Defenisi Samadhi

 

Ketika saya di Taiwan, suatu kali naik lift, bertemu dua orang umat Buddha, umur mereka berdua sekitar 60 an,

berpakaian seperti jubah bhiksu, atasannya kancing kain, bawahannya celana panjang.
Kostum demikian mirip sekali kostum kungfu.
Warnanya abu-abu muda.
Mereka mengenal saya.

Mereka berkata, “Dharmaraja Lu, Anda telah kembali ke Taiwan!”
Saya berkata, “Benar.” Saya balik bertanya pada mereka, “Kalian menekuni Dharma apa?”
Mereka menjawab, “Dharma mengamati hati.”
Saya bertanya, “Dharma mengamati hati itu dhyana?”
Mereka bengong.
Tidak dapat menjawab.

*

Sepengetahuan saya, sebenarnya istilah Dhyana ini sangat banyak, ada ruang yang membingungkan, banyak sadhaka kebingungan, benar-benar tidak mengerti.
Kita sering kali melihat beberapa istilah khusus, namun, tidak mengerti definisinya.
Sekarang saya khusus menjelaskan sebagai berikut:
SAMATHA. Ini mirip sekali dengan samadhi, sebenarnya tidak. Ini tidak memperkenankan untuk berpikir. Atau berarti menghentikan napas dan menghentikan pikiran, benar-benar mengosongkan pikiran sepenuhnya.
SAMAPATTI. Menggunakan kekuatan samatha untuk melakukan ketrampilan vipassana, seperti Dharma mengamati hati, yaitu menggunakan samatha untuk melakukan vipassana.
SAMAPANNA. Pada tahap ini, pikiran itu fokus, tidak kacau, mengamati kebenaran sangat jelas sekali, fokus sampai titik ekstrim.
DHYANA. Merupakan kondisi hati kesadaran pikiran, ia mencakup tiga ketrampilan di atas, dan bermacam-macam ketrampilan dhyana.
Dengan kata lain, Dhyana adalah surga Dhyana pertama hingga mencapai seluruh tingkat Arahat, semuanya tercakup di dalamnya.
SAMADHI. Ini adalah tingkat tertinggi, yakni vipassana Dharmakaya dan kondisi penyatuan Samyaksambodhi Tathagata atau cahaya anak masuk ke dalam cahaya induk dan keduanya saling melebur dengan erat dalam ajaran Tantra.
Melambangkan “satu”.
Juga “nol”.
Yakni Samadhi Anuttarasamyaksambodhi.

*

Mengenai istilah mandarin untuk kata “duduk meditasi”, “meditasi”, “dhyana”, “duduk dhyana”….
Semua ini adalah istilah yang membingungkan.
Maka, saya berkata, “Kacau, membingungkan, tidak jelas.”

Di dalam Mahaprajnaparamita Sastra menyebutkan tentang Samatha, Samapatti, Samapanna, Dhyana. Keempat tahap ini, boleh dikatakan istilah yang diucapkan orang pada umumnya tercakup di dalamnya atau Catur-dhyana-bhumi dari Rupadhatu.
Sedangkan Samadhi, boleh dikatakan adalah tingkatan catvari-sunyata dari Arupadhatu.
Merupakan Abisambodha.
Merupakan Buddhagrya.
Semua ini mesti dianalisa secara jelas, tidak boleh samar-samar.

source : buku 252 rahasia samadhi oleh Lien sheng Rinpoche..

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: