Archive for September, 2016

Pilih terlahir di Surga Shukavati atau nibbana ?

Terlahir di Alam Suci dengan Membawa Serta Karma dan Terlahir di Alam Suci dengan Karma yang Terkikis

Teringat dulu sekali.
Ada dua aliran Bhiksu, saling berperang pena, bunyi ledakan di mana-mana, masing-masing saling mengutip ayat Sutra dan menulis pengalaman nyata.
Satu aliran mengatakan:
Sukhavatiloka Barat, asalkan menyebut nama Buddha pada saat jelang wafat, sepenuh hati dan tidak galau, maka bisa langsung terlahir di Buddhaloka.
Satu aliran lagi mengatakan:
Tidak boleh. Rintangan karma belum dikikis habis, sampai di Sukhavatiloka Barat, alam suci ternoda, apakah itu masih alam suci?

Satu aliran mengatakan:
Sukhavatiloka Barat, termasuk jalan yang mudah ditempuh, jika harus mengikis habis rintangan karma baru terlahir di alam suci, apakah masih dianggap jalan yang mudah ditempuh?
Satu aliran lagi mengatakan:
Buddhadharma setara, jika ada yang namanya jalan yang mudah ditempuh, jalan yang sulit ditempuh. Begitu insan melihat ada jalan yang mudah ditempuh, siapa lagi yang mau menekuni jalan yang sulit ditempuh?
Satu aliran mengatakan:
Buddha Amitabha sangat welas asih, sehingga ada Dharma penjapaan nama Buddha.
Satu aliran lagi mengatakan:
Memangnya Buddha yang lain tidak welas asih?

Satu aliran mengatakan:
Sekte Sukhavati, tidak perlu kikis karma, menjapa nama Buddha adalah kikis karma, sepuluh penjapaan dengan hati yang bersih, memutuskan terlahir di alam suci.
Satu aliran lagi mengatakan:
Mesti:
Lebih dulu menekuni Sambhara-Marga.
Kemudian menekuni Prayoga-Marga.
Hingga mencapai Darsana-Marga.
Dilanjutkan dengan Bhavana-Marga.
Terakhir barulah Parayana.
Inilah tingkat melatih diri, tidak ada yang langsung naik ke surga dalam selangkah.

Satu aliran berkata:
Dalam sejarah, banyak guru sesepuh aliran lain, terakhir kembali ke Sekte Sukhavati, karena Sekte Sukhavati bisa terlahir di alam suci dengan membawa serta karma.
Satu aliran lagi berkata:
Terlahir di alam suci Buddhaloka begitu mudah, lantas apa nilai belajar Buddha? Terlahir di alam suci semudah ke pasar, buat apa akademi Buddhis? Cukup menjapa Buddha saja?
Satu aliran berkata:
Sampai di Buddhaloka, rintangan karma pun sirna dengan sendirinya.
Satu aliran lagi berkata:
Jika rintangan karma bisa sirna dengan sendirinya, kalau begitu, buat apa Buddhadharma?

Pokoknya:
Kedua belah pihak tidak mau mengalah satu sama lain, saling berdebat, temanya masih tetap terlahir di alam suci dengan membawa serta karma dan terlahir di alam suci dengan karma yang sudah terkikis.
Seseorang bertanya pada saya, “Sebenarnya mana yang benar? Terlahir di alam suci dengan membawa serta karma atau terlahir di alam suci dengan karma yang sudah terkikis?”
Saya menjawab, “Kedua-duanya benar!”

Orang bertanya, “Membawa serta karma, karma yang sudah terkikis, keduanya berbeda, bagaimana keduanya benar?”
Saya menjawab, “Rintangan karma kembali ke rintangan karma, terlahir di alam suci kembali ke terlahir di alam suci.”
Orang bertanya, “Maksudnya?”
Saya menjawab, “Udara kembali ke udara, tanah kembali ke tanah.”

Orang bertanya, “Bukankah itu rintangan karma yang sudah dikikis?”
Saya menjawab, “Rintangan karma ibarat bayangan manusia, karma mengikuti tubuh, jika tubuh sudah tidak ada, apakah masih ada bayangan?”
Orang bertanya, “Bukankah hanya karma yang mengikuti tubuh?”
Saya menjawab, “Jika tidak ada manusia, di mana karma?”
(Kalimat ini, mohon direnungkan baik-baik, ada rahasia di dalamnya) “Sarat dengan rahasia, penuh dengan rahasia”

source : http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=265&id=18

 

Dalam buku yang lain pernah kubaca di surga shukavati terdengar musik surgawi…musik ini yang akan mengikis hawa napsu dan karma secara pasti…dan ada guru dari kalangan Buddha dan bodhisatva yang mendidik kita untuk mencapai kebuddhaan dengan pasti di alam shukavati…maaf nibbana sepertinya suatu kondisi…jadi di surga tersebut otomatis juga mencapai kondisi nibbana…bukti nyata lebih banyak kesaksian terlahir di surga shukavati seperti di youtube…sedangkan nibbana saya belum pernah baca selain para bhiksu…

Leave a comment »

Kitab Tripitaka

Gulungan Tripitaka

Saya pernah menghabiskan waktu membaca:
Sutra yang disabdakan oleh Sang Buddha.
Vinaya yang dibabarkan oleh Buddhisme.
Sastra dari para arya.
Memuji dengan kalimat, “Begitu rumitnya isi kitab suci, takkan habis dibaca seumur hidup.”

Belakangan:
Di Taoisme bersarana pada Taois Qingzhen.
Buddhisme Eksoterik bersarana pada:
Guru Yinshun.
Bhiksu Leguo.
Bhiksu Dao’an.

Saat menerima Sila Bodhisattva, 3 guru yang saya berlindung adalah:
Bhiksu Xiandun.
Bhiksu Huisan.
Bhiksu Jueguang.
(Berlokasi di Vihara Bishanyan, Nantou.)

Di Tantra Tibet, guru utama ada 4 orang:
Nyingmapa – Bhiksu Liaoming.
Gelugpa – Guru Thubten Dhargye.
Kargyupa – Gyalwa Karmapa ke-16.
Sakyapa – Guru Sakya Dezhung.

Sebenarnya, Bhiksu, Acarya, Rinpoche, Dharmaraja, Taois, arya …..  yang saya jalin jodoh. Tak terhitung!

Lalu, saya diupasampada menjadi bhiksu:
Mahathera Guoxian dari Vihara Huiquan, Hong Kong, mengupasampada saya.
Yang di atas adalah silsilah dan jodoh Dharma yang diserahkan pada saya.

*

Saya beritahu Anda semua, ingin belajar Buddha dan melatih diri, tentu mau tak mau harus ada “guru”, sehingga mencari guru bijak adalah sebuah rumus yang penting, jika Anda tidak memiliki guru, kitab sutra ibarat samudera, luas tak terhingga, bagaimana Anda mempelajarinya? Siapa guru bijak?

Pertama, mesti memiliki silsilah.
Kedua, mesti bijaksana.
Ketiga, mesti melatih diri hingga memahami hati dan mencapai pencerahan.
Keempat, mesti menyaksikan Buddhata.
Kelima, mesti memiliki bakat sekaligus pengetahuan.

Guru bijak ini mesti:
Menghentikan keserakahan dan menyingkirkan hasrat.
Kembali ke kemurnian.
Bersih dan tanpa pamrih.
Hati selalu ada Buddha.
Tidak duniawi.
Menghentikan popularitas dan keuntungan.

Ini barulah guru bijak yang sejati! Jika bukan, tidak boleh mengabdi. Atau berguru pada guru yang salah, maka menghabiskan semua waktu dan dana.

Yang namanya:
Jalan salah ada 3000.
Pintu samping ada 800.
Dan lebih banyak lagi jalan sesat.

Sehingga:
Mengenal guru bijak adalah rumus pertama.
Jika guru telah mencapai pencerahan, barulah dapat menuntun para murid mencapai pencerahan.
Jika guru menyaksikan Buddhata, barulah dapat menuntun para murid menyaksikan Buddhata.
Jika tidak ada guru, atau berguru pada guru yang salah:
Dengan usaha maksimal mendapatkan hasil minimal.
Jika ada guru, atau berguru pada guru bijak yang sejati:
Dengan usaha minimal mendapatkan hasil maksimal.

*

Ada orang bertanya pada Buddha, “Siapa paling besar?”

Buddha menjawab, “Orang yang menyatu dengan Marga adalah besar.”

Kini, siapa yang dapat menyatu dengan Marga? Siapakah guru bijak?

source : http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=260&id=3

 

 

Dizaman sekarang mencari seorang guru yang bijak seperti mencari jarum ditengah jerami…yang ada didepan mata jangan kau abaikan….setiap orang suci pasti ada yang memfitnah….telaah dengan seksama…Arya Atisha saja mengamati calon gurunya setahun…semua ada jodohnya hanya jangan mengabaikan waktu yang terus berjalan…jangan terlambat..

 

 

 

 

 

Leave a comment »

Penuturan orang yang kembali dari alam baka

Penuturan dari Orang yang Kembali dari Alam Baka

Lianhua Pinde bercerita:
Ayah saya adalah Lianhua Guizhuan, sepanjang hidupnya bersarana pada banyak guru, pernah bersarana pada guru Sekte Sukhavati, khusus menjapa nama Buddha. Bersarana lagi pada guru Sekte Zen, belajar meditasi. Bersarana lagi pada guru Kargyupa Tantra, belajar Mahamudra. Bersarana lagi pada guru Theravada, belajar Sila.

Ayah saya suka keliling tempat ibadah, ada bhiksu dari Jepang datang membabarkan Dharma, ia pun hadir:
Nichiren.
Agon Shu.
Shinji Takahashi.
Kiriyama Yasuo.
……

Ia pun pergi mendengarkan Dharma.

Ia juga pergi ke India untuk mencari tempat ibadah olah batin, sekali pergi beberapa bulan, tinggal di dalam tempat ibadah, seperti Ananda atau Sai Baba, ia pun pernah mengalami langsung.

Tibet, Nepal, Sikkim, Bhutan. Ia pun pergi, telah bersarana kepada banyak Rinpoche dan Lama.

Seperti:
Jumkun Kuntrul,
Jamyang Khyentse.
Urgyen Trinley. Urgyen Tulku.
Chiqing.
Zhajia.
……….

Ayah saya mendengar saya bersarana pada Mahaguru Lu, ia ikut saya ke Taiwan Lei Tsang Temple, juga menerima abhiseka sarana Mahaguru Lu, juga telah menjapa: “Om. Guru. Liansheng. Siddhi. Hum.”

*

Suatu hari.

Ayah jatuh sakit, panas dingin, tidak sadarkan diri 3 hari, rumah sakit mengeluarkan pemberitahuan kondisi kritis.

Dalam kondisi tidak sadarkan diri, ia siuman, memberitahu kami bahwa ia pergi ke alam akhirat, melihat banyak orang antri, begitu sampai gilirannya.

Ia memberitahu Raja Yama, “Saya adalah umat Buddha.”

Raja Yama berkata, “Anda bukan umat Buddha, Anda adalah umat beragam agama.”

Ia berkata, “Saya bisa menghapal Sutra Hati.”

Raja Yama berkata, “Hapalkan!”

Ia hapal Sutra Hati dalam Bahasa Mandarin dengan sangat lancar, kemudian hapal dalam Bahasa Tibet, masing-masing sekali.

Raja Yama berkata, “Mengucapkan tanpa memahami kebenaran sejatinya.”

Raja Yama berkata, “Apakah Anda bisa japa mantra?”

Ia pun mulai japa semua mantra yang ia ingat.

Raja Yama berkata, “Burung beo belajar bahasa.”

Terakhir ia japa, “Om. Guru. Liansheng. Siddhi. Hum.”

Raja Yama berkata, “Justru mantra inilah yang paling berkualitas!”

Ia bertanya, “Kualitas apa?”

Raja Yama menjawab, “Kualitas titisan padma, cukup satu mantra ini saja, Anda tidak perlu ke alam baka, kembalilah ke alam saka untuk melatih diri lagi!”

Sehingga, ayahanda Lianhua Pinde, Lianhua Guizhuan pun siuman, penyakit pun sembuh.

Lianhua Pinde berkata, “Ternyata mantra hati Padmakumara paling berkualitas!”

source : http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=254&id=9.

 

 Setiap siswa zhenfochung wajib menyelesaikan pr japa mantra “om guru lienseng siti hum” minimal 1 juta…usahakanlah dari sekarang.
untuk perlindungan diri masing masing. jangan lupa hapalkan tulisan sanscritnya
padmakumara1

Leave a comment »