Posts tagged pengenalan

Ritual Mandi Rupang (Yi Fo = 浴佛 )

“Ritual Mandi Rupang” (Yi Fo = 浴佛 )”

Sejarahnya bermula dari Ketika Sang Buddha berada di suatukota, dikota tersebut ada sebuah gunung ketika itu ada 1 Boddhisatva yaitu Qing Qing Hui Pu Sa, atau Avalokitesvara Bodhisatva.

Lalu  Manjusri Bodhisattva bertanya kepada Sang Buddha

 “Bagaimana cara kita membersihkan diri?”

Sang Buddha menjawab “Dengan cara Memandikan rupang. ketika memandikan rupang”, visualisasikan, dan membaca doa  yaitu

“Saya pada hari ini atau sekarang memandikan Buddha untuk membersihkan pikiran, dan pahalanya adalah untuk menambah serta memperindah pahala di alam mana saja atau semua tanah alam bagaikan lautan yang tak bisa diukur, dan membersihkan 5 racun semua badan akan terlepaskan, serta bersama sama kita berhasil menjadi Buddha.

Selain itu ada beberapa pahala yang lain yaitu setelah mandi rupang perasaan menjadi tenang, Buddha hadir di hadapan kita dan bersama Buddha memandikan rupang.”

Pada saat mandi rupang (Yi fo) kita bisa mempersembahkan minyak wangi, dupa cendana, untuk membersihkan dan mencucikan diri Buddha. Kita dapat mengikuti ritual mandi rupang menandakan kita sudah punya pahala yang sangat bagus. Setelah selesai ritual,. Pada saat memandikan rupang, jangan lupa visulisasikan kita memandikan diri sendiri.

Setelah selesai Ritual memandikan Buddha rupang, airnya harus dikumpulkan dan disiramkan atau dituangkan ke tanah yang bersih, yaitu tanah yang tidak akan diinjak-injak orang. setelah itu Rhupang Sakyamuni Buddha haruslah dibersihkan dengan kain yang bersih, halus dan lunak, lalu dibasuhi dengan asap wewangian cendana yang harum, barulah di taruh di tempat semula (altar).

Makna dari Ritual memandikan Buddha Rhupang adalah melambangkan pembersihan tubuh sang Buddha, setelah kita membersihkan tubuh sang Buddha maka berarti kita juga telah membersihkan diri kita sendiri dari segala noda dimasa lalu dan sejak saat ini menjadi bersih. Makna terpenting lagi adalah dengan mengikuti ritual ini kita akan mengerti bagaimana seharusnya melatih diri dalam dharma agar dapat mencapai tubuh suci sang tathagata seperti sang Buddha Sakyamuni yang memperoleh tubuh Dharmakaya yang suci.

Tujuan memandikan Buddha Rhupang tidaklah hanya membersihkan bagian luar saja, tetapi yang terpenting adalah bermakna untuk membersihkan hati dan bathin kita dan seluruh jiwa kita. Banyak sekali pahala mengikuti upacara memandikan Buddha rupang ini

Di dalam Kitab “Pahala memandikan Buddha Rhupang” disebutkan dengan memandikan buddha rupang

* akan membuat kita terlahir di alam suci dan menghindarkan diri kita dari segala macam penyakit serta terhindar dari gangguan roh jahat.

* bila terlahir di alam manusia tidak akan dilahirkan dalam bentuk wanita (kecuali diri sendiri menginginkannya)

* semua yang kita peroleh adalah pahala baik & tidak akan terjadi sesuatu yang tak baik bagi kita.

* kelak akan memperoleh tubuh dharmakaya yang suci.

Ada sebuah Koan  dituliskan sbb : “Hari ini aku datang untuk memandikan para Tathagata.”

maksud dari koan ini adalah Ritual untuk memandikan Sang Buddha.

* bila kita sudah dapat membersihkan diri sendiri akan memperoleh prajna , kecerdasan, kemuliaaan dan pahala yang berlimpah-limpah.

* mengikat jodoh dengan sang Buddha berarti menanam benih buddha dalam diri sendiri sehingga pahala2 selanjutnya akan terus berdatangan.

Lanjutan dari Koan tersebut adalah Para mahluk hidup yang penuh dengan segala macam kekotoran kini telah meninggalkan kekeruhan itu.”

artinya : kita semua sebagai mahluk hidup penuh dengan bermacam-macam kekotoran, banyak sekali kebiasaan2 buruk yang diwariskan dari kehidupan lampau dalam diri kita ini. Lalu apa yang diperoleh setelah mengikuti ritual memandikan Buddha rupang ? Kita telah dapat meninggalkan segala macam kekotoran dan kekeruhan ini menjadi seorang manusia yang bersih.

Kalimat terakhir dari koan tersebut adalah : “ Bersama-sama kita mencapai tubuh Dharmakaya sang Tathagata”.

Karena kita telah memperoleh pahala dan kelak akan mengerti bagaimana cara melatih diri dalam dharma, bagaimana tahap perkembangan (Utpannakrama), dan tahap kesempurnaan (Nispannakrama) lalu melatih nya bersama-sama agar dapat mencapai tubuh suci Dharmakaya sang Tathagata.

Didalam Tantrayana Ritual mandi rupang ini mempunyai makna sama seperti menerima Abhiseka.

Ada 4 tingkatan Abhiseka :

1. Abhiseka Tirta /abhiseka air atau abhiseka kendi = abhiseka penyucian

bermakna abhiseka yang menandakan kesucian untuk membersihkan diri kita dari segala kekotoran dan kekeruhan yang menempel di tubuh kita. menggunakan media air seperti umumnya kita membersihkan tubuh kita / mandi dengan air baru terasa bersih dan segar. Dengan mengikuti ritual memandikan rhupang juga bermakna kita menerima abhiseka tirta. Abhiseka yang umum dilaksanakan dan dibuka untuk umum niasanya adalah abhiseka tirta yang bertujuan untuk menyucikan tubuh. abhiseka selanjutnya 2,3, dan 4 sudah termasuk abhiseka rahasia tidak dibuka untuk umum hanya untuk internal.

2. Abhiseka internal = abhiseka bodhicita merah dan putih untuk melatih dharma internal seperti kundalini.

3. Abhiseka Sparsa = abhiseka sentuh

abhiseka yang memberi izin kepada kita untuk melatih annutara tantra dharma untuk melatih dharma dengan metode penyentuhan. dengan metode ini kita dapat meningkatkan kwalitas seluruh tubuh kita memasuki ke tingkat kesucian

4. Abhiseka paripurna/Abhiseka Artha kula =Abhiseka Kesempurnaan Dharmakaya.

abhiseka ini tidak terikat dengan tata ritual tertentu. Yang terutama adalah bagaimana membangkitkan sifat-sifat ke-buddha-an dan dharma dalam diri kita sendiri.

Pada saat kita menerima abhiseka tirta/kendi  yaitu abhiseka penyucian , pada saat itu pula kita telah mulai memasuki tahap Utpannakrama (perkembangan). Sebagaimana kita ketahui dalam tantrayana ada pembagian antara tahap perkembangan dan tahap kesempurnaan.

Setelah mendapat abhiseka tingkat ke dua baru kita memasuki Dharma internal kita baru mulai mempelajari dan melatih diri pada tahap  Nispannakrama (kesempurnaan).

Dapat dibayangkan yang dapat melatih diri dalam dharma internal sudah termasuk pilihan, selama ini kebanyakan umat masih berkutat di abhiseka tirta yang pertama, masih berkutat dengan penyucian diri sendiri.

Leave a comment »

kEAGUNGAN NAMA SAKYAMUNI THATAGATHA 2

Sutra Mahayana Ratnamegha

Pada suatu ketika Bodhisattva Mahasattva Sarva NIvarana Viskambhin melihat sinar yang dipancarkan oleh Baghavan menyinari tubuh Nya (Sarvanivarana Viskambhin) , Beliau beranjak dari tempat Nya menuju ke tempat Buddha (bukan Sakyamuni Buddha, melainkan Furongyan Fo / Padmanetra Buddha di dunia Bodhisattva Sarvanivarana Viskambhin) . Setelah bersujud di kaki Buddha kemudian Beliau duduk, dengan Para Bodhisattva dan hadirin yang tak terhingga banyaknya semua tersentuh cahaya Buddha. Semua datang ke tempat Buddha berada. Bersujud di kaki Nya dan duduk.

kemudian Sarvanivaranaviskambhin Bodhisattva Mahasattva bangkit dari tempat duduk Nya dengan jubah bahu sebelah kanan terbuka, lutut kiri menyentuh bumi diatas tahta padma, beranjali dan berkata pada Buddha :

“Baghavan, oleh karena sebab apakah ada cahaya yang bersinar demikian ? sungguh tak terperikan berbagai spektrum warnanya. Suci tanpa noda membangkitkan suka cita tubuh dan batin para Bodhisattva. ”

Buddha memberitahukan pada Bodhisattva :
“Putera yang berbudi, dari sini ke Barat melewati dunia yang banyaknya bagai butiran pasir sungai Gangga, ada negeri Buddha bernama saha. di situ ada seorang Buddha, bernama Sakyamuni Tathagata. “

“Bila ada makhluk yang dapat mendengar nama Sakyamuni Buddha, para makhluk itu kelak tidak akan mundur dari Anuttara Samyaksamboddhi. Cahaya ini adalah dipancarkan oleh Sakyamuni Tathagata. Sungguh merupakan cahaya terindah dan suci tanpa noda. Membangkitkan suka cita di hati para Bodhisattva. “

Bodhisattva bertanya lagi pada Buddha :
“Baghavan, kenapa insan yang mendengar nama Sakyamuni Buddha bisa tak akan mundur dari Anuttara Samyaksamboddhi ?”

Padmanetra Buddha menjawab :
“Wahai Putera yang berbudi, dalam kehidupan lampau Nya, saat Sakyamuni Tathagata masih menjalankan laku Bodhisattva, Beliau pernah berikrar, saat Aku telah mencapai ke Buddha an , barangsiapa mendengar nama Ku, semua kan dibuat tidak mundur dari Anuttara Samyaksamboddhi. ”

Tanya :
“Baghavan, para insan di dunia itu yang mendengar nama Sakyamuni Buddha kelak tidak akan mundur lagi ? ”

Buddha menjawab, “Tidak juga.”

“Baghavan, apakah para insan di dunia itu tidak mendengar nama Sakyamuni Buddha?”

Buddha menjawab, “Putera yang berbudi, semua mendengarnya. ”

“Baghavan, para insan di dunia itu yang tiada kemunduran kenapa tidak mundur ? ”

Buddha menjawab :
“Wahai putera yang berbudi, para insan mempunyai benih tidak mundur yang akan tumbuh karena mendengar nama Buddha tersebut. Para insan itu tidak ada kemunduran, bukannya mendengar nama barulah tidak mundur. ”

“Putera yang berbudi, sekarang Aku akan menjelaskan maknanya pada Mu melalui sebuah perumpanmaan.”

“Putera yang berbudi, bagaikan benih sebuah pohon baik itu yang besar maupun yang kecil. Namun bila tiada halangan dan memperoleh dukungan dari kondisi lingkungan, maka akan tumbuh tunas dan bertumbuh besar. ”

“Putera yang berbudi, kenapa dikatakan sebagai benih ?”

“Baghavan karena tiada rintangan maka disebut benih.”

Buddha berkata :
“Demikianlah wahai Putera yang berbudi, mendengar nama Tathagata akan menanamkan benih tak mundur. Oleh karena itulah para insan tersebut dinamakan sebagai tak mundur dari Anuttara Samyaksamboddhi.”

Leave a comment »

Vajradhara-Jin Gang Zong Chi (Dorje Chang)

Mulaguru Sakyamuni memutar Dharmacakra

Namo Mahamulacarya Liansheng Fo
Namo Mulaguru Sakyamuni Buddhaya

sebelumnya kita telah membahas tingkatan Buddha dalam Vajrayana, nah…

Apakah Buddha ada yang lebih rendah atau ada yang lebih tinggi tingkatannya???

lalu mana yang tertinggi di antara Amitabha, Sakyamuni atau Dorje Chang ?

Kenapa Tingkatan Dorje Chang berada di urutan teratas ?

apakah ini maksudnya ?

jawabannya ada di buku Mahaguru yang ke- 200 “Helai Helai pencerahan”
yang full membahas Sakyamuni Buddha !

silahkan periksa, dan disana ada juga pernyataan Mahaguru bahwa :
“Kita lihat bersama bahwa manifestasi Sakyamuni Buddha setelah Parinirvana juga tak lepas dari fitnahan ! “


Dorje Chang

Jin Gang Zong Chi – 金刚总持
Vajradhara

Jin Gang Zong Chi (Tibetan – Dorje Chang)adalah Buddha awal (Yuanshifo – 原始佛) Menyimbulkan Buddhata (Kesadaran Sejati Paripurna) , adalah Dharmakaya yang tak berwujud.

Pahala dan kemuliaan yang dikandung Nya adalah tiada yang tak diliputi serta melampaui pikiran awam.

Buddha ada trikaya : Dharmakaya, Sambhogakaya dan Nirmanakaya.

Dalam mengejawantahkan rupa, Dharmakaya menggunakan 2 cara berbeda, yaitu :

1. Nirmanakaya yang memiliki wujud
contohnya adalah Buddha yang bisa dilihat , disentuh dan dirasakan oleh para insan yang masih keruh.

2. Sambhogakaya
rupa yang murni, atau Tubuh Vimala Sukha, adalah Buddha yang hanya bisa dilihat oleh para insan yang berpikiran suci dan Para Bodhisattva tingkat tinggi.

2500 tahun lalu, Sakyamuni Buddha (Nirmanakaya Buddha) merupakan Buddha ke 4 dari 1000 Buddha kalpa saat ini, Pangeran Sidharta Dharmakaya Kesadaran Paripurna , merupakan Nirmanakaya Buddha yang oleh karena Belas Kasih Nya yang tanpa batas sehingga mengambil rupa demi mengajar para insan.

Namun berdasarkan rupa sejati Nya, Sakyamuni Buddha dengan Vajradhara sama sekali tiada beda !

Karena Prajna Sakyamuni Buddha adalah Dharmakaya, ucapan Nya adalah Sambhogakaya, tubuh Nya adalah Nirmanakaya.

Sedangkan wujud Mahaunggul yang ditunjukkan oleh Vajradhara dihadapan Guru leluhur kita Tilopa, semua atribut Nya adalah simbul dari Kesadaran Sempurna. (lihat gambar)

dorje chang
Misal :

Tubuh biru Vajradhara bagai angkasa, menyimbulkan batin Kesempurnaan Sejati atau Dharmakaya.

Hiasan dewata , anting, mahkota permata, gelang, menyimbulkan kemurnian batin yang Sadar atau Sambhogakaya.

Sedangkan tubuh yang menyerupai manusia, merupakan Nirmanakaya yang bisa ditangkap oleh panca indera manusia biasa.

Vajra dan gantha di posisi dada Vajradhara menyimbulkan gabungan antara Prajna dan upaya kausalya.

Maka semua tubuh dan semua kondisi batin yang ditampilkan dapat dijelaskan dengan cara yang berbeda, namun ketiga Tubuh, bagi Buddha yang Sempurna adalah satu belaka, gabungan Trikaya ini adalah :

The Trikaya doctrine (Sanskrit, literally “Three bodies or personalities”; 三身 Chinese: Sānshén, Japanese: sanjin) is an important Buddhist teaching both on the nature of reality, and what a Buddha is. By the 4th century CE the Trikaya Doctrine had assumed the form that we now know. Briefly the doctrine says that a Buddha has three kayas or bodies:

the nirmanakaya or created body which manifests in time and space;

the sambhogakaya or body of mutual enjoyment which is an archetypal manifestation; and

the Dharmakaya or reality body which embodies the very principle of enlightenment and knows no limits or boundaries.[5] In the view of Anuyoga, the ‘Mindstream‘ (Sanksrit: citta santana) is the ‘continuity’ (Sanskrit: santana; Wylie: rgyud) that links the Trikaya.[5] The Trikaya, as a triune, is symbolised by the Gankyil.

source wikipedia.

Sifat Buddha Para Insan.

jadi tidak ada yang namanya Buddha yang tertinggi dan Buddhayang lebih rendah , semua nampak berbeda hanya demi misi menyadarkan insan yang berbeda.

Dari semua ini , pemetaan ini digunakan oleh Para Guru Leluhur Yang Telah mencapai Pencerahan demi mengajar para insan dalam penjelasan kondisi batin supaya mudah dicerna.

Dorje Chang

Vajradhara (Sanskrit: वज्रधार Vajradhāra, Tibetan: རྡོ་རྗེ་འཆང་། rdo rje ‘chang (Dorje Chang); Chinese: 金剛總持 or 多傑羌佛; Javanese: Kabajradharan; Japanese: 執金剛神; English: Diamond-holder) is the ultimate primordial Buddha, or Adi Buddha, according to the Gelug and Kagyu schools of Tibetan Buddhism.

Vajradhara displaced Samantabhadra who remains the ‘Primordial Buddha’ in the Nyingma, or ‘Ancient School’ and the Sakya school. However the two are metaphysically equivalent. Achieving the ‘state of vajradhara’ is synonymous with complete realisation.

According to Kagyu Vajradhara, the primordial buddha, is the dharmakaya buddha, depicted as dark blue in color, expressing the quintessence of buddhahood itself and representing the essence of the historical Buddha’s realization of enlightenment.[1].

As such Vajradhara is thought to be the supreme essence of all (male) Buddhas (his name means the bearer of the thunderbolt). It is the Tantric form of Sakyamuni which is called Vajradhara. Tantras are texts specific to Tantrism and are believed to have been originally taught by the Tantric form of Sakyamuni called Vajradhara. He is an expression of Buddhahood itself in both single and [yab-yum] form.[2]. Vajradhara is considered to be the prime Buddha of the Father tantras [3] (tib. pha-rgyud) such as Guhyasamaja, Yamantaka, and so on [4].

From the primordial Vajradhara/Samantabhadra were manifested the Five Wisdom Buddhas (Dhyani Buddhas):

Vajradhara and the Wisdom Buddhas are often subjects of mandala.

Vajradhara and Samantabhadra are cognate deities in Tibetan Buddhist cosmology with different names, attributes, appearances and iconography. Both are Dharmakaya Buddhas, that is primordial Buddhas, where Samantabhadra is unadorned, that is depicted without any attributes. Conversely, Vajradhara is often adorned and bears attributes, which is generally the iconographic representation of a Sambhogakaya Buddha. Both Vajradhara and Samantabhadra are generally depicted in yab-yum unity with their respective consorts and are primordial buddhas, embodying void and ultimate emptiness.

Leave a comment »

Mudra Meditasi

ada seseorang sesiung menanyakan kepada Maha Guru Lien Seng masalah Mudra Meditasi
pose meditasi

Tanya : Dalam membentuk mudra meditasi, apakah kita menaruh telapak tangan kanan di atas telapak tangan kiri, ataukah sebaliknya ? Apakah ini ada hubungannya dengan unsur air dan api. ?

Jawab : Tangan kanan melambangkan api dan tangan kiri melambangkan air, sepanjang pengetahuan saya, kebanyakan orang membentuk mudra ini (Maha guru mendemonstrasikan tangan kanan di atas tangan kiri) Namun ketika Buddha Sakyamuni mengajarkan Visualisasi tulang belulang, ia memberikan demonstrasi begini (tangan kiri di atas telapak tangan kanan). Sesungguhnya kedua cara ini dapat digunakan. Hanya pada umumnya air mengalir ke bawah sedangkan api naik keatas. Jadi posisi telapak tangan kanan dan kiri sebaiknya merefleksikan sifat alamiah api dan air.
metode kedua adalah dengan menukar gaya ini jadi air yang naik dan api yang turun dalam hal ini melambangkan langkah menaikkan dan menurunkan dalam sadhana dlam (kundalini). Metode ini berlawanan dengan sifat alam. seperti ada dalam pepatah “ ada cara-cara rumit dalam mencari Tao, bila anda dapat memutar balikkannya maka anda menjadi seorang maha dewa”
Jadi mudra ini juga bisa dalam bentuk terbalik yaitu telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan.

mudra meditasi

gambar yang pertama, mudra meditasi tangan kanan diatas tangan kiri begitu juga gambar yang kedua Rhupang Buddha di Pollonnaruwa abad ke-12 tetap tangan kanan di atas tangan kiri. sebaiknya dicoba yang mana lebih cocok anda rasakan sendiri.

Leave a comment »

TASECE POUSAT/BODHISATVA MAHASTHAMAPRAPTA

Bodhisattva Mahasthamaprapta

Makna Maha-sthama-prapta (Dashizhi)

Kekuatan seorang bodhisattva sungguh tidak terkirakan. Kekuatan untuk selalu semangat mencapai kebuddhaan, kekuatan kebijaksanaan menaklukkan Mara dan kegelapan batin, kekuatan kasih sayang dan welas asih menyebrangkan semua makhluk ke Pantai Seberang, Nirvana, itulah kekuatan agung Bodhisattva Mahasattva.

Salah satu Bodhisattva Mahasattva yang memiliki kekuatan luar biasa itu adalah Bodhisattva Maha-sthama-prapta (Mahasthamaprapta), atau dalah Mahayana Tiongkok dikenal dengan nama Dashizhi Pusa.
Nama Bodhisattva Mahasthamaprapta memiliki arti: “Bodhisattva yang Mencapai Kekuatan Agung”. Seperti yang diutarakan dalam Sutra Amitayur Dhyana (Guan Wu Liang Shou Jing): “Dengan kekuatan kebijaksanaan, mencabut penderitaan tiga alam rendah (neraka, setan, hewan) agar memperoleh kebahagiaan tertinggi, karena itu disebut sebagai Maha-sthama-prapta.” Sedang Sutra Visesacintabrahma-pariprccha (Si Yi Jing) mencantumkan: “Saya menapakkan kaki di satu tempat, bergetarlah alam tiga ribu maha ribu dan istana Mara, sebab itu disebut sebagai Maha-sthama.”
Makna nama Maha-sthama-prapta (Dashizhi) dapat diartikan pula sebagai berikut. Maha (Da) menunjukkan arti pencapaian Tubuh Dharma (Dharma-kaya) yang besar dan agung; Sthama (Shi) adalah kekuatan pencapaian kebijaksanaan yang menghancurkan kegelapan batin (internal) dan menundukkan godaan Mara (eksternal); sedang Prapta (Zhi) adalah pencapaian Pencerahan yang mendekati kebuddhaan.
Amitabha Buddha, Avalokitesvara dan Mahasthamaprapta Bodhisattva adalah Tiga Suciwan Pembabar Dharma di Tanah Suci Sukhavati. Setelah Buddha Amitabha mahaparinirvana, maka Bodhisattva Avalokitesvara akan menjadi Buddha menggantikan Amitabha membabarkan Dharma di Sukhavati. Setelah Avalokitesvara Mahaparinirvana, akan digantikan oleh Mahasthamaprapta dengan nama Shanzhu Gongde Baowang Rulai. Supratishthita-guna-ratnaraja Tathagata) yang berarti “Tatagatha Raja Kebajikan dalam Permata Pahala Moralitas.”
Mahasthamaprapta digambarkan mengenakan mahkota dengan sebuah botol berisi cahaya kebijaksanaan di tengahnya, kedua tangan memegang setangkai bunga teratai (lotus) yang mekar, membuka hati setiap insan menerima Buddha.

Vipasyana Bodhisattva Mahasthamaprapta

Nama Mahasthamaprapta muncul dalam berbagai Sutra. Sutra Saddharmapundarika menyebutkan Mahasthamaprapta termasuk dalam kumpulan besar yang mendengarkan Dharma Buddha di Puncak Grdhakuta, Rajagriha. Sedang dalam Sutra Amitayur Dhyana, Buddha menjelaskan tentang Mahasthamaprapta sebagai berikut:
Buddha bersabda lagi: “Selanjutnya kita melaksanakan Vipasyana Bodhisattva Mahasthamaprapta! Ketahuilah, tinggi dan besar Bodhisattva ini sama dengan Bodhisattva Avalokitesvara. Lingkaran sinar empat penjuru masing-masing mencapai 125 yojana dan memancar sejauh 250 yojana. Seluruh tubuh memancarkan cahaya ungu keemasan yang juga menerangi 10 oenjuru alam, para makhluk yang berjodoh akan dapat melihatnya.
O, Arya Ananda! Ketahuilah, asal dapat melihat cahaya yang terpancar dari satu pori saja, identik dengan melihat cahaya murni dan menakjubkan dari para Buddha di 10 penjuru! Karena itu, Bodhisattva Mahasthamaprapta juga disebut Bodhisattva Anantavamprabha (Cahaya Tanpa batas). Sebab cahaya dari satu pori itu sama seperti cahaya para Buddha yang tak terhitung banyaknya yang menyinari secara luas tiada batas. Seperti halnya Bodhisattva Avalokitesvara menyinari semua makhluk dengan cahaya kasih sayang dan welas asih, Bodhisattva ini menyinari segala tempat dengan cahaya kebijaksanaan, agar para makhluk dapat memiliki cahaya kekuatan tak terhingga yang dapat membebaskan diri dari penderitaan tiga alam rendah. Karena itu arti nama Bodhisattva Mahasthamaprapta adalah kekuatan dahsyat dari kebijaksanaan memenuhi sepuluh penjuru.
Di atas mahkota Bodhisattva Mahasthamaprapta terdapat 500 teratai mustika. Di setiap teratai mustika terdapat 500 takhta mustika, setiap takhta menampakkan panjang dan lebar wilayah sepuluh puluhan penjuru Tanah Suci Mengagumkan dari para Buddha. Usnisa di dahi Bodhisattva Mahasthamaprapta seperti bunga teratai merah dan di atas usnisa itu terdapat sebuah kundika (botol mustika) yang berisikan cahaya kebijaksanaan, yang digunakan untuk menyelamatkan semua makhluk. Tanda-tanda agung lainnya tidak berbeda dengan Bodhisattva Avalokitesvara.
Ketika Bodhisattva Mahasthamaprapta mengayunkan langkah, sepuluh penjuru alam akan bergetar, dan pada setiap tempat yang bergetar di masing-masing alam itu muncullah 500 koti bunga teratai mustika. Setiap teratai mustika itu tampak anggun dan agung. Keagungannya mirip alam Sukhavati! Saat Bodhisattva Mahasthamaprapta duduk, tanah tujuh permata di Alam Sukhavati akan terlebih dulu bergoyang, lalu menyebar hingga Tanah Buddha di bagian bawah yaitu Negeri Buddha Suvarnaprabha. Di antara dua alam Buddha tersebut tertampak Nirmanakaya (Badan penjelmaan) dari Buddha Amitayus (Buddha Amitabha), Bodhisattva Avalokitesvara dan Bodhisattva Mahasthamaprapta yang tak terhitung jumlahnya. Kesemuanya berkumpul di Alam Sukhavati, memenuhi seluruh langit, dan duduk bersila di atas takhta teratai, membabarkan Dharma yang menakjubkan dan dalam maknanya demi menyelamatkan para makhluk yang menderita. Metode tersebut disebut Vipasyana Bodhisattva Mahasthamaprapta”, juga dinamakan Vipasyana ke sebelas.”
Dikisahkan dalam Sutra Shurangama, Mahasthamaprapta mencapai pencerahan melalui pengendalian landasan indera dan pelafalan nama Buddha secara tiada henti sehingga mencapai kondisi Samadhi. Sesepuh ke-13 tradisi Tanah Suci (Sukhavati), Master Yin-guang (1861-1941), menetapkan Dashizhi Pusa Nianfo Yuantong Zhang (Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafalkan Nama Buddha secara Sempurna dan Tiada Halangan – bagian dari Sutra Shurangama) sebagai salah satu dari Sutra acuan tradisi Sukhavati.
Kalangan Mahayana Tiongkok meyakini Master Yin-guang sebagai badan penjelmaan Bodhisattva Mahasthamaprapta. Sedang tempat pembabaran Dharma di Tiongkok dari Mahasthamaprapta yang kelahirannya diperingati setiap tanggal 13 bulan 7 Imlek ini ditetapkan di Vihara Guangjiaosi di Gunung Langshan, Nantong, Propinsi Jiangsu.
Mahasthamaprapta juga diyakini beberapa kali mewujudkan dirinya di negara Jepang. Di sana, Mahasthamaprapta berwujud sebagai seorang perempuan yaitu istri dari pangeran Shotoku, juga sebagai seorang pria, yaitu Honen Shonin (1133-1212), pendiri aliran Jodo (Sukhavati) di negara matahari terbit. Uniknya, nama asli Honen (Chinese: Faran) adalah Seishi-maru. “Seishi” adalah terjemahan bahasa Jepang untuk Mahasthamaprapta.
Bahkan tidak hanya beremanasi sebagai seorang manusia saja, Mahasthamaprapta juga muncul sebagai seorang dewa bernama Dewa Candra (bulan), yang menerangi kegelapan “malam” samsara dan memberikan kebijaksanaan pada semua makhluk.

Bodhisattva Vajrapani tradisi Vajrayana
Di negara atap dunia (Tibet), Mahasthamaprapta lebih dikenal dengan nama Bodhisattva Vajrapani (Tibet: Chana Dorje, Chinese: Jin-gangshou Pusa). Sebagai emanasi dari Dhyani Buddha Akshobya, Vajrapani menempati posisi sebagai pemimpin keluarga Vajra. Bersama Avalokitesvara dan Manjusri, merupakan 3 bodhisattva utama tradisi Vajrayana yang melambangkan 3 aspek utama dari Bodhi (pencerahan) yaitu cinta kasih (mahamaitrikaruna), kebijaksanaan (mahaprajna) dan kekuatan (mahabala). Ketiga Bodhisattva tersebut juga menyimbolkan tubuh, ucapan dan pikiran para Buddha. Selain itu, dalam paham wilayah, Vajrapani adalah pelindung Mongolia, Manjusri pelindung dataran Tiongkok dan Avalokitesvara pelindung Tibet.

Sebagaimana Ananda sebagai siswa “Penjaga Dharma” yang mengingat dan mengucapkan ulang wejangan Buddha dalam konsili pertama, demikian juga di saat yang sama di Gunung Vimalasvabhava, Vajrapani mengucapkan ulang ajaran-ajaran Buddha, yang kemudian dikenal sebagai Sutra-sutra Mahayana. Konsili tersebut dikepalai oleh Bodhisattva Samantabhadra, beserta Maitreya mengucapkan kembali Abhidharma. Keseluruhannya dikumpulkan menjadi Tripitaka Mahayana.
Vajrapani dikenal juga dengan sebutan Guhyapati, “Penguasa Rahasia”, penjaga semua Tantra yang diajarkan oleh Buddha. Vajrapanilah yang memohon Buddha untuk memutar roda dharma sekali lagi yaitu ajaran Tantra, dan memimpin pertemuan para Bodhisattva di Surga Tusita untuk merangkai dan menyusun kembali ajaran Tantra (Kriya, Carya dan Yoga) yang telah dibabarkan oleh Buddha.
Dalam Seni Gandhara (Seni Buddha Yunani), Vajrapani digambarkan sebagai Hercules (Herakles), sang tokoh legendaris penemu Olimpiade dan putra dari Zeus, karena melambangkan kekuatan yang maha dasyat. Penggambaran ini kemudian turut mempengaruhi wujud dua emanasi Vajrapani di Asia Timur, yaitu Misshaku dan Narayana. Keduanya ditampilkan di kedua sisi gerbang vihara dengan tubuh berotot dan memegang vajra. Para pelindung tersebut berada dalam posisi beladiri layaknya posisi pratayalidha (prajurit) Vajrapani sendiri.
Vajrapani berarti Tangan Vajra (Petir) atau Pemegang Vajra, adalah satu-satunya bodhisattva Mahayana yang disebutkan dalam naskah Pali, selain Maitreya (Metteyya) dan Svetaketu (Setaketu). Beliau muncul sebagai sebagai Yakkha Vajirapani (Pali), atau Vajrapani (Sanskrit) di Ambattha Sutta, Digha Nikaya. Seorang brahmana bernama Ambatta berkata tidak layak kepada Buddha serta menolak untuk menjawab pertanyaan Buddha sebanyak dua kali. Saat itu juga Yakkha Vajrapani muncul di atas kepala Ambatta, berdiri di udara dengan membawa pemukul besi besar (Vajra) yang menyala-nyala bersiap memecahkan kepala Ambatta sampai berkeping-keping apabila tidak menjawab pertanyaan Buddha untuk ketiga kalinya. Ambattha menjadi sangat ketakutan, kemudian ia mengakui kesalahannya dan memohon perlindungan pada Sang Bhagava. Buddhagosa, komentator Tipitaka Pali yang terkemuka, menyebutkan, bahwa Yakkha Vajirapani adalah Sakka (Shakra), raja para deva di alam Trayastrimsa (Tavatimsa).
Selain sebagai Bodhisattva, Vajrapani juga merupakan Dharmapala (Pelindung Dharma). Ia adalah Dharmapala dari Sakyamuni Buddha dan selalu bersama Buddha (Abhyantaraparivara), layaknya Ananda. Dalam Sutra Astasahasrika Prajnaparamita dikatakan, “Maka sekarang, Vajrapani, Yaksha yang agung, terus menerus mengikuti bodhisattva yang teguh! Tidak tertandingi, Bodhisattva tidak dapat dikalahkan oleh manusia maupun hantu.” Demikian juga Sutra Lankavatara pun menyebutkan bahwa Buddha selalu diikuti oleh Vajrapani.
Ketika Buddha melalui Bukit Gridhakuta, tempat Buddha membabarkan Prajnaparamita, Devadatta, sepupu Buddha, hendak membunuh Buddha dengan menggulingkan sebuah batu besar. Tepat ketika batu tersebut hampir mengenai Buddha, Vajrapani muncul dan menghancurkannya menjadi berkeping-keping sehingga hanya sedikit melukai jari kaki Buddha. Selain melindungi Buddha, Vajrapani juga pernah melindungi para naga Uddiyana dari serangan garuda ketika para naga itu sedang mendengarkan pembabaran Dharma dari Buddha.
Sewaktu tiba di Kusinagara, India, Faxian (227-422) dan Xuanzang (sekitar 662-664) menemukan sebuah stupa Vajrapani, yang dipercaya sebagai lokasi tempat Vajrapani menjatuhkan vajranya ketika menyaksikan Buddha Sakyamuni Mahaparinirvana.
Selain itu, raja-raja seperti Raja Suchandra dari Shambhala dikenal sebagai emanasi Vajrapani. Guru Padmasambhava meramalkan bahwa Vajrapani akan beremanasi sebagai Raja Raipavhen dan sebagai seorang perempuan yaitu Konchok Paldron, putri dari Chokgyur Lingpa, Terton agung sekaligus nenek dari Tulku Urgyen Rinpoche.
Jadi, Vajrapani atau Mahasthamaprapta tidak mewujudkan diri beliau di Tiongkok dan Jepang saja, namun juga di Tibet, India dan Shambala.

Amanat Mahasthamaprapta
Dari berbagai bentuk tubuh penjelmaan yang ada, sebenarnya hanya satu hal yang diamanatkan oleh Mahasthamaprapta kepada kita semua, yaitu tekunlah kita mengendalikan enam landasan indera dan berfokuslah pada pelafalan nama Buddha secara tiada henti, itulah kekuatan agung Bodhisattva Mahasattva. Itulah salah satu metode terbaik dalam membangkitkan kekuatan agung hakekat sejati kita.

Kekuatan agung itu bukan menjadi hak milik atau hak paten Bodhisattva Mahasthamaprapta atau para Bodhisattva Mahasattva dan Buddha, melainkan semua makhluk dapat mencapainya asal mampu menerapkan Dharma yang indah. Konsisten dalam Dharma, itulah kekuatan agung yang sejati.

Sumber : Sinar Dharma Vol. 6 n0. 2-4 2551 BE

Leave a comment »

4 hal berdana yang penuh berkah

Taisho No.730
Fo shuo Chuchu Jing
《佛說處處經》

diterjemahkan oleh : Lianhua Shian

….佛欲度世去。諸比丘白佛言:諸在世間人,皆當從佛得福。今佛度世去,諸世間人民,當複從誰得福 ?

… Saat Buddha hendak Parinirvana, para biksu bertanya pada Buddha, “Para insan di dunia ini memperoleh berkah dari dana pada Buddha. Sekarang Buddha hendak Parinirvana, dari manakah para rakyat di dunia dapat memperoleh berkah ?”

佛言:比丘,我雖度世去,經法當在。複有四因緣,可從得福。

Buddha menjawab : “Wahai Biksu, meskipun Aku hendak Parinirvana, namun Sutra dan Dharma masih ada. Ada empat hal yang dapat menyebabkan insan memperoleh berkah kebajikan.

一者,畜生無所食,飼之令得命。
1. Memberi makanan dan perawatan pada hewan yang kelaparan.

二者,見人得疾病無瞻視者,當給與供養,令得安隱。
2. Memberikan persembahan dan penghiburan bagi orang sakit yang tidak ada yang mengurus.

三者,貧窮孤獨,當護視。
3. Memberi perlindungan pada orang miskin dan sebatang kara.

四者,人獨一身,行禪念道,無所衣食,當給視之。
4. Memberi perhatian dan dana pada sadhaka sejati yang sebatang kara dan kekurangan.

是為四事佈施,持善意與之,其得福,與佛等無有異。

Buddha melanjutkan, “empat macam dana ini, bila dilaksanakan dengan pikiran bajik, pahala dan berkah yang diperoleh adalah sama dengan memberikan pelayanan itu semua pada Buddha.”

Leave a comment »

Lima Rhupang Buddha tertinggi di dunia

1. Spring Temple Buddha

It is the tallest statue in the world and is located in the Zhaocun township of Lushan County, Henan, China. The statue depicts Vairocana Buddha and is 128 meters high with a weight of over 1000 tonnes. It is made out of bronze and gets its name from the nearby Tianrui hot springs.

2. Laykyun Setkyar

It is the second tallest statue in the world and is situated in Khatakan Taung village in Monywa, Sagaing Division, Myanmar. Monywa lies in the heart of the Chindwin Valley and 136 km northwest of Mandalay.

The height of the statue is 116 meters. The construction of the giant statue started in 1996 and the completion ceremony took place in 21st February, 2008.

3. Ushiku Daibutsu

It is the third tallest statue in the world and is located in Ushiku, Ibaraki Prefecture, Japan. Ushiku Daibutsu is also called Ushiku Arcadia.

The statue was completed in 1995 and it stands a total of 120 meters tall, including the 10m high base and 10m high lotus platform. The statue has a elevator inside it which takes the visitors up to 85m off the ground, where an observation floor is located. It depicts Amitabha

4. Guanyin Statue

It is also known by the name Guan Yin of the South Sea of Sanya and is the fourth highest statue in the world. The statue is located in the Nanshan Culture Tourism Zone on the south coast of China’s island province of Hainan. The Guanyin Statue of Hainan has a height of 108 meters.

The statue has three sides, one facing the island and the other two face the South China Sea. It took six years to build the statue and was enshrined on 24th April 2005 and the ceremony was attended by 108 eminent monks from various Buddhist groups in Taiwan, Hong Kong, Macao and Mainland China.

Also present in the ceremony were over tens of thousands of pilgrims and monk delegations from the Theravada and Vajrayana traditions.

5. Grand Buddha at Ling Shan

It is located at the south of the Longshan Mountain near Mashan town of Wuxi in Jiangsu Province of China. It is a famous tourist attraction along with the nearby historic Xiangfu Temple, a thousand-year old Buddhism temple.

The bronze statue was commissioned in 1996 and has a height of 88 meters.

Leave a comment »

MARA – LOKA

MARA LOKA
Mo Jie – 魔界

蓮生活佛/文
oleh : Liansheng Huo Fo

在「神行中」亦曾進入魔界。

Saat melakukan Perjalanan astral, pernah memasuki maraloka.

十魔即是:

Sepuluh Mara yaitu :

蘊魔──色受想行識五蘊變化,為眾罪之源頭。
1. Mara Pancaskandha (yun mo – 蘊魔): Manifestasi dari pancaskandha rupa, vedana, samjna dan samskara ; Merupakan sumber dari semua pelanggaran.

煩惱魔──擾人心思,混亂正理。
2. Kileshamara (Fan Nao Mo – 煩惱魔) : Menggoda pikiran manusia, mengacaukan kebenaran.

業魔──殺盜淫妄業,而成魔。
3. Karmamara (Ye Mo – 業魔) : karma membunuh, mencuri, berzinah dan berdusta yang menjadi mara.

心魔──疑、慢、傲成魔。
4. Hrdaya Mara (Xin Mo – 心魔) : Mara keraguan dan keangkuhan.

死魔──奪人生命、慧命。
5. Mara Kematian (Si Mo – 死魔) : Merampas nyawa manusia dan kebijaksanaannya.

天魔──欲界第六天主,障人善念。
6. Mara Devaputra (Tian Mo – 天魔) : Pimpinan surga ke enam alam nafsu, menghalangi kebajikan manusia.

善根魔──執著善根,不求精進。
7. Mara Akar kebajikan (Shangen Mo – 善根魔) : Melekat pada akar kebajikan, sehingga tidak mau tekun berusaha.

三昧魔──執著禪定,不求菩提。
8. Mara Samadhi (Sanmei Mo – 三昧魔) : Melekat pada samadhi, sehingga tidak mau merealisasi Boddhi.

善知識魔──慳吝於法,不度化眾生。
9. Mara Pembimbing (Shanzhishi Mo – 善知識魔) : Kikir akan Dharma, tidak membagikan ajaran dharma dan t idak mau menyelamatkan insan.

菩提法智魔──執著菩提法,有智慧,但障蔽解脫正道。
10. Boddhidharmajna Mara (Putifazhi mo – 菩提法智魔) : Melekat pada Dharma Boddhi, memiliki kebijaksanaan, namun menghalangi jalan menuju pembebasan.

(佛與魔,有時只是一念、一線)

Antara Buddha dan mara ada kalanya hanya sebatas satu pikiran atau satu garis saja.

看見有四魔坐著吟詩:

Melihat puisi yang dibuat oleh Catur Mara :

「娑婆紛擾事縱橫,不如此界安養城,苦樂全然不侵襲,方名自在最有能。」
Dunia saha penuh dengan berbagai masalah, tidak seperti dunia ini (Alam Mara) negeri ketenteraman, tiada serangan dari sukha dan dukha, sangatlah leluasa.

「死生俱脫稱無生,往生不如我無生,佛魔彼此皆同體,若分彼此道何成。」
Terbebas dari lahir dan mati disebut sebagai A jati, terlahir di tanah suci tak sebanding dengan aku yang tak terlahirkan ini, Buddha dan Mara adalah sama belaka, bila membedakannya bagaimana bisa mencapai Tao.

「文殊智慧只虛無,龍樹辯才也是拙,寄語行者真修者,世上何人不愚夫。」
Prajna Manjusri hanyalah omong kosong belaka, keahlian berdebat yang dimiliki oleh Nagarjuna Bodhisattva hanya kedunguan belaka, wahai para sadhaka sejati, di dunia ini siapakah yang tak pernah berbuat kesalahan.

「說真豈有幾箇真,說理不著尤非理,淨穢原來均是塵,入此三昧才迷蒙。」
Bicara kebenaran berapakah yang benar ?

Bicara teori “tidak melekat” sepertinya bukan kebenaran,

Suci dan kotor pada hakekatnya semua adalah debu,

Memasuki samadhi ini barulah berkabut.

這四首詩偈,聽來似乎有味,就差那麼一點點,那四魔看見我「神行」而至。

Empat bait puisi ini sepertinya bermakna, hanya kurang sedikit saja. Empat Raja Mara itu datang karena melihatku melakukan perjalanan astral.

一魔說:「這位蓮生活佛盧勝彥,上回,看破了我,我就走了。」

Mara yang satu mengatakan :
“Rinpoche Lusheng yan ini, sebelumnya pernah mengenali aku, maka aku pergi.”

其他三魔憤憤不平:「要不要縛他。」

Tiga mara yang lain menjadi marah dan gusar : “Mau mengikatnya ? !”

「要縛綁他甚容易。」三昧魔說。

Mara Samadhi mengatakan : “Mau mengikatnya mudah sekali.

「如何容易?」

“Mudah bagaimana ?”

「蓮生活佛盧勝彥最是有情,用『情絲』縛綁他,當然最是容易的了。」

“Rinpoche Liansheng  itu orangnya sangat sensitif,  ikat saja dengan masalah perasaan, tentu saja ini yang paling mudah.”

於是──

maka…

四魔手掌中,各出一線繩,祭了出來,我被團團綁住,一下子便動顫不得了,我智明全失。

Tiap tiap tangan 4 Raja Mara menggenggam jerat dan mengikat saya, seketika saya terguncang dengan hebat, sampai kehilangan kesadaran.

此四繩綁我,是有奇效,這正是我的弱點:
Empat jerat ini mengikat saya, yang merupakan kelemahan saya :

一曰「親情繩」。
1. Ikatan hubungan keluarga

二曰「感情繩」。
2. Ikatan Cinta kasih.

三曰「師徒情繩」。
3. Ikatan rasa Kasih antara Guru dan murid.

四曰「眾生情繩」。
4. Ikatan kasih terhadap para insan.

三昧魔哈哈大笑:「蓮生活佛盧勝彥,無法掙脫親情、感情、師徒情、眾生情,用此四繩綁他,最是易也,此 人為情所困,常常悲從中來,自艾自嘆,流淚痛苦,我們四魔看他有何方掙破情網。」

Mara Samadhi tertawa terbahak bahak :
“Rinpoche Liansheng tidak mampu melepaskan diri  dari ikatan keluarga, cinta kasih, guru murid dan para insan. Dengan empat jerat kasih ini untuk mengikatnya adalah cara yang paling mudah, orang ini akan dibuat susah oleh perasaan kasih , seringkali kesedihannya datang dari hal ini, dia akan menitikkan air mata, kita 4 Raja mara tinggal melihat dia bagaimana menghancurkan jala perasaan ini !”

其他三魔亦大笑:「有情有義的,被無情無義的綁箇死死的,哈哈!」

Ketiga mara yang lain “Orang yang berperasaan dan terlalu berbudi akan diikat mati oleh yang tidak berperasaan dan tak berbudi, haha !”

三昧魔恥笑我:「濫用感情。」

Mara samadhi mentertawakan saya : “Terlalu berlebihan dalam memakai perasaan.”

三魔亦說:「真是癡心人也。」

Ketiga mara yang lain mengatakan : “Benar – benar terlalu berperasaan.”

我被困在魔網之中,這也算是我的「因緣果報」吧!我的願始終未能了,眾生情緣重,一再的投胎轉世,生生 世世度眾生,眾生界未空,我怎能沒有眾生情?

Saya dibuat susah dalam jala mara, bisa dikatakan ini adalah karma saya ! Sejak awal sampai akhir saya tidak berdaya, perasaan saya terhadap para insan terlalu mendalam, selalu terlahir kembali, dalam setiap kelahiran menyelamatkan insan, bila alam para insan belum kosong, bagaimana mungkin saya tidak ada perasaan pada para insan ?

師徒情重,我的弟子五百萬,這五百萬弟子有了錯誤過失,全在我的身上,我的功德福報又不夠抵償。弟子的 行為過患,我怎能視之不見,聽之不聞,像我這樣子的人,師徒之情,怎能忘?

Perasaan antara Guru dan murid sangatlah mendalam, muridku ada jutaan, bila jutaan murid ini ada berbuat kesalahan, semua menjadi tanggungan saya, pahala dan berkah saya tidak cukup untuk membayarnya. Bila perjalanan hidup para siswa penuh kesulitan, bagaimana bisa saya tidak peduli, orang seperti saya ini bagaimana bisa melupakan hubungan guru murid ?

再說親情,那是最基本層次的感情,這一世的親生父母,協助度生的蓮香上師,子女之情,這是天生的,也是 多世的緣份,如何捨得?

Kemudian mengenai perasaan terhadap keluarga, itu adalah perasaan yang paling mendasar, orang tua dalam kehidpuan kali ini, Acarya Lian Xiang yang membantu saya menyelamatkan insan, perasaan terhadap putera dan puteri saya, ini adalah alamiah dan merupakan jodoh sejak banyak kehidupan yang lampau, bagaimana bisa dicampakkan ?

就這三項,已把我纏得無法呼吸了。

Tiga hal ini, telah mengikatku sampai tidak bisa bernafas.

最後提到感情,我是「有情菩薩」,這東西看不到、聽不到、摸不到,但,有感應。

Terakhir yaitu adalah perasaan cinta, saya adalah Bodhisattva berperasaan, benda ini tak bisa dilihat, tak bisa di dengar, tak tersentuh, namun ada kontak batin.

一、有電。二、有念。三、有覺。

1. Memiliki energi
2.Memiliki Pikiran
3. Memiliki nalar

年輕時掙脫不了,我知道很難掙脫,但,一個修行人,非掙脫不可,不掙脫必然沉淪,這也是甚難處理的,那 種感情是麻麻的感覺,不可思議的。

Saat muda tak bisa melepaskannya, saya tahu bahwa sulit sekali melepasnya, namun seorang sadhaka mau tidak mau harus melepasnya, karena bila tidak melepasnya maka akan terjerumus, ini juga sangat sulit diatasi, rasa itu bagaikan kesemutan, sangat tak terperikan.

這四道繩索,緊緊束縛著我,我陷入無望之中,「神行」也突破不了魔網。上下左右全被綁住。

Empat jerat ini, dengan kuat mengikatku, memasuki saya dengan tanpa harapan, dalam perjalanan astral juga telah menghancurkan jala mara. Atas – bawah, kiri – kanan semua telah diikat.

魔網愈縮愈小,我苦不堪言。我想,這四種情,原是由「我」自己的因緣所創造出來的,修行人要成為因果的 主宰者,而不是被因緣所控制者。

Jala mara semakin mengikat semakin erat, penderitaan yang saya rasakan tak terkatakan lagi. Menurut saya, empat macam perasaan ini, semua tercipta dari nidana “saya” sendiri. Seorang sadhaka harus menjadi tuan dari karma, bukannya malah dikendalikan oleh sebab-akibat.

要解除四種情的痛苦,一定要心智非常清明。身、口、意非常清淨,要懂得轉化。在感性上永恆 喜悅。

Bila ingin lepas dari dukkha catur mara, batin ini harus sangat suci dan terang.
Tubuh, ucapan dan pikiran, sangat suci, harus paham bagaimana mengubahnya. Sifat diri menjadi selamanya bersuka cita.

化小愛為大愛,無緣大慈,同體大悲。像親情、感情、師徒情,都應該化為眾生情。努力去度化眾生,但不執 著度化多少,這才是智慧的精華。

Merubah cinta yang sempit menjadi kasih yang luas, berbelas kasihan tanpa syarat, mengasihani insan lain bagai diri sendiri. Seperti hubungan keluarga, cinta, guru-murid, semua harus dirubah menjadi kasih kepada insan. Dengan tekun menyelamatkan para insan, namun tidak melekat dengan kuantitas insan yang diselamatkan, ini barulah intisari dari prajna.

能提起。能放下。這才是主宰者。(能自主的行者)

Mampu mendapatkan juga harus mampu melepaskan, ini barulah disebut master. (sadhaka yang menjadi tuan atas diri sendiri.)

當我領悟至此時,我感應到巨大的靈性力量發自吾心,這力量放出大毫光,無比的般若之光放了出來,不是小 般若,而是大般若,「嗡啊吽」,四條繩索一齊斷裂,我修持的根本能量全部展現了出來,大光明四 射。   四魔嚇呆了。

Saat saya menyadari hal ini, saya merasakan sebuah kekuatan roh yang amat besar dari batin, kekuatan ini memancarkan cahaya agung, sinar prajna yang tak tertandingi telah keluar, bukan kebijaksanaan kecil, melainkan kebijaksanaan agung ; Om Ah Hum, keempat jerat itu pun putus dan hancur, kemampuan pelatihan diri saya keluar sepenuhnya, cahaya agung menyorot ke empat arah, 4 Raja mara terkejut.

「南摩三十六萬億,一十一萬,九千五百,同名同號阿陀佛」我立起身,念了一句。

Saya berdiri dan melafal satu kali :
“Namo Amitabha Buddhaya dalam nama agung berjumlah tiga ratus enam puluh triliun seratus sembilan belas ribu lima ratus.”

我明白了:幻化。提起。放下。不執。

Saya memahami : ilusi, mengangkat, melepaskan, tak melekat.

三昧魔說:「看來我這回,又要跑了。」

Mara Samadhi mengatakan : “Kelihatannya kali ini aku harus kabur lagi.”

其他三魔說:「此人有綠色光、紅色光、紫色光、黃色光、金色光、橙色光、白色光,是虹光化身,我們溜也 !」

Ketiga mara yang lain juga mengatakan : “Orang ini punya sinar hijau, merah, ungu, kuning, emas, oranye dan putih, merupakan penjelmaan sinar pelangi, kita kabur saja !”

四魔飛奔他去。……

4 Raja mara kabur…

這是:我心感我佛。我佛即應我。應感非前後。心佛同一體。

Ini adalah : Perasaan hatiku mengharukan Yidam Buddha ku, Buddha ku berkontak dengan aku, kontak bukan dari dulu maupun mendatang, hatiku dan Buddha adalah  satu adanya.

我知道菩薩訶色欲經示:
女色者,世間之枷鎖,凡夫戀著,不能自拔。女色者,世間之重患,凡夫困著,至死不免。女色者,世間之衰 禍,凡夫遭之,無殃不至。

Saya tahu, dalam Sutra Nafsu Birahi ada dikatakan :
“Rupa wanita adalah belenggu di alam semesta, baik orang awam maupun dewa yang jatuh hati , tak mampu mengendalikan diri.

Kecantikkan wanita adalah bahaya besar di alam semesta, orang awam yang tergoda, sampai mati pun tak akan bisa menghindar.

Rupa wanita adalah bencana di alam semesta, orang awam yang terlanda, tiada petaka yang tak tiba.

行者既得捨之,若復顧念,是為從獄得出,還復思入,從狂得止,而復樂之,從病得差,復思得病,智者愍之 ,知其狂而顛,死無日矣!

sadhaka harus bisa melepaskannya, namun bila tetap memikirkannya, bagaikan berhasil keluar dari penjara, namun pikiran tetap berada di dalamnya ; Berhenti dari kegilaan cinta, namun tetap merasa senang dalam kegilaan ; Bagaikan sembuh dari sakit, namun tetap merasa sakit ; Bijaksanawan merasa sangat kasihan, terhadap orang yang tahu itu adalah tidak waras namun tetap terjebak di dalamnya .

凡夫重女色,甘為僕使,終身馳驟,為之辛苦,雖復鐵鑽千刃,鋒鏑交至,甘心受之,不以為患,狂人狂樂, 沉淪其中。

Orang awam mengutamakan birahi terhadap wanita, rela menjadi budaknya, seumur hidup selalu dirongrong, dipersulit, walau ditusuk ribuan pisau namun tetap rela menerima, tak merasa menderita, tergila gila pada manusia dan kesenangan, terjerumus di dalamnya.

行者若能棄之不顧,是則破枷脫鎖,惡狂厭病,離於衰禍,即安且吉,得出牢獄,永無患難。

Bila sadhaka dapat melepaskannya dan tidak memperdulikannya, maka akan mampu mematahkan belenggu itu, tidak menyukai kegilaan dan muak terhadap batin yang sakit, terhindar dari petaka, memperoleh ketenteraman, keluar dari kurungan, selamanya tiada petaka.

………..

當知此害,不可近也。………是以智者,知而遠之,不受其害,惡而穢之,不為此物之 所惑也。

Ketahuilah ini akibatnya, maka janganlah melekatinya…. Oleh karena itulah Para bijaksanawan memahami dan menjauhinya, sehingga tidak terlukai, muak terhadap kekotoran dan tak lagi dimabukkan oleh Wujud itu.

大寶積經,佛說一偈:
Dalam Maharatnakuta Sutra, Buddha mengucapkan sebuah gatha :

鋒刃刀山,毒箭諸苦,女人能集,眾多苦事。
Gunung belati, panah beracun dan semua dukha, itu mampu dihasilkan wanita, berbagai macam penderitaan.

假以香華,而為嚴好,愚人於此,妄起貪求。
Dipalsukan oleh wewangian dan bunga yang membuatnya tampak anggun, orang bodoh yang melihat ini, timbul keserakahan untuk memilikinya.

如海疲鳥,迷於彼岸,死必當墮,阿鼻地獄。
Bagai burung yang letih mengarungi samudera, menginginkan tepian, begitu mati pasti terjatuh ke neraka avici. (ket: bagai burung yang terjembab ke dalam samudera)

現見眾苦,皆來集身,善友乖離,天宮永失。
Nampak bahwa berbagai dukha semua tertumpuk di dalam tubuh, teman teman yang baik juga akan menghindari, selamanya kehilangan istana surga.

寧投地獄,馳走刀山,眠臥炎鑪,不親女色。
Memasuki neraka, berlarian di gunung belati, berbaring di tungku, janganlah menggandrungi birahi akan wanita.

我讀偈至此──心中大悟。

Membaca Gatha sampai disini, batin saya tercerahkan

女色之可怖畏矣!情欲之可佈畏矣!

Birahi adalah sangat menakutkan ! Nafsu cinta sangat menakutkan !

感情之繩,自然斷裂,無影無蹤!

Ikatan perasaan cinta, dengan alamiah terpatahkan tanpa sisa !

由佛陀之偈,想起盧家最早的祖先「姜子牙」,他也唱了一偈:

Dari gatha Sang Buddha teringat akan sajak yang digubah oleh leluhur marga LU (qu zi ya) :

青竹蛇兒口。黃蜂尾上針。兩者皆不毒。最毒婦人心。
Bambu hijau mulut ular, lebah kuning berekor sengat, keduanya tak beracun, namun yang paling beracun adalah hati wanita.

對於佛陀的偈及姜子牙(姜尚)的偈,我實在是無話可說,或許這些古來的評語對女性是不公平的,但,我自 己又如何去為異性辯解,幾乎我自己也有口難言了。

Terhadap gatha dari Sang Buddha dan sajak dari Quziya, saya tidak berkomentar, atau mungkin juga kata kritikan kuno ini terasa tidak adil bagi para wanita, namun saya sendiri harus bagaimana menjelaskan mengenai yang berbeda gendernya, sampai sampai saya sendiri juga sulit mengungkapkannya.

當我在魔網中時,我已覺悟到「親情」、「感情」、「師徒情」、「眾生情」,往往全是一時之 幻。

Saat saya berada dalam jala mara, saya telah menyadari bahwa ikatan keluarga, cinta, guru-murid dan insan, semata – mata hanyalah ilusi sesaat belaka.

親情是一時之幻,感情是一時之幻,師徒情是一時之幻,眾生情是一時之幻,這根本是「幻成」的世界。大家全在 妄執情緣,影子追逐影子,生死之後,任何情均歸於業海了。

Ikatan keluarga adalah ilusi sesaat, ikatan cinta adalah ilusi sesaat, ikatan guru murid adalah ilusi sesaat, ikatan perasaan pada insan juga adalah ilusi sesaat, dunia ini adalah dunia yang terbentuk dari ilusi belaka. Orang-orang sedang melekat terhadap jodoh ikatan, bayangan mengejar bayangan, setelah lahir dan mati, semua ikatan perasaan kembali lagi ke samudera karma.

只是佛菩薩──以情起用。悲智無涯。垂機度化。色心俱寂。

Hanya saja Buddha Bodhisattva menggunakan perasaaan dengan benar. Karuna Prajna tanpa batas, memberikan pengajaran Dharma, batin rupa dalam ketenangan.

我奉勸有志修行的行者,要避開:

Saya menghimbau supaya sadhaka yang sejati harus menghindari :

一、婬因──這是一念污染的心,男女都一樣,勿起一念污染。
1. Penyebab perbuatan cabul – sekali terlintas pikiran kotor, baik pria maupun wanita sama saja, jangan sampai timbul selintaspun pikiran kotor.

二、婬緣──這是避開非地,多種助成其婬的緣份,如男女瞻視隨逐均是也。宜避之。
Nidana perbuatan cabul – yaitu menghindari segala sesuatu dan beraneka macam nidana yang menyebabkan terjadinya perbuatan cabul, termasuk yang sepele sekalipun seperti saling memandang penuh arti.

三、婬法──對婬書、婬畫、摩觸稱嘆、婬具、婬店、資具方法,都應該避之。
3. Benda-benda cabul – harus menghindari buku cabul, Makian dengan kata cabul, alat-alat cabul, toko – toko cabul dan cara- cara cabul.

四、婬業──不著婬業,二根交接,成就婬事的事業,均不可為也。
4. Perbuatan cabul – jangan melekati tindakan cabul, bersatunya dua kemaluan, dan semua pekerjaan cabul, semua tidak boleh dilakukan.

今日此時,我寫下「當下的清涼心」、「當下的明燈」、「那老爹的心事」是奉勸迷者,幻夢要早醒,及時要 回頭,一般人回頭可延壽保命,可敦品勵志,可富貴綿長。而行者可覺世真修,清淨自在,解脫煩惱 。

Saat ini saya menulis Batin Teduh Seketika, Illumination dan Beban Pikiran Pak Tua adalah untuk menyadarkan yang tersesat, membangunkan yang sedang bermimpi, mengingatkan untuk berpaling, bila mau berpaling maka akan bisa memperpanjang usia, menjadi suci dan bermoral, serta memperoleh kemakmuran. Sadhaka dapat menyadari dunia dan memasuki pembinaan sejati, leluasa nan suci, terbebas dari kilesha.

勉之,勉之。
Camkanlah baik baik !

Leave a comment »

Paṇḍāravāsinī atau Guanyin Jubah Putih

Paṇḍāravāsinī atau Guanyin jubah putih adalah wujud Guanyin yang paling dipuja oleh Buddhisme Tiongkok dan bahkan agama Tao .

Walaupun Beliau memiliki wujud dewi, namun pada hakekatnya Beliau memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Dalam sutra disebutkan bahwa Pandaravasini adalah ibu dari Padmakula, atau Para Deitys kelompok teratai.

Beliau adalah aspek feminim dari Amitabha Buddha , Dhyani Buddhamatrka sebelah Barat.

Cintamani dari Pandaravasini

diterjemahkan oleh : Lianhua Shian,

Dulu Saya pernah menekuni satu mantra, yaitu Mantra Pandaravasini yang ternama, demikian mantra tersebut :

「南無大慈大悲救苦救難廣大靈感觀世音菩薩。南無佛。南無法。南無僧。南無苦救難觀世音菩薩。怛只哆。 唵。伽囉伐哆。伽囉伐哆。伽訶伐哆。囉伽伐哆。囉伽伐哆。娑婆訶。天羅神。地羅神。人離難。難離身。一切災 殃化為塵。南無摩訶若波羅密。」

“Namo Dacidabei Jiukujiunan Guandalinggan Guanshiyin Pusa. Namo Fo. Namo Fa. Namo Sheng. Namo Jiukujiunan Guanshiyin Pusa. Danzhiduo. Om. Jialuofaduo. Jialuofaduo. Jiahofaduo. Luojiafaduo Luojiafaduo Sapoho. Tianluoshen Diluoshen Renlinan Nanlishen Yiqiezaiyang Huaweichen.Namo Mohoboyeboluomi”

Karena Saya meyakini mantra ini, kemudian menjapakannya dengan tekun, telah terjadi kontak batin yang tak terhitung banyaknya. Belakangan Saya mendalami Tantrayana, barulah tahu bahwa Pandaravasini mempunyai gelar yang sangat agung dalam Tantrayana, yaitu Ibu Padma Permaisuri Pimpinan Samaya「蓮華母三昧上首明妃」

Mantra Pandaravasini dalam Tantrayana mirip dengan bagian atas dari mantra umum Pandaravasini dan Mahakaruna Dharani. Demikian Saya tuliskan di bawah ini :

「南無囉怛南怛囉夜耶。南摩阿唎耶。婆盧羯帝爍囉耶。摩訶薩埵耶。摩訶埵婆耶。摩訶迦盧尼迦耶。嗡。羯 致尾。羯致你。羯致羯知羯致。羯嚕吒微哩曳。娑婆賀。」

“Namo Heladannaduolayeye. Namo Aliye. Bolujiedisuobolaye. Putisaduoboye. Mohesaduoboye. Mohojialunijiaye. Om Jie zhi wei. Jie zhi ni. Jie zhi jie zhi jie zhi. Jie lu zha

wei li yi. Suoboho.”

Meskipun keduanya ada perbedaan,namun menurut sepengetahuan Saya, pahalanya sama, ikrar Avalokitesvara terlalu dalam, bisa dibilang menjawab semua doa, menolong yang menderita, mantra Avalokitesvara sangat banyak, sadhaka dapat memilih salah satu diantaranya, dengan sendirinya akan memperoleh kontak batin. Semua mantranya adalah sama.

Saya telah mempelajari mengenai Pandaravasini, menemui bahwa wujud dan mudra dari Pandaravasini saja adalah berbeda di tiap sutra. Contohnya ada yang tangan kiri memegang teratai, tangan kanan membentuk mudra varadha. Pandaravasini di Aliduolo Dharani dalam Bab Arolik, tangan kiri membawa pasa, tangan kanan membawa kitab Prajna. Ada lagi, Pandaravasini yang dilukiskan dalam Sutra Dharani Iddhi Amoghapasa, tangan kanan beranjali, tangan kiri membawa padma yang belum terbuka. Selain itu, dalam 5 Sutra Ekaksarausnisa, tangan kiri mudra varadha, tangan kanan membawa mutiara. Yang paling sering dijumpai adalah tangan kanan membawa kalasa, tangan kiri memegang dahan liu.

Saya tahu bahwa Pandaravasini yang tangan kanan memegang kalasa dan tangan kiri membawa dahan liu, adalah menyembuhkan penyakit dan mengentaskan dari derita.

Tapi yang tangan kanan membawa mutiara dan tangan kiri mudra varadha adalah mengabulkan kehendak.

Saya pernah memasuki Samadhi Padma Mahayana Tanpa Batas Berubah Menjadi Vajra, disitu Saya mengetahui mengenai sadhana tantra Cintamani Pandaravasini.

Terlebih dahulu harus mempersemayamkan pratima Pandaravasini tangan kanan membawa mutiara cintamani, tangan kiri mudra varadha. Sadhaka duduk dengan tenang di hadapan pratima. Kedua tangan beranjali, kesepuluh jari membuka membentuk seperti padma, disebut mudra padmaanjali. Mudra ini mewakili bagian Bodhisattva.

Memvisualisasikan wujud Pandaravasini, rambutnya terjalin teratai, tubuh berwarna putih mengenakan jubah surgawi, membawa Cintamani dan mudra varadha, memvisualisasikan satu persatu dengan jelas. Pada sata ini menggunakan kekuatan pikiran supaya cintamani memancarkan cahaya kuning yang benderang ke arah tengah mudra padma yang kita bentuk.

Kemudian seutas sinar kuning ini, ditengah mudra kita berbuah menjadi cintamani berwarna kuning, kemudian semua keinginan seperti uang, harta benda dan lain sebagainya muncul dari cintamani. Apapun yang kita inginkan akan muncul, sangat sempurna, sangat jelas dan banyak.

Saat telah selesai bervisualisasi,segera menjapa mantra Pandaravasini 108 kali, atau 21 kali atau 49 kali juga boleh.

Kunci dari sadhana ini:sinar kuning yang dipancarkan oleh cintamani,kemudian mudra kita menerima sinar kuning tersebut dan berubah menjadi cintamani berwarna kuning, kemudian menciptakan berbagai macam benda berharga, ini adalah visualisasi yang terpenting.

Sadhana Cintamani Pandaravasini ini adalah Saya Vajracarya Bermahkota Merah dan berpita suci memperolehnya dari Samadhi Pandaravasini, maka sangatlah berharga, walaupun sadhananya tampak sederhana, namun bila Saya tidak menuliskannya, siapa yang dapat memahami makna anutararahsaya nya.

Pandaravasini adalah salah satu diantara banyak perwujudan Avalokitesvara. Perwujudan Nya adalah yang paling agung dan Welas Asih, membuat sekali memandang timbul rasa hormat. Mengenakan jubah putih, dihiasi permata, tanggal 19 bulan 2 imlek adalah hari ulang tahun Nya, tanggal 19 bulan 6 imlek adalah peringatan hari pencerahanNya, sedangkan tanggal 19 bulan 9 adalah hari peringatan Beliau meninggalkan keduniawian. Bodhisattva ini paling memperhatikan dan suka menolong semua makhluk yang sedang menderita. Bila dapat bersadhana Cintamani Pandaravasini dalam ketiga hari tersebut, pasti akan memperoleh terkabulnya kehendak dengan baik.

Saya mengharap pembaca memperhatikan, semua sadhana dalam Vajrayana, harus bersarana pada Acarya, kemudian memohon abhiseka dari Acarya barulah bisa menekuninya. Dan lagi, semua sadhana dalam Vajrayana harus menjapa Catur sarana, melakukan mahanamaskara, mahapujana, simabandhana diri, semua mahasadhana maupun sadhana kecil, harus terdapat empat macam penjapaan dan gerakan ini.

「Catur Sarana」、「Mahanamaskara」、「Mahapujana」、「Simabandhana diri」 telah berulang kali Saya jelaskan dalam buku, mohon dibaca dengan seksama.

Menulis satu puisi untuk memuji 「Pandaravasini」

白衣大士人讚揚 (baiyi dashi renzanyang / Pandravasini yang dipuja umat manusia)

聞聲救苦濟善良 (wenshengjiuku ji shanliang / Penuh kebajikan mendengar suara dan mengentaskan dari penderitaan)

密法如意最巧妙 (Mifa ruyi zui qiaomiao / sadhanatantra pengabulan kehendak adalah paling menakjubkan)

莊嚴神威滿壇場。(Zhuangyan shenwei man tan chang / Keagungan dan wibawa Nya memenuhi mandala)

Leave a comment »

Prinsip penting seorang sadhaka

Beberapa Hal Penting Yang Harus Diperhatikan
Dalam Penekunan
Tantra

*1 Guru Mula
Bila Anda mengatakan Milarepa dan lain lain punya banyak Guru, Bisakah Anda memberi contoh seorang Leluhur Yang Telah Cerah selain Sakyamuni Buddha yang :

1. Dalam Mencari Guru lain bukan atas rekomendasi Guru lamanya
2. Yang Mencapai Pencerahan final bukan dari Dharma silsilah satu Guru.
3. Yang tidak menemukan Guru final dalam pencariannya.

*Memperoleh Abhiseka adalah syarat utama
Dalam Sutra Mahayana , Buddha Sakyamuni ada membahas mengenai pencuri Dharma.

*Mahaguru Liansheng sejak awal sudah menekankan bahwa Tantrayana tanpa Theravada dan Mahayana adalah bagaikan seorang tanpa anggota tubuh yang lengkap.

*Bodhicitta
Penekunan tantra apapun tanpa Bodhicitta akan membawa anda pada jalur rendah:
Yidam menjadi ilah ilah
Vajra krodha menjadi dewa kegelapan yang akan menyeret anda semakin dalam
Anuttara menjadi lubang tanpa dasar

*Pengetahuan boleh banyak, namun metode yang ditekuni adalah satu

*Mujijat bukan tanda utama keberhasilan
Dalam semua agama dan kepercayaan ada mujijat, jika hati tidak berubah (menjadi lebih sabar misalnya)  berarti Buddhisme yang kita tekuni adalah sebatas agama biasa, tidak ada sisi unggulnya dibanding agama lain.

*Konsultasikan pembinaan diri dengan satu Acarya pembimbing
(saya sudah saksikan banyak umat yang akhirnya bingung, bukan dapat hasil malah tambah kacau, sebab mereka menkonsultasikan satu hal yang sama pada banyak atau beberapa Acarya sekaligus seperti menanyakan yidam)
Ini juga merupakan tanda tanda Vajrasattva Yoga belum kontak, bagaimana mungkin dikatakan Vajrasattva Yoga kontak bila keyakinan mlempem.

*Tantra adalah penekunan rahasia, sadhana adalah konsumsi anda pribadi dan Guru pembimbing anda.
(sebab begitu disebarkan akan mengundang fitnah dan melecehkan Dharma. Lagipula banyak sadhana Tantra yang bila disebarkan pada orang lain maka anda akan sulit memperoleh realisasi)

*Jangan suka menyebarkan sadhana pribadi diri sendiri maupun orang lain, karena ada dewa penjaga samaya dibalik ini semua.
(Saya pribadi banyak sudah menyaksikan tindakan penyebaran tanpa disadari diikuti bertambah banyaknya halangan yg ditemui oleh orang yang menyebarkan dan makhluk yang tak kelihatan bahkan akan membuat mereka tidak menyadari kebodohannya. )

Lihat Ksitigarbha Sutra , mengenai akibat dari mentertawakan seorang penekun / pemuja. Bila anda menyebarkan sesuatu yg ditekuni orang dan bila orang yang tidak cukup pahala mendengarnya , bukankah akan dikecam dan menghasilkan fitnah ? ini termasuk sebagai perbuatan menghasut orang lain supaya ikut ikutan melecehkan.

*Sadhana Tantra bagai pisau
Digunakan dengan benar akan bermanfaat, jika salah akan melukai anda sendiri

*Sadhana Tantra bagai api
jika benar anda akan memperoleh manfaat tak terkira, ]
jika salah, anda akan terbakar

*Sadhana Tantra adalah anak tangga.
Tanpa fondasi anda akan roboh
Bila anda sementara bisa memmbangun anak tangga tanpa fondasi ini dengan berbagai cara, namun kejatuhan dari tempat yang semakin tinggi akan semakin meremukkan.

*Mahaguru telah memberi peringatan bahwa:
Penekunan sadhana Vajra tanpa memenuhi syarat , mujijat kecil mungkin ada (karena makhluk alam rendah bisa menyaru) namun bukannya manfaat yang anda temui malah rintangan yang akan muncul.

*Seumur umur saya belum pernah lihat seorang pemfitnah akan berakhir dengan baik.
Kalau toh belum ada akibat buruknya, maka itu belum berbuah akibatnya, justru tipe tipe yg belum ada apa apa ini yang akan sangat parah akibatnya.

Contoh : Devadatta
sudah berapa banyak beliau berusaha mencelakai Sakyamuni Buddha namun masih kuat dan sehat saja khan ? bahkan masih sakti.
Tapi akibat akhirnya ?

*Jangan terbuai hanya dengan mujijat kecil atau keinginan dipuji.
Yang paling tidak bisa kita tutupi adalah, musuh utama kita adalah diri sendiri, kelak mati yang kita hadapi adalah kekacauan dan tak terkokntrolnya kesadaran kita sendiri. Kemana larinya mujijat dan pujian ? mereka bisa tolong kita ?
jangan lupa ada banyak kejadian saat Mahaguru atau Amitabha Buddha sekalipun sudah datang namun umat yang ditolong karena ditutupi oleh kekeruhan kesadarannya sendiri akhirnya malah gagal dibawa ke Sukhavati.
Lihat juga pikiran kita saat ini dan taraf pengendalian kita, bila masih payah, perlu diketahui bahwa diri kita sendiri punya seribu satu muslihat untuk menipu dan menghibur diri sendiri.

Leave a comment »