Archive for Pengenalan terhadap agama buddha

Apa Itu Yang Disebut Ajaran Buddha ?

Saya ingat siswa saya, DR. Zhang Chengji, menulis sebuah buku, “Apa Itu Ajaran Buddha?”
Sementara, Bingnan Li (Upasaka Xuelu), dengan sangat marah berkata pada saya, “Saya mau tanya dia, ajaran Buddha itu apa?”

Saat itu saya bungkam.

Sebab:
Satu adalah siswa saya.
Satu lagi adalah guru saya.

Kedua orang ini sangat saya hormati. Saat itu, usia kedua orang ini terpaut jauh dari saya.

Seseorang bertanya pada saya, “Ajaran Buddha itu apa?”

Saya menjawab, “Apapun adalah ajaran Buddha, apapun bukan ajaran Buddha!”

Seseorang bertanya, “Apakah ajaran Buddha mengajarkan orang-orang berbuat baik?”

Saya menjawab, “Berbuat baik adalah titik awal, bukan akhir.”

Seseorang bertanya, “Apakah ajaran Buddha itu filsafat?”

Saya menjawab, “Ajaran Buddha adalah filsafat di dalam filsafat, namun, ujung-ujungnya bukan filsafat.”

Seseorang bertanya, “Ajaran Buddha itu agama?”

Saya menjawab, “Ajaran Buddha bukan agama, namun, boleh dikatakan sebagai agama yang paling sempurna di antara segala agama.”

Orang yang bertanya pada saya meraba-raba hidungnya lalu pergi!

Saya terbahak-bahak. Sebab:
Ajaran Buddha memang sulit sekali dipahami!

Kita semua harus tahu —
Ajaran Buddha bukan ritual, melainkan semacam pencerahan.
Jangan menaruh curiga pada ajaran Buddha.
Juga jangan menjadikan ajaran Buddha sebagai dogma.
Ajaran Buddha bukan pandangan keabadian.
Ajaran Buddha bukan pandangan nihilistik.
Ajaran Buddha bukan pertapaan keras.
Ajaran Buddha juga bukan menyuruh Anda bersenang-senang.
Ajaran Buddha mutlak bukan pesimistik.
Ajaran Buddha juga mutlak bukan optimistik.
Bukan materialistik.
Bukan vijnana.
Ajaran Buddha bukan realistik.
Ajaran Buddha bukan melampaui realistik.
Ajaran Buddha bukan mencari di luar.
Ajaran Buddha juga tidak sepenuhnya mencari di dalam.
Ajaran Buddha bukan memuja Buddha, bukan memuja dewa.
Ajaran Buddha juga bukan memuja materi.
Di sini, saya khusus memberitahu Anda semua, “Ajaran Buddha adalah semacam cara mencapai pembebasan, jika kita telah terbebaskan, apapun bukan.”

Sang Buddha bersabda, “Dharma pun mesti dikesampingkan, apalagi bukan Dharma!”

Saya berkata, “Ajaran pun mesti dikesampingkan, apalagi bukan ajaran!”

Jika dipandang dari kacamata Madhyamika, delapan jalan mulia beruas delapan adalah Madhyamika, yang termuskil.
Jika dipandang dari kacamata Vijnana, Kesadaran Alaya adalah Vijnana, yang terhalus.
Sunya itu bukan kosong melompong.
Melainkan samar-samar.
Saya berkata:
Jika seseorang memahami kalimat ini, boleh dianggap ‘menemukan jalan kebenaran’ (Darsana-marga), tidak jauh dari ‘menyaksikan Buddhata’!

source :  buku”kunci langit” oleh Lien sheng Rinphoce

Iklan

Leave a comment »

Sutra Pahala Memandikan Buddharupang

The Sutra On The Merit Of Bathing The Buddha
(Sutra Pahala Kebajikan Memandikan Buddharupang)

Bahasa Mandarin: Yufogongdejing
translate by Ivan T.

Thus have I heard:
DEMIKIANLAH YANG TELAH KUDENGAR

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ ++++

Suatu ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di
Rajagriha, di Puncak Burung Nazar bersama dengan 1250
bhikshu. Di antara mereka terdapat pula sejumlah
Bodhisattva serta delapan kelompok makhluk seperti
dewa, naga, dan lain sebagainya, yang tak terhingga
jumlahnya. Pada saat itu Bodhisattva Kebijaksanaan
Murni berada di tengah-tengah kumpulan itu. Karena ia
beraspirasi untuk menyebarkan cinta kasih pada semua
makhluk, maka bangkitlah pikiran sebagai berikut dalam
benaknya: “Dengan cara apakah para Buddha, Tathagata
[yang telah mencapai Penerangan Sempurna] memperoleh
tubuh yang demikian murni dan disertai dengan
tanda-tanda keagungan seorang Buddha?” Lalu ia
berpikir kembali: “Semua makhluk yang berkesempatan
untuk berjumpa dengan Tathagata serta membawakan
persembahan baginya, [pastilah] memperoleh pahala
kebajikan yang tak terbatas dan tak terukur. Meskipun
demikian, aku saat ini belum mengetahui persembahan
apakah yang akan dibawa para makhluk atau kebajikan
apakah yang akan mereka kembangkan setelah sang
Tathagata parinirvana, sehingga dapat menumbuhkan
akar-akar kebajikan seperti itu, yang dapat membawa
mereka pada Penerangan Sempurna dengan segera.”
Setelah memikirkan ini semua, ia lalu bangkit dari
tempat duduknya dengan lengan kanannya terbuka, dan
menundukkan kepalanya ke bawah kaki Buddha. Ia
berlutut dengan kaki kanannya serta merangkapkan
tangannya sebagai tanda penghormatan dan setelah itu
bertanyalah ia pada Sang Tathagata, “Yang Dijunjungi
Dunia, aku hendak menanyakan berbagai pertanyaan dan
berharap agar engkau bersedia untuk menjawabnya.”
Buddha berkata, “Putera yang Mulia, aku akan menjawab
sesuai dengan pertanyaanmu.”

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++

Pada saat itu Bodhisattva Kebijaksanaan Murni berkata
pada Buddha, “Dengan cara apakah para Buddha,
Tathagata yang tercerahi sepenuhnya, memperoleh tubuh
murni yang dilimpahi dengan tanda-tanda kebesaran
[seorang Buddha]? Selain itu, semua makhluk yang
berkesempatan untuk berjumpa dengan sang Tathagata dan
membawakan persembahan baginya, pahala kebajikan yang
mereka peroleh sungguh tak terbatas. Aku hingga saat
ini masih belum mengetahui persembahan apakah yang
akan diberikan para makhluk atau kebajikan apakah yang
akan mereka kembangkan setelah sang Tathatagata
parinirvana; sehingga dapat membangkitkan kualitas
kebajikan luhur yang membimbing mereka dengan segera
menuju pencerahan.”

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++

Pada saat itu, Yang Dijunjungi Dunia berkata pada
Bodhisattva Kebijaksanaan Murni, “Luar biasa,
[sungguh] luar biasa, engkau mengutarakan pertanyaan
ini karena ingin melimpahkan keberuntungan bagi para
makhluk pada masa mendatang! Kini dengarlah baik-baik,
renungkanlah dengan seksama, serta laksanakanlah apa
yang kukatakan. Aku akan menjelaskanmu secara
terperinci.”

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ ++++++

Bodhisattva Kebijaksanaan Murni berkata, “Baiklah,
Yang Dijunjungi Dunia, aku akan mendengarkannya dengan
suka cita.”

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++

Buddha menjelaskan pada Bodhisattva Kebijaksanaan
Murni, “Putera yang Mulia, engkau hendaknya mengetahui
bahwa dikarenakan dana, sila, kshanti, virya, samadhi,
prajna; kebajikan, cinta kasih, kegembiraan [di dalam
Dharma] dan dikarenakan paramita-paramita itulah serta
pengertahuan dan pengalaman akan cita rasa pembebasan,
sepuluh bala dan empat keyakinan itulah, maka seluruh
tanda-tanda keagungan itu dimiliki oleh seorang
Buddha; demikian pula halnya dengan pengetahuan,
kebajikan, serta kesucian Sang Tathagata.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++

Jika seseorang dengan hati yang tulus dan murni
mempersembahkan dupa, bunga, permata, karangan bunga,
panji, payung, serta bantal tempat duduk bagi para
Buddha – meletakkannya di hadapan Buddha, menghiasinya
secara melimpah, dan memercikkan air untuk membasuh
wujud yang penuh kemuliaan itu, maka asap yang berasal
dari pembakaran dupa akan membimbing pikiranmu pada
alam Dharma (dharmadatu). Lebih jauh lagi, bila engkau
memperingati kebajikan luar biasa seorang Tathagata
dengan makanan dan minuman, berbagai jenis alunan
musik; maka engkau akan memanifestasikan ikrar unggul
yang akan membawa pikiranmu pada lautan kemaha-tahuan
(sarvajnana) terrtinggi. Jasa kebajikan yang
dihasilkan dengan demikian tak terukur dan tak
terbatas; akan dibawa terus menerus dari satu
kehidupan ke kehidupan berikutnya, hingga engkau
pencapai Penerangan Sempurna. Mengapa demikian? karena
kebijaksanaan terberkahi sang Tathagata adalah tak
terbayangkan, tak terbatas, dan tak tertandingi.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++

Putera yang Mulia, semua Buddha, Yang Dijunjungi
Dunia, memiliki tiga tubuh, yang dikenal sebagai tubuh
Dharma atau Dharmakaya, tubuh kemuliaan atau
Sambhogakaya, dan tubuh jelmaan atau Nirmanakaya.
Setelah parinirvanaku, jika engkau berharap untuk
menghaturkan penghormatan pada ketiga tubuh ini, maka
engkau hendaknya melakukan penghormatan pada sariraku.
Tetapi sarira itu sendiri dibagi menjadi 2: yang
pertama adalah sarira tubuh; sedangkan yang kedua
adalah sarira yang berwujud ajaran Dharma. Kini aku
akan mengucapkan gatha sebagai berikut:

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++

“Segala sesuatu berasal dari penyebabnya
Tathagata telah menjelaskan sebab musabagnya
Serta musnahnya sebab musabab semua ini
Inilah yang telah dibabarkan oleh Sang Pertapa Agung.”

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++

Jika perumah tangga pria ataupun wanita, dan juga
kelima kelompok pertapa, hendak menciptakan sebuah
patung Buddha; bila mereka tidak mampu dan hanya
[sanggup] membuat patung seukuran biji gandum saja;
atau membangun stupa, sekalipun ukurannya hanya
sebesar biji jojoba, atau hanya seukuran jarum, jika
payungnya hanya seukuran sekam padi sekalipun, dan
sariranya hanya sebesar biji mostar – atau bila
seseorang menuliskan bait-bait ajaran Dharma serta
meletakkannya di dalam stupa – maka seluruh tindakan
itu dapat disepadankan dengan mempersembahkan permata
yang sangat langka. Jika seseorang dengan tulus
menghormat padanya, maka patung atau stupa itu akan
menjadi sama dengan kehadiranku sendiri, tanpa
perbedaan sedikitpun.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++

Putera yang Mulia, jika para makhluk ada yang sanggup
melakukan persembahan yang istimewa ini, maka mereka
akan memperoleh lima belas kebajikan mulia.
Pertama-tama, mereka akan selalu hidup apa adanya dan
rendah hati. Kedua, mereka akan mengembangkan pikiran
murni. Ketiga, hati mereka akan selalu sederhana dan
jujur. Keempat, mereka akan senantiasa berjumpa dengan
kawan-kawan yang baik. Kelima mereka akan memasuki
tingkat kebijaksanaan yang terbebas dari nafsu
keinginan. Keenam, mereka akan terus menerus memiliki
kesempatan untuk berjumpa dengan para Buddha. Ketujuh,
mereka akan senantiasa mempertahankan ajaran yang
benar. Kedelapan, mereka akan sanggup bertindak sesuai
dengan ajaranku. Kesembilan, mereka akan terlahir di
Tanah Buddha seturut dengan kehendak mereka,
Kesepuluh, bila terlahir sebagai manusia, mereka akan
terlahir pada keluarga yang mulia dan terpandang serta
dihormati, mereka akan selalu berbahagia. Kesebelas,
bila terlahir sebagai manusia, mereka akan dengan
sendirinya mengarahkan pikiran mereka pada Buddha.
Keduabelas, pasukan iblis-iblis jahat tak akan sanggup
membahayakan mereka. Ketigabelas, pada zaman akhir
Dharma, mereka akan sanggup melindungi serta
melestarikan Dharma Sejati. Keempatbelas, mereka akan
senantiasa dilindungi oleh para Buddha dari kesepuluh
penjuru. Kelimabelas, mereka akan dengan cepat
merealisasi lima atribut Tubuh Dharma.”

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ ++++++

Pada saat itu, Yang Dijunjungi Dunia mengucapkan gatha
sebagai berikut:

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++

Setelah parinirvanaku
Engkau akan menghormat sariraku
Beberapa umat akan membangun stupa
Atau patung Sang Tathagata
Di tempat patung atau stupa itu didirikan
Orang yang mempersembahkan
Berbagai dupa dan bunga
Menaburkannya di tempat itu)
Dengan membawa air harum yang murni
Dan mencurahkannya pada patung tersebut
Mempersembahkan berbagai minuman dan makanan
Terus menerus melakukan hal ini dengan penuh keyakinan
Mengagungkan kebajikan Sang Tathagata
Yang tak terbatas dan sulit untuk dibayangkan
Melalui kebijaksanaan upaya kausalya serta kekuatan
supranatural Sang Buddha
Orang semacam itu akan dengan cepat mencapai Pantai
Seberang Nirvana
Ia akan merealisasi Tubuh Vajra
Yang dilimpahi dengan tiga puluh dua tanda keagungan
seorang Buddha
Serta delapan puluh tanda minor
Ia akan menyeberangkan para makhluk menuju Pantai
Seberang.”

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++

Pada saat itu, Bodhisattva Kebijaksanaan Murni,
setelah mendengar bait-bait gatha yang dilantunkan
oleh Buddha itu, melanjutkan pertanyaannya, “Para
makhluk di masa mendatang akan bertanya: ‘untuk apa
kita memandikan sebuah patung?’ “

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++

Buddha menjawab pertanyaan Bodhisattva Kebijaksanaan
Murni, “Karena engkau akan menjadi sama dengan Sang
Tathagata dalam hal menghasilkan kesadaran benar.
Engkau tidak akan melekat pada pandangan ekstrem
antara “kekosongan” dan “wujud.” Engkau akan berlimpah
dengan tindakan-tindakan bajik. Dengan Tiga latihan,
sila, dan prajna (kebijaksanaan), engkau akan
membebaskan dirimu dari jeratan samsara. Engkau akan
menghasilkan belas kasih agung terhadap semua makhluk.
Engkau akan beraspirasi untuk merealisasi ketiga Tubuh
Tathagata (Trikaya) itu dan dengan segera mencapai
keberhasilan.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++

Putera yang Mulia, aku telah membabarkan demi
kepentinganmu Empat Kebenaran Mulia, Dua Belas Matai
Rantai Sebab Musabab (pratyasamutpada), dan Enam
Paramita. Kini akan kuajarkan metode untuk memandikan
patung Buddha agar dapat bermanfaat bagimu dan juga
para raja, pangeran, menteri, istri-istri raja, putri
raja, dewa, naga, manusia, serta asura. Di antara
berbagai jenis penghormatan yang dipersembahkan,
memandikan patung ini adalah yang terbaik. Ia
melampaui persembahan tujuh jenis permata yang
jumlahnya bagaikan butiran pasir di Sungai Ganga.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++

Ketika memandikan Buddharupang ini, engkau hendaknya
menggunakan cendana “kepala kerbau,” cendana putih,
cendana merah, atau dupa kayu gaharu. Engkau hendaknya
membakar dupa “Tulip Puncak Gunung,” dupa “Otak Naga”
(longnao), dupa “[Gunung] Ling-ling,” dan lain
sebagainya. Di atas permukaan batu yang bersih, engkau
hendaknya menggiling semua ini untuk dijadikan bubuk;
pergunakankanlah bubuk sebagai pewangi bagi air dan
taruhlan ia ke dalam bejana yang bersih. Di tempat
yang bersih buatlah altar dengan bahan tanah yang
baik, baik persegi ataupun bulat, ukurannya
disesuaikan dengan kondisinya. Di atasnya tempatkan
baik untuk memandikan dan letakkan patung Buddha di
tengahnya. Tuangkan air wangi hangat, lalu
bersihkanlah rupang itu, lalu ulangi lagi dalam
menuangkan airnya. Air yang dipergunakan harus
disaring benar-benar, sehingga tidak membahayakan
serangga [atau binatang] apapun. Teteskan air dengan
kedua jari yang berasal dari memandikan rupang itu ke
kepalamu – inilah yang disebut dengan “air
keberuntungan.” Keringkan air di tempat itu dan jangan
biarkan kakimu menginjaknya. Dengan handuk yang halus
dan bersih seka dan bersihkanlah patung itu. Bakarlah
semua dupa tersebut di atas, yang bau harumnya akan
tersebar ke mana-mana dan letakkan kembali patung itu
di tempatnya semula.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++

Putera yang bajik, pahala dari memandikan patung
Buddha ini akan melimpahkan kemakmuran, kebahagiaan,
umur panjang tanpa didera oleh penyakit apapun, dan
segenap keinginanmu akan terpenuhi bagi kumpulan besar
para makhluk yang terdiri dari manusia dan dewa.
Kerabat, kawan, dan keluargamu akan bergembira. Engkau
akan mengucapkan selamat tinggal pada delapan macam
kesusahan dan selamanya terbebas dari penderitaan.
Engkau tidak akan pernah lagi terlahir sebagai wanita
dan akan merealisasi Penerangan Sempurna dengan
segera.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++

Ketika engkau telah meletakkan kembali patung itu dan
membakar berbagai dupa, berdirilah menghadap patung
itu, rangkapkan tanganmu dalam posisi menghormat,
serta lafalkanlah gatha pujian berikut ini:

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++

Aku kini memandikan Sang Tathagata
Kebijaksanan dan kebajikan murninya menghiasi kumpulan
ini
Aku berikrar bahwa para makhluk yang hidup dalam kurun
waktu kelima kejahatan ini
Dapat dengan segera menyaksikan Tubuh Dharma Sang
Tathagata
Semoga dupa sila, samadhi, dan prajna, serta
pengalaman cita rasa pembebasan
Akan terus menerus menebarkan keharuman di tiap alam
di sepuluh penjuru
Aku berikrar bahwa asap dupa ini akan pula
Melaksanakan karya penyelamatan Buddha dengan tanpa
batas
Aku juga berikrar untuk menghapuskan ketiga neraka
serta menghentikan putaran roda samsara
Sepenuhnya memadamkan api [hawa nafsu keinginan] serta
mencapai ketenangan
Sehingga semua makhluk akan merealisasi Penerangan
Sempurna yang tak terlampaui
Selamanya terbebas dari sungai hawa nafsu keinginan
dan mencapai Pantai Seberang (Nirvana).

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++

Buddha telah selesai membabarkan sutra ini. Pada saat
itu tak terhitung Bodhisattva yang mencapai samadhi
tak ternoda. Tak terhingga dewa merealisasi
kebijaksanaan yang tak akan mundur lagi. Sekumpulan
besar pendengar merealisasi buah Kebudhaan.
Delapanpuluh empat ribu makhluk semuanya membangkitkan
pikiran untuk menapaki jalan menuju Penerangan
Sempurna.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ +++++++

Pada saat itu, Bodhisattva Kebijaksanaan Murni berkata
pada Sang Buddha, “Yang Dijunjungi Dunia, setelah
menerima belas kasih dari Sang Guru Agung (Buddha),
kami akan mengajarkan metode memandikan patung Buddha
ini. Kami kini akan membabarkan Dharma ini pada para
raja, menteri, dan mereka yang memiliki keyakinan yang
baik, kegembiraan, serta jasa pahala. Setiap hari aku
akan memandikan patung yang mulia itu demi
mengumpulkan jasa kebajikan agung. Aku berikrar untuk
selalu menerima dan mempertahankan dengan suka cita
Sutra Pahala Memandikan Buddharupang ini.

Leave a comment »

4 tingkatan dalam melatih diri

Empat Tingkat Dalam Melatih Diri 【修行的四個層次】
Ceramah Dharma Shizun di Taman Tantra Satya Buddha, 27 Febuari 1992.
Oleh Maha Mula Acharya Liansheng
Diterjemahkan oleh Zhiwei Zhu

Dulu ada orang yang datang kesini, ia melihat kita bersadhana bersama sekali

setiap hari, setelah pergi ia berkata :  Kalian setiap hari bersadhana bersama

seperti ini, lantas bisa menjadi Budha?

Maksudnya adalah: Setiap hari menyembah Budha, menyembah Bodhisatva,

menyembah Dharmapala, melakukan gerakan-gerakan ini dan itu, bisakah

menjadi Budha?  Sebenarnya, pertanyaan ini sangat bagus,

mari kita jawab seperti ini: Belum tentu menjadi Budha.

Setiap hari antara pukul empat sampai pukul lima sore datang kesini untuk

bersadhana bersama, anda lakukan hal ini selama 20 tahun, 50 tahun pun

belum tentu anda menjadi Budha, mengapa? Sama-sama melafal Nama Budha,

tetapi satunya terlahirdi Tanah Suci, satu lagi tidak, mengapa ?  Sama-sama

bersadhana disini, ada orang yang dapat menjadi Budha dengan tubuh ini juga,

ada yang bukan hanya tidak menjadi Buddha malah jatuh ke dalam Neraka,

apa sebabnya?

Melatih sadhana yang sama, mengapa ada yang bisa menjadi Budha dengan tubuh

ini juga, sedangkan yang lain tetap sebagai orang awam duniawi? Ini tergantung

pada dengan apa anda menekuni sadhana itu, anda menggunakan ‘Wujud Luar’ ()

dalam sadhana (seperti yang baru saja kita lakukan di dalam sesi sadhana bersama ini, yang

Anda semua dapat lihat adalah Wujud Luar), yang berarti: Mulut anda menjapa ‘Om. 

Amitiewa. Sie’, tangan membentuk mudra Amitabha, juga bervisualisasi Amitabha, cara dan 

urutan yang Anda lakukan sudah benar, akan tetapi anda bersadhana dengan menggunakan 

wujud luar, anda tidak bersadhana dengan menggunakan ‘batin’ (內心) anda. Seandainya anda 

setiap hari seperti ini melafal Sutra, meditasi juga tidak sepenuh hati, dengan terusmenerus 

melakukan ini selama dua puluh tahun, lima puluh tahun, pada saat bersadhana anda duduk 

disana tanpa bergerak, relatif tidak banyak pikiran, anda bisa memperoleh sedikit berkah 

keberuntungan, atau mungkin juga tubuh sedikit lebih sehat, selain ini, anda tidak dapat 

apa-apa lagi.

Ada empat tingkat dalam bersadhana:

1. Wujud Luar 【外相. Pada sisi luar ini, yang semua orang dapat lihat adalah sama. 

Shizun tahu, Anda juga tahu. Kita semua melakukan hal yang sama. Inilah Wujud Luar.

2. Pelatihan Dalam 【內修】. Pelatihan diri dengan hati/pikiran/batin, yang telah 

menggunakan hati disebut pelatihan dalam. Pelatihan dalam adalah 

beberapa rincian visualisasi, termasuk didalamnya semua kata-kunci-rahasia visualisasi.

3. Pelatihan Rahasia 【密修. Pada saat anda bersadhana, anda telah menekuni 

dengan menggunakan batin bawah-sadar (潛意識) anda, ini disebut Pelatihan Rahasia.

4. Pelatihan Sangat Rahasia 【密密修】. Ini melatih dengan menggunakan 

‘kesadaran paling dalam’ (最深的意識), adalah melatih dengan menggunakan kesadaran 

yang tidak ada yang lebih tinggi/dalam lagi. Setelah anda bersadhana sampai pada tingkat 

pelatihan sangat rahasia, anda sendiri langsung serupa dengan Budha, bersadhana dengan 

secara total manunggal dengan Budha, ini disebut Pelatihan Sangat Rahasia.

Tanah Suci Sukhavati juga mempunyai empat Tanah Suci:

1. Tanah Yang Awam dan Suci Tinggal Bersama 『凡聖同居土』

ini adalah Tanah Suci Wujud Luar.

2. Tanah Faedah Upaya Kausalya 『方便有餘土』

ini adalah Tanah Suci pelatihan dalam, hanya Arahat yang dapat tinggal disini.

3. Tanah Agung Pahala Nyata 『實報莊嚴土』, 

ini adalah Tanah Suci pelatihan rahasia, tempat tinggal Budha Sambhogakaya.

4. Tanah Cahaya Nirvana Abadi 『常寂光土』

Tanah Suci sangat rahasia, tempat tinggal Budha Dharmakaya.

Tanah Suci Sukhavati juga terbagi menjadi empat Tanah Suci, kita bersadhana

juga sama terbagi menjadi empat tingkat pelatihan. Jangan kira kita disini

duduk dan melakukan gerakan-gerakan ini dan itu, dalam waktu singkat telah

selesai bersadhana, tetapi, seandainya anda gunakan ‘kesadaran yang paling

dalam’ di dalam pelatihan, maka anda akan menjadi Budha dengan tubuh ini juga.

Seandainya anda melatihnya dengan menggunakan ‘Wujud Luar’, orang lain

melakukan gerakan apa, saya juga melakukan gerakan apa; orang lain melakukan

apa, saya juga melakukan apa; orang lain menjapa apa, saya juga menjapa apa;

orang lain memvisualisasikan apa, saya juga memvisualisasikan itu, semuanya

hanyalah formalitas, maka anda adalah orang awam duniawi.

Melatih diri, wajib sampai kepada pelatihan dalam (visualisasi dengan pikiran);

lalu melatih dengan ‘batin bawah sadar’; terakhir sampai pada pelatihan dengan

‘kesadaran paling dalam’.

Anda memasuki ‘kesadaran paling dalam’, tanpa perlu anda melakukan gerakan-gerakan tertentu, tetap saja anda akan menjadi Budha dengan tubuh yang ini juga.

Om Mani Padme Hum.

Leave a comment »

Mantera Relic/sarira

Relic atau sarira adalah hasil pelaksanaan sila, samadhi dan prajna yang maha tinggi sehingga menjadikan tulang bodhisatwa ,menjadi sebuah kristal yang keras dan tak terhancurkan.

Relic yang berwarna putih adalah relic tulang
Relic yang berwarna hitam adalah relic rambut
relic yang berwarna merah adalah relic daging.


Relic juga terbagi menjadi 3 bagian yaitu :

1. Relic utuh, sekujur tubuh menjadi relic tidak ada yang rusak atau membusuk seperti relic dari sang Buddha prabhuta Ratna, Guru besar Hui Neng , Bhiksu Maha thera Che hang di taiwan, pihak katholik ada juga seperti santa bernadette

2. Relic serpihan tubuh seperti relic sang Buddha gaautama dan sarira para Arya lainnya. denga adanya relic memberikan kesempatan pada semau mahluk untuk membuat karma baik dengan memuja relic.

3. Relic dharma, yaitu kitab suci mahayana atau theravada dan tantra

relic juga bisa beranak pinak istilahnya karena bertambah banyak juga bisa membesar asalkan anda memujanya dengan penuh ketulusan dan hormat. di chen fo cung sendiri sudah dibuktikan oleh seorang umat yang bernama Wang Yin ching, hanya dengan membaca sutra kao wang Kwan se im cen cing dan mantera maha guru.

Sang Arya Nagarjuna pernah berkata melihat relic sama dengan melihat Buddha atau yang tersirat relic adalah perwakilan dari sang Buddha.

cara memelihara Relic/sarira dan manteranya :

selanjutnya kita memakai istilah sarira saja karena berasal dari bahasa sansekerta.

Doa penghormatan kepada Sarira dibaca satu kali setiap hari sebagai berikut :

Bernamaskara sepenuh hati kepada Sakya thatagata yang memiliki segenap pahala sempurna dan kepada sarira jasad serta rohani Beliau, dan Dharmakaya Beliau di tempat, Yang berada di stupa Dharmadhatu ini, kami bersujud dengan hormat untuk memohon penampakan perwujudannya untuk kami, agar arus suci alam semesta memasuki diri kami dan kami dapat meleburkan diri memasuki alam semesta juga

Berkat kekuatan Adhistana sang Buddha, kami dapat mencapai pencerahan Bodhi, berkat kekuatan sakti sang buddha, kami akan memberikan keberuntungan kepada semau mahluk hidup sehingga tercetus prasetya bodhicita dari lubuk sanubari kami untuk melatih kesucian diri menempuh jalan hidup bodhisatva sehingga dapat bersama-sama dengan umat mencapai kesempurnaan Nirvana dan meraih Samatajnanam (kebijaksanaan samarata, tidak membedakan) dan disini kami melakukan namsakara dengan tulus.

Mantera sarira dibaca2 kali dalam sehari, setiap pagi dan malam masing-
masing 21 X.

“Itipisuei wei sie sie yi ik sie sie betanameiyi
Imeina beta tan sieyi , isietan betan sieyi”

versi lainnya :

“Itipiso bagawa namamihang tambaga vantam parama
saririka datuya sadhim araham sama sambudo vijarana
sampano sugata lokavidu anutaro puri sadamasa”

Leave a comment »

Hidup perlu Penderitaan

Diambil dari artikel Sisi Bebas Manusia
ini pendapat versi Pak Herman Oetomo
saya mengartikan secara bebas.

Perjalanan kehidupan setiap manusia atau roh dipengaruhi oleh 3 unsur yang saling berinteraksi dan bersinergi.

1. Kualitas Roh (sebelumnya dari seorang yang menekuni dharma/dewa atau penjahat/binatang)
2. karma (kumpulan dari semua perbuatan yang sudah dilakukan baik atau buruk)
3. sisi bebas (pilihan berbuat jahat dan berbuat baik)

nah kita bahas yang ketiga saja saya lebih suka istilah pilihan bebas manusia …ini sangat dipengaruhi oleh Lingkungan hidup, kondisi dan situasi dimana dia berada..seperti .bila hidup di lingkungan kotor.dengan teman2 di lingkungan juga berbuat kotor ..logikanya ya pasti ada pengaruhnya…..makanya ada anjuran buddhist untuk berusaha bergaul dengan orang yang menjalankan dharma saja.

Pilihan bebas ini adalah pemberian dari langit, jadi manusia yang menentukan hidupnya sendiri tidak sepenuhnya tergantung karma. dan manusia diberi akal pikiran dan kecerdasan yang dapat dipergunakan untuk mengarahkan pada kehidupan yang baik. sedangkan mahluk lain tidaklah sesempurna manusia.

Sayangnya pilihan bebas ini tidak dapat di intervensi oleh langit tetapi malahan dapat dipengaruhi oleh sisi negatip seperti dari mara seperti pelet masuk ke sisi bebas manusia membuat orang tersebut terikat , like or dislike sehingga menutup mata hati nya

Seperti kita sekolah mau naik kelas ya harus melewati ujian kelulusan dulu. nah iblis/mara itu ibarat guru ujian kita jadi jangan suka menyalahkan setan/iblis itu jahat dia berbuat juga karena menjalankan perintah langit. semua manusia pasti digodanyanya.

Lingkungan, kondisi serta situasi yang dialami seseorang sering sulit membuat orang tersebut mengendalikan diri/sisi bebasnya.Maka dinasehati manusia perlu hati2, waspada jangan melekat pada materi, bentuk yang dapat menutup mata hatinya.

Mahluk yang dapat terlahirkan ke wujud manusia, mempunyai karma yang seimbang yang gampang di tengah-tengah istilahnya punya karma 50 % baik dan karma buruk juga 50 %, jika karma baiknya lebih dari 50 % bisa di alam dewa sesuai dengan persentasenya hingga semua karma baiknya habis dijalankan. begitu juga dengan karma buruk wah gimana yang 0 % saya juga gak pasti mungkin di neraka avici harus menghabiskan karma buruknya. sedangkan Buddha sudah tidak punya karma lagi baik itu karma buruk atau baik, mahluk yang tidak mempunyai karma lagi akan terbebas dari alam samsara. Semua mahluk yang masih di alam samsara harus menjalankan karmanya yang baik dan buruk serta diberi sisi bebas/pilihan sampai habis hingga menjadi buddha.

Buddha Sakyamuni pernah mengatakan harus ingat “Hidup adalah penderitaan“. Nah masalahnya setiap mahluk itu manja jika karma baik datang, dia lupa dan bersenang-senang, sedangkan jika yang buruk datang, baru ingat sama yang diatas. sehingga ada anjuran hidup itu perlu penderitaan, waspadalah orang yang tidak/belum mengalami penderitaan dalam kehidupannya. dengan penderitaan kita akan menghabiskan karma buruk, sedangkan karma baik tidaklah menjadi pikiran. Masalahnya bagaimana kita mengatasi penderitaan dengan senang hati, kita harus berpikir satu lagi karma buruk kita akan selesai, tetapi ingat jangan menambah karma buruk lagi nantinya tidak akan ada selesainya. karena itu adanya lingkaran reinkarnasi setiap mahluk akan bertransformasi ke wujud sesuai karmanya.

Hidup itu pasti menderita karena tujuannya untuk melunasi karma yang belum dijalankan. Di dunia ini tidak ada seorangpun yang hidup sejak lahir sampai tua tidak pernah berbuat dosa atau kesalahan yang menghasilkan karma buruk. Ini berarti kita
membayar hutang yang lama juga yang baru. inilah yang disebut lingkaran karma dan reinkarnasi yang akan diputuskan melalui ajaran sang buddha. maaf, Walau sering ada yang bilang dia itu ajaran sesat, tidak murni, aku punyai yang asli benar dari silsilah yang benar. Selama orang tersebut selalu berusaha berbuat baik, berkelakuan baik walau ritual atau bacaannya kita agak anggap tidak sesuai dengan kita..biarkanlah semua orang toh pernah berbuat salah dan dengan berbuat baik dia kan menemukan jalannya sendiri. Masing2 mempunyai jalan sendiri lebih baik kita mengurusi karma dan diri kita sendiri. lalu keluarga sendiri terlalu sok suci malahan dipengaruhi mara.
Penderitaan adalah nafsu/keinginan yang tidak tercapai, dalam ajaran buddhist kita harus belajar mengendalikan keinginan.

Bahkan dalam injil perjanjian baru disebutkan :

berbahagialah orang yang menderita karena miskin
berbahagialah orang yang menderita karena dianiayai
berbahagialah orang yang menderita karena lapar.

intinya berbahagialah orang yang menderita, karena penderitaan menghasilkan kebahagiaan jiwa, hanya dengan menjalankan penderitaan kita menghabiskan karma buruk kita. Padahal dalam pandangan awam pasti susah menerima pendapat tersebut.

Berbuahnya karma baik dan buruk tidak dapat diatur menurut kemauan yang bersangkutan, tetapi muncul sesuai dengan aturan langit hukum alam semesta yang tidak diketahui oleh manusia, kecuali yang bisa tahu rahasia alam semesta, seperti di cina..yang belajar Tao rahasia alam semesta sehingga munculnya kitab Liao Fan kisah nyata.believe it or not.

Karma buruk itu dapat ditunda atau tertunda pembayarannya melalui beberapa cara, melalui ritual atau bantuan spiritual seorang paranormal. Tetapi sebaiknya jangan dilakukan karena akan memperparah keadaan bahkan meningkatkan penderitaan ibaratnya hutangnya akan menumpuk lebih besar bila ditunda lagi. Jadi bagaimana….Harus dikelola secara tepat dan bijaksana…yang gampang seperti selalu berbuat kebajikan menjauhi kejahatan seperti ajaran Buddhist.
Karma baik tidak dapat dipakai untuk membayar karma buruk. karma baik dan karma buruk berdiri sendiri-sendiri jadi waspadalah dalam bertindak dan berkata-kata harus ditelaah apakah efeknya akan positip atau negatip…sehingga ada anjuran untuk bertapa menjauhi kehidupan duniawi sehingga lebih dapat menjaga diri.
Dengan adanya penderitaan, manusia juga akan sadar bahwa ia harus berbuat baik dan mempunyai kelakuan baik.
ditambah dengan sembahyang yang baik seperti sadhana, sholat, ibadah.

Berbuat baik
Perbuatan yang dapat menolong, menghilangkan atau mengurangi penderitaan orang lain tanpa mengharapkan balasannya atau pamrih. Intinya adalah cinta kasih, tanpa cinta kasih seseorang akan susah melakukan amal baik.
berbuat baik seperti amal dana, barang, tenaga, kepedulian, pertolongan, nasehat dan informasi yang benar dll.
Bila seseorang didalam menjalankan kehidupannya tidak pernah memberi baik itu berupa amal dana, barang, berbuat baik, pertolongan, kasih sayang dll. Maka dalam diri orang tersebut tidak akan timbul wadah untuk menerima pertolongan dari langit. Ini sudah merupakan Hukum alam semesta. Yang tidak pernah memberi tidak akan pernah menerima
kalimat bijak dari beramal adalah ” Hari ini beramal besok sudah lupa” lupa denga siapa kita beri jangan lupa dengan memberi amal lagi…..

Prilaku/kelakuan baik.
Intinya adalah tidak membuat mahluk lain menderita, dapat menguasai nafsu tidak baik yang dapat membuat orang menderita. prilaku baik itu patokannya bagaimana ? khan belum tentu semua orang pendapatnya sama.
kita ambil dari ajaran agama baik dari buddhist dan samawi.
kelakuan baik diperlukan, sebab orang yang mempunyai prilaku baik akan menjauhi perbuatan yang membuat orang lain menderita sehingga tidak akan menghasilkan karma buruk…jadi karma buruknya tidak akan bertambah lagi.

Sembahyang yang baik
Intinya seseorang dapat menyadari dan mengetahui semua kesalahan dan dosa-dosanya Kemudian bertobat dan memohon pengampunan dari langit atas semua dosa yang sudah dilakukan. Juga memohon bimbingan dan berkat, pertolongan dan perlindungan dari langit agar dalam menjalani kehidupan selalu mendapat jalan yang baik dan benar. Jalan yang diberkahi dan direstui dari langit.
Jangan memohon hal-hal yang terlalu duniawi, apalagi yang menjurus pemaksaan/ menodong, terimalah apa adanya yang kita dapat seihklasnya.

Karma buruk tidak dapat dibayar dengan karma baik, keduanya berdiri sendiri , karma baik menerima pahala dan kebahagiaan. karma buruk menerima hukuman dan penderitaan.
Karma buruk dapat dihilangkan atau dikurangi dengan cara membayarnya, pembayarannya yaitu dengan penderitaan untuk menjalankannya. Dalam hidup ini jangan takut menderita.

Hukum karma dan reinkarnasi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, satu sama lain saling berhubungan, karena ada karma terjadilah reinkarnasi, ini di dalam buddhisme dikenal dengan roda kehidupan samsara.

Leave a comment »

Ritual Mandi Rupang (Yi Fo = 浴佛 )

“Ritual Mandi Rupang” (Yi Fo = 浴佛 )”

Sejarahnya bermula dari Ketika Sang Buddha berada di suatukota, dikota tersebut ada sebuah gunung ketika itu ada 1 Boddhisatva yaitu Qing Qing Hui Pu Sa, atau Avalokitesvara Bodhisatva.

Lalu  Manjusri Bodhisattva bertanya kepada Sang Buddha

 “Bagaimana cara kita membersihkan diri?”

Sang Buddha menjawab “Dengan cara Memandikan rupang. ketika memandikan rupang”, visualisasikan, dan membaca doa  yaitu

“Saya pada hari ini atau sekarang memandikan Buddha untuk membersihkan pikiran, dan pahalanya adalah untuk menambah serta memperindah pahala di alam mana saja atau semua tanah alam bagaikan lautan yang tak bisa diukur, dan membersihkan 5 racun semua badan akan terlepaskan, serta bersama sama kita berhasil menjadi Buddha.

Selain itu ada beberapa pahala yang lain yaitu setelah mandi rupang perasaan menjadi tenang, Buddha hadir di hadapan kita dan bersama Buddha memandikan rupang.”

Pada saat mandi rupang (Yi fo) kita bisa mempersembahkan minyak wangi, dupa cendana, untuk membersihkan dan mencucikan diri Buddha. Kita dapat mengikuti ritual mandi rupang menandakan kita sudah punya pahala yang sangat bagus. Setelah selesai ritual,. Pada saat memandikan rupang, jangan lupa visulisasikan kita memandikan diri sendiri.

Setelah selesai Ritual memandikan Buddha rupang, airnya harus dikumpulkan dan disiramkan atau dituangkan ke tanah yang bersih, yaitu tanah yang tidak akan diinjak-injak orang. setelah itu Rhupang Sakyamuni Buddha haruslah dibersihkan dengan kain yang bersih, halus dan lunak, lalu dibasuhi dengan asap wewangian cendana yang harum, barulah di taruh di tempat semula (altar).

Makna dari Ritual memandikan Buddha Rhupang adalah melambangkan pembersihan tubuh sang Buddha, setelah kita membersihkan tubuh sang Buddha maka berarti kita juga telah membersihkan diri kita sendiri dari segala noda dimasa lalu dan sejak saat ini menjadi bersih. Makna terpenting lagi adalah dengan mengikuti ritual ini kita akan mengerti bagaimana seharusnya melatih diri dalam dharma agar dapat mencapai tubuh suci sang tathagata seperti sang Buddha Sakyamuni yang memperoleh tubuh Dharmakaya yang suci.

Tujuan memandikan Buddha Rhupang tidaklah hanya membersihkan bagian luar saja, tetapi yang terpenting adalah bermakna untuk membersihkan hati dan bathin kita dan seluruh jiwa kita. Banyak sekali pahala mengikuti upacara memandikan Buddha rupang ini

Di dalam Kitab “Pahala memandikan Buddha Rhupang” disebutkan dengan memandikan buddha rupang

* akan membuat kita terlahir di alam suci dan menghindarkan diri kita dari segala macam penyakit serta terhindar dari gangguan roh jahat.

* bila terlahir di alam manusia tidak akan dilahirkan dalam bentuk wanita (kecuali diri sendiri menginginkannya)

* semua yang kita peroleh adalah pahala baik & tidak akan terjadi sesuatu yang tak baik bagi kita.

* kelak akan memperoleh tubuh dharmakaya yang suci.

Ada sebuah Koan  dituliskan sbb : “Hari ini aku datang untuk memandikan para Tathagata.”

maksud dari koan ini adalah Ritual untuk memandikan Sang Buddha.

* bila kita sudah dapat membersihkan diri sendiri akan memperoleh prajna , kecerdasan, kemuliaaan dan pahala yang berlimpah-limpah.

* mengikat jodoh dengan sang Buddha berarti menanam benih buddha dalam diri sendiri sehingga pahala2 selanjutnya akan terus berdatangan.

Lanjutan dari Koan tersebut adalah Para mahluk hidup yang penuh dengan segala macam kekotoran kini telah meninggalkan kekeruhan itu.”

artinya : kita semua sebagai mahluk hidup penuh dengan bermacam-macam kekotoran, banyak sekali kebiasaan2 buruk yang diwariskan dari kehidupan lampau dalam diri kita ini. Lalu apa yang diperoleh setelah mengikuti ritual memandikan Buddha rupang ? Kita telah dapat meninggalkan segala macam kekotoran dan kekeruhan ini menjadi seorang manusia yang bersih.

Kalimat terakhir dari koan tersebut adalah : “ Bersama-sama kita mencapai tubuh Dharmakaya sang Tathagata”.

Karena kita telah memperoleh pahala dan kelak akan mengerti bagaimana cara melatih diri dalam dharma, bagaimana tahap perkembangan (Utpannakrama), dan tahap kesempurnaan (Nispannakrama) lalu melatih nya bersama-sama agar dapat mencapai tubuh suci Dharmakaya sang Tathagata.

Didalam Tantrayana Ritual mandi rupang ini mempunyai makna sama seperti menerima Abhiseka.

Ada 4 tingkatan Abhiseka :

1. Abhiseka Tirta /abhiseka air atau abhiseka kendi = abhiseka penyucian

bermakna abhiseka yang menandakan kesucian untuk membersihkan diri kita dari segala kekotoran dan kekeruhan yang menempel di tubuh kita. menggunakan media air seperti umumnya kita membersihkan tubuh kita / mandi dengan air baru terasa bersih dan segar. Dengan mengikuti ritual memandikan rhupang juga bermakna kita menerima abhiseka tirta. Abhiseka yang umum dilaksanakan dan dibuka untuk umum niasanya adalah abhiseka tirta yang bertujuan untuk menyucikan tubuh. abhiseka selanjutnya 2,3, dan 4 sudah termasuk abhiseka rahasia tidak dibuka untuk umum hanya untuk internal.

2. Abhiseka internal = abhiseka bodhicita merah dan putih untuk melatih dharma internal seperti kundalini.

3. Abhiseka Sparsa = abhiseka sentuh

abhiseka yang memberi izin kepada kita untuk melatih annutara tantra dharma untuk melatih dharma dengan metode penyentuhan. dengan metode ini kita dapat meningkatkan kwalitas seluruh tubuh kita memasuki ke tingkat kesucian

4. Abhiseka paripurna/Abhiseka Artha kula =Abhiseka Kesempurnaan Dharmakaya.

abhiseka ini tidak terikat dengan tata ritual tertentu. Yang terutama adalah bagaimana membangkitkan sifat-sifat ke-buddha-an dan dharma dalam diri kita sendiri.

Pada saat kita menerima abhiseka tirta/kendi  yaitu abhiseka penyucian , pada saat itu pula kita telah mulai memasuki tahap Utpannakrama (perkembangan). Sebagaimana kita ketahui dalam tantrayana ada pembagian antara tahap perkembangan dan tahap kesempurnaan.

Setelah mendapat abhiseka tingkat ke dua baru kita memasuki Dharma internal kita baru mulai mempelajari dan melatih diri pada tahap  Nispannakrama (kesempurnaan).

Dapat dibayangkan yang dapat melatih diri dalam dharma internal sudah termasuk pilihan, selama ini kebanyakan umat masih berkutat di abhiseka tirta yang pertama, masih berkutat dengan penyucian diri sendiri.

Leave a comment »

kEAGUNGAN NAMA SAKYAMUNI THATAGATHA 2

Sutra Mahayana Ratnamegha

Pada suatu ketika Bodhisattva Mahasattva Sarva NIvarana Viskambhin melihat sinar yang dipancarkan oleh Baghavan menyinari tubuh Nya (Sarvanivarana Viskambhin) , Beliau beranjak dari tempat Nya menuju ke tempat Buddha (bukan Sakyamuni Buddha, melainkan Furongyan Fo / Padmanetra Buddha di dunia Bodhisattva Sarvanivarana Viskambhin) . Setelah bersujud di kaki Buddha kemudian Beliau duduk, dengan Para Bodhisattva dan hadirin yang tak terhingga banyaknya semua tersentuh cahaya Buddha. Semua datang ke tempat Buddha berada. Bersujud di kaki Nya dan duduk.

kemudian Sarvanivaranaviskambhin Bodhisattva Mahasattva bangkit dari tempat duduk Nya dengan jubah bahu sebelah kanan terbuka, lutut kiri menyentuh bumi diatas tahta padma, beranjali dan berkata pada Buddha :

“Baghavan, oleh karena sebab apakah ada cahaya yang bersinar demikian ? sungguh tak terperikan berbagai spektrum warnanya. Suci tanpa noda membangkitkan suka cita tubuh dan batin para Bodhisattva. ”

Buddha memberitahukan pada Bodhisattva :
“Putera yang berbudi, dari sini ke Barat melewati dunia yang banyaknya bagai butiran pasir sungai Gangga, ada negeri Buddha bernama saha. di situ ada seorang Buddha, bernama Sakyamuni Tathagata. “

“Bila ada makhluk yang dapat mendengar nama Sakyamuni Buddha, para makhluk itu kelak tidak akan mundur dari Anuttara Samyaksamboddhi. Cahaya ini adalah dipancarkan oleh Sakyamuni Tathagata. Sungguh merupakan cahaya terindah dan suci tanpa noda. Membangkitkan suka cita di hati para Bodhisattva. “

Bodhisattva bertanya lagi pada Buddha :
“Baghavan, kenapa insan yang mendengar nama Sakyamuni Buddha bisa tak akan mundur dari Anuttara Samyaksamboddhi ?”

Padmanetra Buddha menjawab :
“Wahai Putera yang berbudi, dalam kehidupan lampau Nya, saat Sakyamuni Tathagata masih menjalankan laku Bodhisattva, Beliau pernah berikrar, saat Aku telah mencapai ke Buddha an , barangsiapa mendengar nama Ku, semua kan dibuat tidak mundur dari Anuttara Samyaksamboddhi. ”

Tanya :
“Baghavan, para insan di dunia itu yang mendengar nama Sakyamuni Buddha kelak tidak akan mundur lagi ? ”

Buddha menjawab, “Tidak juga.”

“Baghavan, apakah para insan di dunia itu tidak mendengar nama Sakyamuni Buddha?”

Buddha menjawab, “Putera yang berbudi, semua mendengarnya. ”

“Baghavan, para insan di dunia itu yang tiada kemunduran kenapa tidak mundur ? ”

Buddha menjawab :
“Wahai putera yang berbudi, para insan mempunyai benih tidak mundur yang akan tumbuh karena mendengar nama Buddha tersebut. Para insan itu tidak ada kemunduran, bukannya mendengar nama barulah tidak mundur. ”

“Putera yang berbudi, sekarang Aku akan menjelaskan maknanya pada Mu melalui sebuah perumpanmaan.”

“Putera yang berbudi, bagaikan benih sebuah pohon baik itu yang besar maupun yang kecil. Namun bila tiada halangan dan memperoleh dukungan dari kondisi lingkungan, maka akan tumbuh tunas dan bertumbuh besar. ”

“Putera yang berbudi, kenapa dikatakan sebagai benih ?”

“Baghavan karena tiada rintangan maka disebut benih.”

Buddha berkata :
“Demikianlah wahai Putera yang berbudi, mendengar nama Tathagata akan menanamkan benih tak mundur. Oleh karena itulah para insan tersebut dinamakan sebagai tak mundur dari Anuttara Samyaksamboddhi.”

Leave a comment »