Pentingnya Sadhana Anasrava (stop kebocoran)

Saya Mementingkan “Sadhana Anasrava” (Bebas dari Kebocoran)

Di dalam Sutra “Hevajra”, kita mudah sekali memahami:

Prathama-mudita – kebahagiaan awal.

Uttara-mudita – kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan sebelumnya.

Apagata-mudita — kebahagiaan tak bercabang.

Sahaja-mudita — kebahagiaan final.

Juga mengandung arti:

Prathama-mudita — kondisi menengah.

Uttara-mudita — tumimbal lahir.

Apagata-mudita — nirvana.

Sahaja-mudita — bukan tumimbal lahir,

bukan nirvana, juga bukan menengah. (Pengertian sahaja-mudita, bukan kemudahan, bukan kebijaksanaan, tidak dapat diperoleh dari orang lain, tidak terungkapkan, nikmat dan luas, dengan kata lain pemandangan setempat, sepenuhnya merupakan kondisi “anupada” (tiada kelahiran), tak terungkapkan pada orang lain, juga tak terlukiskan) Inilah samyaksambodhi dari “Hevajra”.

Saya boleh memberitahu Anda seperti ini,

Anda harus mulai dari “prathama-mudita”, sampai “sahaja-mudita”.

Lalu dari “sahaja-mudita” berbalik ke “prathama-mudita”,

jika tanpa “keberhasilan anasrava”, bicara tentang catur-mudita dan catur-sunya, bisa menjadi bahan tertawaan orang, dusta sepenuhnya. Singkat kata: “Tidak sanggup!” Jika tanpa “keberhasilan anasrava”, seseorang sama sekali tidak akan mencapai “prathama-mudita” dan “sahaja-mudita”. Saat “uttara-mudita”, sekali bindu bocor, maka terkuras habis, ibarat bola kempes atau mayat berjalan yang terkulai tak berdaya. (usus besar yang tidak dimasuki nasi ) Tidak hanya demikian.

Seseorang ingin menekuni “api tummo”, “api tummo”

justru mengandalkan “bradha kumbha prana”, serta “pernafasan menyeluruh”, yang terpenting adalah “bindu material” adalah sumbu kayu yang terpenting. Ibarat menyulut api. Harus ada kayu bakar. Harus ada bahan penyulut api. Harus ada angin. (prana) Orang yang sering kebocoran bindu, hawa vitalnya sama sekali tidak mencukupi, kayu bakar yang paling mendasar tidak ada, juga tidak ada bahan penyulut api, juga tidak ada prana yang mencukupi, bagaimana menyulut “api tummo”? “Api tummo” harus mantap. “Api tummo” harus meningkat. “Api tummo” harus terang dan panas. Prana harus mencukupi, bindu tidak bocor, semangat harus membara-bara, itu mutlak. Orang yang sering kebocoran bindu, pasti rugi ketiga hal ini, lantas bagaimana ia mencapai keberhasilan “api tummo”.

Saya melihat banyak buddha hidup Tibet (rinpoche), tak disangka melahirkan anak di mana-mana. Apa tidak salah? Apakah buddha hidup-buddha hidup Tibet (rinpoche) ini telah mencapai keberhasilan “anasrava”? Apakah telah mencapai keberhasilan “api tummo”? Apakah telah mencapai keberhasilan “sadhana bindu”? Terkesan seperti sebuah lelucon besar. Bagaimana mereka menyucikan diri? Mereka “bocor” parah, bagaimana bisa meraih: Pencapaian “mahasukha”. Pencapaian “penerangan”. Pencapaian “samyaksambodhi”. “Hevajra” harus menjadikan keberhasilan “anasrava” sebagai landasan, tanpa keberhasilan “anasrava”, penekunan berikutnya tidak ada artinya sama sekali.

Saya merasa penekunan “Hevajra”, enam belas jenis sunyata, menghancurkan empat mara, delapan pembebasan, kebersihan perbuatan-upacan-pikiran, tentu berdiri di atas keberhasilan “anasrava”. Untuk mencapai kesucian, mau tak mau harus menekuni “sadhana anasrava”, jadi, saya mementingkan keberhasilan “anasrava”.

from gm. book 201

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: