Archive for Pengenalan terhadap agama buddha

Sacred Buddhist Mountain in China

Wu Tai Shan A holy place of Buddhism Unity

One’s of Sacred buddhist mountain in China

The center of Chinese Buddhism for two thousand years, Wu Tai Shan was originally a Taoist sacred mountain known as Tzu-fu Shan, meaning ’Purple Palace Mount,’ and was believed to be the abode of various Taoist immortals. Wu Tai Shan actually encompasses a number of different mountains, but long ago Buddhists chose five particular flat-topped peaks as the perimeter of the sacred area, hence the name which means ’Five Terrace Mountain’. The highest peak, at 10,033 feet, is called Northern Terrace and the lowest, at 8153 feet, is called Southern Terrace; between these two peaks stretch twelve miles of mountains.

The first temples on Wu Tai Shan were built during the reign of Emperor Ming Di, 58-75 AD and textual sources describe an estimated 200 temples erected during the Northern Ch’i dynasy of 550-577 AD, but subsequently destroyed. Today, fifty-eight temples built after the Tang Dynasty (A.D. 684-705) still stand as well as the oldest wooden temple in all of China, the Nan Chan Si temple built in 782 AD. There are forty-eight temples of Chinese Buddhism and ten Tibetan Lamasaries. Taihuai town, in the center of the Wu Tai mountains, is surrounded by the five peaks. Most of the temples are located near the town. The peaks of Wu Tai and all the surrounding temples are sacred to Manjushri, the Buddhist Bodhisattva of Wisdom and Virtue. Scholars trace the beginning of the Manjushri association with Wu Tai Shan to the visit of an Indian monk who visited in the 1st century AD and reported a vision of the Bodhisattva. Manjushri (called Wenshu Pusa in Chinese) is believed to reside in the vicinity of Wu Tai Shan and numerous legends speak of apparitions of the Bodhisattva riding a blue lion in the high mountains above the monasteries.

Wu Tai Shan is widely known not only to the people of China but also to Buddhists in Japan, India, Sri Lanks, Burma, Tibet and Nepal. Wu Tai’s Buddhism is indissolubly tied up with that of Japan and had a great influence on that country. Seeking after the Buddhist truth, such famous monks as Ennin and Ryoosen in the Tang Dynasty, and Choonen and Seisan in the Song Dynasty made long pilgrimages to Wu Tai Shan. The Tantric master Amoghavajra also came to meditate here.

Leave a comment »

Vajradhara-Jin Gang Zong Chi (Dorje Chang)

Mulaguru Sakyamuni memutar Dharmacakra

Namo Mahamulacarya Liansheng Fo
Namo Mulaguru Sakyamuni Buddhaya

sebelumnya kita telah membahas tingkatan Buddha dalam Vajrayana, nah…

Apakah Buddha ada yang lebih rendah atau ada yang lebih tinggi tingkatannya???

lalu mana yang tertinggi di antara Amitabha, Sakyamuni atau Dorje Chang ?

Kenapa Tingkatan Dorje Chang berada di urutan teratas ?

apakah ini maksudnya ?

jawabannya ada di buku Mahaguru yang ke- 200 “Helai Helai pencerahan”
yang full membahas Sakyamuni Buddha !

silahkan periksa, dan disana ada juga pernyataan Mahaguru bahwa :
“Kita lihat bersama bahwa manifestasi Sakyamuni Buddha setelah Parinirvana juga tak lepas dari fitnahan ! “


Dorje Chang

Jin Gang Zong Chi – 金刚总持
Vajradhara

Jin Gang Zong Chi (Tibetan – Dorje Chang)adalah Buddha awal (Yuanshifo – 原始佛) Menyimbulkan Buddhata (Kesadaran Sejati Paripurna) , adalah Dharmakaya yang tak berwujud.

Pahala dan kemuliaan yang dikandung Nya adalah tiada yang tak diliputi serta melampaui pikiran awam.

Buddha ada trikaya : Dharmakaya, Sambhogakaya dan Nirmanakaya.

Dalam mengejawantahkan rupa, Dharmakaya menggunakan 2 cara berbeda, yaitu :

1. Nirmanakaya yang memiliki wujud
contohnya adalah Buddha yang bisa dilihat , disentuh dan dirasakan oleh para insan yang masih keruh.

2. Sambhogakaya
rupa yang murni, atau Tubuh Vimala Sukha, adalah Buddha yang hanya bisa dilihat oleh para insan yang berpikiran suci dan Para Bodhisattva tingkat tinggi.

2500 tahun lalu, Sakyamuni Buddha (Nirmanakaya Buddha) merupakan Buddha ke 4 dari 1000 Buddha kalpa saat ini, Pangeran Sidharta Dharmakaya Kesadaran Paripurna , merupakan Nirmanakaya Buddha yang oleh karena Belas Kasih Nya yang tanpa batas sehingga mengambil rupa demi mengajar para insan.

Namun berdasarkan rupa sejati Nya, Sakyamuni Buddha dengan Vajradhara sama sekali tiada beda !

Karena Prajna Sakyamuni Buddha adalah Dharmakaya, ucapan Nya adalah Sambhogakaya, tubuh Nya adalah Nirmanakaya.

Sedangkan wujud Mahaunggul yang ditunjukkan oleh Vajradhara dihadapan Guru leluhur kita Tilopa, semua atribut Nya adalah simbul dari Kesadaran Sempurna. (lihat gambar)

dorje chang
Misal :

Tubuh biru Vajradhara bagai angkasa, menyimbulkan batin Kesempurnaan Sejati atau Dharmakaya.

Hiasan dewata , anting, mahkota permata, gelang, menyimbulkan kemurnian batin yang Sadar atau Sambhogakaya.

Sedangkan tubuh yang menyerupai manusia, merupakan Nirmanakaya yang bisa ditangkap oleh panca indera manusia biasa.

Vajra dan gantha di posisi dada Vajradhara menyimbulkan gabungan antara Prajna dan upaya kausalya.

Maka semua tubuh dan semua kondisi batin yang ditampilkan dapat dijelaskan dengan cara yang berbeda, namun ketiga Tubuh, bagi Buddha yang Sempurna adalah satu belaka, gabungan Trikaya ini adalah :

The Trikaya doctrine (Sanskrit, literally “Three bodies or personalities”; 三身 Chinese: Sānshén, Japanese: sanjin) is an important Buddhist teaching both on the nature of reality, and what a Buddha is. By the 4th century CE the Trikaya Doctrine had assumed the form that we now know. Briefly the doctrine says that a Buddha has three kayas or bodies:

the nirmanakaya or created body which manifests in time and space;

the sambhogakaya or body of mutual enjoyment which is an archetypal manifestation; and

the Dharmakaya or reality body which embodies the very principle of enlightenment and knows no limits or boundaries.[5] In the view of Anuyoga, the ‘Mindstream‘ (Sanksrit: citta santana) is the ‘continuity’ (Sanskrit: santana; Wylie: rgyud) that links the Trikaya.[5] The Trikaya, as a triune, is symbolised by the Gankyil.

source wikipedia.

Sifat Buddha Para Insan.

jadi tidak ada yang namanya Buddha yang tertinggi dan Buddhayang lebih rendah , semua nampak berbeda hanya demi misi menyadarkan insan yang berbeda.

Dari semua ini , pemetaan ini digunakan oleh Para Guru Leluhur Yang Telah mencapai Pencerahan demi mengajar para insan dalam penjelasan kondisi batin supaya mudah dicerna.

Dorje Chang

Vajradhara (Sanskrit: वज्रधार Vajradhāra, Tibetan: རྡོ་རྗེ་འཆང་། rdo rje ‘chang (Dorje Chang); Chinese: 金剛總持 or 多傑羌佛; Javanese: Kabajradharan; Japanese: 執金剛神; English: Diamond-holder) is the ultimate primordial Buddha, or Adi Buddha, according to the Gelug and Kagyu schools of Tibetan Buddhism.

Vajradhara displaced Samantabhadra who remains the ‘Primordial Buddha’ in the Nyingma, or ‘Ancient School’ and the Sakya school. However the two are metaphysically equivalent. Achieving the ‘state of vajradhara’ is synonymous with complete realisation.

According to Kagyu Vajradhara, the primordial buddha, is the dharmakaya buddha, depicted as dark blue in color, expressing the quintessence of buddhahood itself and representing the essence of the historical Buddha’s realization of enlightenment.[1].

As such Vajradhara is thought to be the supreme essence of all (male) Buddhas (his name means the bearer of the thunderbolt). It is the Tantric form of Sakyamuni which is called Vajradhara. Tantras are texts specific to Tantrism and are believed to have been originally taught by the Tantric form of Sakyamuni called Vajradhara. He is an expression of Buddhahood itself in both single and [yab-yum] form.[2]. Vajradhara is considered to be the prime Buddha of the Father tantras [3] (tib. pha-rgyud) such as Guhyasamaja, Yamantaka, and so on [4].

From the primordial Vajradhara/Samantabhadra were manifested the Five Wisdom Buddhas (Dhyani Buddhas):

Vajradhara and the Wisdom Buddhas are often subjects of mandala.

Vajradhara and Samantabhadra are cognate deities in Tibetan Buddhist cosmology with different names, attributes, appearances and iconography. Both are Dharmakaya Buddhas, that is primordial Buddhas, where Samantabhadra is unadorned, that is depicted without any attributes. Conversely, Vajradhara is often adorned and bears attributes, which is generally the iconographic representation of a Sambhogakaya Buddha. Both Vajradhara and Samantabhadra are generally depicted in yab-yum unity with their respective consorts and are primordial buddhas, embodying void and ultimate emptiness.

Leave a comment »

TASECE POUSAT/BODHISATVA MAHASTHAMAPRAPTA

Bodhisattva Mahasthamaprapta

Makna Maha-sthama-prapta (Dashizhi)

Kekuatan seorang bodhisattva sungguh tidak terkirakan. Kekuatan untuk selalu semangat mencapai kebuddhaan, kekuatan kebijaksanaan menaklukkan Mara dan kegelapan batin, kekuatan kasih sayang dan welas asih menyebrangkan semua makhluk ke Pantai Seberang, Nirvana, itulah kekuatan agung Bodhisattva Mahasattva.

Salah satu Bodhisattva Mahasattva yang memiliki kekuatan luar biasa itu adalah Bodhisattva Maha-sthama-prapta (Mahasthamaprapta), atau dalah Mahayana Tiongkok dikenal dengan nama Dashizhi Pusa.
Nama Bodhisattva Mahasthamaprapta memiliki arti: “Bodhisattva yang Mencapai Kekuatan Agung”. Seperti yang diutarakan dalam Sutra Amitayur Dhyana (Guan Wu Liang Shou Jing): “Dengan kekuatan kebijaksanaan, mencabut penderitaan tiga alam rendah (neraka, setan, hewan) agar memperoleh kebahagiaan tertinggi, karena itu disebut sebagai Maha-sthama-prapta.” Sedang Sutra Visesacintabrahma-pariprccha (Si Yi Jing) mencantumkan: “Saya menapakkan kaki di satu tempat, bergetarlah alam tiga ribu maha ribu dan istana Mara, sebab itu disebut sebagai Maha-sthama.”
Makna nama Maha-sthama-prapta (Dashizhi) dapat diartikan pula sebagai berikut. Maha (Da) menunjukkan arti pencapaian Tubuh Dharma (Dharma-kaya) yang besar dan agung; Sthama (Shi) adalah kekuatan pencapaian kebijaksanaan yang menghancurkan kegelapan batin (internal) dan menundukkan godaan Mara (eksternal); sedang Prapta (Zhi) adalah pencapaian Pencerahan yang mendekati kebuddhaan.
Amitabha Buddha, Avalokitesvara dan Mahasthamaprapta Bodhisattva adalah Tiga Suciwan Pembabar Dharma di Tanah Suci Sukhavati. Setelah Buddha Amitabha mahaparinirvana, maka Bodhisattva Avalokitesvara akan menjadi Buddha menggantikan Amitabha membabarkan Dharma di Sukhavati. Setelah Avalokitesvara Mahaparinirvana, akan digantikan oleh Mahasthamaprapta dengan nama Shanzhu Gongde Baowang Rulai. Supratishthita-guna-ratnaraja Tathagata) yang berarti “Tatagatha Raja Kebajikan dalam Permata Pahala Moralitas.”
Mahasthamaprapta digambarkan mengenakan mahkota dengan sebuah botol berisi cahaya kebijaksanaan di tengahnya, kedua tangan memegang setangkai bunga teratai (lotus) yang mekar, membuka hati setiap insan menerima Buddha.

Vipasyana Bodhisattva Mahasthamaprapta

Nama Mahasthamaprapta muncul dalam berbagai Sutra. Sutra Saddharmapundarika menyebutkan Mahasthamaprapta termasuk dalam kumpulan besar yang mendengarkan Dharma Buddha di Puncak Grdhakuta, Rajagriha. Sedang dalam Sutra Amitayur Dhyana, Buddha menjelaskan tentang Mahasthamaprapta sebagai berikut:
Buddha bersabda lagi: “Selanjutnya kita melaksanakan Vipasyana Bodhisattva Mahasthamaprapta! Ketahuilah, tinggi dan besar Bodhisattva ini sama dengan Bodhisattva Avalokitesvara. Lingkaran sinar empat penjuru masing-masing mencapai 125 yojana dan memancar sejauh 250 yojana. Seluruh tubuh memancarkan cahaya ungu keemasan yang juga menerangi 10 oenjuru alam, para makhluk yang berjodoh akan dapat melihatnya.
O, Arya Ananda! Ketahuilah, asal dapat melihat cahaya yang terpancar dari satu pori saja, identik dengan melihat cahaya murni dan menakjubkan dari para Buddha di 10 penjuru! Karena itu, Bodhisattva Mahasthamaprapta juga disebut Bodhisattva Anantavamprabha (Cahaya Tanpa batas). Sebab cahaya dari satu pori itu sama seperti cahaya para Buddha yang tak terhitung banyaknya yang menyinari secara luas tiada batas. Seperti halnya Bodhisattva Avalokitesvara menyinari semua makhluk dengan cahaya kasih sayang dan welas asih, Bodhisattva ini menyinari segala tempat dengan cahaya kebijaksanaan, agar para makhluk dapat memiliki cahaya kekuatan tak terhingga yang dapat membebaskan diri dari penderitaan tiga alam rendah. Karena itu arti nama Bodhisattva Mahasthamaprapta adalah kekuatan dahsyat dari kebijaksanaan memenuhi sepuluh penjuru.
Di atas mahkota Bodhisattva Mahasthamaprapta terdapat 500 teratai mustika. Di setiap teratai mustika terdapat 500 takhta mustika, setiap takhta menampakkan panjang dan lebar wilayah sepuluh puluhan penjuru Tanah Suci Mengagumkan dari para Buddha. Usnisa di dahi Bodhisattva Mahasthamaprapta seperti bunga teratai merah dan di atas usnisa itu terdapat sebuah kundika (botol mustika) yang berisikan cahaya kebijaksanaan, yang digunakan untuk menyelamatkan semua makhluk. Tanda-tanda agung lainnya tidak berbeda dengan Bodhisattva Avalokitesvara.
Ketika Bodhisattva Mahasthamaprapta mengayunkan langkah, sepuluh penjuru alam akan bergetar, dan pada setiap tempat yang bergetar di masing-masing alam itu muncullah 500 koti bunga teratai mustika. Setiap teratai mustika itu tampak anggun dan agung. Keagungannya mirip alam Sukhavati! Saat Bodhisattva Mahasthamaprapta duduk, tanah tujuh permata di Alam Sukhavati akan terlebih dulu bergoyang, lalu menyebar hingga Tanah Buddha di bagian bawah yaitu Negeri Buddha Suvarnaprabha. Di antara dua alam Buddha tersebut tertampak Nirmanakaya (Badan penjelmaan) dari Buddha Amitayus (Buddha Amitabha), Bodhisattva Avalokitesvara dan Bodhisattva Mahasthamaprapta yang tak terhitung jumlahnya. Kesemuanya berkumpul di Alam Sukhavati, memenuhi seluruh langit, dan duduk bersila di atas takhta teratai, membabarkan Dharma yang menakjubkan dan dalam maknanya demi menyelamatkan para makhluk yang menderita. Metode tersebut disebut Vipasyana Bodhisattva Mahasthamaprapta”, juga dinamakan Vipasyana ke sebelas.”
Dikisahkan dalam Sutra Shurangama, Mahasthamaprapta mencapai pencerahan melalui pengendalian landasan indera dan pelafalan nama Buddha secara tiada henti sehingga mencapai kondisi Samadhi. Sesepuh ke-13 tradisi Tanah Suci (Sukhavati), Master Yin-guang (1861-1941), menetapkan Dashizhi Pusa Nianfo Yuantong Zhang (Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafalkan Nama Buddha secara Sempurna dan Tiada Halangan – bagian dari Sutra Shurangama) sebagai salah satu dari Sutra acuan tradisi Sukhavati.
Kalangan Mahayana Tiongkok meyakini Master Yin-guang sebagai badan penjelmaan Bodhisattva Mahasthamaprapta. Sedang tempat pembabaran Dharma di Tiongkok dari Mahasthamaprapta yang kelahirannya diperingati setiap tanggal 13 bulan 7 Imlek ini ditetapkan di Vihara Guangjiaosi di Gunung Langshan, Nantong, Propinsi Jiangsu.
Mahasthamaprapta juga diyakini beberapa kali mewujudkan dirinya di negara Jepang. Di sana, Mahasthamaprapta berwujud sebagai seorang perempuan yaitu istri dari pangeran Shotoku, juga sebagai seorang pria, yaitu Honen Shonin (1133-1212), pendiri aliran Jodo (Sukhavati) di negara matahari terbit. Uniknya, nama asli Honen (Chinese: Faran) adalah Seishi-maru. “Seishi” adalah terjemahan bahasa Jepang untuk Mahasthamaprapta.
Bahkan tidak hanya beremanasi sebagai seorang manusia saja, Mahasthamaprapta juga muncul sebagai seorang dewa bernama Dewa Candra (bulan), yang menerangi kegelapan “malam” samsara dan memberikan kebijaksanaan pada semua makhluk.

Bodhisattva Vajrapani tradisi Vajrayana
Di negara atap dunia (Tibet), Mahasthamaprapta lebih dikenal dengan nama Bodhisattva Vajrapani (Tibet: Chana Dorje, Chinese: Jin-gangshou Pusa). Sebagai emanasi dari Dhyani Buddha Akshobya, Vajrapani menempati posisi sebagai pemimpin keluarga Vajra. Bersama Avalokitesvara dan Manjusri, merupakan 3 bodhisattva utama tradisi Vajrayana yang melambangkan 3 aspek utama dari Bodhi (pencerahan) yaitu cinta kasih (mahamaitrikaruna), kebijaksanaan (mahaprajna) dan kekuatan (mahabala). Ketiga Bodhisattva tersebut juga menyimbolkan tubuh, ucapan dan pikiran para Buddha. Selain itu, dalam paham wilayah, Vajrapani adalah pelindung Mongolia, Manjusri pelindung dataran Tiongkok dan Avalokitesvara pelindung Tibet.

Sebagaimana Ananda sebagai siswa “Penjaga Dharma” yang mengingat dan mengucapkan ulang wejangan Buddha dalam konsili pertama, demikian juga di saat yang sama di Gunung Vimalasvabhava, Vajrapani mengucapkan ulang ajaran-ajaran Buddha, yang kemudian dikenal sebagai Sutra-sutra Mahayana. Konsili tersebut dikepalai oleh Bodhisattva Samantabhadra, beserta Maitreya mengucapkan kembali Abhidharma. Keseluruhannya dikumpulkan menjadi Tripitaka Mahayana.
Vajrapani dikenal juga dengan sebutan Guhyapati, “Penguasa Rahasia”, penjaga semua Tantra yang diajarkan oleh Buddha. Vajrapanilah yang memohon Buddha untuk memutar roda dharma sekali lagi yaitu ajaran Tantra, dan memimpin pertemuan para Bodhisattva di Surga Tusita untuk merangkai dan menyusun kembali ajaran Tantra (Kriya, Carya dan Yoga) yang telah dibabarkan oleh Buddha.
Dalam Seni Gandhara (Seni Buddha Yunani), Vajrapani digambarkan sebagai Hercules (Herakles), sang tokoh legendaris penemu Olimpiade dan putra dari Zeus, karena melambangkan kekuatan yang maha dasyat. Penggambaran ini kemudian turut mempengaruhi wujud dua emanasi Vajrapani di Asia Timur, yaitu Misshaku dan Narayana. Keduanya ditampilkan di kedua sisi gerbang vihara dengan tubuh berotot dan memegang vajra. Para pelindung tersebut berada dalam posisi beladiri layaknya posisi pratayalidha (prajurit) Vajrapani sendiri.
Vajrapani berarti Tangan Vajra (Petir) atau Pemegang Vajra, adalah satu-satunya bodhisattva Mahayana yang disebutkan dalam naskah Pali, selain Maitreya (Metteyya) dan Svetaketu (Setaketu). Beliau muncul sebagai sebagai Yakkha Vajirapani (Pali), atau Vajrapani (Sanskrit) di Ambattha Sutta, Digha Nikaya. Seorang brahmana bernama Ambatta berkata tidak layak kepada Buddha serta menolak untuk menjawab pertanyaan Buddha sebanyak dua kali. Saat itu juga Yakkha Vajrapani muncul di atas kepala Ambatta, berdiri di udara dengan membawa pemukul besi besar (Vajra) yang menyala-nyala bersiap memecahkan kepala Ambatta sampai berkeping-keping apabila tidak menjawab pertanyaan Buddha untuk ketiga kalinya. Ambattha menjadi sangat ketakutan, kemudian ia mengakui kesalahannya dan memohon perlindungan pada Sang Bhagava. Buddhagosa, komentator Tipitaka Pali yang terkemuka, menyebutkan, bahwa Yakkha Vajirapani adalah Sakka (Shakra), raja para deva di alam Trayastrimsa (Tavatimsa).
Selain sebagai Bodhisattva, Vajrapani juga merupakan Dharmapala (Pelindung Dharma). Ia adalah Dharmapala dari Sakyamuni Buddha dan selalu bersama Buddha (Abhyantaraparivara), layaknya Ananda. Dalam Sutra Astasahasrika Prajnaparamita dikatakan, “Maka sekarang, Vajrapani, Yaksha yang agung, terus menerus mengikuti bodhisattva yang teguh! Tidak tertandingi, Bodhisattva tidak dapat dikalahkan oleh manusia maupun hantu.” Demikian juga Sutra Lankavatara pun menyebutkan bahwa Buddha selalu diikuti oleh Vajrapani.
Ketika Buddha melalui Bukit Gridhakuta, tempat Buddha membabarkan Prajnaparamita, Devadatta, sepupu Buddha, hendak membunuh Buddha dengan menggulingkan sebuah batu besar. Tepat ketika batu tersebut hampir mengenai Buddha, Vajrapani muncul dan menghancurkannya menjadi berkeping-keping sehingga hanya sedikit melukai jari kaki Buddha. Selain melindungi Buddha, Vajrapani juga pernah melindungi para naga Uddiyana dari serangan garuda ketika para naga itu sedang mendengarkan pembabaran Dharma dari Buddha.
Sewaktu tiba di Kusinagara, India, Faxian (227-422) dan Xuanzang (sekitar 662-664) menemukan sebuah stupa Vajrapani, yang dipercaya sebagai lokasi tempat Vajrapani menjatuhkan vajranya ketika menyaksikan Buddha Sakyamuni Mahaparinirvana.
Selain itu, raja-raja seperti Raja Suchandra dari Shambhala dikenal sebagai emanasi Vajrapani. Guru Padmasambhava meramalkan bahwa Vajrapani akan beremanasi sebagai Raja Raipavhen dan sebagai seorang perempuan yaitu Konchok Paldron, putri dari Chokgyur Lingpa, Terton agung sekaligus nenek dari Tulku Urgyen Rinpoche.
Jadi, Vajrapani atau Mahasthamaprapta tidak mewujudkan diri beliau di Tiongkok dan Jepang saja, namun juga di Tibet, India dan Shambala.

Amanat Mahasthamaprapta
Dari berbagai bentuk tubuh penjelmaan yang ada, sebenarnya hanya satu hal yang diamanatkan oleh Mahasthamaprapta kepada kita semua, yaitu tekunlah kita mengendalikan enam landasan indera dan berfokuslah pada pelafalan nama Buddha secara tiada henti, itulah kekuatan agung Bodhisattva Mahasattva. Itulah salah satu metode terbaik dalam membangkitkan kekuatan agung hakekat sejati kita.

Kekuatan agung itu bukan menjadi hak milik atau hak paten Bodhisattva Mahasthamaprapta atau para Bodhisattva Mahasattva dan Buddha, melainkan semua makhluk dapat mencapainya asal mampu menerapkan Dharma yang indah. Konsisten dalam Dharma, itulah kekuatan agung yang sejati.

Sumber : Sinar Dharma Vol. 6 n0. 2-4 2551 BE

Leave a comment »

4 hal berdana yang penuh berkah

Taisho No.730
Fo shuo Chuchu Jing
《佛說處處經》

diterjemahkan oleh : Lianhua Shian

….佛欲度世去。諸比丘白佛言:諸在世間人,皆當從佛得福。今佛度世去,諸世間人民,當複從誰得福 ?

… Saat Buddha hendak Parinirvana, para biksu bertanya pada Buddha, “Para insan di dunia ini memperoleh berkah dari dana pada Buddha. Sekarang Buddha hendak Parinirvana, dari manakah para rakyat di dunia dapat memperoleh berkah ?”

佛言:比丘,我雖度世去,經法當在。複有四因緣,可從得福。

Buddha menjawab : “Wahai Biksu, meskipun Aku hendak Parinirvana, namun Sutra dan Dharma masih ada. Ada empat hal yang dapat menyebabkan insan memperoleh berkah kebajikan.

一者,畜生無所食,飼之令得命。
1. Memberi makanan dan perawatan pada hewan yang kelaparan.

二者,見人得疾病無瞻視者,當給與供養,令得安隱。
2. Memberikan persembahan dan penghiburan bagi orang sakit yang tidak ada yang mengurus.

三者,貧窮孤獨,當護視。
3. Memberi perlindungan pada orang miskin dan sebatang kara.

四者,人獨一身,行禪念道,無所衣食,當給視之。
4. Memberi perhatian dan dana pada sadhaka sejati yang sebatang kara dan kekurangan.

是為四事佈施,持善意與之,其得福,與佛等無有異。

Buddha melanjutkan, “empat macam dana ini, bila dilaksanakan dengan pikiran bajik, pahala dan berkah yang diperoleh adalah sama dengan memberikan pelayanan itu semua pada Buddha.”

Leave a comment »

Lima Rhupang Buddha tertinggi di dunia

1. Spring Temple Buddha

It is the tallest statue in the world and is located in the Zhaocun township of Lushan County, Henan, China. The statue depicts Vairocana Buddha and is 128 meters high with a weight of over 1000 tonnes. It is made out of bronze and gets its name from the nearby Tianrui hot springs.

2. Laykyun Setkyar

It is the second tallest statue in the world and is situated in Khatakan Taung village in Monywa, Sagaing Division, Myanmar. Monywa lies in the heart of the Chindwin Valley and 136 km northwest of Mandalay.

The height of the statue is 116 meters. The construction of the giant statue started in 1996 and the completion ceremony took place in 21st February, 2008.

3. Ushiku Daibutsu

It is the third tallest statue in the world and is located in Ushiku, Ibaraki Prefecture, Japan. Ushiku Daibutsu is also called Ushiku Arcadia.

The statue was completed in 1995 and it stands a total of 120 meters tall, including the 10m high base and 10m high lotus platform. The statue has a elevator inside it which takes the visitors up to 85m off the ground, where an observation floor is located. It depicts Amitabha

4. Guanyin Statue

It is also known by the name Guan Yin of the South Sea of Sanya and is the fourth highest statue in the world. The statue is located in the Nanshan Culture Tourism Zone on the south coast of China’s island province of Hainan. The Guanyin Statue of Hainan has a height of 108 meters.

The statue has three sides, one facing the island and the other two face the South China Sea. It took six years to build the statue and was enshrined on 24th April 2005 and the ceremony was attended by 108 eminent monks from various Buddhist groups in Taiwan, Hong Kong, Macao and Mainland China.

Also present in the ceremony were over tens of thousands of pilgrims and monk delegations from the Theravada and Vajrayana traditions.

5. Grand Buddha at Ling Shan

It is located at the south of the Longshan Mountain near Mashan town of Wuxi in Jiangsu Province of China. It is a famous tourist attraction along with the nearby historic Xiangfu Temple, a thousand-year old Buddhism temple.

The bronze statue was commissioned in 1996 and has a height of 88 meters.

Leave a comment »

MARA – LOKA

MARA LOKA
Mo Jie – 魔界

蓮生活佛/文
oleh : Liansheng Huo Fo

在「神行中」亦曾進入魔界。

Saat melakukan Perjalanan astral, pernah memasuki maraloka.

十魔即是:

Sepuluh Mara yaitu :

蘊魔──色受想行識五蘊變化,為眾罪之源頭。
1. Mara Pancaskandha (yun mo – 蘊魔): Manifestasi dari pancaskandha rupa, vedana, samjna dan samskara ; Merupakan sumber dari semua pelanggaran.

煩惱魔──擾人心思,混亂正理。
2. Kileshamara (Fan Nao Mo – 煩惱魔) : Menggoda pikiran manusia, mengacaukan kebenaran.

業魔──殺盜淫妄業,而成魔。
3. Karmamara (Ye Mo – 業魔) : karma membunuh, mencuri, berzinah dan berdusta yang menjadi mara.

心魔──疑、慢、傲成魔。
4. Hrdaya Mara (Xin Mo – 心魔) : Mara keraguan dan keangkuhan.

死魔──奪人生命、慧命。
5. Mara Kematian (Si Mo – 死魔) : Merampas nyawa manusia dan kebijaksanaannya.

天魔──欲界第六天主,障人善念。
6. Mara Devaputra (Tian Mo – 天魔) : Pimpinan surga ke enam alam nafsu, menghalangi kebajikan manusia.

善根魔──執著善根,不求精進。
7. Mara Akar kebajikan (Shangen Mo – 善根魔) : Melekat pada akar kebajikan, sehingga tidak mau tekun berusaha.

三昧魔──執著禪定,不求菩提。
8. Mara Samadhi (Sanmei Mo – 三昧魔) : Melekat pada samadhi, sehingga tidak mau merealisasi Boddhi.

善知識魔──慳吝於法,不度化眾生。
9. Mara Pembimbing (Shanzhishi Mo – 善知識魔) : Kikir akan Dharma, tidak membagikan ajaran dharma dan t idak mau menyelamatkan insan.

菩提法智魔──執著菩提法,有智慧,但障蔽解脫正道。
10. Boddhidharmajna Mara (Putifazhi mo – 菩提法智魔) : Melekat pada Dharma Boddhi, memiliki kebijaksanaan, namun menghalangi jalan menuju pembebasan.

(佛與魔,有時只是一念、一線)

Antara Buddha dan mara ada kalanya hanya sebatas satu pikiran atau satu garis saja.

看見有四魔坐著吟詩:

Melihat puisi yang dibuat oleh Catur Mara :

「娑婆紛擾事縱橫,不如此界安養城,苦樂全然不侵襲,方名自在最有能。」
Dunia saha penuh dengan berbagai masalah, tidak seperti dunia ini (Alam Mara) negeri ketenteraman, tiada serangan dari sukha dan dukha, sangatlah leluasa.

「死生俱脫稱無生,往生不如我無生,佛魔彼此皆同體,若分彼此道何成。」
Terbebas dari lahir dan mati disebut sebagai A jati, terlahir di tanah suci tak sebanding dengan aku yang tak terlahirkan ini, Buddha dan Mara adalah sama belaka, bila membedakannya bagaimana bisa mencapai Tao.

「文殊智慧只虛無,龍樹辯才也是拙,寄語行者真修者,世上何人不愚夫。」
Prajna Manjusri hanyalah omong kosong belaka, keahlian berdebat yang dimiliki oleh Nagarjuna Bodhisattva hanya kedunguan belaka, wahai para sadhaka sejati, di dunia ini siapakah yang tak pernah berbuat kesalahan.

「說真豈有幾箇真,說理不著尤非理,淨穢原來均是塵,入此三昧才迷蒙。」
Bicara kebenaran berapakah yang benar ?

Bicara teori “tidak melekat” sepertinya bukan kebenaran,

Suci dan kotor pada hakekatnya semua adalah debu,

Memasuki samadhi ini barulah berkabut.

這四首詩偈,聽來似乎有味,就差那麼一點點,那四魔看見我「神行」而至。

Empat bait puisi ini sepertinya bermakna, hanya kurang sedikit saja. Empat Raja Mara itu datang karena melihatku melakukan perjalanan astral.

一魔說:「這位蓮生活佛盧勝彥,上回,看破了我,我就走了。」

Mara yang satu mengatakan :
“Rinpoche Lusheng yan ini, sebelumnya pernah mengenali aku, maka aku pergi.”

其他三魔憤憤不平:「要不要縛他。」

Tiga mara yang lain menjadi marah dan gusar : “Mau mengikatnya ? !”

「要縛綁他甚容易。」三昧魔說。

Mara Samadhi mengatakan : “Mau mengikatnya mudah sekali.

「如何容易?」

“Mudah bagaimana ?”

「蓮生活佛盧勝彥最是有情,用『情絲』縛綁他,當然最是容易的了。」

“Rinpoche Liansheng  itu orangnya sangat sensitif,  ikat saja dengan masalah perasaan, tentu saja ini yang paling mudah.”

於是──

maka…

四魔手掌中,各出一線繩,祭了出來,我被團團綁住,一下子便動顫不得了,我智明全失。

Tiap tiap tangan 4 Raja Mara menggenggam jerat dan mengikat saya, seketika saya terguncang dengan hebat, sampai kehilangan kesadaran.

此四繩綁我,是有奇效,這正是我的弱點:
Empat jerat ini mengikat saya, yang merupakan kelemahan saya :

一曰「親情繩」。
1. Ikatan hubungan keluarga

二曰「感情繩」。
2. Ikatan Cinta kasih.

三曰「師徒情繩」。
3. Ikatan rasa Kasih antara Guru dan murid.

四曰「眾生情繩」。
4. Ikatan kasih terhadap para insan.

三昧魔哈哈大笑:「蓮生活佛盧勝彥,無法掙脫親情、感情、師徒情、眾生情,用此四繩綁他,最是易也,此 人為情所困,常常悲從中來,自艾自嘆,流淚痛苦,我們四魔看他有何方掙破情網。」

Mara Samadhi tertawa terbahak bahak :
“Rinpoche Liansheng tidak mampu melepaskan diri  dari ikatan keluarga, cinta kasih, guru murid dan para insan. Dengan empat jerat kasih ini untuk mengikatnya adalah cara yang paling mudah, orang ini akan dibuat susah oleh perasaan kasih , seringkali kesedihannya datang dari hal ini, dia akan menitikkan air mata, kita 4 Raja mara tinggal melihat dia bagaimana menghancurkan jala perasaan ini !”

其他三魔亦大笑:「有情有義的,被無情無義的綁箇死死的,哈哈!」

Ketiga mara yang lain “Orang yang berperasaan dan terlalu berbudi akan diikat mati oleh yang tidak berperasaan dan tak berbudi, haha !”

三昧魔恥笑我:「濫用感情。」

Mara samadhi mentertawakan saya : “Terlalu berlebihan dalam memakai perasaan.”

三魔亦說:「真是癡心人也。」

Ketiga mara yang lain mengatakan : “Benar – benar terlalu berperasaan.”

我被困在魔網之中,這也算是我的「因緣果報」吧!我的願始終未能了,眾生情緣重,一再的投胎轉世,生生 世世度眾生,眾生界未空,我怎能沒有眾生情?

Saya dibuat susah dalam jala mara, bisa dikatakan ini adalah karma saya ! Sejak awal sampai akhir saya tidak berdaya, perasaan saya terhadap para insan terlalu mendalam, selalu terlahir kembali, dalam setiap kelahiran menyelamatkan insan, bila alam para insan belum kosong, bagaimana mungkin saya tidak ada perasaan pada para insan ?

師徒情重,我的弟子五百萬,這五百萬弟子有了錯誤過失,全在我的身上,我的功德福報又不夠抵償。弟子的 行為過患,我怎能視之不見,聽之不聞,像我這樣子的人,師徒之情,怎能忘?

Perasaan antara Guru dan murid sangatlah mendalam, muridku ada jutaan, bila jutaan murid ini ada berbuat kesalahan, semua menjadi tanggungan saya, pahala dan berkah saya tidak cukup untuk membayarnya. Bila perjalanan hidup para siswa penuh kesulitan, bagaimana bisa saya tidak peduli, orang seperti saya ini bagaimana bisa melupakan hubungan guru murid ?

再說親情,那是最基本層次的感情,這一世的親生父母,協助度生的蓮香上師,子女之情,這是天生的,也是 多世的緣份,如何捨得?

Kemudian mengenai perasaan terhadap keluarga, itu adalah perasaan yang paling mendasar, orang tua dalam kehidpuan kali ini, Acarya Lian Xiang yang membantu saya menyelamatkan insan, perasaan terhadap putera dan puteri saya, ini adalah alamiah dan merupakan jodoh sejak banyak kehidupan yang lampau, bagaimana bisa dicampakkan ?

就這三項,已把我纏得無法呼吸了。

Tiga hal ini, telah mengikatku sampai tidak bisa bernafas.

最後提到感情,我是「有情菩薩」,這東西看不到、聽不到、摸不到,但,有感應。

Terakhir yaitu adalah perasaan cinta, saya adalah Bodhisattva berperasaan, benda ini tak bisa dilihat, tak bisa di dengar, tak tersentuh, namun ada kontak batin.

一、有電。二、有念。三、有覺。

1. Memiliki energi
2.Memiliki Pikiran
3. Memiliki nalar

年輕時掙脫不了,我知道很難掙脫,但,一個修行人,非掙脫不可,不掙脫必然沉淪,這也是甚難處理的,那 種感情是麻麻的感覺,不可思議的。

Saat muda tak bisa melepaskannya, saya tahu bahwa sulit sekali melepasnya, namun seorang sadhaka mau tidak mau harus melepasnya, karena bila tidak melepasnya maka akan terjerumus, ini juga sangat sulit diatasi, rasa itu bagaikan kesemutan, sangat tak terperikan.

這四道繩索,緊緊束縛著我,我陷入無望之中,「神行」也突破不了魔網。上下左右全被綁住。

Empat jerat ini, dengan kuat mengikatku, memasuki saya dengan tanpa harapan, dalam perjalanan astral juga telah menghancurkan jala mara. Atas – bawah, kiri – kanan semua telah diikat.

魔網愈縮愈小,我苦不堪言。我想,這四種情,原是由「我」自己的因緣所創造出來的,修行人要成為因果的 主宰者,而不是被因緣所控制者。

Jala mara semakin mengikat semakin erat, penderitaan yang saya rasakan tak terkatakan lagi. Menurut saya, empat macam perasaan ini, semua tercipta dari nidana “saya” sendiri. Seorang sadhaka harus menjadi tuan dari karma, bukannya malah dikendalikan oleh sebab-akibat.

要解除四種情的痛苦,一定要心智非常清明。身、口、意非常清淨,要懂得轉化。在感性上永恆 喜悅。

Bila ingin lepas dari dukkha catur mara, batin ini harus sangat suci dan terang.
Tubuh, ucapan dan pikiran, sangat suci, harus paham bagaimana mengubahnya. Sifat diri menjadi selamanya bersuka cita.

化小愛為大愛,無緣大慈,同體大悲。像親情、感情、師徒情,都應該化為眾生情。努力去度化眾生,但不執 著度化多少,這才是智慧的精華。

Merubah cinta yang sempit menjadi kasih yang luas, berbelas kasihan tanpa syarat, mengasihani insan lain bagai diri sendiri. Seperti hubungan keluarga, cinta, guru-murid, semua harus dirubah menjadi kasih kepada insan. Dengan tekun menyelamatkan para insan, namun tidak melekat dengan kuantitas insan yang diselamatkan, ini barulah intisari dari prajna.

能提起。能放下。這才是主宰者。(能自主的行者)

Mampu mendapatkan juga harus mampu melepaskan, ini barulah disebut master. (sadhaka yang menjadi tuan atas diri sendiri.)

當我領悟至此時,我感應到巨大的靈性力量發自吾心,這力量放出大毫光,無比的般若之光放了出來,不是小 般若,而是大般若,「嗡啊吽」,四條繩索一齊斷裂,我修持的根本能量全部展現了出來,大光明四 射。   四魔嚇呆了。

Saat saya menyadari hal ini, saya merasakan sebuah kekuatan roh yang amat besar dari batin, kekuatan ini memancarkan cahaya agung, sinar prajna yang tak tertandingi telah keluar, bukan kebijaksanaan kecil, melainkan kebijaksanaan agung ; Om Ah Hum, keempat jerat itu pun putus dan hancur, kemampuan pelatihan diri saya keluar sepenuhnya, cahaya agung menyorot ke empat arah, 4 Raja mara terkejut.

「南摩三十六萬億,一十一萬,九千五百,同名同號阿陀佛」我立起身,念了一句。

Saya berdiri dan melafal satu kali :
“Namo Amitabha Buddhaya dalam nama agung berjumlah tiga ratus enam puluh triliun seratus sembilan belas ribu lima ratus.”

我明白了:幻化。提起。放下。不執。

Saya memahami : ilusi, mengangkat, melepaskan, tak melekat.

三昧魔說:「看來我這回,又要跑了。」

Mara Samadhi mengatakan : “Kelihatannya kali ini aku harus kabur lagi.”

其他三魔說:「此人有綠色光、紅色光、紫色光、黃色光、金色光、橙色光、白色光,是虹光化身,我們溜也 !」

Ketiga mara yang lain juga mengatakan : “Orang ini punya sinar hijau, merah, ungu, kuning, emas, oranye dan putih, merupakan penjelmaan sinar pelangi, kita kabur saja !”

四魔飛奔他去。……

4 Raja mara kabur…

這是:我心感我佛。我佛即應我。應感非前後。心佛同一體。

Ini adalah : Perasaan hatiku mengharukan Yidam Buddha ku, Buddha ku berkontak dengan aku, kontak bukan dari dulu maupun mendatang, hatiku dan Buddha adalah  satu adanya.

我知道菩薩訶色欲經示:
女色者,世間之枷鎖,凡夫戀著,不能自拔。女色者,世間之重患,凡夫困著,至死不免。女色者,世間之衰 禍,凡夫遭之,無殃不至。

Saya tahu, dalam Sutra Nafsu Birahi ada dikatakan :
“Rupa wanita adalah belenggu di alam semesta, baik orang awam maupun dewa yang jatuh hati , tak mampu mengendalikan diri.

Kecantikkan wanita adalah bahaya besar di alam semesta, orang awam yang tergoda, sampai mati pun tak akan bisa menghindar.

Rupa wanita adalah bencana di alam semesta, orang awam yang terlanda, tiada petaka yang tak tiba.

行者既得捨之,若復顧念,是為從獄得出,還復思入,從狂得止,而復樂之,從病得差,復思得病,智者愍之 ,知其狂而顛,死無日矣!

sadhaka harus bisa melepaskannya, namun bila tetap memikirkannya, bagaikan berhasil keluar dari penjara, namun pikiran tetap berada di dalamnya ; Berhenti dari kegilaan cinta, namun tetap merasa senang dalam kegilaan ; Bagaikan sembuh dari sakit, namun tetap merasa sakit ; Bijaksanawan merasa sangat kasihan, terhadap orang yang tahu itu adalah tidak waras namun tetap terjebak di dalamnya .

凡夫重女色,甘為僕使,終身馳驟,為之辛苦,雖復鐵鑽千刃,鋒鏑交至,甘心受之,不以為患,狂人狂樂, 沉淪其中。

Orang awam mengutamakan birahi terhadap wanita, rela menjadi budaknya, seumur hidup selalu dirongrong, dipersulit, walau ditusuk ribuan pisau namun tetap rela menerima, tak merasa menderita, tergila gila pada manusia dan kesenangan, terjerumus di dalamnya.

行者若能棄之不顧,是則破枷脫鎖,惡狂厭病,離於衰禍,即安且吉,得出牢獄,永無患難。

Bila sadhaka dapat melepaskannya dan tidak memperdulikannya, maka akan mampu mematahkan belenggu itu, tidak menyukai kegilaan dan muak terhadap batin yang sakit, terhindar dari petaka, memperoleh ketenteraman, keluar dari kurungan, selamanya tiada petaka.

………..

當知此害,不可近也。………是以智者,知而遠之,不受其害,惡而穢之,不為此物之 所惑也。

Ketahuilah ini akibatnya, maka janganlah melekatinya…. Oleh karena itulah Para bijaksanawan memahami dan menjauhinya, sehingga tidak terlukai, muak terhadap kekotoran dan tak lagi dimabukkan oleh Wujud itu.

大寶積經,佛說一偈:
Dalam Maharatnakuta Sutra, Buddha mengucapkan sebuah gatha :

鋒刃刀山,毒箭諸苦,女人能集,眾多苦事。
Gunung belati, panah beracun dan semua dukha, itu mampu dihasilkan wanita, berbagai macam penderitaan.

假以香華,而為嚴好,愚人於此,妄起貪求。
Dipalsukan oleh wewangian dan bunga yang membuatnya tampak anggun, orang bodoh yang melihat ini, timbul keserakahan untuk memilikinya.

如海疲鳥,迷於彼岸,死必當墮,阿鼻地獄。
Bagai burung yang letih mengarungi samudera, menginginkan tepian, begitu mati pasti terjatuh ke neraka avici. (ket: bagai burung yang terjembab ke dalam samudera)

現見眾苦,皆來集身,善友乖離,天宮永失。
Nampak bahwa berbagai dukha semua tertumpuk di dalam tubuh, teman teman yang baik juga akan menghindari, selamanya kehilangan istana surga.

寧投地獄,馳走刀山,眠臥炎鑪,不親女色。
Memasuki neraka, berlarian di gunung belati, berbaring di tungku, janganlah menggandrungi birahi akan wanita.

我讀偈至此──心中大悟。

Membaca Gatha sampai disini, batin saya tercerahkan

女色之可怖畏矣!情欲之可佈畏矣!

Birahi adalah sangat menakutkan ! Nafsu cinta sangat menakutkan !

感情之繩,自然斷裂,無影無蹤!

Ikatan perasaan cinta, dengan alamiah terpatahkan tanpa sisa !

由佛陀之偈,想起盧家最早的祖先「姜子牙」,他也唱了一偈:

Dari gatha Sang Buddha teringat akan sajak yang digubah oleh leluhur marga LU (qu zi ya) :

青竹蛇兒口。黃蜂尾上針。兩者皆不毒。最毒婦人心。
Bambu hijau mulut ular, lebah kuning berekor sengat, keduanya tak beracun, namun yang paling beracun adalah hati wanita.

對於佛陀的偈及姜子牙(姜尚)的偈,我實在是無話可說,或許這些古來的評語對女性是不公平的,但,我自 己又如何去為異性辯解,幾乎我自己也有口難言了。

Terhadap gatha dari Sang Buddha dan sajak dari Quziya, saya tidak berkomentar, atau mungkin juga kata kritikan kuno ini terasa tidak adil bagi para wanita, namun saya sendiri harus bagaimana menjelaskan mengenai yang berbeda gendernya, sampai sampai saya sendiri juga sulit mengungkapkannya.

當我在魔網中時,我已覺悟到「親情」、「感情」、「師徒情」、「眾生情」,往往全是一時之 幻。

Saat saya berada dalam jala mara, saya telah menyadari bahwa ikatan keluarga, cinta, guru-murid dan insan, semata – mata hanyalah ilusi sesaat belaka.

親情是一時之幻,感情是一時之幻,師徒情是一時之幻,眾生情是一時之幻,這根本是「幻成」的世界。大家全在 妄執情緣,影子追逐影子,生死之後,任何情均歸於業海了。

Ikatan keluarga adalah ilusi sesaat, ikatan cinta adalah ilusi sesaat, ikatan guru murid adalah ilusi sesaat, ikatan perasaan pada insan juga adalah ilusi sesaat, dunia ini adalah dunia yang terbentuk dari ilusi belaka. Orang-orang sedang melekat terhadap jodoh ikatan, bayangan mengejar bayangan, setelah lahir dan mati, semua ikatan perasaan kembali lagi ke samudera karma.

只是佛菩薩──以情起用。悲智無涯。垂機度化。色心俱寂。

Hanya saja Buddha Bodhisattva menggunakan perasaaan dengan benar. Karuna Prajna tanpa batas, memberikan pengajaran Dharma, batin rupa dalam ketenangan.

我奉勸有志修行的行者,要避開:

Saya menghimbau supaya sadhaka yang sejati harus menghindari :

一、婬因──這是一念污染的心,男女都一樣,勿起一念污染。
1. Penyebab perbuatan cabul – sekali terlintas pikiran kotor, baik pria maupun wanita sama saja, jangan sampai timbul selintaspun pikiran kotor.

二、婬緣──這是避開非地,多種助成其婬的緣份,如男女瞻視隨逐均是也。宜避之。
Nidana perbuatan cabul – yaitu menghindari segala sesuatu dan beraneka macam nidana yang menyebabkan terjadinya perbuatan cabul, termasuk yang sepele sekalipun seperti saling memandang penuh arti.

三、婬法──對婬書、婬畫、摩觸稱嘆、婬具、婬店、資具方法,都應該避之。
3. Benda-benda cabul – harus menghindari buku cabul, Makian dengan kata cabul, alat-alat cabul, toko – toko cabul dan cara- cara cabul.

四、婬業──不著婬業,二根交接,成就婬事的事業,均不可為也。
4. Perbuatan cabul – jangan melekati tindakan cabul, bersatunya dua kemaluan, dan semua pekerjaan cabul, semua tidak boleh dilakukan.

今日此時,我寫下「當下的清涼心」、「當下的明燈」、「那老爹的心事」是奉勸迷者,幻夢要早醒,及時要 回頭,一般人回頭可延壽保命,可敦品勵志,可富貴綿長。而行者可覺世真修,清淨自在,解脫煩惱 。

Saat ini saya menulis Batin Teduh Seketika, Illumination dan Beban Pikiran Pak Tua adalah untuk menyadarkan yang tersesat, membangunkan yang sedang bermimpi, mengingatkan untuk berpaling, bila mau berpaling maka akan bisa memperpanjang usia, menjadi suci dan bermoral, serta memperoleh kemakmuran. Sadhaka dapat menyadari dunia dan memasuki pembinaan sejati, leluasa nan suci, terbebas dari kilesha.

勉之,勉之。
Camkanlah baik baik !

Leave a comment »

KEAGUNGAN NAMA SAKYAMUNI THATAGHATA 3

Yangjue Moluo JIng Bab 4

Manjusri Bodhisattva berkata pada Buddha :
“Baghavan, apakah para insan tidak ada karma akar ?”

Buddha menjawab:
“Mereka memiliki karma akar, namun hanya sedikit yang bisa mendengar sutra ini. Asankyeya tak terhingga kesalahan itu semua akan disucikan, oleh karena apakah ? Tathagata telah berikrar agung selama asankyeya kalpa tak terhingga. Supaya para insan yang belum terselamatkan menjadi terselamatkan, yang belum bebas menjadi memperoleh pembebasan. Dengan akar kebajikan dari ikrar ini, matahari kebijaksanaan Tathagata bersinar, menyinari semua karma buruk yang tak terhingga dan melenyapkannya. “

“Dan lagi Manjusri, saat sang mentari belum terbit dan awan menutupi seluruh bagian dunia, namun begitu sedikit saja sinar mentari muncul, maka segala rintangan akan sirna, begitu pula dengan tumpukan karma buruk sejak asankyeya kalpa tak terhingga. Saat matahari sutra ini belum terbit, para insan lahir dan mati dalam samsara, namun begitu matahari sutra ini terbit, dalam sekejap tumpukan karma buruk sirna. “

“Oleh karena itulah, bila mendengar nama Sakyamuni Tathagata, walau belum membangkitkan Bodhicitta namun telah menjadi Bodhisattva.”

Oleh karena ikrar Tathagata, maka yang belum terselamatkan akan terselamatkan, Satya Dharma akan membuatnya sadar. Oleh karena itulah wahai Manjusri ! Barangsiapa mendengar nama Tathagata , maka dia adalah Bodhisattva , bukannya dia sendiri yang dapat menyingkirkan kilesha, demikian pula mereka kelak akan juga memperoleh tubuh yang telah Aku dapatkan ini.

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 86 pengikut lainnya.