga Marga.
Arya Marga.
Bhavana Marga.
Parayana Marga.
Sementara, tahap awal adalah Sambhara Marga dan Prayoga Marga.

*

Saya punya seorang siswa, saya sering melihatnya, memejamkan mata dan duduk bengong.
Ia suka memejamkan mata dan duduk bengong.
Selain itu.
Ada seorang siswa lagi, melihatnya memejamkan mata dan duduk bengong, ia juga ikut-ikutan memejamkan mata dan duduk bengong.
Sekarang, sudah ada dua orang siswa yang memejamkan mata dan duduk bengong!
Mereka sedang:
Merenung?
Berpikir?
Meditasi?
Samadhi?
Atau hanya sekedar duduk bengong saja?

Saya pribadi berasumsi, ini tidak mengherankan, melainkan sebelum duduk, lebih dulu harus memiliki fondasi “tahap awal”. Setelah segalanya sangat kokoh, baru duduk konsentrasi.

Iklan

Leave a comment »

Defenisi Samadhi

 

Ketika saya di Taiwan, suatu kali naik lift, bertemu dua orang umat Buddha, umur mereka berdua sekitar 60 an,

berpakaian seperti jubah bhiksu, atasannya kancing kain, bawahannya celana panjang.
Kostum demikian mirip sekali kostum kungfu.
Warnanya abu-abu muda.
Mereka mengenal saya.

Mereka berkata, “Dharmaraja Lu, Anda telah kembali ke Taiwan!”
Saya berkata, “Benar.” Saya balik bertanya pada mereka, “Kalian menekuni Dharma apa?”
Mereka menjawab, “Dharma mengamati hati.”
Saya bertanya, “Dharma mengamati hati itu dhyana?”
Mereka bengong.
Tidak dapat menjawab.

*

Sepengetahuan saya, sebenarnya istilah Dhyana ini sangat banyak, ada ruang yang membingungkan, banyak sadhaka kebingungan, benar-benar tidak mengerti.
Kita sering kali melihat beberapa istilah khusus, namun, tidak mengerti definisinya.
Sekarang saya khusus menjelaskan sebagai berikut:
SAMATHA. Ini mirip sekali dengan samadhi, sebenarnya tidak. Ini tidak memperkenankan untuk berpikir. Atau berarti menghentikan napas dan menghentikan pikiran, benar-benar mengosongkan pikiran sepenuhnya.
SAMAPATTI. Menggunakan kekuatan samatha untuk melakukan ketrampilan vipassana, seperti Dharma mengamati hati, yaitu menggunakan samatha untuk melakukan vipassana.
SAMAPANNA. Pada tahap ini, pikiran itu fokus, tidak kacau, mengamati kebenaran sangat jelas sekali, fokus sampai titik ekstrim.
DHYANA. Merupakan kondisi hati kesadaran pikiran, ia mencakup tiga ketrampilan di atas, dan bermacam-macam ketrampilan dhyana.
Dengan kata lain, Dhyana adalah surga Dhyana pertama hingga mencapai seluruh tingkat Arahat, semuanya tercakup di dalamnya.
SAMADHI. Ini adalah tingkat tertinggi, yakni vipassana Dharmakaya dan kondisi penyatuan Samyaksambodhi Tathagata atau cahaya anak masuk ke dalam cahaya induk dan keduanya saling melebur dengan erat dalam ajaran Tantra.
Melambangkan “satu”.
Juga “nol”.
Yakni Samadhi Anuttarasamyaksambodhi.

*

Mengenai istilah mandarin untuk kata “duduk meditasi”, “meditasi”, “dhyana”, “duduk dhyana”….
Semua ini adalah istilah yang membingungkan.
Maka, saya berkata, “Kacau, membingungkan, tidak jelas.”

Di dalam Mahaprajnaparamita Sastra menyebutkan tentang Samatha, Samapatti, Samapanna, Dhyana. Keempat tahap ini, boleh dikatakan istilah yang diucapkan orang pada umumnya tercakup di dalamnya atau Catur-dhyana-bhumi dari Rupadhatu.
Sedangkan Samadhi, boleh dikatakan adalah tingkatan catvari-sunyata dari Arupadhatu.
Merupakan Abisambodha.
Merupakan Buddhagrya.
Semua ini mesti dianalisa secara jelas, tidak boleh samar-samar.

source : buku 252 rahasia samadhi oleh Lien sheng Rinpoche..

 

Leave a comment »

Tahapan Berlatih Api Kundalini

Tahapan Berlatih Api Kundalini

dari buku Maha guru ke-100

kundalini

Mengenai “bindu dan api dalam” kita bahas secara singkat saja.

Dalam bersadhana kita harus mulai dari catur prayoga.

Bila anda berlatih Catur prayoga, anda akan berjodoh dengan semua Buddha dan Bodhisatva, jadi ini adalah tingkatan pertama/fondasi.

Dengan melakukan sadhana maha puja persembahan, sarana, catur brahma vihara, perisai perlindungan diri, Vajrasatva berarti anda menjalin jodoh dengan semua buddha dan bodhisatva. Anda mendapatkan semua adhistana dari semua dharmapala , dakini, Buddha , Yidam… ini sangat penting.!!!

Yang kedua : adalah anda harus mendapatkan adhistana dari Vajra Acharya. Adhistana dari Vajra Acharya juga sangat penting !!!!

Yang ketiga : adalah mendapatkan adhistana dari Yidam.

Setelah kontak bathin dengan guru yoga dan yidam yoga, membangkitkan api kundalini akan menjadi cepat. Bila anda langsung memulai dengan latihan api dalam, padahal belum mencapai tahap kontak bathin dalam guruyoga dan yidam yoga. Berarti tidak ada yang memberikan adhistana dan pembangkitan api. Ini adalah sebuah masalah berat….

Menguasai semua rumus tantra dalam

Jika dimulai dari internal, didalamnya ada banyak mengandung rahasia, misalnya hal Dakini Vajravarahi. Pada semua Yang arya Tantrika yang mencapai keberhasilan api kundalini. Vajravarahi akan datang dengan sendirinya. Saat itu bila anda tidak mempunyai fondasi dari tantrayana, maka anda tidak akan tahu dan kenal dengan Dakini Vajravarahi. Anda tidak akan mampu membedakan Dakini-dakini ini. Bila belum saatnya anda, tidak akan paham.

Jadi dalam sadhana internal, istilah-istilah ini harus anda kenali dengan jelas,

apa itu prana ?

Apa itu nadi ?

Apa itu bindu ?

Apa itu prana jalan atas ?

Apa itu prana jalan bawah ?

Apa itu prana jalan langit ?

Apa itu prana hati ?

Apa itu suka sunyata atas ?

Apa itu sukha sunyata menengah ?

Apa itu sukha sunyata bawah ?

Apa itu catur sukha ?

Apa itu catur sunyata ?

Semuanya harus anda pahami. Begitu pula dengan sapta(7) cakra,sad (6) cakra dan panca cakra. Semuanya harus anda kenal barulah boleh menjalankan sadhana internal. Jika tidak memahaminya, sebentar saja anda sudah bisa salah tafsir maka habislah semuanya……..

catatan : hanya sadhaka tantra (hindu) yang wajib bertemu dengan dakini Vajravarahi, tidak tahu dengan aliran di luar agama.

Leave a comment »

Mudra Meditasi

ada seseorang sesiung menanyakan kepada Maha Guru Lien Seng masalah Mudra Meditasi
pose meditasi

Tanya : Dalam membentuk mudra meditasi, apakah kita menaruh telapak tangan kanan di atas telapak tangan kiri, ataukah sebaliknya ? Apakah ini ada hubungannya dengan unsur air dan api. ?

Jawab : Tangan kanan melambangkan api dan tangan kiri melambangkan air, sepanjang pengetahuan saya, kebanyakan orang membentuk mudra ini (Maha guru mendemonstrasikan tangan kanan di atas tangan kiri) Namun ketika Buddha Sakyamuni mengajarkan Visualisasi tulang belulang, ia memberikan demonstrasi begini (tangan kiri di atas telapak tangan kanan). Sesungguhnya kedua cara ini dapat digunakan. Hanya pada umumnya air mengalir ke bawah sedangkan api naik keatas. Jadi posisi telapak tangan kanan dan kiri sebaiknya merefleksikan sifat alamiah api dan air.
metode kedua adalah dengan menukar gaya ini jadi air yang naik dan api yang turun dalam hal ini melambangkan langkah menaikkan dan menurunkan dalam sadhana dlam (kundalini). Metode ini berlawanan dengan sifat alam. seperti ada dalam pepatah “ ada cara-cara rumit dalam mencari Tao, bila anda dapat memutar balikkannya maka anda menjadi seorang maha dewa”
Jadi mudra ini juga bisa dalam bentuk terbalik yaitu telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan.

mudra meditasi

gambar yang pertama, mudra meditasi tangan kanan diatas tangan kiri begitu juga gambar yang kedua Rhupang Buddha di Pollonnaruwa abad ke-12 tetap tangan kanan di atas tangan kiri. sebaiknya dicoba yang mana lebih cocok anda rasakan sendiri.

Leave a comment »

Meditasi dari Vairocana Buddha

Source :Grandmaster Lu’s Book>51_Highest Yoga tantra and Mahamudra

catatan hanya boleh di copy untuk forum/situs  True buddha sch/chen fo cung.

ini bukan pesan dari saya tapi dari yang di atas.

Bab 03: The Meditation from Vairocana

Pertama kita harus belajar postur meditasi tujuh titik, yang juga dikenal sebagai tujuh titik dari Vairocana.(seven point of Vairochana Buddha ). Postur meditasi ini berguna untuk mencapai keseimbangan dalam pikiran dan tubuh melalui postur duduk. Di India, posisi duduk untuk meditasi ini disebut sebagai posisi lotus penuh, dan kita tahu sebagai posisi kaki yang bersilangan  Seperti sering terlihat di pratima Budha, kaki-kaki dengan postur vajra, dengan kedua kaki bersilangan dan telapak menghadap ke atas. Dengan demikian ia disebut sebagai posisi vajra penuh.

Duduk dalam posisi lotus penuh membuat tubuh dan pikiran untuk tetap diam lengkap dalam  keseimbangan, menghapus pikiran kacau dan sirkulasi darah lebih lancar. Hal ini akan membuat tubuh lemas lembut dan mampu bertahan duduk. Melalui postur meditasi tujuh titik , seseorang dapat memperoleh kebijaksanaan yang paling awal. Mencapai kestabilan meditasi, dan langsung mencapai kebuddhaan dalam tubuh sekarang.

Mengapa ia disebut tujuh poin dari Vairocana? Hal ini karena Vairocana Budha merupakan pusat Dhyani Budha dari Lima Buddha, juga dikenal sebagai Buddha Matahari yang agung (Dainichi Nyorai). Vairocana adalah pemimpin utama dari   Budha aliran esoterik, dan merupakan dewa utama dari kedua Mandala Vajradhatu  dan Mandala Garbhadhatu,  yang melambangkan sinar alam semesta.

Gambar Vairocana dalam permata, atau Mandala Vajradhatu, yang dikenal sebagai  tubuh dharmakaya dari Buddha matahari yang agung, di mana ia menampilkan Mudra kebijaksanaan. Gambar Vairocana dalam kandungan, atau Garbhadhatu, Mandala, mewakili prinsip atau alasan (dalam bahasa Jepang, Ri) aspek Dainichi, dan dikenal sebagai  (sambhogakaya ?) dari Buddha Matahari yang agung Dalam gambar ini menampilkan Vairocana Mudra Dharmadhatu (di Jepang, disebut Hokaijyo-in).

Menurut sutra, wujud dari  Buddha Vairochana dijelaskan sebagai berikut: Vairocana duduk di takhta teratai permata berkelopak delapan, ia memiliki tubuh berwarna emas, yang muncul seperti Bodhisattva duduk bersila pada teratai permata, memakai mahkota lima Budha yang tak ternilai bercat putih.  Punggungnya dipenuhi kombinasi dari lima cahaya yang berputar, kepalanya yang dikelilingi dengan awan, dan tubuhnya yang dikelilingi aura cahaya yang warna-warni  berlapis-lapis seperti dalam sorotan lampu. Dia muncul dengan bahu-panjang, dan rambut berwarna merah tua panjang, perhiasan telinga dengan anting-anting emas. Lehernya dengan lapisan perhiasan dari perhiasan yang berharga seperti jewels, jade dan kalung mutiara biru dan karangan bunga yang tergantung kebawah menyentuh lutut. Lengan-Nya dihiasi dengan perhiasan mutiara dan jade armlets, dan pergelangan tangan yang dihiasi dengan gelang emas, yang  juga dipakai pada lengan atas. Kedua tangan diletakkan bersama-sama, telapak tangan menghadap ke atas, dengan telapak tangan kiri menutup telapak kanan dengan jempol di masing-masing tangan saling menyentuh, ditempatkan di bawah pusar dan menampilkan wujud memasuki penyerapan. Dia  berpakaian tipis,  pakaian surgawi putih, yang memakai rok yang terbuat dari  kain  yang berbeda seperti brokat biru dan sutra, dan pada pinggangnya di bungkus dengan sabuk ikat pinggang berwarna hijau.

Menuju ke dalam , kebajikan dari Vairocana Buddha menerangi semua alam dharma yang tak terhingga,

Menuju ke luar  mereka menyinari semua mahluk tanpa rintangan. Pahala ini terdiri dari semua kebajikan sebagai keseluruhan yang lengkap, dan tetap dalam kondisi stabil dan tidak berubah. Mereka juga mewujudkan fikiran dari semua mahluk dan semua Buddhas, dimana sinar tersebut terwujud dimana-mana. Ini adalah sinar dari Tathagata yang menyinari semua alam dharma dalam ketenangan.

Vairocana tidak pernah terlihat dalam sikap berdiri, tetapi hanya dalam posisi duduk. Membawa ini lebih bermakna, karena ia adalah tokoh sentral dari Dhyani Buddhas dan foto menunjukkan dia memasuki profoundly deep meditasi. Dengan demikian, ajaran Mahamudra diawali dengan sikap meditasi dari Vairocana, di mana kaki yang bersilang vajra sikap posisi lotus penuh, dengan kedua telapak dari kaki menghadap ke atas.

Beberapa orang yang memiliki kaki yang pendek atau yang kaku sendi yang mungkin tidak mungkin untuk menyilangkan kaki mereka untuk mencapai posisi lotus penuh. Namun, mereka harus setidaknya mereka berusaha untuk menyesuaikan kedua telapak kaki menghadap ke wajah mereka ke atas dan tarik kaki ke arah badan untuk mencapai suatu sikap seimbang.

Tangan membentuk Mudra Dharmadhatu dengan telapak tangan menghadap ke atas, beristirahat di bawah titik pusar, dengan meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri dan jempol saling menyentuh sedikit. Atau alternatip lain membentuk Mudra dengan ujung jari tengah menyentuh satu sama lain dan jempol merapat ke bawah jari telunjuk, dan memelihara Mudra ini secara konsisten. Kita dapat menggunakan salah satu dari kedua mudras.

Jauhkan dada sedikit bergerak ke atas dan bahu ke belakang. Dagu sedikit menekuk kedalam, seperti seorang prajurit yang akan menaikkan dada dan menekukkan dagunya dalam latihan penghormatan.

Tekan lidah dengan lembut terhadap atas langit-langit. Ini merupakan hal yang sangat penting, seperti praktisi tao memanggil jembatan antara langit dan bumi atau membangun istana langit. Ketika para hewan tidur panjang (hibernasi), lidah mereka istirahat dalam posisi keatas menyentuh langit-langit. Ketika seorang praktisi berkeinginan belajar praktik Mahamudra, dia tidak akan dapat benar-benar masuk ke dalam ketenangan jika lidah itu tidak menyentuh atas langit-langit. Di India, perbuatan yang menekan lidah terhadap atas langit-langit disebut Khechari. Hal ini tidak dilakukan hanya dengan menyentuh di atas atap langit-langit dengan lidah, tetapi juga melipatkan lidah mundur ke dalam sehingga mencapai jauh ke dalam tenggorokan (slipping di belakang nasoparynx) dan menekan baik hingga nasal membuka. Dengan cara ini, seseorang dapat mencapai keseimbangan antara tubuh dan pikiran, untuk gangguan aliran nafas adalah ditenangkan. Dengan cara ini dapat hidup lama, dan inti kehidupan seseorang dapat disimpan tanpa kebocoran. Yang menekan dari lidah terhadap atas langit-langit membutuhkan tekukan lidah seperti kaitan ke kaitan terhadap inti lubang hidung. Praktisi tao memandang lidah  sebagai jembatan  antara jiwa atau roh, yang bersemayam di kepala, dan yang dihati dan tubuh seseorang.

Berikutnya petunjuk dari  meditasi Vairocana sambil memandang obyek. Kebanyakan praktisi dari Mahamudra dapat duduk bersila dalam sikap lotus penuh, dengan posisi tangan di bawah pusar (istirahat dalam pangkuan), angkat dada, lalu tekan lidah terhadap atas langit-langit, namun pikiran mereka mungkin masih mengembara, menghasilkan pemikiran yang mengkhayal. Dengan demikian, apabila kita ingin menenangkan pikiran, kita harus memulai dengan fokus pada satu titik. Pelatihan dimulai dengan orang yang mengambil obyek, menempatkannya dalam lima setengah kaki (1,65 meter) dan dari mereka melihat, dan berkonsentrasi melihat dengan tatapan tanpa ragu-ragu. seseorang harus sanggup menatap dalam  waktu yang cukup lama , dan sekali  focus itu terbentuk,  pikiran akan stabil. Atau Jika tidak, maka pikiran masih akan terus mengembara.ketika pikiran tidak terusir, tatapan mata yang tidak bersemangat membuat orang kelihatan tolol. Oleh karena itu, kita harus memulai dengan pelatihan pikiran untuk fokus pada satu titik, karena itu merupakan kunci untuk menstabilkan pikiran.

Yang pertama dari lima silsilah Buddha dari Tantrayana adalah Tathagata silsilah, juga dikenal sebagai silsilah Budha. Pemimpin Budha dari Budha adalah silsilah dari Vairocana Budha. Ibu dari garis keturunan Tathagata adalah Bodhisattva Budha Eye (Locana). The King of the Light Tathagata adalah keturunan Vijayosnisa. Salah satunya tampil dalam Wujud murka sebagai dharmapala adalah Acala (Putung ming wang). Pasangan Yab Yum dari Tathagata Lineage adalah Aparajitavidyarajni. Hati Tathagata silsilah banyak menyimpan mantras rahasia. Ini merupakan divisi dari garis keturunan Buddha , juga mencakup banyak retinues mereka. Ketika kita mulai praktik Mahamudra, kita harus terlebih dahulu mempelajari meditasi sikap dari Vairocana sehingga kita dapat memperoleh akses energi ke dalam garis silsilah Budha Vairocana dan mencapai Buddhahood dalam tubuh sekarang.

Penting untuk mengetahui/memahami bahwa duduk bersila posisi lotus penuh  tersebut dimaksudkan untuk memanfaatkan sirkulasi xiaxing chi (bergerak ke bawah energi yang mencakup area dari pusar ke kaki), dan bukan diambil untuk alasan biar enak dilihat. Tetapi ini adalah posisi yang membuat energi lancar bersirkulasi naik turun dengan lembut.

Letakkan tangan merata [pada pangkuan], dengan ujung dari jari tengah saling menyentuh  satu sama lain, dan menjaga jempol sedikit lebih rendah dari jari telunjuk. Hal ini akan membuat tubuh dan pikiran dalam keseimbangan sempurna, dan menjaga suhu tubuh, dengan sirkulasi chi dan darah untuk tetap dalam keseimbangan yang baik.

Dengan meningkatkan dada dan dagu tekuk ke dalam, Roh dan energi beredar mengalir di seluruh tubuh tanpa hambatan. Jika kita tidak menegapkan dada kami dan menekukkan dagu, ketidakcukupan dari chi dan energi roh sejati akan mengakibatkan jatuh tertidur selama latihan. Ada banyak alas an mengapa mereka tertidur setelah memasuki meditasi. Ini semua disebabkan oleh dada tidak ditegapkan dan dagu tidak melipat ke dalam, sehingga dalam posisi ketiadaan spirit dan energi. Terlalu banyak santai akan mengakibatkan jatuh tertidur.

Bila lidah ditekan terhadap atas langit-langit, ia memungkinkan shangxing chi (arus angin atas, atau  Udana dalam sanskrit) untuk berpindah ke bawah, dan xiaxing chi (arus angin bawah atau Apana dalam sanskrit) untuk berpindah ke atas. Kedua energi arus akan saling memelihara satu sama lain melalui metode ini. Ini penting akan lebih dijelaskan dalam bab ke empat.

Aksi menatap satu obyek,  yang juga merupakan metode mengumpulkan energi Roh ke dalam Tianxin Lokasi [dahi, duduk di posisi mata spiritual], adalah suatu usaha latihan utama dalam Meditasi menuju jalan bercahaya, dan membantu untuk memfokuskan pikiran pada satu titik. Dengan ini fokus pikiran, seseorang dapat memasuki/terserap kedalam meditasi. Kita dapat menempatkan vajra atau dorje sejauh sekitar lima setengah kaki (1,65 meter) dari pandangan kita dan terus menatapnya. Vajra yang merupakan benda berharga dalam upacara Tantric melambangkan tak terhancurkan. Apabila kita melihat vajra, kita harus menghormati itu seolah-olah ia adalah tablet kumala yang memanjang dari Kaisar Cina . Ini akan membuat meditasi lebih bermakna dan nyata.

Vairocana, Tathagata Matahari yang Agung, setelah menguraikan dharma di tempat tinggal Mahesvara. Tathagata yang saat itu telah muncul dalam tubuh emas, dengan rambut menumpuk di atas kepalanya, membentuk jambul (sanskrit: ushnisha) yang kelihatan seperti mahkota dengan Lima Buddhas duduk di atasnya. Tathagata yang telah memancarkan sinar banyak warna, dan berjubah sutra seperti jubah putih sempurna. Ini adalah tanda mencapai pencerahan sempurna Suddhavasa di Surga. Beberapa orang menganggap bahwa Vairocana, Tathagata Matahari yang Agung, adalah Dewa Matahari. Namun, saya merasa bahwa saat Great Tathagata matahari ini identik dengan matahari itu sendiri, yang merubah kegelapan menjadi terang , cahaya matahari membagi dunia ke dalam siang dan malam, dan ada tempat di mana sinar matahari tidak dapat dijangkau. Dengan demikian, kata besar/agung yang ditambahkan ke kata Matahari  untuk menandakan bahwa terang Buddha adalah sepenuhnya adalah sinar kebijaksanaan dari Great Tathagata Matahari bersinar sepenuhnya untuk menenangkan seluruh semua alam dharma.

Saya akan membuka rahasia kepada Anda, para pembaca. Ketika Vairocana saat itu berada di tempat tinggal Mahesvara dan memberikan dharmatalk, di antara para penonton ada salah satu Kumara yang bernama Padmakumara.

Padmakumara merangkapkan kedua telapaknya didada dan memberi hormat kepada Buddha, Mengapa Tathagata selalu terlihat dalam posisi duduk, dan bukan berdiri ?

Duduk adalah untuk mematuhi ketenangan dalam alam dharma yang agung, dan saya menggunakan postur tujuh poin ke posisi duduk berfungsi sepenuhnya untuk memberi instruksi kepada semua mahluk makhluk.

Bagaimana instruksi ini diajarkan? Padmakumara bertanya.

Melalui Mahamudra yang konstan dan tak dapat dirusak, yang menharmoniskan tubuh dan pikiran.

Pertanyaan-pertanyaan Padmakumaras menggerakkan serangkaian acara yang akan berhasil di masa depan jauh di mana saya, sebagai Padmakumara, akan menyeberangkan semua mahluk makhluk. Saya menerima surat keputusan dari Vairocana dan datang kedunia sebagai manifestasi dari Padmakumara menyampaikan Mahamudra. Ini adalah riwayatnya, dan acara itu sendiri adalah sebuah rahasia langit yang tidak misterius maupun dibuat-buat. Semuanya memiliki pola dan tujuan.

Mahamudra adalah meliputi segalanya tetapi sederhana. Seseorang harus memulai dari postur meditasi tujuh titik Vairocana , menyeimbangkan dan mengontrol fungsi chi dan meridians. Melalui posisi lotus penuh, dan Mudra meditasi, yang membuat dada ditegapkan dan menekuk sedikit dagu menekan lidah ke langit-langit , menatap satu obyek, seseorang akan menharmoniskan tubuh dan pikirannya. Hanya latihan ini yang akan membentuk dasar-dasar pelatihan ini yang merupakan prasyarat untuk seseorang dapat mulai praktik membersihkan hati mencapai kesucian dan realisasi kesempurnaan. Sebelum dapat tiba di tahap non-meditasi dan tahap non-pencapaian seseorang harus memulai persiapan awal dengan meditasi 7 point of vairochana dan mencapainya.

Mahamudra itu melibatkan praktik napas/angin, saluran dan tetes. Merupakan pendekatan untuk mencapai keBuddhaan dalam tubuh sekarang, dan bukan merupakan beberapa doktrin kosong sebagai teori yang tidak ada bukti. Itu mengharuskan seseorang untuk praktek, usaha keras dan bersadhana untuk mencapai respons spiritual yang sebenarnya, dimana dia akan mengetahui bahwa Aku, Sheng-yen Lu, tidak mengarang cerita kosong, apa yang sedang dikatakan di sini adalah benar-benar dapat terjadi dan terbukti kebenarannya.

Leave a comment »

Meditasi Anapanasati

by Gm Lien sen
dari majalah Cen fo indonesia nov-des. 2003

Pada umumnya setiap umat Buddha pasti mengenal apa itu Anapanasati.
Yaitu suatu metode meditasi yang sangat sederhana dan dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja tanpa ada pantangan atau larangan tertentu.
Namun karena terlalu sederhana kita jangan meremehkan metode ini. Banyak sekali rumus-rumus inti yang harus diperhatikan dalam metode ini dan semua itu kita bahas dengan lebih rinci dan mendalam.
Dibawah ini saya akan perjelaskan satu persatu rumus inti tersebut,setelah itu saya harap anda bisa mengerti dengan sendirinya. Contohnya, metode meditasi dengan obyek benda-benda kotor dan obyek tulang belulang adalah suatu metode yang sangat rumit.

Maksud saya agar jangan meremehkan merode anasanapati bukan tanpa sebab. Ketika sang Buddha memberikan pelajaran kepada siswa-siswanya, beliau berpesan bahwa setelah mengerti metode Anapanasati, hendaknyak ita kembali kedalam goa atau dibawah pohon tempat meditasi masing-masing untuk mempraktekkan metode ini. Dengan metode ini, tidak sedikit siswa sang Buddha ketika itu berhasil mencapai tingkat Arahat.
Jadi metode ini diperuntukkan untuk umat awam untuk mencapai penerangan sempurna, jangan sekali-sekali memandang remeh dan tidak menjalankannya.

Rumus inti pertama dari metode Anapanasati adalah

Ketenangan jiwa raga

Ini dapat dicapai dengan mengatur atau mengusahakan menghitung keluar masuknya udara dari hidung. Ketika menjelaskan metode meditasi tantrayana saya pernah menekankan pentingnya tarikan napas halus, pelan dan panjang ini dapat membawa kita pada kondisi batin yang tenang secara jiwa dan raga dan selanjutnya akan membawa kita ke dalam jhana baik lahir maupun bathin.
Bila yang terjadi sebaliknya yakni tarikan napas yang kasar dan tergesa-gesa dan pendek maka itu pertanda kita sedang dalam kondisi sakit , marah , lelah . ketakutan dan tidak stabil.
Tarikan napas yang halus , pelan dan panjang dapat membawa ktia pada kondisi batin yang tenang secara jiwa dan raga sedangkan tarikan napas yang kasar, cepat dan pendek akan mengakibatkan kita berada dalam kondisi abnormal baik jiwa maupun raga.

Begitu kita mempraktekkan metode anapanasati, kita kan segera merasakan, bila kita tidak memperhatikannya maka kita tidak akan pernah tahu panjang –pendeknya napas kita, tetapi dengan mempraktekkannya kita menjadi tahu napas kita sebenarnya ada yang panjang dan ada juga yang pendek.
Nah tugas kita adalah mengatur dan menjaga keseimbangan antara napas yang panjang dan pendek itu. Dengan terjaganya keseimbangan antara napas panjang dan napas pendek, kita menjadi mengenal lebih dalam dan lebih rinci pada pernapasan kita sendiri.
Yang pertama-tama yang harus dikenali begitu mempraktekkan Anapanasati adalah :
Apa itu napas panjang (pernapasan lengkap)?
Apa itu napas pendek (napas yang tergesa-gesa) ?
Apa itu napas yang alamiah ?
Bagai mana cara kita mengatur napas agar kita dapat memasuki meditasi ?

Sang Buddha memperkenalkan 3 macam pernapasan.

1. Pernapasan lengkap (pernapasan panjang).

Andaikan ada sebuah jarak antara hidung dan empat jari dibawah pusar (tan thien).

Posisi hidung di atas dan tanthien di bawah. Setiap napas yang kita hirup, masuk melalui hidung dan diteruskan sampai tan thien. Dan napas yang kita buang dimulai dan tanthien hingga ke atas keluar melalui kedua lubang hidung.

2. Pernapasan Alamiah (pernapasan biasa)

Napas ditarik dari kedua lubang hidung dan masuk kedalam paru-paru, lalu napas yang dibuang juga mulai dari paru-paru dan dihembuskan keluar dari kedua lubang hidung.

Anda sama sekali tidak perlu mencoba untuk merasakannya, karena semua itu berlangsung secara otomatis tanpa dapat kita rasakan.

3. Pernapasan pendek (pernapasan yang tergesa-gesa). Pernapasan ini hanya berlangsung dalam jarak antara hidung dan mulut saja. Ini merupakan gejala pada mereka yang menderita penyakit asma (sesak napas).

Sang Buddha pernah berkata : Dengan pernapasan panjang, tubuh kita akan menjadi lemas lalu memasuki suasana tenang dan damai.

Dengan pernapasan pendek, tubuh kita akan menjadi kaku, kasar dan diikuti perasaan gelisah.

Ketika berada dalam Samadhi, kita akan merasakan sebuah rahasia bahwa pernapasan-pernapasan itulah yang selama ini menguasai seluruh organ tubuh kita. Oleh karena itu kita harus segera melatih cara bernapas kita diselaraskan dengan ketiga macam pernapasan tersebut diatas.

Tujuan nya adalah untuk melacak sebab-sebab dibalik sebuah pernapasan dan juga untuk mengetahui pengaruh-pengaruh yang diakibatkan oleh sebuah pernapasan. Diharapkan dengan cara menutup kedua belah mata saja, maka dalam sekejap pernapasan-pernapasan kita segera akan menjadi selaras dan rata.

Untuk memperaktekkan pernapasan panjang dibutuhkan 2 cara sebagai berikut.

  1. Pikiran yang bergerak mengikuti jalannya pernapasan, artinya pikiran dan hati kita bergerak seiring dengan bergerak dan naik turunnya napas kita. Pikiran dan napas menjadi satu, sehingga pikiran adalah napas kita begitu juga dengan napas adalah pikiran kita.
  2. Perhatian dipusatkan pada ujung hidung, dengan memandang ujung hidung kita. Sendiri. Perhatian di pusatkan ke ujung hidung, maka perhatian hidung juga dipusatkan ke pikiran/hati selanjutnya pikiran dipusatkan pada keluar masuknya nudara.

Yang paling perlu diperhatikan disini adalah memperhatikan dan menjaga lubang hidung agar dapat mengetahui dan menyadari adanya udara yang keluar masuk dari lubang hidung.

Metode cara yang pertama adalah mengikuti jalannya pernapasan, sedangkan yang kedua adalah menjaga dan memperhatikan keluar masuknya udara dalam pernapasan kita.

Baik cara pertama dan kedua harus sama-sama menjaga keseimbangan antara udara yang keluar dan udara yang masuk harus sama panjang tarikannya sama rata, sama halus dan sama lambatnya, semua itu harus diperhatikan satu persatu.

Mereka yang pertama kali belajar metode ini biasanya akan segera kehilangan konsentrasi dan kesadaran tidak lama setelah memperaktekkannya, pikiran akan melayang-layang entah kemana. Pada saat itu lakukanlah pernapasan sedikit keras, itu tidak apa-apa karena dengan demikian perhatian dan konsentrasi kita akan kembali dipusatkan. Dan itu adalah salah satu cara untuk mengembalikan konsentrasi yang terpecah.

Seorang sadhaka setelah berhasil mengatur keluar masuknya udara dalam pernapasan

Sampai terasa halus , pelan dan panjang. Pernapasan itu sangat rata dengan panjang dan pendek yang sebanding. Maka dapat dikatakan dia telah mencapai keberhasilan tahap pertama dalam memperaktekkan metode anapanasati.

posisi telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan untuk pria sedangkan wanita posisi telapak tangan kanan di atas tangan kiri.

Selanjutnya yang harus diperhatikan adalah masalah konsentrasi.

Konsentrasi itu diperlukan baik untuk cara pertama yaitu “mengikuti” dan juga cara kedua yaitu “menjaga” kedua lubang hidung. Kedua cara ini sama baiknya yang penting harus diperhatikan adalah menjaga konsentrasi. Yang harus dicapai baik dengan cara mengikuti maupun cara menjaga adalah :

Apakah keluar masuknya udara masih kasar ?

Apakah keluar masuknya udara sudah halus ?

Menyadari adanya udara yang masuk juga sadar akan udara yang keluar ?

Jangan meremehkan kedua cara tersebut di atas. Dengan praktek secara continue lama-kelamaan sebuah perasaan akan timbul.

Perasaan ini adalah salah satu dari “delapan perasaan tubuh” yang terdiri dari perasaan-perasaan bergetar, gatal, ringan, berat , dingin, hangat , kasar dan licin. Sebagaimana pernah saya singgung di awal tulisan dalam menghadapi delapan perasaan tubuh ini boleh saja kita memberikan reaksi yang sepantasnya. Selain 8 perasaan tubuh tersebut, mungkin juga timbul perasaan-perasaan sengsara, menderita atau juga perasaan nikmat dan nyaman, rasa kantuk, kepala merunduk, tertidur dan gejala-gejala lain bisa muncul. Selain itu perasaan-perasaan buruk yang pernah kita rasakan sehari-hari seperti marah, sebal, terhina, tak tahu malu, iri, dengki dan sebagainya juga bisa muncul. Juga khayalan, kegelisahan, penderitaan , dan kemelekatan juga bisa muncul.

Bila perasaan-perasaan itu muncul maka kita harus melepaskan semuanya, jangan melakukan apapun, jangan perdulikan apapun, tetap ikuti petunjuk menurut konsep buddhis yaitu kenali wajah asli dari perasaan-perasaan yang timbul. Semua perasaan-perasaan buruk seperti kemelekatan, ego, ngotot, angkuh dan sebagainya harus dikikis satu persatu. Semua perasaan yang timbul harus dihadapi dengan bijaksana temukan akar sebab-musababnya lalu kenali jati dirinya yang asli.

Berdasarkan pengalaman saya ketika menghadapi gangguan macam-macam perasaan tersebut, maka cara terbaik untuk mengendalikannya adalah melakukan meditasi “delapan negasi” atau “delapan tidak”

Yang dimaksud dengan delapan negasi itu adalah :

–         tidak dilahirkan

–         tidak musnah

–         tidak terputus

–         tidak kekal / anitya

–         tidak tunggal

–         tidak berbeda

–         tidak pergi

–         tidak datang.

Bila kita dapat bersikap tidak melekat dan tidak menjauhi macam-macam perasaan yang timbul dan tetap memusatkan konsentrasi dalam meditasi anapanasati tanpa terpengaruh oleh perasaan-perasaan itu, maka itu telah membuktikan bahwa kita telah mencapai tingkat kekuatan jhana yang amat tinggi.

Leave a comment »

tips meditasi dari Kantaviriya

Pencapaian Meditative

1 Obhasa (Sinar yang gemerlap)

– Sinar seperti kunang-kunang, obor, lampu, dll

– Seluruh kamar terang sehingga badan sendiri dapat dilihat

– Sinar yang menembus tembok-tembok kamar, seperti tidak ada tembok

– Sinar yang memungkinkan untuk melihat bermacam-macam tempat yang timbul

– Sinar terang, seperti melalui pintu yang terbuka, kadang-kadang orang mengangkat tangannya untuk menutupnya, atau membuka matanya untuk melihatnya, atau mengangkat tangannya untuk mengamatinya

– Sinar terang yang memungkinkan orang dapat melihat bunga-bunga dengan bermacam-macam warna yang timbul dekat dihadapanya

– Sinar yang memungkinkan orang dapat melihat laut yang jauhnya berkilo-kilo meter

– Cahaya terang yang seolah-olah keluar dari badan dan hati si meditator

– Bayangan gajah, binatang dll seperti hayalan

2 Piti (kegiuran) yang nyaman, terdiri atas 5 macam yaitu;

Khudaka Piti

– Melihat warna putih

– Merasa dinggin, rambut berdiri sampai kebelakang kepala berat dan pusing

– Air mata keluar, dan merasa ketakutan

Khanika Piti;

– Melihat sinar berkelebat di mata

– Melihat kembang api berhamburan dari percikan batu

– Gugup dan terkejutan

– Kaku seluruh badan

– Merasa seperti banyak semut merayap di badan

– Gemetar atau mengigil

– Melihat bermacam-macam warna merah

– Rambut sering berdiri sampai ke belakang, tapi tidak lama

– Terasa gatal seperti ada semut atau kutu merayap di muka kita atau dibadan

Okkantika Piti;

– Badan goyang, bergerak, berayun, dan gemetar

– Muka, tangan, kaki tegang dan meregang

– Gayang dan bergerak naik turun seperti tempat duduk kita akan terbalik

– Merasa seperti mabuk laut, dan sewaktu-waktu dapat muntah

– Merasa seperti ombak menyentuh pantai

– Merasa seperti di ombang-ambing ombak

– Merasa bergetar seperti sebuah tongkat yang dipegang ddi dalam arus air

– Melihat warna kuning muda

– Badan bergoyang ke muka dan belakang

Ubbonga Piti;

– Badan terasa semangkin besar dan naik

– Buang air mencret dan disentri

– Merasa di dorong oleh seseorang

– Merasa kepala di putar ke kiri dank e kanan oleh seseorang

– Badan ber goyang-goyang seperti ditiup angin badan bungkuk ke muka hinga bias mencapai lantai

– Badan terasa melompat

– Lengan dan kaki dapat terangkat sendiri

– Badan dapat membonkok kemuka dan kesamping

– Melihat warna kelabu seperti mutiara

Phara Piti

– Rasa dingin meliputi seluruh badan

– Ketenangan pikiran timbul sewaktu-waktu

– Merasa gatal seluruh badan

– Merasa mengantuk dan segan membuka mata

– Tidak ada keinginan untuk mengerakan badan

– Perasaan ringan mengalir dari kaki ke kepala, dan sebaliknya

– Badan merasa dingin serasa sehabis mandi, atau tersentuh dengan es

– Melihat warna biru atau hijau seperti daun pisang yang kelabu atau seperti jambrut

– Merasa gatal seperti ada kutu yang merayap di muka

3 Passadi (ketenangan bathin)

– Tenang dan aman seperti telah mencapai penerangan sejati(phala-samapatti)

– Tidak ada gegelisahan dan penyelewengan pikiran

– Pengenalan dan penyadaran berlangsung dengan mudah

– Merasa sejuk dan enak, tidak gelisah

– Merasa puas dengan pengenalan dan penyadaran

– Merasa terserap seperti akan tertidur

– Merasa ringan gesit dan lincah

– Konsentrasi berlangsung dengan baik, tidak lalai

– Pikiran sangat terang

– Bagi orang yang bengis, kejam, kasar, tidak punya kasih sayang, akam terasa bahwa dhamma itu sangat dalam dan mulia, dan di hari depan ia ingin berhenti berbuat kejahatan, hanya berbuat kebaikan saja

– Orang yang tergolong bajingan dan pemabuk dapat menyadari dirinya dan ingin bertobat, membuang kebiasaan yang jelek, dan ingin menjadi orang yang baik.

4 Sukkha ( kebahagiaan)

– Merasa gembira

– Merasa senang, terhibur, nikmat, dan tidak ingin berhenti tetapi mau meneruskan latihan sampai waktu yang lama.

– Ingin berbicara dan memceritakan kepada orang lain tentang hasil-hasil meditasi yang telah didapatinya

– Bangga dan gembira yang berlebih-lebihan

– Di antaranya ada yang sampai berkata, bahwa sejak lahir ia belum pernah merasakan kebahagiaan seperti yang dialaminya itu.

– Banyak memikirkan kebajikan gurunya

– Merasa diri sudah siap untuk memberikan pertolongan

5 Saddha (keyakinan)

– Keyakinan terlalu tebal

– Mengharapkan setiap orang ikut berlatih

– Ingin mendorong-dorong mereka yang sudah punya niat berlatih

– Ingin membayar jasa atas kebajikan dari tempat-tempat meditasi

– Ingin supaya latihanya lebih baik, lebih berhasil lebih cepat.

– Ingin melakukan perbuatan-perbuatan yang bajik, dan memberikan dana-dana, memdirikan dan memperbaiki bangunan bangunan tempat suci

– Merasa hormat kepada orang-orang yang menganjur-anjurkan atau mempropagandakan latihan meditasi

– Ingin memberikan persembahan pada gurunya

– Ingin memjadi bhikkhu/bhikkuni atau tabib

– Ingin berdiam lama dalam latihan dan tidak ingin memnghentikan latihanya

– Ingin pergi dan berdiam di suatu tempat yang sepi dan tenang

– Bertekad untuk melakukan latihan dengan tekun dan sunguh-sunguh

6 Paggaha (usaha)

– Lebih rajin dari yang semestinya

– Berniat melakukan latihan yang sunguh-sunguh terus menerus sampai mati

– Hanya terlalu bersemangat, sehingga perhatian dan kesadaran menjadi lemah, lalu menyebabkan lemahnya Samadhi (konsentrasi)

7 Upatthana (ingatan yang terang)

– Penyelewengan dari kesadaran, karena tidak memperhatikan saat yang sekarang ini, tetapi pikiranya cenderung pada soal-soal yang telah laud an yang akan datang

– Hanya teringat pada hal-hal dan kejadian-kejadian yang telah lalu

– Seolah-olah orang dapat melihat kehidupanya yang telah lalu

8 Nana (Pengetahuan)

– Soal belajar menjadi tercampur dengan praktek latihan, salah mengerti, dan mengangap diri benar, merasa gagah dan bergaya dan melawan pada gurunya

– Member komentar pada bermacam-macam objek, seperti pada naik turun perut, umpama naik-turun berhenti, dan lain-lainya.

– Memikirkan bermacam-macam hal yang telah diketahui atau telah dipelajari

– Proses yang terjadi pada saat sekarang ini tidak terpegang atau tidak disadari, hanya berpikir belaka, sehingga membentuk “pengetahuan pikiran” atau Citta-nana

9 Upekkha 9keseimbangan)

– Pikiran tidak bergerak, tidak merasa senang atau tidak tidak-senang, seperti terlupa atau terlelap, dan naik turunya perut menjadi tidak terang, dan kadang-kadang tidak merasakan

– Tidak sadar atau seperti tidak berpikir apa-apa

– Naik turunya perut kadang-kadang terasa, kadang-kadang tidak berasa

– Pikiran tidak tergangu dan tidak aman

– Lambat sekali terhadap hal-hal kesejahteraan

– Tidak terpengaruh kalau berhubungan dengan objek-objek yang baik atau buruk, pengenalan tidak terlalu dihiraukan, dan kesadaran yang tertuju pada objek-objek di luar (yang terjadi berikutnya) menjadi lebih luas

10 Nikanti (kepuasan)

– Puas terhadap bermacam-macam objek

– Puas terhadap cahaya, kesenangan, kebahagiaan, keyakinan, usaha, pengetahuan, dan keseimbangan

– Puas terhadap bermacam-macam NIMITTA.

Timbulnya 10 macam Vipassanupakilesa

atau 10 macam kekotoran

Vipassana dalam Nana

Inilah lima rintangan yang harus kita hindari

dalam meditasi, agar buah meditasi

dapat di realisasikan;

1, Nafsu indra/Nafsu Keinginan

2, Kedengkian/Niat jahat

3, Keengganan dan Kemalasan

4, Kegelisahan dan Kekhawatiran

5, Keragu-raguan

jika kita dapat merealisasikan dan melewati 5 rintangan

di atas, buah meditasi dengan sendirinya, akan tercapai

Inilah yang dinyatakan oleh yang terberkahi, dalam urutan

pelatihan terhadap kewaspadaan terhadap NAFAS;

Semua kondisi ini sama berlaku untu menarik dan menghembuskan nafas;

Nafas panjang

Napas pendek

Sambil menyelami tubuh

Sambil menenangkan bentukan tubuh

Mengalami suka cita

Mengalami bahagia

Menyelami/Mengalami bentukan mental

Menenangkan bentukan mental

Mengalami pikiran

Mengembirakan pikiran

Mengkonsentrasikan pikiran

Membebaskan pikiran

Merenungkan ketidak kekalan

Merenungkan kematian

Merenungkan Penghentian

Merenungkan PELEPASAN,

Setelah pencapaian pelepasan, meditator adalah seorang ARIA,

dalam level apapun yang dapat di realisasikan oleh Meditasi

Ini lah urutan pelaksanaan Pancasila Buddhis

terhadap, pencapaian Konsentrasi/ Samadhi

kemurnian pelaksanaan moralitas (5 sila )menyebabkan,

TANPA PENYESALAN

tanpa penyesalan menyebabkan

KEGEMBIRAAN

kegembiraan menyebabkan

SUKACITA

sukacita menyebabkan

KETENANGAN

ketenangan menyebabkan

BAHAGIA

kebahagiaan menyebabkan

KONSENTRASI

Jika pikiran terkonsentrasi, pemusatan pikiran tercapai,tujuan Samadhi tercapai, berdasarkan, pemurnian pelaksanaan sila sebagai landasan Samadhi

Meditasi kesendirian mempunyai banyak manfaat. Semua Tathagata mencapai kebuddhaan lewat cara itu dan kemudian mengajarkan hal itu demi manfaat umat manusia.

Ada 28 manfaat praktek kesendirian dalam meditasi

1, meditasi itu melindungi seseorang

2, memperpanjang usia kehidupanya

3, memberikan semangat

4, mengikis kelemahanya

5, menghilangkan segala reputasi yang buruk, dan

6, membawa kemashyuran

7, menghancurkan ketidakpuasan, dan

8, menumbuhkan kepuasan

9, menghapuskan ketakutan, dan

10,memberikan keyakinan

11,menghilangkan kemalasan, dan

12,memenuhinya dengan semangat

13,mengusir nafsu

14,mengusir niat jahat, dan

15,mengusir pandangan salah;

16,melemahkan kesombongan;

17,menghalau keraguan, dan

18,membuat pikiran terpusat

19,melembutkan pikiran,dan

20,membuatnya ringan hati;

21,membuatnya serius

22,membawa banyak keuntungan

23,membuatnya patut di hormati;

24,memberikan sukacita

25, mengisinya dengan kegembiraan

26,menunjukan kepadanya sifat sejati semua bentukan;

27,mengakhiri kelahiran kembali,dan

28,memberikan kepadanya semua buah dari kehidupan meningalkan duniawi.

bukan begitu harfiahnya, jika kita bermeditasi kita menarik diri dari duniawi, tentu jika

kita bermeditasi, hanya kita sendiri, itulah kesendirian dalam meditasi

cari ruangan atau tempat yang kosong, cukup, (salah satu ruangan dirumah)

dapat juga secara harfiah, guru Agung tetap melaksanakan masa vassa, dalam

hutan sendiri, disebelah atas akar kayu sendiri bermeditasi sendiri, demi

mencontohkan manfaat bermeditasi bagi generasi mendatang kalau mau belajar agama buddha yang penting melaksanakan pancasila budhis, dan kalau bisa sisihkan sedikit waktu buat meditasi, kalau cukup kuat, bisa berpuasa?

nah namanya puasa uphosatha, pada tanggal 8, 14, 15 menurut tradisi theravada

dan waktu 2 minguan,

Teory SAMATHA – BHAVANA I

Samatha Bha ̃vana berarti Pengembangan Ketenangan Bathin

Keterangan dalam bahasa PALI sebagai berikut;

A KILESE SAMETITI ; SAMATHO

Artinya;

Keadaan yang membuat kilesa tenang disebut

SAMATHA, yaitu Ekaggata yang berada dalam

Mahakusala-citta 8 dan Rupavacarapathamajjhana-kusala citta 1

B CITTAM SAMETITI ;SAMATHO

Artinya;

Keadaan yang membuat pikiran tenang dalam

Konsentrasi terhadap suatu objek di sebut SAMATHA,

Yaitu Ekaggata yang berada dalam Maha ̃kriya-citta

8 dan Rupa ̃vacara-pathamajjha ̃nakriya-citta 1

C VITAKKADI OLARIKADHAMME SAMETITI ; SAMATHO

Artinya;

Keadaan yang membuat jhana jenis kasa tidak timbul

Disebut SAMATHA, yaitu Ekaggata yang berada

Dalam Dutiyajjhanakusalakriya-citta dan lain-lainya

Sehingga mencapai Pancamajjhanakusalakriya-citta

KILESE SAMETITI ; SAMATHO

Bagi mereka yang melaksanakan maditasi samatha bhavana, pada saat itu Mahakusala-cittupada timbul terus menerus, jika orang itu adalah Tihetuka-Puggala dan berusaha dengan secukupnya, ia akan mampu dan berhasil menjadi Jhanalabhi-Puggala, yaitu Rupavacara-pathamajjhanakusala timbul.

Dalam Mahakusala-ciituppada dan Pathamajjhanakusala-cittuppada ini EKAGGATA-CETASIKA menjadi pemimpin.

Dengan adanya pengertian Ekaggata-Cetasika inilah timbul kalimat bahasa PALI yang berbunyi ‘KILESE SAMETITI ; SAMATHO

Yang dimaksud THETUKA-PUGALA, adalah;

Mahluk yang dilahirkan dengan kekuatan alobha(tidak tamak) adosa(tidak benci), dan amoho(tidak bodoh)

Jika seseorang dilahirkan dengan kekuatan alobha, adosa, dan amoha. Ia disebut Tihetuka-Puggala Dan mampu mencapai jhana dalam kehidupan sekarang, Jika dia melaksanakan samatha Bhavana. Dan mampu menjadi Aria Puggala jika dia melaksanakan Vipassana-bhavana

Yang dimaksud JHANALABHI-PUGGALA, adalah

Meditasiawan yang melaksanakan samatha bhavana sehingga memdapatkan Jhana, dan mahir dalam Jhana, artinya kapanpun ia bisa memasuki Jhana dan bisa keluar dari Jhana setiap saat.

CITTAM SAMETITI ; samatho

Bagi mereka(yang mulia metator) yang telah menjadi Arahat, kemudian berbalik melaksanakan Samatha-Bhavana supaya mendapatkan Lokiya-Jhanna, pada saat itu dalam meditasi Mahakriya-cittuppada timbul terus-menerus sehingga mencapai Jhanna-Puggala, yaitu Rupavacara-pathamajjhana-kriya-cittuppada timbul

Mahakriya-cittuppada dan Pathamajhannakriya-cittuppada ini tidak dapat membasmi kilesa dan nivarana.

Dalam Mahakriya-cittuppada dan Pathamajhannakriya-cittuppada ini, EKAGGATA-CETASIKA menjadi Pemimpin.

Dengan adanya pengertian Ekaggata-Cetasika inilah timbul bahasa Pali yang berbunyi

CITTAM SAMETITI ; SAMATHO

VITAKKADI OLARIKADHAMME SAMETITI ; SAMATHO

Orang awam, Sekkha-Puggala dan Asekha-Puggala yang menjadi Pathamajhannalabhi-Puggala, bila melanjutkan melaksanakan Samath-Bhavana, Jhanna tingkat atas ada Dutiyajhannakusala-kriya dan lain-lain timbul menurut tingkatan

Dutiyajjhanna-cittuppada yang menjadi kusala-kriya dan lain-lain, tidak usah lagi membasmi dan menenangkan kilesa nivarana

Bila jhanna tersebut timbul membuat pikiran terkonsentrasi lebih kuat menurut tingkatan, berikut dengan meningalkan jhana yang kasar yaitu VITAKA dan lain-lain, yaitu Dutiyajjhana meningalkan Vitakka, Tatiyajjhana meninglkan Vicara, Catutthajjhana meningalkan piti,

Pancamajjhana meningalkan sukkha.

Dalam Dutiyajjhana-kusala-kriya-cittuppada ini timbul, ada EKAGGATA-CETASIKA yang menjadi pemimpin,

Dengan tercapainya EKAGGATA-CETASIKA inilah sehinga timbul kalimat bahasa Pali yang berbunyi

VITAKKADI OLARIKADHAMME SAMETITI ; SAMATHO

SAMATHA ada dua macam, yaitu;

PARITTA-SAMATHA; bagi mereka yang melaksanakan samatha-bhavana tetapi belum mencapai Appana-Bhavana, disebut Paritta-Samatha.

Sebab pada saat itu yang ada hanya Mahakusala atau Mahakriya-JAVANA, yang timbul dan jhana yang ada pada saat itu mempunyai kekuatan yang lemah.

MAHAGGATA-SAMATHA ; bagi mereka yang melasanakan Samath-Bhavana dan telah mencapai Appana-Bhavana yaitu Mahaggata-Jhana, disebut Mahaggata-Samatha

Sebab pada saat itu Mahaggatakusala telah timbul dan dapat dicapai atau mencapai Mahaggatakriya JAVANA

TELAH TIMBUL, dan jhana yang dihasilkan pada saat dicapai, mempunyai kekuatan yang sangat besar dan mampu,dapat mengkonsentrasikan pada objek meditasi dengan kuat.

JHANA, berate kesadaran/pikiran yang melekat kuat dalam objek Kammatthana(Meditasi), yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada objek meditasi yang dipilih dengan ke kuatan Appana-Samadhi, samadi disini meningalkan istilah meditasi, karena pikiran telah terkonsentrasi kuat pada objeck meditasi, maka kata Samadhi mengambil alih istilah meditasi yang kita lakukan,

Appana-Samadhi adalah konsentrasi yang pandai/ahli yaitu kesadaran pikiran terkonsentrasi pada objek dengan kuat

8 Tingkat Jhana

1 Pathama-Jhana

2 Dutiya-Jhana

3 Tatiya-Jhana

4 Catuttha-Jhana

5 Akasanancayatana-Jhana

6 Vinnanancayatana-Jhana

7 Akincannayatana-Jhana

8 Nevasannanasayatana-Jhana

40 objek pokok meditasi

A Kasina 10 (10 wujut benda)

B Asubha 10 (10 wujut kotoran)

C Anussati 10 (10 macam perenungan)

D Appamanna 4(4 keadaan yang tidak terbatas)

E Aharepatikusalasanna 1 (1 perenungan terhadap makanan memjijikan)

F Catudhatuvavatthana 1 (1 analisa terhadap 4 unsur)

G Arupa 4 (4 perenungan tampa materi)

Nb, detailnya dapat saya berikan jika ada yang tertarik dengan objek tertentu

6 CARITA,

yaitu 6 macam prilaku yang dikaitkan dengan kecocokan objek meditasi

Ini tidak saya uraikan karena sebaiknya minta objek meditaspada yang ahli dan mempunyai otoritas yaitu “Bikkhu”

Masing masing CARITA ini secara garis besar mempuyai kecocokan tertentu terhadap objek meditasi.

BHAVANA ada 3 tingkatan

1 PARIKAMMA-BHAVANA, pegembangan bathin tingkat pendahuluan

2 UPACARA-BHAVANA, pengembangan bathin tingkat penghampiran

3 APPANA-BHAVANA,pengembangan bathin tingkat terkonsentrasi dengan kuat

Untuk mencapai Parikamma-Bhavana objek apakah yang harus diambil dalam melaksanakan meditasi

Samatha-Bhavana. Semua objek(40 objek) dapat menghasilkan Parikamma-Bhavana

Untuk mencapai Upacara-Bhavana, objek meditasi yang dapat menghasilkanya yaitu

8 Anussati (buddhanussati, s.d Devanussati)

Aharepatikulasanna1 dan catudhatuvavatthana

Untuk mencapai Appana-Bhavana, objek meditasi yang dapat menghasilkanya

’10 objek kasina, 10 objek Asubha, 1O Kayagatasati, anapanasati, 4 Appamanna, dan 4 Arupa

Untuk jhana 5-8, sesuai objek masing-masing

Mari kita masuk pada pencapaian jika teman teman sedhamma telah melaksanakan meditasi samatha dan cukup lama serta kira-kira mendapatkan gambaran pencapaiyan .

Ada di mana kira-kira tingkatan dan pencapaian meditasi kita dari tingkat awal hinga tercapai pemusatan pikiran

Ada 3 NIMITTA atau gambaran bathin saat kita melaksanakan meditasi Samatha-Bhavana

Yang pertama pada tingkatan PARIKAMMA-NIMITTA, Gambaran bathin permulaan, yaitu suatu objek yang kita pilih dalam meditasi kita, contoh jika memilih objek kasina warna merah misalnya, kemudian objek tersebut dibayangkan dalam pikiran, dan masih dalam kondisi tidak terlihat dengan jelas dan tetap.

UGGAHA-NIMITTA, gambaran bathin mencapai, yaitu objek medirasi yang kita ambil untuk meditasi, objek tersebut sudah melekat dalam pikiran, sebagai contoh kasina warna merah tsb.

Terlihat dengan jelas dan tetap

PATIBHAGA-NIMITTA, gambaran bathin berlawanan, di sini penguasan penuh terhadap objek dicapai, objek meditasi yang diambil telah melekat pada pikiran, objek yang diambil terlihat dengan nyata, tetap dan jernih (jikamengambil kasinawarna sebagai contoh) terbebas dari gangguan, dan objek tersebut dapat dibesarkan dan dikecilkan dalam pikiran kita, biasanya jika mengambil kasina warna ada wadah kasina tsb yang kita ambil dalam ukuran tertentu, ukuran kasina tersebut itulah yang kita proyeksikan membesar dan mengecil sesuai keinginan kita.

Nah objek-objek apa yang cocok untuk 3 gambaran bathin(NIMITTA)

Untuk mencapai Parikamma-Nimitta dan Uggaha-Nimitta, seluruh objek meditasi yang 40 dapat menghasilkan kedua pencapaian meditative di atas, tetapi untuk pencapaian ke tiga

Yaitu;

Patibhaga-Nimitta tidak semua objek dapai menghasilkan pencapaiyan ke 3, yaitu Patibhaga-Nimitta, kebanyakan yogi banyak yang keliru disini, sehingga kadang-kadang pencapaiyan meditasi seakan-akan mentok, padahal objek meditasinya kurang cocok untuk mencapai pemusatan pikiran/pencerapan secara mendalam.

Apa saja objek yang bias menghasilkan tingkat ke 3 atau Patibhaga-Nimitta, ada 22 objek dari 40, yang dianggap sesuai untuk pencapaiyan, tingkat ini, apa saja

10 Kasina, 10 Asubha, 1 Kayagatasati, dan 1 anapanasati

Pada saat yogi mencapai tahap Uggaha-Nimitta, dia harus mengubah objek meditasinya ke 22 objek yang dapat menghasilkan level 3 Nimitta, banyak para yogi yang tidak mendapat bimbingan tidak menyadari hal ini, kalau halanganya sudah mahir dengan objek yang dipakai 2 tahap sebelumnya dan susah menentukan apa yang dipilih untuk meningkatkan pencapaian meditasi, disitulah seorang guru yang mahir dan sudah menpraktekan Samatha di butuhkan,

Kebanyakan para yogi pemula terpaku pada teory, dan malas belajar pada guru meditasi, jika anda bercita-cita agar meditasinya maju dalam pencapaiyan inilah saatnya pergi ke Vihara dan bertanya pada para bhanthe,

Agar mendapat bimbingan guru yang pantas, jangan membaca teory atau bertanya pada orang yang belum pernah praktek, atau malah pencapaiannya dibawah orang yang bertanya?

Ada bhikkhu yang spesialisasinya meditasi dan ditunjuk oleh Sanggha yang akan membantu, jadi para yogi ayo ke vihara dan berlatih meditasi, agar tidak mandek pencapaiannya

Tambahan pada pencapaian Parikamma-Nimitta objek yang para yogi lihat dengan mata merupakan Paccuppanna-Rupa-Rammana (objek bentuk yang sekaran/pada saat ini)

Sedangkan pada level Uggaha-Nimitta dan Patibhaga-Nimitta objek meditasi yang dilihat dengan batin dan merupakan Atita-Rupa-Rammana (objek bentuk yang lalu)

PERBEDAANYA adalah Rupa-Rammana (objek bentuk) yang menjadi Uggaha-Nimitta itu mempunyai sifat yang sama dengan objek permulaan, sedangkan Rupa-Rammana (objek bentuk) pada Patibhaga-Nimitta tidak sama dengan objek permulaan, karena Rupa-Rammana pada level ini lebih jelas, jernih dan sangat jelas dilihat oleh bathin kita, seperti penglihatan mata yang baik yang dapat mengenali bentuk dengan segala sudut pandang.

Sampai di sini para Yogi dapat melanjutkan sendiri tahapan-tahapan meditasinya, biasanya setelah pencapaian

Patibhaga-Nimitta saya mengklasifikasikan yogi tersebut sebagai “mahir” tinggal seberapa rajin, dan yakin akan pencapaiannya tergantung saddha, dan Viriya

Yogi ini kita sebut saja melakukan Samadhi, dalam literature Buddha;

Sila, Samadhi, Panna,

Maka jangan lupa menyempurnakan pancasila buddhis, agar samadhinya maju, dan mudah mudahan melakukan VIPASSANA Bhavana, agar pannanya juga ikut berkembang,

sila

samadhi

panna (maaf “n” disini mesti ny saya tidak bisa attach tulisan pali)

maka up/upasika setelah menpraktekan sila sebagai dasar diharapkan dapat bermeditasi/samadi

saya setuju meditasi untuk olah bathin, bagaimana cara bathin/pikiran bekerja

dapat di selami dalam samantha bhavana, setelah mengerti cara bekerja pikiran kita dapat mengarahkan fikiran/bathin kita ke hal-hal yang baik

jika mempraktekan samantha bavana, lewat konsentrasi fikiran bentukan-bentukan fikiran dikenali, dan dapat ditekan untuk pencapaian-pencapaian tingkat konsentrasi tertentu.

adapun meditasi biasa dikaitkan dengan vipasana bhavana (pandangan terang) ini berfungsi untuk mengenali dan memotong bentuk-bentuk fikiran jelek (kilesa)

saya lebih banyak praktek samantha dan hanya sedikit vipasana jadi untuk vipasana, saya tidak berani cerita lebih banyak, karena bagi saya vipasana lebih berat

samadhi menurut saya samantha bhavana (fokus ke satu titik)

meditasi menurut saya vipasana bhavana

sebaiknya bagi saudara yang mempraktekan Vipasana Bhavana, samantha dahulu sampai dicapai “ketenangan badan jasmani” kalo tidak (menurut saya pribadi) susah untuk mengetahui bentuk fikiran sementara penderitaan fisik belum bisa diatasi.

manfaat meditasi secara umum kita lebih bisa mengendalikan fikiran kita tergantung tingkat pencapaian masing-masing,

jika saja sudah bisa mencapai penangulangan fikiran untuk  tingkat dasar saja

perubahan yang dirasakan sangat signifikan dan bahagianya minta ampun

jadi teman-teman mari ber meditasi/samadi

semoga semua berkembang dalam buddha dhamma

sebelum bermeditasi saya sarankan bertanya kepada bhante, atau baca sutta tentang samadhi

banyak sang buddha menjelas kan cara-cara meditasi, tapi bagi beginner sebaiknya ikutan di vihara dulu, agar sesat dalam meditasi dapat di hindari, lagian kalau tidak ada pembimbing lama jadinya (try and error)

Leave a comment »