Apa Itu Yang Disebut Ajaran Buddha ?

Saya ingat siswa saya, DR. Zhang Chengji, menulis sebuah buku, “Apa Itu Ajaran Buddha?”
Sementara, Bingnan Li (Upasaka Xuelu), dengan sangat marah berkata pada saya, “Saya mau tanya dia, ajaran Buddha itu apa?”

Saat itu saya bungkam.

Sebab:
Satu adalah siswa saya.
Satu lagi adalah guru saya.

Kedua orang ini sangat saya hormati. Saat itu, usia kedua orang ini terpaut jauh dari saya.

Seseorang bertanya pada saya, “Ajaran Buddha itu apa?”

Saya menjawab, “Apapun adalah ajaran Buddha, apapun bukan ajaran Buddha!”

Seseorang bertanya, “Apakah ajaran Buddha mengajarkan orang-orang berbuat baik?”

Saya menjawab, “Berbuat baik adalah titik awal, bukan akhir.”

Seseorang bertanya, “Apakah ajaran Buddha itu filsafat?”

Saya menjawab, “Ajaran Buddha adalah filsafat di dalam filsafat, namun, ujung-ujungnya bukan filsafat.”

Seseorang bertanya, “Ajaran Buddha itu agama?”

Saya menjawab, “Ajaran Buddha bukan agama, namun, boleh dikatakan sebagai agama yang paling sempurna di antara segala agama.”

Orang yang bertanya pada saya meraba-raba hidungnya lalu pergi!

Saya terbahak-bahak. Sebab:
Ajaran Buddha memang sulit sekali dipahami!

Kita semua harus tahu —
Ajaran Buddha bukan ritual, melainkan semacam pencerahan.
Jangan menaruh curiga pada ajaran Buddha.
Juga jangan menjadikan ajaran Buddha sebagai dogma.
Ajaran Buddha bukan pandangan keabadian.
Ajaran Buddha bukan pandangan nihilistik.
Ajaran Buddha bukan pertapaan keras.
Ajaran Buddha juga bukan menyuruh Anda bersenang-senang.
Ajaran Buddha mutlak bukan pesimistik.
Ajaran Buddha juga mutlak bukan optimistik.
Bukan materialistik.
Bukan vijnana.
Ajaran Buddha bukan realistik.
Ajaran Buddha bukan melampaui realistik.
Ajaran Buddha bukan mencari di luar.
Ajaran Buddha juga tidak sepenuhnya mencari di dalam.
Ajaran Buddha bukan memuja Buddha, bukan memuja dewa.
Ajaran Buddha juga bukan memuja materi.
Di sini, saya khusus memberitahu Anda semua, “Ajaran Buddha adalah semacam cara mencapai pembebasan, jika kita telah terbebaskan, apapun bukan.”

Sang Buddha bersabda, “Dharma pun mesti dikesampingkan, apalagi bukan Dharma!”

Saya berkata, “Ajaran pun mesti dikesampingkan, apalagi bukan ajaran!”

Jika dipandang dari kacamata Madhyamika, delapan jalan mulia beruas delapan adalah Madhyamika, yang termuskil.
Jika dipandang dari kacamata Vijnana, Kesadaran Alaya adalah Vijnana, yang terhalus.
Sunya itu bukan kosong melompong.
Melainkan samar-samar.
Saya berkata:
Jika seseorang memahami kalimat ini, boleh dianggap ‘menemukan jalan kebenaran’ (Darsana-marga), tidak jauh dari ‘menyaksikan Buddhata’!

source :  buku”kunci langit” oleh Lien sheng Rinphoce

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: