Menjapa Mantra

Tantrika yang Berhasil Merealisasikan RAINBOW BODY

melalui Keberhasilan menjapa “OM MANI PADME HUM”

密宗虹身成就略記 -六字大明咒成就

King Trisong Deutsen (赤松德贊王)

藏地國王赤松德贊曾經說過︰不僅修持深要密法者能得成就,甚至只念密咒也能成就。

Raja Tibet Trisong Deutsen pernah berkata, : “Tidak perlu menekuni Tantra dengan mendalam baru bisa memperoleh realisasi.  Bahkan hanya dengan menjapa mantra tantra saja bisa memperoleh realisasi.

Pada jaman dahulu di India Barat ada seorang putera Brahmana,

sejak kecil memiliki sraddha pada Tri Ratna, beliau memiliki sradha yang lurus dan pandangan yang benar, kemudian beliau bersarana pada Hevajra dan memperoleh Dharma Tantra, Beliau menekuni Sadaksari mantra di dalam gua di sebuah gunung yang bernama Muka Dewa, akhirnya mencapai keberhasilan sinar pelangi tanpa meninggalkan sisa tubuh jasmani.

Saat itu, bebatuannya berubah menjadi stupa kristal.

Dalam sejarah India tercatat : Seorang kakek berusia 80 tahun, sangat yakin kepada Tantra, namun beliau tidak dapat membina diri berdasarkan segala aturan dan teori yang kompleks,  seumur hidupnya digunakan untuk menjapa Sadaksari seratus juta kali,  akhirnya memperoleh siddhi panjang usia.  Setelah hidup sampai 300 tahun, langsung terlahir di Sukhavatiloka tanpa meinggalkan mayat jasmani di dunia.

Ada lagi, seorang wanita yang menjual diri di Nepal, hidupnya dihabiskan untuk menjual diri memuaskan nafsu birahi, kemudian bersarana pada Acarya Sejati, bertobat dan dengan disiplin ketat menjapa Sadaksari seratus juta kali, sampai merealisasikan tubuh pelangi, tubuhnya yang semula kotor dan hina menjadi tersucikan berubah menjadi Dewi Tara, terbang mengangkasa, tanpa meninggalkan mayat bau di dunia, Beliau terlahir di Tanah Suci Avalokitesvara, kejadian ini dilihat langsung oleh banyak orang.

Generasi ke 49 噶托拉西覺卓 yang telah parinirvana pernah berkata︰ Dulu di Tibet ada seorang yang karma membunuhnya sangat berat, kemudian bertemu dengan bijaksanawan pembimbing, memotong segala kejahatan dan menjalankan kebajikan, dengan sepenuh hati dan tulus menjapa Mantra Hati Quanyin, sampai akhirnya semua kesalahannya tersucikan, tujuh kali berjumpa dengan Yidam Quanyin Pusa, saat beliau meninggal dunia timbul fenomena cahaya pelangi dan banyak keagungan, setelah dikremasikan, terdapat sarira rupang Quanyin sebesar 1 inch.

Menurut Catatan Para Siddha Rainbow Body —

Anda yang memperoleh Cintamani (mantra hati Guanyin) ini dan menekuninya,

leluhur 7 keturunanmu akan memeperoleh kebebasan. 。

Semua makhluk dalam perut praktisi ini kelak akan memperoleh tingkatan Bodhisattva yang tak mundur lagi.

Bhutan adalah tempat suci dimana Padmasambhava menerima Vyakarana.

Di sana ada seorang nenek berusia 113 tahun,sampai sekarang masih sehat. Beliau mulai menjapa Sadaksari Mantra sebagai latihan utama saat berusia 50 tahun, setiap hari menjapanya paling sedikit diatas 10ribu kali, bahkan seringkali dalam sehari bisa menjapa 40 sampai 50 ribu kali. Kemudian, saat beliau berusia 80 tahun, tiba tiba tumbuh gigi baru ! Walau sekarang telah berusia 113 tahun, namun masih banyak rambut yang hitam. Sampai sekarang masih terus menjapa Sadaksari tanpa putus.

*** Dulu di Bhutan ada seorang ibu tua, hidup sampai usia 90 tahun an. Sewaktu muda dia telah menikah, juga telah mempunyai putera dan puteri… di masa tuanya beliau menekankan pada penekunan japa mantra hati Guanyin Pusa, di masa tuanya matanya juga buta, namun masih tetap tulus menjapa mantra hati Guanyin Pusa. Oleh karena ketekunannya, beliau memperoleh siddhi menyembuhkan penyakit. Bila ada orang sakit yang sukar disembuhkan, maka mereka akan mencari ibu tua ini, setelah memperoleh adhistana ibu tua ini, si sakit benar benar tersembuhkan!

Cara penyembuhan yang digunakan ibu tersebut : Bila si sakit dapat datang secara langsung, ibu itu akan menjapa mantra hati Guanyin Pusa, lalu meniupkan hawa murni ke tubuh si sakit…. Namun bila si sakit tidak dapat hadir secara langsung, si ibu tua akan menjapa mantra lalu meniupkan hawa murni ke arah suatu benda atau batu yang bersih, kemudian wakil si sakit membawa benda suci tersebut untuk di masukkan ke dalam air minum si sakit. dengan demikian, dengan alamiah si sakit akan tersembuhkan. Bila ibu tua tersebut sedang bermeditasi di pinggir sebuah pohon, kemudian kebetulan ada orang yang memohon bantuannya, karena ibu itu buta maka beliau akan mengambil daun pohon, setelah menjapa Sadaksari ribuan kali, beliau akan meniupkan hawa murni ke arah daun, maka daun tersebut bisa digunakan untuk memberikan adhistana pada orang yang sakit, selain itu kadang beliau menggunakan misalnya, lempung, pasir, batu , obat obatan dan lain sebagainya.

*** Dulu, di sebuah tempat di Xikang, ada seorang sadhaka penekun Sadaksari yang memperoleh realisasi. Di akhir masa hidupnya, ia melewatkan dengan tinggal di hutan ataupun tempat yang jauh dari khalayak, beliau telah melepaskan ikatan keduniawian, dengan hidup sederhana, beliau melewatkan hari hari nya dengan penjapaan, biasanya bagi yang memperoleh realisasi dari penekunan Dharma Tantra adalah orang yang menekuni mandala dan berbagai tata cara, kemudian melakukan retreat penjapaan dan memperoleh realisasi. , Namun Siddha ini hanya menggunakan metode japa Sadaksari. Beliau memperoleh yoga Anuttara yang membuat takjub setiap orang. Suatu hari, karena jodoh yang telah matang, beliau datang berpindapatta ke pemukiman kaum bangsawan yang sombong …. Ada seorang bangsawan yang puteranya sakit parah dan tak ada yang bisa menolongnya,  karena melihat seorang siddha yogi yang berpindapatta, ia dengan sombongnya bertanya : “Bukankah kamu seorang sadhaka?”

Siddha menjawab, “Ya. Saya adalah seorang biasa yang mempelajari Dharma.”

“Apakah kau punya pencapaian?”

“Ada. Saya punya pencapaian.”

“Baik! bila kau ada pencapaian,maka bantulah saya menyembuhkan orang sakit. Apa syaratmu ?”

Sebenarnya bangsawan tersebut tidak sepenuhnya percaya.

Dengan tegas Siddha menjawab, ” Saya tidak perlu apapun!”

Kemudian Siddha memasuki rumah bangsawan dan bersiap menyembuhkan penyakit dengan menggunakan kekuatan mantra. Namun, karena sang bangsawan sombong sudah terbiasa dengan tata cara kaku Tibetan Buddhism, maka dengan sok nya dia mengumpulkan para biksu untuk membuatkan torma penyingkiran halangan. Setelah Sang Siddha duduk, Beliau memasuki samadhi yang mendalam melalui penjapaan Sadaksari Mahavidya. Berdasarkan permohonan si bangsawan, beliau harus melakukan ritual penyingkiran halangan menggunakan torma. Tak disangka Sang Siddha melakukannya tidak seperti lazimnya membuang torma tersebut ke luar rumah. Malahan beliau membuangnya ke arah si sakit. Orang orang di situ semua menjadi terkejuta dan berdiri melihat ulah Sang Siddha yang tidak sesuai tata cara pakem. Semua meradang melihat Sang Siddha demikian ceroboh dan melawan peraturan. bangsawan sombong kemudian menyuruh orang membuatkan torma lagi. Sang Siddha tetap tidak membuangnya ke luar rumah. Si bangsawan marah bukan kepalang, akhirnya mengumpat Sang Siddha sebagai seorang penipu yang cuma ingin makan dan minum, tidak terpelajar dan tidak tahu aturan, cari cari masalah. Bangsawan ingin membunuh Sang Siddha. Kemudian Sang Siddha memasuki samadhi mendalam menjapa Sadaksari Mahavidya. Kemudian berkata : “Sakit anak ini tak mudah disembuhkan….namun jangan kuatir, biar Saya pergi mengambil obat khusus. ” Selesai bicara beliau langsung keluar…. Dalam hati bangsawan berpikir: “Baiklah~ dasar penipu mau melarikan diri, aku akan memberimu pisau dari belakang! menghabisi brengsek satu ini!” Bangsawan sambil membawa pisau, diam diam mengikuti Sang Siddha memasuki hutan… Saat Bangsawan mencari kesempatan yang tepat untuk menikam Siddha, sementara itu langkah mereka telah sampai di tepi danau…. Siddha membungkuk mengambil air danau, kemudian menjapa Sadaksari dan meniupkan hawa murni ke arah air dalam tangan kemudian membuang air tersebut ke arah atas di hadapannya…. Tiba tiba air tersebut berubah menjadi sebuah tangga kristal menuju bukit di seberang. Sang Siddha berjalan menuju bukit, tiap langkahnya selesai menginjak satu bagian jembatan, satu bagian di belakang langsung sirna… Si bangsawan mengintip dari kejauhan sambil melongo... Kemudian keesokan harinya Sang Siddha kembali lagi ke rumah si sakit, memberikan obat yang bisa menyembuhkan. Akhirnya bangsawan sekeluarga yang semula sombong dan sangat kaku pada aturan kulit belaka menjadi sungguh hati mendalami Dharma yang menembus sanubari. Mereka semua bersujud dan menyerahkan diri pada Avalokitesvara Bodhisattva dan menekuni mantra Sadaksari Mahavidya.

*** Kesaksian seorang umat di Taiwan : Saat di bangku kuliah, aku mulai menekuni mantra hati Quanshiyin Pusa, sampai memasuki kondisi di manapun selalu mendengar dan di saat apapun selalu mendengar kesejukan Sadaksari. Entah itu saat makan, jalan, mandi dan bahkan tidur , dalam hati selalu ada kejernihan gema dan cahaya Sadaksari. Semakin lama waktu penjapaan semakin bertambah, penembusannya semakin mendalam, sampai sampai jasmani dan rohani , kedalaman batin saya merasakan kedamaian yang manis , yang selama ini belum pernah saya alami. Kedamaian dan kebahagiaan seakan langit dan bumi , seisi semesta dipenuhi kasih Avalokitesvara. Bagaimanapun kacaunya kondisi luar , namun dalam batin saya tetap jernih bagai padma di atas lumpur sehingga mampu melihat berbagai hal dengan jernih pula. Pada mulanya, aku menjapa mantra hati Avalokitesvara adalah karena kondisi pikiranku yang tidak tenang dan penuh dirundung masalah, akhirnya berpaling pada Dharma… Suatu sore, pulang dari kuliah, sambil menyanyi lirih dan menaiki motor aku menyusuri jalan pulang. Sampai di perempatan Hepingdonglu dan Xianghuananlu, aku menerobos lampu merah…tiba tiba ada sebuah mobil meluncur dari samping, dan saya menghindarinya sampai kehilangan kendali kemudian posisi motor sudah hampir jatuh , dengan refleks aku menyebut Om Mani Bei Mi Hum, seketika itu juga ban motor dengan ajaibnya bisa berbelok dengan cepat kembali ke posisi semula dan melanjutkan perjalanan lagi dengan lancar, orang orang di tepi jalan juga melongo ke heranan….. Aku juga tidak dapat menjelaskan bagaimana bisa demikian… namun dalam hati aku tahu, ini adalah belas kasih Pusa yang membantuku menyingkirkan petaka. Om Mani Beimi Hum yang diatas mengenai penjabaran pahala dari Sutra Karandavyuha pada dasarnya telah selesai. Baris tulisan mandarin di bawahnya adalah tentang keagungan Avalokitesvara. Sedangkan di postingan di bawahnya lagi adalah catatan teks Tantra mengenai para umat yang berhasil realisasi Rainbow Body melalui Mantra Hati Guanyin Pusa. Kelak akan saya posting lagi sumber lain mengenai keluhuran mantra hati Guanyin Pusa. Mohon diingat lagi, bahwa yang dimaksud dengan kata MENJAPA bukan hanya asal mengucap. namun keberhasilan menjapa itu semua diperoleh dari latihan yang tekun. Hasil dari suatu mantra bukan hanya dilihat dari apakah yang tekun menjapa jadi kaya raya bergelimang harta atau tidak , melainkan sejauhmana kilesha atau keruwetan dalam batinnya berkurang .(seperti sebagian rakyat Tibet yang BENAR BENAR menekuni mantra ini, yang hidupnya sederhana dan bersahaja)

1 Response so far »

  1. 1

    Lian Hua said,

    Raja Tibet Trisong Deutsen pernah berkata, : “Tidak perlu menekuni Tantra dengan mendalam baru bisa memperoleh realisasi. Bahkan hanya dengan menjapa mantra tantra saja bisa memperoleh realisasi.
    藏地國王赤松德贊曾經說過︰不僅修持深要密法者能得成就,甚至只念密咒也能成就。


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: