tips meditasi dari Kantaviriya

Pencapaian Meditative

1 Obhasa (Sinar yang gemerlap)

– Sinar seperti kunang-kunang, obor, lampu, dll

– Seluruh kamar terang sehingga badan sendiri dapat dilihat

– Sinar yang menembus tembok-tembok kamar, seperti tidak ada tembok

– Sinar yang memungkinkan untuk melihat bermacam-macam tempat yang timbul

– Sinar terang, seperti melalui pintu yang terbuka, kadang-kadang orang mengangkat tangannya untuk menutupnya, atau membuka matanya untuk melihatnya, atau mengangkat tangannya untuk mengamatinya

– Sinar terang yang memungkinkan orang dapat melihat bunga-bunga dengan bermacam-macam warna yang timbul dekat dihadapanya

– Sinar yang memungkinkan orang dapat melihat laut yang jauhnya berkilo-kilo meter

– Cahaya terang yang seolah-olah keluar dari badan dan hati si meditator

– Bayangan gajah, binatang dll seperti hayalan

2 Piti (kegiuran) yang nyaman, terdiri atas 5 macam yaitu;

Khudaka Piti

– Melihat warna putih

– Merasa dinggin, rambut berdiri sampai kebelakang kepala berat dan pusing

– Air mata keluar, dan merasa ketakutan

Khanika Piti;

– Melihat sinar berkelebat di mata

– Melihat kembang api berhamburan dari percikan batu

– Gugup dan terkejutan

– Kaku seluruh badan

– Merasa seperti banyak semut merayap di badan

– Gemetar atau mengigil

– Melihat bermacam-macam warna merah

– Rambut sering berdiri sampai ke belakang, tapi tidak lama

– Terasa gatal seperti ada semut atau kutu merayap di muka kita atau dibadan

Okkantika Piti;

– Badan goyang, bergerak, berayun, dan gemetar

– Muka, tangan, kaki tegang dan meregang

– Gayang dan bergerak naik turun seperti tempat duduk kita akan terbalik

– Merasa seperti mabuk laut, dan sewaktu-waktu dapat muntah

– Merasa seperti ombak menyentuh pantai

– Merasa seperti di ombang-ambing ombak

– Merasa bergetar seperti sebuah tongkat yang dipegang ddi dalam arus air

– Melihat warna kuning muda

– Badan bergoyang ke muka dan belakang

Ubbonga Piti;

– Badan terasa semangkin besar dan naik

– Buang air mencret dan disentri

– Merasa di dorong oleh seseorang

– Merasa kepala di putar ke kiri dank e kanan oleh seseorang

– Badan ber goyang-goyang seperti ditiup angin badan bungkuk ke muka hinga bias mencapai lantai

– Badan terasa melompat

– Lengan dan kaki dapat terangkat sendiri

– Badan dapat membonkok kemuka dan kesamping

– Melihat warna kelabu seperti mutiara

Phara Piti

– Rasa dingin meliputi seluruh badan

– Ketenangan pikiran timbul sewaktu-waktu

– Merasa gatal seluruh badan

– Merasa mengantuk dan segan membuka mata

– Tidak ada keinginan untuk mengerakan badan

– Perasaan ringan mengalir dari kaki ke kepala, dan sebaliknya

– Badan merasa dingin serasa sehabis mandi, atau tersentuh dengan es

– Melihat warna biru atau hijau seperti daun pisang yang kelabu atau seperti jambrut

– Merasa gatal seperti ada kutu yang merayap di muka

3 Passadi (ketenangan bathin)

– Tenang dan aman seperti telah mencapai penerangan sejati(phala-samapatti)

– Tidak ada gegelisahan dan penyelewengan pikiran

– Pengenalan dan penyadaran berlangsung dengan mudah

– Merasa sejuk dan enak, tidak gelisah

– Merasa puas dengan pengenalan dan penyadaran

– Merasa terserap seperti akan tertidur

– Merasa ringan gesit dan lincah

– Konsentrasi berlangsung dengan baik, tidak lalai

– Pikiran sangat terang

– Bagi orang yang bengis, kejam, kasar, tidak punya kasih sayang, akam terasa bahwa dhamma itu sangat dalam dan mulia, dan di hari depan ia ingin berhenti berbuat kejahatan, hanya berbuat kebaikan saja

– Orang yang tergolong bajingan dan pemabuk dapat menyadari dirinya dan ingin bertobat, membuang kebiasaan yang jelek, dan ingin menjadi orang yang baik.

4 Sukkha ( kebahagiaan)

– Merasa gembira

– Merasa senang, terhibur, nikmat, dan tidak ingin berhenti tetapi mau meneruskan latihan sampai waktu yang lama.

– Ingin berbicara dan memceritakan kepada orang lain tentang hasil-hasil meditasi yang telah didapatinya

– Bangga dan gembira yang berlebih-lebihan

– Di antaranya ada yang sampai berkata, bahwa sejak lahir ia belum pernah merasakan kebahagiaan seperti yang dialaminya itu.

– Banyak memikirkan kebajikan gurunya

– Merasa diri sudah siap untuk memberikan pertolongan

5 Saddha (keyakinan)

– Keyakinan terlalu tebal

– Mengharapkan setiap orang ikut berlatih

– Ingin mendorong-dorong mereka yang sudah punya niat berlatih

– Ingin membayar jasa atas kebajikan dari tempat-tempat meditasi

– Ingin supaya latihanya lebih baik, lebih berhasil lebih cepat.

– Ingin melakukan perbuatan-perbuatan yang bajik, dan memberikan dana-dana, memdirikan dan memperbaiki bangunan bangunan tempat suci

– Merasa hormat kepada orang-orang yang menganjur-anjurkan atau mempropagandakan latihan meditasi

– Ingin memberikan persembahan pada gurunya

– Ingin memjadi bhikkhu/bhikkuni atau tabib

– Ingin berdiam lama dalam latihan dan tidak ingin memnghentikan latihanya

– Ingin pergi dan berdiam di suatu tempat yang sepi dan tenang

– Bertekad untuk melakukan latihan dengan tekun dan sunguh-sunguh

6 Paggaha (usaha)

– Lebih rajin dari yang semestinya

– Berniat melakukan latihan yang sunguh-sunguh terus menerus sampai mati

– Hanya terlalu bersemangat, sehingga perhatian dan kesadaran menjadi lemah, lalu menyebabkan lemahnya Samadhi (konsentrasi)

7 Upatthana (ingatan yang terang)

– Penyelewengan dari kesadaran, karena tidak memperhatikan saat yang sekarang ini, tetapi pikiranya cenderung pada soal-soal yang telah laud an yang akan datang

– Hanya teringat pada hal-hal dan kejadian-kejadian yang telah lalu

– Seolah-olah orang dapat melihat kehidupanya yang telah lalu

8 Nana (Pengetahuan)

– Soal belajar menjadi tercampur dengan praktek latihan, salah mengerti, dan mengangap diri benar, merasa gagah dan bergaya dan melawan pada gurunya

– Member komentar pada bermacam-macam objek, seperti pada naik turun perut, umpama naik-turun berhenti, dan lain-lainya.

– Memikirkan bermacam-macam hal yang telah diketahui atau telah dipelajari

– Proses yang terjadi pada saat sekarang ini tidak terpegang atau tidak disadari, hanya berpikir belaka, sehingga membentuk “pengetahuan pikiran” atau Citta-nana

9 Upekkha 9keseimbangan)

– Pikiran tidak bergerak, tidak merasa senang atau tidak tidak-senang, seperti terlupa atau terlelap, dan naik turunya perut menjadi tidak terang, dan kadang-kadang tidak merasakan

– Tidak sadar atau seperti tidak berpikir apa-apa

– Naik turunya perut kadang-kadang terasa, kadang-kadang tidak berasa

– Pikiran tidak tergangu dan tidak aman

– Lambat sekali terhadap hal-hal kesejahteraan

– Tidak terpengaruh kalau berhubungan dengan objek-objek yang baik atau buruk, pengenalan tidak terlalu dihiraukan, dan kesadaran yang tertuju pada objek-objek di luar (yang terjadi berikutnya) menjadi lebih luas

10 Nikanti (kepuasan)

– Puas terhadap bermacam-macam objek

– Puas terhadap cahaya, kesenangan, kebahagiaan, keyakinan, usaha, pengetahuan, dan keseimbangan

– Puas terhadap bermacam-macam NIMITTA.

Timbulnya 10 macam Vipassanupakilesa

atau 10 macam kekotoran

Vipassana dalam Nana

Inilah lima rintangan yang harus kita hindari

dalam meditasi, agar buah meditasi

dapat di realisasikan;

1, Nafsu indra/Nafsu Keinginan

2, Kedengkian/Niat jahat

3, Keengganan dan Kemalasan

4, Kegelisahan dan Kekhawatiran

5, Keragu-raguan

jika kita dapat merealisasikan dan melewati 5 rintangan

di atas, buah meditasi dengan sendirinya, akan tercapai

Inilah yang dinyatakan oleh yang terberkahi, dalam urutan

pelatihan terhadap kewaspadaan terhadap NAFAS;

Semua kondisi ini sama berlaku untu menarik dan menghembuskan nafas;

Nafas panjang

Napas pendek

Sambil menyelami tubuh

Sambil menenangkan bentukan tubuh

Mengalami suka cita

Mengalami bahagia

Menyelami/Mengalami bentukan mental

Menenangkan bentukan mental

Mengalami pikiran

Mengembirakan pikiran

Mengkonsentrasikan pikiran

Membebaskan pikiran

Merenungkan ketidak kekalan

Merenungkan kematian

Merenungkan Penghentian

Merenungkan PELEPASAN,

Setelah pencapaian pelepasan, meditator adalah seorang ARIA,

dalam level apapun yang dapat di realisasikan oleh Meditasi

Ini lah urutan pelaksanaan Pancasila Buddhis

terhadap, pencapaian Konsentrasi/ Samadhi

kemurnian pelaksanaan moralitas (5 sila )menyebabkan,

TANPA PENYESALAN

tanpa penyesalan menyebabkan

KEGEMBIRAAN

kegembiraan menyebabkan

SUKACITA

sukacita menyebabkan

KETENANGAN

ketenangan menyebabkan

BAHAGIA

kebahagiaan menyebabkan

KONSENTRASI

Jika pikiran terkonsentrasi, pemusatan pikiran tercapai,tujuan Samadhi tercapai, berdasarkan, pemurnian pelaksanaan sila sebagai landasan Samadhi

Meditasi kesendirian mempunyai banyak manfaat. Semua Tathagata mencapai kebuddhaan lewat cara itu dan kemudian mengajarkan hal itu demi manfaat umat manusia.

Ada 28 manfaat praktek kesendirian dalam meditasi

1, meditasi itu melindungi seseorang

2, memperpanjang usia kehidupanya

3, memberikan semangat

4, mengikis kelemahanya

5, menghilangkan segala reputasi yang buruk, dan

6, membawa kemashyuran

7, menghancurkan ketidakpuasan, dan

8, menumbuhkan kepuasan

9, menghapuskan ketakutan, dan

10,memberikan keyakinan

11,menghilangkan kemalasan, dan

12,memenuhinya dengan semangat

13,mengusir nafsu

14,mengusir niat jahat, dan

15,mengusir pandangan salah;

16,melemahkan kesombongan;

17,menghalau keraguan, dan

18,membuat pikiran terpusat

19,melembutkan pikiran,dan

20,membuatnya ringan hati;

21,membuatnya serius

22,membawa banyak keuntungan

23,membuatnya patut di hormati;

24,memberikan sukacita

25, mengisinya dengan kegembiraan

26,menunjukan kepadanya sifat sejati semua bentukan;

27,mengakhiri kelahiran kembali,dan

28,memberikan kepadanya semua buah dari kehidupan meningalkan duniawi.

bukan begitu harfiahnya, jika kita bermeditasi kita menarik diri dari duniawi, tentu jika

kita bermeditasi, hanya kita sendiri, itulah kesendirian dalam meditasi

cari ruangan atau tempat yang kosong, cukup, (salah satu ruangan dirumah)

dapat juga secara harfiah, guru Agung tetap melaksanakan masa vassa, dalam

hutan sendiri, disebelah atas akar kayu sendiri bermeditasi sendiri, demi

mencontohkan manfaat bermeditasi bagi generasi mendatang kalau mau belajar agama buddha yang penting melaksanakan pancasila budhis, dan kalau bisa sisihkan sedikit waktu buat meditasi, kalau cukup kuat, bisa berpuasa?

nah namanya puasa uphosatha, pada tanggal 8, 14, 15 menurut tradisi theravada

dan waktu 2 minguan,

Teory SAMATHA – BHAVANA I

Samatha Bha ̃vana berarti Pengembangan Ketenangan Bathin

Keterangan dalam bahasa PALI sebagai berikut;

A KILESE SAMETITI ; SAMATHO

Artinya;

Keadaan yang membuat kilesa tenang disebut

SAMATHA, yaitu Ekaggata yang berada dalam

Mahakusala-citta 8 dan Rupavacarapathamajjhana-kusala citta 1

B CITTAM SAMETITI ;SAMATHO

Artinya;

Keadaan yang membuat pikiran tenang dalam

Konsentrasi terhadap suatu objek di sebut SAMATHA,

Yaitu Ekaggata yang berada dalam Maha ̃kriya-citta

8 dan Rupa ̃vacara-pathamajjha ̃nakriya-citta 1

C VITAKKADI OLARIKADHAMME SAMETITI ; SAMATHO

Artinya;

Keadaan yang membuat jhana jenis kasa tidak timbul

Disebut SAMATHA, yaitu Ekaggata yang berada

Dalam Dutiyajjhanakusalakriya-citta dan lain-lainya

Sehingga mencapai Pancamajjhanakusalakriya-citta

KILESE SAMETITI ; SAMATHO

Bagi mereka yang melaksanakan maditasi samatha bhavana, pada saat itu Mahakusala-cittupada timbul terus menerus, jika orang itu adalah Tihetuka-Puggala dan berusaha dengan secukupnya, ia akan mampu dan berhasil menjadi Jhanalabhi-Puggala, yaitu Rupavacara-pathamajjhanakusala timbul.

Dalam Mahakusala-ciituppada dan Pathamajjhanakusala-cittuppada ini EKAGGATA-CETASIKA menjadi pemimpin.

Dengan adanya pengertian Ekaggata-Cetasika inilah timbul kalimat bahasa PALI yang berbunyi ‘KILESE SAMETITI ; SAMATHO

Yang dimaksud THETUKA-PUGALA, adalah;

Mahluk yang dilahirkan dengan kekuatan alobha(tidak tamak) adosa(tidak benci), dan amoho(tidak bodoh)

Jika seseorang dilahirkan dengan kekuatan alobha, adosa, dan amoha. Ia disebut Tihetuka-Puggala Dan mampu mencapai jhana dalam kehidupan sekarang, Jika dia melaksanakan samatha Bhavana. Dan mampu menjadi Aria Puggala jika dia melaksanakan Vipassana-bhavana

Yang dimaksud JHANALABHI-PUGGALA, adalah

Meditasiawan yang melaksanakan samatha bhavana sehingga memdapatkan Jhana, dan mahir dalam Jhana, artinya kapanpun ia bisa memasuki Jhana dan bisa keluar dari Jhana setiap saat.

CITTAM SAMETITI ; samatho

Bagi mereka(yang mulia metator) yang telah menjadi Arahat, kemudian berbalik melaksanakan Samatha-Bhavana supaya mendapatkan Lokiya-Jhanna, pada saat itu dalam meditasi Mahakriya-cittuppada timbul terus-menerus sehingga mencapai Jhanna-Puggala, yaitu Rupavacara-pathamajjhana-kriya-cittuppada timbul

Mahakriya-cittuppada dan Pathamajhannakriya-cittuppada ini tidak dapat membasmi kilesa dan nivarana.

Dalam Mahakriya-cittuppada dan Pathamajhannakriya-cittuppada ini, EKAGGATA-CETASIKA menjadi Pemimpin.

Dengan adanya pengertian Ekaggata-Cetasika inilah timbul bahasa Pali yang berbunyi

CITTAM SAMETITI ; SAMATHO

VITAKKADI OLARIKADHAMME SAMETITI ; SAMATHO

Orang awam, Sekkha-Puggala dan Asekha-Puggala yang menjadi Pathamajhannalabhi-Puggala, bila melanjutkan melaksanakan Samath-Bhavana, Jhanna tingkat atas ada Dutiyajhannakusala-kriya dan lain-lain timbul menurut tingkatan

Dutiyajjhanna-cittuppada yang menjadi kusala-kriya dan lain-lain, tidak usah lagi membasmi dan menenangkan kilesa nivarana

Bila jhanna tersebut timbul membuat pikiran terkonsentrasi lebih kuat menurut tingkatan, berikut dengan meningalkan jhana yang kasar yaitu VITAKA dan lain-lain, yaitu Dutiyajjhana meningalkan Vitakka, Tatiyajjhana meninglkan Vicara, Catutthajjhana meningalkan piti,

Pancamajjhana meningalkan sukkha.

Dalam Dutiyajjhana-kusala-kriya-cittuppada ini timbul, ada EKAGGATA-CETASIKA yang menjadi pemimpin,

Dengan tercapainya EKAGGATA-CETASIKA inilah sehinga timbul kalimat bahasa Pali yang berbunyi

VITAKKADI OLARIKADHAMME SAMETITI ; SAMATHO

SAMATHA ada dua macam, yaitu;

PARITTA-SAMATHA; bagi mereka yang melaksanakan samatha-bhavana tetapi belum mencapai Appana-Bhavana, disebut Paritta-Samatha.

Sebab pada saat itu yang ada hanya Mahakusala atau Mahakriya-JAVANA, yang timbul dan jhana yang ada pada saat itu mempunyai kekuatan yang lemah.

MAHAGGATA-SAMATHA ; bagi mereka yang melasanakan Samath-Bhavana dan telah mencapai Appana-Bhavana yaitu Mahaggata-Jhana, disebut Mahaggata-Samatha

Sebab pada saat itu Mahaggatakusala telah timbul dan dapat dicapai atau mencapai Mahaggatakriya JAVANA

TELAH TIMBUL, dan jhana yang dihasilkan pada saat dicapai, mempunyai kekuatan yang sangat besar dan mampu,dapat mengkonsentrasikan pada objek meditasi dengan kuat.

JHANA, berate kesadaran/pikiran yang melekat kuat dalam objek Kammatthana(Meditasi), yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada objek meditasi yang dipilih dengan ke kuatan Appana-Samadhi, samadi disini meningalkan istilah meditasi, karena pikiran telah terkonsentrasi kuat pada objeck meditasi, maka kata Samadhi mengambil alih istilah meditasi yang kita lakukan,

Appana-Samadhi adalah konsentrasi yang pandai/ahli yaitu kesadaran pikiran terkonsentrasi pada objek dengan kuat

8 Tingkat Jhana

1 Pathama-Jhana

2 Dutiya-Jhana

3 Tatiya-Jhana

4 Catuttha-Jhana

5 Akasanancayatana-Jhana

6 Vinnanancayatana-Jhana

7 Akincannayatana-Jhana

8 Nevasannanasayatana-Jhana

40 objek pokok meditasi

A Kasina 10 (10 wujut benda)

B Asubha 10 (10 wujut kotoran)

C Anussati 10 (10 macam perenungan)

D Appamanna 4(4 keadaan yang tidak terbatas)

E Aharepatikusalasanna 1 (1 perenungan terhadap makanan memjijikan)

F Catudhatuvavatthana 1 (1 analisa terhadap 4 unsur)

G Arupa 4 (4 perenungan tampa materi)

Nb, detailnya dapat saya berikan jika ada yang tertarik dengan objek tertentu

6 CARITA,

yaitu 6 macam prilaku yang dikaitkan dengan kecocokan objek meditasi

Ini tidak saya uraikan karena sebaiknya minta objek meditaspada yang ahli dan mempunyai otoritas yaitu “Bikkhu”

Masing masing CARITA ini secara garis besar mempuyai kecocokan tertentu terhadap objek meditasi.

BHAVANA ada 3 tingkatan

1 PARIKAMMA-BHAVANA, pegembangan bathin tingkat pendahuluan

2 UPACARA-BHAVANA, pengembangan bathin tingkat penghampiran

3 APPANA-BHAVANA,pengembangan bathin tingkat terkonsentrasi dengan kuat

Untuk mencapai Parikamma-Bhavana objek apakah yang harus diambil dalam melaksanakan meditasi

Samatha-Bhavana. Semua objek(40 objek) dapat menghasilkan Parikamma-Bhavana

Untuk mencapai Upacara-Bhavana, objek meditasi yang dapat menghasilkanya yaitu

8 Anussati (buddhanussati, s.d Devanussati)

Aharepatikulasanna1 dan catudhatuvavatthana

Untuk mencapai Appana-Bhavana, objek meditasi yang dapat menghasilkanya

’10 objek kasina, 10 objek Asubha, 1O Kayagatasati, anapanasati, 4 Appamanna, dan 4 Arupa

Untuk jhana 5-8, sesuai objek masing-masing

Mari kita masuk pada pencapaian jika teman teman sedhamma telah melaksanakan meditasi samatha dan cukup lama serta kira-kira mendapatkan gambaran pencapaiyan .

Ada di mana kira-kira tingkatan dan pencapaian meditasi kita dari tingkat awal hinga tercapai pemusatan pikiran

Ada 3 NIMITTA atau gambaran bathin saat kita melaksanakan meditasi Samatha-Bhavana

Yang pertama pada tingkatan PARIKAMMA-NIMITTA, Gambaran bathin permulaan, yaitu suatu objek yang kita pilih dalam meditasi kita, contoh jika memilih objek kasina warna merah misalnya, kemudian objek tersebut dibayangkan dalam pikiran, dan masih dalam kondisi tidak terlihat dengan jelas dan tetap.

UGGAHA-NIMITTA, gambaran bathin mencapai, yaitu objek medirasi yang kita ambil untuk meditasi, objek tersebut sudah melekat dalam pikiran, sebagai contoh kasina warna merah tsb.

Terlihat dengan jelas dan tetap

PATIBHAGA-NIMITTA, gambaran bathin berlawanan, di sini penguasan penuh terhadap objek dicapai, objek meditasi yang diambil telah melekat pada pikiran, objek yang diambil terlihat dengan nyata, tetap dan jernih (jikamengambil kasinawarna sebagai contoh) terbebas dari gangguan, dan objek tersebut dapat dibesarkan dan dikecilkan dalam pikiran kita, biasanya jika mengambil kasina warna ada wadah kasina tsb yang kita ambil dalam ukuran tertentu, ukuran kasina tersebut itulah yang kita proyeksikan membesar dan mengecil sesuai keinginan kita.

Nah objek-objek apa yang cocok untuk 3 gambaran bathin(NIMITTA)

Untuk mencapai Parikamma-Nimitta dan Uggaha-Nimitta, seluruh objek meditasi yang 40 dapat menghasilkan kedua pencapaian meditative di atas, tetapi untuk pencapaian ke tiga

Yaitu;

Patibhaga-Nimitta tidak semua objek dapai menghasilkan pencapaiyan ke 3, yaitu Patibhaga-Nimitta, kebanyakan yogi banyak yang keliru disini, sehingga kadang-kadang pencapaiyan meditasi seakan-akan mentok, padahal objek meditasinya kurang cocok untuk mencapai pemusatan pikiran/pencerapan secara mendalam.

Apa saja objek yang bias menghasilkan tingkat ke 3 atau Patibhaga-Nimitta, ada 22 objek dari 40, yang dianggap sesuai untuk pencapaiyan, tingkat ini, apa saja

10 Kasina, 10 Asubha, 1 Kayagatasati, dan 1 anapanasati

Pada saat yogi mencapai tahap Uggaha-Nimitta, dia harus mengubah objek meditasinya ke 22 objek yang dapat menghasilkan level 3 Nimitta, banyak para yogi yang tidak mendapat bimbingan tidak menyadari hal ini, kalau halanganya sudah mahir dengan objek yang dipakai 2 tahap sebelumnya dan susah menentukan apa yang dipilih untuk meningkatkan pencapaian meditasi, disitulah seorang guru yang mahir dan sudah menpraktekan Samatha di butuhkan,

Kebanyakan para yogi pemula terpaku pada teory, dan malas belajar pada guru meditasi, jika anda bercita-cita agar meditasinya maju dalam pencapaiyan inilah saatnya pergi ke Vihara dan bertanya pada para bhanthe,

Agar mendapat bimbingan guru yang pantas, jangan membaca teory atau bertanya pada orang yang belum pernah praktek, atau malah pencapaiannya dibawah orang yang bertanya?

Ada bhikkhu yang spesialisasinya meditasi dan ditunjuk oleh Sanggha yang akan membantu, jadi para yogi ayo ke vihara dan berlatih meditasi, agar tidak mandek pencapaiannya

Tambahan pada pencapaian Parikamma-Nimitta objek yang para yogi lihat dengan mata merupakan Paccuppanna-Rupa-Rammana (objek bentuk yang sekaran/pada saat ini)

Sedangkan pada level Uggaha-Nimitta dan Patibhaga-Nimitta objek meditasi yang dilihat dengan batin dan merupakan Atita-Rupa-Rammana (objek bentuk yang lalu)

PERBEDAANYA adalah Rupa-Rammana (objek bentuk) yang menjadi Uggaha-Nimitta itu mempunyai sifat yang sama dengan objek permulaan, sedangkan Rupa-Rammana (objek bentuk) pada Patibhaga-Nimitta tidak sama dengan objek permulaan, karena Rupa-Rammana pada level ini lebih jelas, jernih dan sangat jelas dilihat oleh bathin kita, seperti penglihatan mata yang baik yang dapat mengenali bentuk dengan segala sudut pandang.

Sampai di sini para Yogi dapat melanjutkan sendiri tahapan-tahapan meditasinya, biasanya setelah pencapaian

Patibhaga-Nimitta saya mengklasifikasikan yogi tersebut sebagai “mahir” tinggal seberapa rajin, dan yakin akan pencapaiannya tergantung saddha, dan Viriya

Yogi ini kita sebut saja melakukan Samadhi, dalam literature Buddha;

Sila, Samadhi, Panna,

Maka jangan lupa menyempurnakan pancasila buddhis, agar samadhinya maju, dan mudah mudahan melakukan VIPASSANA Bhavana, agar pannanya juga ikut berkembang,

sila

samadhi

panna (maaf “n” disini mesti ny saya tidak bisa attach tulisan pali)

maka up/upasika setelah menpraktekan sila sebagai dasar diharapkan dapat bermeditasi/samadi

saya setuju meditasi untuk olah bathin, bagaimana cara bathin/pikiran bekerja

dapat di selami dalam samantha bhavana, setelah mengerti cara bekerja pikiran kita dapat mengarahkan fikiran/bathin kita ke hal-hal yang baik

jika mempraktekan samantha bavana, lewat konsentrasi fikiran bentukan-bentukan fikiran dikenali, dan dapat ditekan untuk pencapaian-pencapaian tingkat konsentrasi tertentu.

adapun meditasi biasa dikaitkan dengan vipasana bhavana (pandangan terang) ini berfungsi untuk mengenali dan memotong bentuk-bentuk fikiran jelek (kilesa)

saya lebih banyak praktek samantha dan hanya sedikit vipasana jadi untuk vipasana, saya tidak berani cerita lebih banyak, karena bagi saya vipasana lebih berat

samadhi menurut saya samantha bhavana (fokus ke satu titik)

meditasi menurut saya vipasana bhavana

sebaiknya bagi saudara yang mempraktekan Vipasana Bhavana, samantha dahulu sampai dicapai “ketenangan badan jasmani” kalo tidak (menurut saya pribadi) susah untuk mengetahui bentuk fikiran sementara penderitaan fisik belum bisa diatasi.

manfaat meditasi secara umum kita lebih bisa mengendalikan fikiran kita tergantung tingkat pencapaian masing-masing,

jika saja sudah bisa mencapai penangulangan fikiran untuk  tingkat dasar saja

perubahan yang dirasakan sangat signifikan dan bahagianya minta ampun

jadi teman-teman mari ber meditasi/samadi

semoga semua berkembang dalam buddha dhamma

sebelum bermeditasi saya sarankan bertanya kepada bhante, atau baca sutta tentang samadhi

banyak sang buddha menjelas kan cara-cara meditasi, tapi bagi beginner sebaiknya ikutan di vihara dulu, agar sesat dalam meditasi dapat di hindari, lagian kalau tidak ada pembimbing lama jadinya (try and error)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: