Kitab Tripitaka

Gulungan Tripitaka

Saya pernah menghabiskan waktu membaca:
Sutra yang disabdakan oleh Sang Buddha.
Vinaya yang dibabarkan oleh Buddhisme.
Sastra dari para arya.
Memuji dengan kalimat, “Begitu rumitnya isi kitab suci, takkan habis dibaca seumur hidup.”

Belakangan:
Di Taoisme bersarana pada Taois Qingzhen.
Buddhisme Eksoterik bersarana pada:
Guru Yinshun.
Bhiksu Leguo.
Bhiksu Dao’an.

Saat menerima Sila Bodhisattva, 3 guru yang saya berlindung adalah:
Bhiksu Xiandun.
Bhiksu Huisan.
Bhiksu Jueguang.
(Berlokasi di Vihara Bishanyan, Nantou.)

Di Tantra Tibet, guru utama ada 4 orang:
Nyingmapa – Bhiksu Liaoming.
Gelugpa – Guru Thubten Dhargye.
Kargyupa – Gyalwa Karmapa ke-16.
Sakyapa – Guru Sakya Dezhung.

Sebenarnya, Bhiksu, Acarya, Rinpoche, Dharmaraja, Taois, arya …..  yang saya jalin jodoh. Tak terhitung!

Lalu, saya diupasampada menjadi bhiksu:
Mahathera Guoxian dari Vihara Huiquan, Hong Kong, mengupasampada saya.
Yang di atas adalah silsilah dan jodoh Dharma yang diserahkan pada saya.

*

Saya beritahu Anda semua, ingin belajar Buddha dan melatih diri, tentu mau tak mau harus ada “guru”, sehingga mencari guru bijak adalah sebuah rumus yang penting, jika Anda tidak memiliki guru, kitab sutra ibarat samudera, luas tak terhingga, bagaimana Anda mempelajarinya? Siapa guru bijak?

Pertama, mesti memiliki silsilah.
Kedua, mesti bijaksana.
Ketiga, mesti melatih diri hingga memahami hati dan mencapai pencerahan.
Keempat, mesti menyaksikan Buddhata.
Kelima, mesti memiliki bakat sekaligus pengetahuan.

Guru bijak ini mesti:
Menghentikan keserakahan dan menyingkirkan hasrat.
Kembali ke kemurnian.
Bersih dan tanpa pamrih.
Hati selalu ada Buddha.
Tidak duniawi.
Menghentikan popularitas dan keuntungan.

Ini barulah guru bijak yang sejati! Jika bukan, tidak boleh mengabdi. Atau berguru pada guru yang salah, maka menghabiskan semua waktu dan dana.

Yang namanya:
Jalan salah ada 3000.
Pintu samping ada 800.
Dan lebih banyak lagi jalan sesat.

Sehingga:
Mengenal guru bijak adalah rumus pertama.
Jika guru telah mencapai pencerahan, barulah dapat menuntun para murid mencapai pencerahan.
Jika guru menyaksikan Buddhata, barulah dapat menuntun para murid menyaksikan Buddhata.
Jika tidak ada guru, atau berguru pada guru yang salah:
Dengan usaha maksimal mendapatkan hasil minimal.
Jika ada guru, atau berguru pada guru bijak yang sejati:
Dengan usaha minimal mendapatkan hasil maksimal.

*

Ada orang bertanya pada Buddha, “Siapa paling besar?”

Buddha menjawab, “Orang yang menyatu dengan Marga adalah besar.”

Kini, siapa yang dapat menyatu dengan Marga? Siapakah guru bijak?

source : http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=23&csid=260&id=3

 

 

Dizaman sekarang mencari seorang guru yang bijak seperti mencari jarum ditengah jerami…yang ada didepan mata jangan kau abaikan….setiap orang suci pasti ada yang memfitnah….telaah dengan seksama…Arya Atisha saja mengamati calon gurunya setahun…semua ada jodohnya hanya jangan mengabaikan waktu yang terus berjalan…jangan terlambat..

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: