Meditasi Anapanasati

by Gm Lien sen
dari majalah Cen fo indonesia nov-des. 2003

Pada umumnya setiap umat Buddha pasti mengenal apa itu Anapanasati.
Yaitu suatu metode meditasi yang sangat sederhana dan dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja tanpa ada pantangan atau larangan tertentu.
Namun karena terlalu sederhana kita jangan meremehkan metode ini. Banyak sekali rumus-rumus inti yang harus diperhatikan dalam metode ini dan semua itu kita bahas dengan lebih rinci dan mendalam.
Dibawah ini saya akan perjelaskan satu persatu rumus inti tersebut,setelah itu saya harap anda bisa mengerti dengan sendirinya. Contohnya, metode meditasi dengan obyek benda-benda kotor dan obyek tulang belulang adalah suatu metode yang sangat rumit.

Maksud saya agar jangan meremehkan merode anasanapati bukan tanpa sebab. Ketika sang Buddha memberikan pelajaran kepada siswa-siswanya, beliau berpesan bahwa setelah mengerti metode Anapanasati, hendaknyak ita kembali kedalam goa atau dibawah pohon tempat meditasi masing-masing untuk mempraktekkan metode ini. Dengan metode ini, tidak sedikit siswa sang Buddha ketika itu berhasil mencapai tingkat Arahat.
Jadi metode ini diperuntukkan untuk umat awam untuk mencapai penerangan sempurna, jangan sekali-sekali memandang remeh dan tidak menjalankannya.

Rumus inti pertama dari metode Anapanasati adalah

Ketenangan jiwa raga

Ini dapat dicapai dengan mengatur atau mengusahakan menghitung keluar masuknya udara dari hidung. Ketika menjelaskan metode meditasi tantrayana saya pernah menekankan pentingnya tarikan napas halus, pelan dan panjang ini dapat membawa kita pada kondisi batin yang tenang secara jiwa dan raga dan selanjutnya akan membawa kita ke dalam jhana baik lahir maupun bathin.
Bila yang terjadi sebaliknya yakni tarikan napas yang kasar dan tergesa-gesa dan pendek maka itu pertanda kita sedang dalam kondisi sakit , marah , lelah . ketakutan dan tidak stabil.
Tarikan napas yang halus , pelan dan panjang dapat membawa ktia pada kondisi batin yang tenang secara jiwa dan raga sedangkan tarikan napas yang kasar, cepat dan pendek akan mengakibatkan kita berada dalam kondisi abnormal baik jiwa maupun raga.

Begitu kita mempraktekkan metode anapanasati, kita kan segera merasakan, bila kita tidak memperhatikannya maka kita tidak akan pernah tahu panjang –pendeknya napas kita, tetapi dengan mempraktekkannya kita menjadi tahu napas kita sebenarnya ada yang panjang dan ada juga yang pendek.
Nah tugas kita adalah mengatur dan menjaga keseimbangan antara napas yang panjang dan pendek itu. Dengan terjaganya keseimbangan antara napas panjang dan napas pendek, kita menjadi mengenal lebih dalam dan lebih rinci pada pernapasan kita sendiri.
Yang pertama-tama yang harus dikenali begitu mempraktekkan Anapanasati adalah :
Apa itu napas panjang (pernapasan lengkap)?
Apa itu napas pendek (napas yang tergesa-gesa) ?
Apa itu napas yang alamiah ?
Bagai mana cara kita mengatur napas agar kita dapat memasuki meditasi ?

Sang Buddha memperkenalkan 3 macam pernapasan.

1. Pernapasan lengkap (pernapasan panjang).

Andaikan ada sebuah jarak antara hidung dan empat jari dibawah pusar (tan thien).

Posisi hidung di atas dan tanthien di bawah. Setiap napas yang kita hirup, masuk melalui hidung dan diteruskan sampai tan thien. Dan napas yang kita buang dimulai dan tanthien hingga ke atas keluar melalui kedua lubang hidung.

2. Pernapasan Alamiah (pernapasan biasa)

Napas ditarik dari kedua lubang hidung dan masuk kedalam paru-paru, lalu napas yang dibuang juga mulai dari paru-paru dan dihembuskan keluar dari kedua lubang hidung.

Anda sama sekali tidak perlu mencoba untuk merasakannya, karena semua itu berlangsung secara otomatis tanpa dapat kita rasakan.

3. Pernapasan pendek (pernapasan yang tergesa-gesa). Pernapasan ini hanya berlangsung dalam jarak antara hidung dan mulut saja. Ini merupakan gejala pada mereka yang menderita penyakit asma (sesak napas).

Sang Buddha pernah berkata : Dengan pernapasan panjang, tubuh kita akan menjadi lemas lalu memasuki suasana tenang dan damai.

Dengan pernapasan pendek, tubuh kita akan menjadi kaku, kasar dan diikuti perasaan gelisah.

Ketika berada dalam Samadhi, kita akan merasakan sebuah rahasia bahwa pernapasan-pernapasan itulah yang selama ini menguasai seluruh organ tubuh kita. Oleh karena itu kita harus segera melatih cara bernapas kita diselaraskan dengan ketiga macam pernapasan tersebut diatas.

Tujuan nya adalah untuk melacak sebab-sebab dibalik sebuah pernapasan dan juga untuk mengetahui pengaruh-pengaruh yang diakibatkan oleh sebuah pernapasan. Diharapkan dengan cara menutup kedua belah mata saja, maka dalam sekejap pernapasan-pernapasan kita segera akan menjadi selaras dan rata.

Untuk memperaktekkan pernapasan panjang dibutuhkan 2 cara sebagai berikut.

  1. Pikiran yang bergerak mengikuti jalannya pernapasan, artinya pikiran dan hati kita bergerak seiring dengan bergerak dan naik turunnya napas kita. Pikiran dan napas menjadi satu, sehingga pikiran adalah napas kita begitu juga dengan napas adalah pikiran kita.
  2. Perhatian dipusatkan pada ujung hidung, dengan memandang ujung hidung kita. Sendiri. Perhatian di pusatkan ke ujung hidung, maka perhatian hidung juga dipusatkan ke pikiran/hati selanjutnya pikiran dipusatkan pada keluar masuknya nudara.

Yang paling perlu diperhatikan disini adalah memperhatikan dan menjaga lubang hidung agar dapat mengetahui dan menyadari adanya udara yang keluar masuk dari lubang hidung.

Metode cara yang pertama adalah mengikuti jalannya pernapasan, sedangkan yang kedua adalah menjaga dan memperhatikan keluar masuknya udara dalam pernapasan kita.

Baik cara pertama dan kedua harus sama-sama menjaga keseimbangan antara udara yang keluar dan udara yang masuk harus sama panjang tarikannya sama rata, sama halus dan sama lambatnya, semua itu harus diperhatikan satu persatu.

Mereka yang pertama kali belajar metode ini biasanya akan segera kehilangan konsentrasi dan kesadaran tidak lama setelah memperaktekkannya, pikiran akan melayang-layang entah kemana. Pada saat itu lakukanlah pernapasan sedikit keras, itu tidak apa-apa karena dengan demikian perhatian dan konsentrasi kita akan kembali dipusatkan. Dan itu adalah salah satu cara untuk mengembalikan konsentrasi yang terpecah.

Seorang sadhaka setelah berhasil mengatur keluar masuknya udara dalam pernapasan

Sampai terasa halus , pelan dan panjang. Pernapasan itu sangat rata dengan panjang dan pendek yang sebanding. Maka dapat dikatakan dia telah mencapai keberhasilan tahap pertama dalam memperaktekkan metode anapanasati.

posisi telapak tangan kiri di atas telapak tangan kanan untuk pria sedangkan wanita posisi telapak tangan kanan di atas tangan kiri.

Selanjutnya yang harus diperhatikan adalah masalah konsentrasi.

Konsentrasi itu diperlukan baik untuk cara pertama yaitu “mengikuti” dan juga cara kedua yaitu “menjaga” kedua lubang hidung. Kedua cara ini sama baiknya yang penting harus diperhatikan adalah menjaga konsentrasi. Yang harus dicapai baik dengan cara mengikuti maupun cara menjaga adalah :

Apakah keluar masuknya udara masih kasar ?

Apakah keluar masuknya udara sudah halus ?

Menyadari adanya udara yang masuk juga sadar akan udara yang keluar ?

Jangan meremehkan kedua cara tersebut di atas. Dengan praktek secara continue lama-kelamaan sebuah perasaan akan timbul.

Perasaan ini adalah salah satu dari “delapan perasaan tubuh” yang terdiri dari perasaan-perasaan bergetar, gatal, ringan, berat , dingin, hangat , kasar dan licin. Sebagaimana pernah saya singgung di awal tulisan dalam menghadapi delapan perasaan tubuh ini boleh saja kita memberikan reaksi yang sepantasnya. Selain 8 perasaan tubuh tersebut, mungkin juga timbul perasaan-perasaan sengsara, menderita atau juga perasaan nikmat dan nyaman, rasa kantuk, kepala merunduk, tertidur dan gejala-gejala lain bisa muncul. Selain itu perasaan-perasaan buruk yang pernah kita rasakan sehari-hari seperti marah, sebal, terhina, tak tahu malu, iri, dengki dan sebagainya juga bisa muncul. Juga khayalan, kegelisahan, penderitaan , dan kemelekatan juga bisa muncul.

Bila perasaan-perasaan itu muncul maka kita harus melepaskan semuanya, jangan melakukan apapun, jangan perdulikan apapun, tetap ikuti petunjuk menurut konsep buddhis yaitu kenali wajah asli dari perasaan-perasaan yang timbul. Semua perasaan-perasaan buruk seperti kemelekatan, ego, ngotot, angkuh dan sebagainya harus dikikis satu persatu. Semua perasaan yang timbul harus dihadapi dengan bijaksana temukan akar sebab-musababnya lalu kenali jati dirinya yang asli.

Berdasarkan pengalaman saya ketika menghadapi gangguan macam-macam perasaan tersebut, maka cara terbaik untuk mengendalikannya adalah melakukan meditasi “delapan negasi” atau “delapan tidak”

Yang dimaksud dengan delapan negasi itu adalah :

–         tidak dilahirkan

–         tidak musnah

–         tidak terputus

–         tidak kekal / anitya

–         tidak tunggal

–         tidak berbeda

–         tidak pergi

–         tidak datang.

Bila kita dapat bersikap tidak melekat dan tidak menjauhi macam-macam perasaan yang timbul dan tetap memusatkan konsentrasi dalam meditasi anapanasati tanpa terpengaruh oleh perasaan-perasaan itu, maka itu telah membuktikan bahwa kita telah mencapai tingkat kekuatan jhana yang amat tinggi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: