Mantra Khai Guang untuk Pratima Baru

Sebelum membaca mantra dan tata cara kai guang anda terlebih dahulu harus menerima abhiseka dari Mula Acharya.

Mantranya:

Kai guang, kai guang, kai guang cou 3x
jek de guang, yek de guang, tian de guang.
kai yan guang kan shi jie
kai er guang ting cung shen de you qiu
kai kou guang shuo fa du cung
kai xin guang fa pu di xin
kai shou guang bang man cung shen
kai cuk guang fei wan ri, jiu cung shen
kai shen guang fang da guang min, zhia ce cung shen.

membentuk mudra pedang
terus bervisualisasi aksara “OM ,AH ,HUM ,SHIE”

Ada juga cara lain utk khai kuang pratima, Langkah2nya sbb:

1.Bersihkan rupang.
2.Percikkan air Maha Karuna atau bilas dgn air suci (tergantung bahannya)
3.Siapkan persembahan
4. Lafal Sutra Tiandibayangshenzhoujing 3x utk memutar balikkan pengaruh
jelek atau segala chiong.
5.Sadhana spt biasa, sebelum tahap mantra pengundang, japa 108x Mantra Guru dan mohon Guru turun dan hadir memberkati rupang, mengundang dewata yg bersangkutan. Mantra pengundang dan sebut nama adinata bersangkutan, dan visualisasikan masuk dalam rupang. Rupang bercahaya memenuhi Dharmadathu..lalu di.lanjutkan dengan sadhana.

Leave a comment »

Bhadrakumbha Prana (pernapasan Botol)

Kemudian Dharmaraja Liansheng melanjutkan Dharmadesana Dzogchen, serta secara langsung menjelaskan dan memperagakan kiat Bhadrakumbha Prana yaitu : TARIK, PENUH, MENYEBAR dan MELUNCURKAN. Demikianlah langkah-langkahnya :

1. Duduk dalam Tujuh Postur Vairocana.
2. Bervisualisasi di angkasa hadir Kesadaran Tertinggi Semesta berupa cahaya terang.
3. TARIK : Melakukan pernafasan penuh, menarik nafas sampai ke perut dan turun ke Dan-tian. ( Untuk wanita cukup sampai ke cakra hati / Dan-tian tengah )
4. PENUH : Penuh prana dalam Dan-tian, mengetatkan otot anus, ujung lidah disentuhkan langit-langit mulut, menekan tenggorokan.( Prana atas ditekan ke bawah, prana bawah dinaikkan ke atas ) , menahan nafas, menjadi bentuk Bhadrakumbha.
5. MENYEBAR : Menyebar yang pertama adalah prana masuk ke dalam Sushumna ; Menyebar yang kedua adalah prana diarahkan ke semua nadi di sekujur tubuh, bahkan sampai ke pembuluh darah kapiler. ( Pertama kali bisa mulai dari setengah menit, kemudian sampai satu menit, kemudian bisa ditingkatkan ) menahan prana dalam waktu lama, dengan alamiah prana akan memasuki Sushumna, dan dengan sendirinya juga ke sekujur tubuh.
6. MELUNCURKAN : Saat sudah tidak kuat menahan nafas, keluarkan. Langkah pertama adalah terlebih dahulu diarahkan ke ubun-ubun ( Ini merupakan Metode Phowa, namun begitu usnisa terbuka, satu bulan hanya boleh dilatih satu kali, tidak boleh lebih, juga harus bervisualisasi kaki Yidam menginjak dan menutup usnisa sadhaka, jika tidak demikian bisa menyebabkan pendek usia. )Yang kedua, baru mengeluarkannya lewat hidung.

Penekunan Bhadrakumbha Prana termasuk metode olah prana golongan keras, ada efeknya ( ada bahayanya ) , yang harus diperhatikan adalah :

1. Paling tepat dilakukan pagi hari kala perut kosong.
2. Setiap harinya dalam penekunan tidak boleh lebih dari 21 tarikan nafas.
3. Dalam menahan nafas tidak boleh dipaksakan, cukup dengan cara meningkatkan waktu secara bertahap.
4. Hanya menggunakan hidung untuk menghirup dan mengeluarkan nafas, tidak boleh melalui mulut.
5. Jika terlampau banyak menembus ubun-ubun, bisa mengakibatkan pendek usia, setelah usnisa telah terbuka, setiap bulan hanya boleh menembusnya satu kali.
6. Jika menekuninya secara berlebihan, dapat mengakibatkan telinga berdenging, mata merah, mimisan, gusi bengkak, pusing, sakit kepala dan aneka efek samping lainnya, harus menekuninya dengan disesuaikan.
7. Akan timbul fenomena abhijna dan tembus alam roh.
8. Wanita tidak boleh menekuninya saat sedang datang bulan, bisa mengakibatkan pendarahan.
9. Saat sakit, flu, saat kurang fit, samasekali tidak boleh menekuninya.

Dharmaraja Liansheng mengatakan jika penekunan Bhadrakumbha Prana bisa dipadukan dengan Metode Air Dewata, maka manfaat yang diperoleh akan lebih baik lagi, demikianlah tahapan penekunanya :

1. Lidah diputar – putar di garis gigi.
2. Menghasilkan air liur.
3. Menggunakan lidah untuk mengaduk liur menjadi buih.
4. Menelan buih liur.
5. TARIK : Nafas memasuki Dantian.
6. PENUH : Menjadi Bhadrakumbha.
7. MENYEBAR : Sampai ke Sushumna dan sekujur tubuh.
8. MELUNCURKAN : Prana dikeluarkan melalui hidung.

Berikut merupakan manfaat dari penekunan Air Devata yang dipadukan dengan Bhadrakumbha Prana :
1. Bindu ( Hormon ) akan terus tumbuh.
2. Tubuh sehat dan kuat, awet muda, menyehatkan otot dan tulang.
3. Prana asali melimpah, penuh semangat.
4. Prana dan darah akan mengalir lancar tidak terrintangi, menghindarkan dari penyakit pembuluh darah jantung.
5. Usus dan lambung sehat, pencernaan baik.
6. Prana memasuki Sushumna, membuka cakra, dapat menyaksikan sinar gemilang, melihat asap, melihat cahaya terang, pada akhirnya dapat menyaksikan terangnya Buddhatta.

Dharmaraja Liansheng mengatakan bahwa Bhadrakumbha Prana merupakan sarva-guna ; Dapat mencapai Anasrava, dapat membangkitkan Kundalini, dapat menaikkan dan menurunkan bindu, merupakan dasar semua Sadhana Dalam, sangat penting !

Buddha Dharma ada sejati juga ada yang dipalsukan, namun yang diajarkan oleh Dharmaraja Liansheng merupakan yang sejati, bahkan gratis tidak dipungut biaya !

( Note Penterjemah : Sadhana Dalam memerlukan abhiseka sarana dan abhiseka penekunan Sadhana Dalam secara langsung. Penekunannya memerlukan bimbingan Vajra Acarya sejati yang benar-benar menekuninya. Semua syarat ini mutlak diperlukan , jika diabaikan bisa mengakibatkan pelanggaran ketentuan Dharma, hasil yang menyimpang dan bahkan berbagai efek samping yang buruk )

Leave a comment »

Sadhana Bindu (inti sari Kehidupan)

Sadhana bindu

Dharmaraja Liansheng melanjutkan pembabaran 9 Tingkat Dzogchen, Sadhana Bindu merupakan Sadhana tertinggi dalam penekunan Sadhana Dalam !

Dalam penekunan Sadhana Dalam Tantrayana, terdapat oleh prana – nadi dan bindu, sedangkan Sadhana Bindu sudah merupakan yang tertinggi dalam sadhana dalam. Sekujur tubuh kita termasuk darah dan hormon merupakan bindu, dan bindu yang paling penting adalah bindu pada Cakra Ajna, yang diwakili oleh aksara HANG ,disebut sebagai Cairan Rembulan Bochicitta, disebut juga Padma berkelopan Seribu.

Pada mulanya Cairan Rembulan Bodhicitta adalah solid, beku, namun dengan pembangkitan kundalini, akan meleburkan Cairan Rembulan Bodhicitta, sehingga bindu dapat menetes ke bawah.

Pembangktian Kundali berfungsi untuk membakar bindu, saat bindu turun mengalir melalui Sushumna, akan menghasilkan Mahasukha ; Saat bindu turun ke Cakra Visuddhi akan menghasilkan semacam sukha yang disebut Sukacita Awal ; Saat bindu turun ke Cakra Anahata akan menghasilkan Sukacita Unggul ; Saat turun ke Cakra Manipura akan menghasilkan Sukacita Yang Melampaui ; saat turun ke Cakra Muladhara akan menghasilkan Sahajananda ( Sukacita Asali ), inilah Empat Sukacita.

Setelah bindu turun, kemudian bindu yang semua dinaikkan, akan timbul Sukha yang lain lagi, pada sukha yang demikian akan timbul anubhava sunyatha, inilah Empat Sunya.

Kemudian Dharmaraja Liansheng Menjelaskan : “Sukha tidak bisa diambil, namun bisa dirasakan melalui ekspresi dan ucapan, oleh karena itu persepsi lah yang membuat Anda bersukacita. Sukha yang umum tidaklah bertahan lama, namun Empat Sukacita dalam Tantrayana melampaui sukacita manusia awam.”

Dengan visualisasi kita juga bisa menghasilkan Sukha, penekunan Tantrayana bisa memperoleh Empat Sukacita dan Empat Sunya, dengan menggunakan prana – nadi dan bindu bersirkulasi naik turun menggesek, dapat menghasilkan Sukha yang bisa bertahan beberapa jam, bahkan bisa bertahan seharian penuh, juga bahkan sukha yang abadi, Sukha ini dapat melampaui semua kerisauan, mampu mematahkan lobha dosha dan moha, sukha yang demikian mudah memasuki Samadhi, dengan melakukan meditasi dalam Sukha tanpa batas , maka dengan mudah akan menyaksikan Sinar Kesunyataan Bindu.

Pembangkitan Kundalini adalah demi Sadhana Bindu , Sushumna merupakan akar dan sumber Mahasukha dan Mahaprabha, Sukha timbul dari gesekan, sukha bukan pada satu tempat saja, tapi pada sekujur tubuh, sekujur tubuh adalah bindu.

Sedangkan yang terutama dalam Sadhana Bindu adalah membuka Lima Cakra, saat semua nadi dan cakra terbuka, bindu akan memasuki semua nadi dan cakra, sehingga semua organ dalam akan harmoni, sekujur tubuh menghasilkan sinar terang.

Sukha yang umum tidak sebanding dengan sukha tertinggi dalam hidup manusia , sedangkan sukha dalam hidup manusia tidak sebanding dengan Sukha yang dihasilkan gesekan pada Sushumna. Sebab saat prana menggesek pada Sushumna, tubuh akan merasa enteng, mudah memasuki samadhi, ini disebut Samadhi Sukha dan Sunya, jika kita menekuni sampai terbukanya Cakra Anahata maka bisa menyaksikan Buddhatta, saat sinar Buddha diri sendiri melebur dengan Sinar Buddha Alam Semesta, berarti mencapai Kebuddhaan.

Dharmaraja Liansheng juga mengajarkan kepada semua bagaimana cara melonggarkan lima cakra :

1. Cakra Ajna : Kedua tangan beranjali, dengan ringan diketukkan ke arah cakra ajna, dapat melonggarkan cakra ajna.

2. Cakra Visuddha : Leher melakukan gerakan memutar perlahan, dapat melonggarkan cakra visuddha.

3. Cakra Anahata : Melakukan push up dapat melonggarkan cakra anahata.

4. Cakra Manipura : Sit-up dapat melonggarkan cakra manipura.

5. Cakra Muladhara : Melatih Zhu jianfa dapat melonggarkan Cakra Muladhara. ( Note : Zhu jianfa hanya dapat ditekuni setelah memperoleh abhiseka dari Dharmaraja Liansheng )

Asalkan caranya tepat, maka semua nadi dan cakra akan terbuka,melalui penekunan yang konsisten, kelak suatu hari nanti pasti akan mengalami Mahasukha ! Setelah memperoleh Mahasukha, tidak akan lagi serakah pada harta, seks, ketenaran, sebab Mahasukha mengungguli semua nafsu keinginan, Mahasukha adalah Lobha yang terbesar . Begitu tiada lagi lobha, maka Anda telah melampaui, segala penderitaan akan sirna, Anda menjadi Suciwan, Anda dapat meraih Siddhi.

Leave a comment »

Tips sadhana Anasrava(non bocor)

visualisasi sadhana anasvara

Dharmaraja melanjutkan pembabaran mengenai cara penekunan luar dan dalam dari Sadhana Anasrava dalam Dzogchen.

Sadhana Anasrava sangat penting, sebab jika bindu bocor, tubuh bagian bawah akan dingin, tidak mampu mempertahankan suhunya, maka tidak akan bisa mengkonsentrasikan prana, tidak mempunyai daya untuk mempertahankan AIR, maka akan timbul banyak masalah di tubuh.

Dalam menekuni Sadhana Anasrava, kayu bakarnya harus cukup, dengan demikian Kundalini bisa bangkit dengan mudah. Terlebih dahulu kita menekuni Bhadrakumbha Prana sampai mempunyai prana yang melimpah, kemudian melanjutkan dengan Sadhana Anasrava, membangkitkan Kundalini, kemudian menekuni Sadhana Pengolahan Bindu, jika pintu airnya kokoh, maka tidak akan bocor.

Biasanya, dikarenakan gravitasi bumi, semua kekuatan akan tertarik ke bawah, oleh karena itu semua benda akan mengarah ke bawah, Anda memerlukan daya untuk mengangkatnya.

Kita menekuni Sadhana Anasrava, bagian perut akan bertenaga, akan mempunyai daya untuk mengangkat.

Berikut merupakan pembabaran Dharmaraja Liansheng mengenai tahapan Visualisasi Dalam di Penekunan Sadhana Anasrava :
1. Membentuk Mudra Vajranguli kemudian menekan lembut kepada ubun-ubun.
2. Bervisualisasi bagian perut terdapat aksara HUM merah yang mengait Padma putih ( Bodhi Putih ) , untuk wanita bervisualisasi di bagian ini mengait Padma Merah ( Bodhi merah )
3. Meneriakkan HUM, kedua tangan diangkat ke atas dengan kuat, bervisualisasi aksara HUM dan padma terangkat sampai ke ubun-ubun.
4. Saat itu bervisualisasi di atas ubun-ubun terdapat aksara HUM dan padma yang berdiri, di bawahnya terdapat Usnisasirsa ( Bagi wanita tidak perlu memvisualisasikan Usnisasirsa )

Dharmaraja Liansheng melanjutkan dengan transmisi Postur Luar untuk Sadhana Anasrava ( Enam Postur Sakya ), berikut kiatnya :

1. SURYA CANDRA MENENGADAH KE LANGIT
Kedua mata melihat ke atas, memindahkan konsentrasi pada Yidam di atas, supaya bindu dapat dipertahankan.

2. UJUNG LIDAH MENYENTUH LANGIT-LANGIT MULUT
Supaya prana memperoleh jembatan yang menghubungkan ke atas, tak terintangi.

3. MENEKAN TENGGOROKAN
Setelah menekan dan mempertahankan prana, prana disimpan tak tergoyahkan. Bagaikan sedotan yang ditekan kemudian diangkat, maka air tidak akan jatuh ke bawah.

4.PERUT MENEMPEL PADA PUNGGUNG
Menggunakan kekuatan perut untuk menuntun bindu menuju ke atas, ditarik sampai ke dalam tubuh, jangan sampai keluar.

5. PRANA ATAS DIKELUARKAN
Memuntahkan prana atas, dengan demikian bisa mengalirkan bindu ke atas.

6.MENGETATKAN OTOT ANUS

Enam Postur Sakya di atas, diselesaikan dalam sekejap. Saat belum timbul sukha, menangkap bindu kembali, diri sendiri harus merasakannya.

Meski sangat sukar, namun harus tetap belajar sampai menguasainya, sebab dengan demikian baru bisa mengokohkan akar, ini adalah sumber daya, dengan adanya sumber daya barulah bisa membangkitkan Kundalini.

Berikut merupakan Manfaat penekunan Sadhana Anasrava :
1. Kesadaran dan Prana akan segar dan fit, Chi positif tercukupi.
2. Bagian perut berkekuatan, kandung kemih kuat, mencegah mengompol.
3. Hormon bertumbuh, daya tahan tubuh kuat, tidak akan bungkuk.
4. Mampu mempertahankan dan mengangkat bindu, tidak bocor.
5. Dapat menghasilkan Mahasukha.
6. Menembus Sushumna.
7. Samadhi Mahasukha.

Setelah berhasil dalam Sadhana Anasrava, perlu menekuni Sadhana Kundalini, sebab perlu untuk mentransformasikan Bindu menjadi Prana “Melebur intisari menjadi prana.” , jika hanya menekuni Anasrava namun tidak menekuni pembangkitan Kundalini, tetap masih berpenyakitan, akan timbul masalah. Menurut ilmu kedokteran, jika bindu tidak dipergunakan akan rusak, oleh karena itu kita perlu menggunakan kekuatan api untuk mentransformasikan bindu menjadi uap, kemudian didistribusikan ke semua pembuluh darah, pori-pori dan tulang.

Dharmaraja Liansheng menyimpulkan bahwa penekunan Sadhana Anasrava ada manfaatnya, antara lain dapat menembus Sushumna, prana berkecukupan, tidak mudah jatuh sakit, menghasilkan mahasukha, prana cukup sukha juga cukup, usai Mahasukha dapat dengan mudah memasuki Samadhi, di dalam sukha yang hangat ini, akan menyaksikan terang, setelah menyaksikan terang, kemudian menekuni Metode Melihat Sinar dalam Dzogchen akan lebih mudah berhasil.

Dharmaraja Liansheng telah membeberkan Sadhana Anasrava yang demikian unggul dan berharga, supaya semua umat memperoleh rahasya penekunan Sadhana Dalam, lubuk hati setiap umat dipenuhi rasa syukur , juga penuh dengan Dharmasukha !

Leave a comment »

Tips Samadhi Kundalini dalam Dzogchen

meskipun hidup makmur, tetap harus memahami bahwa itu semua hanyalah fenomena sementara, semua adalah ilusi, begitu waktunya tiba semua bisa berubah menjadi hampa.

Sebab semesta ini anitya, ada lahir pasti ada mati, ada kuat pasti ada lemah, ada kebangkitan maka pasti ada kejatuhan ; Meyakini keberadaan neraka, tahu menekuni bhavana. Orang yang pernah mengalami penderitaan, baru mengetahui betapa berharganya bhavana.

Kemudian Dharmaraja Liansheng melanjutkan dengan Dharmadesana mengenai kiat Samadhi Kundalini dalam Dzogchen, terlebih dahulu mengingatkan bahwa penekunan olah prana dimulai dari penekunan

1. Sembilan Tahap Pernafasan Buddha,

2. Vajra-japa,

3. Bhadrakumbha Prana, ditambahkan dengan Sadhana Air Dewata,

terus sampai merealisasikan Anasrava, barulah memulai penekunan pembangkitan Kundalini.

Kunci utama pembangkitan kundalini adalah : Pada tubuh setiap orang terdapat api, hanya saja masih belum berkobar.

Tubuh manusia merupakan gabungan elemen tanah, elemen air, elemen api, elemen angin dan elemen akasha.

Elemen Tanah adalah tulang dan daging ; Elemen Air adalah darah ; Elemen Api adalah suhu tubuh ; Elemen Angin adalah udara nafas ; Elemen akasha adalah pikiran.

Sedangkan Kundalini adalah memanfaatkan suhu pada tubuh, Elemen Api untuk melakukan pembinaan diri.

Dimanakah Elemen Api ini ?
Menurut Bhavana Tantrayana, lokasinya terletak empat jari di bawah pusar ( Dantian bawah ) , disana terdapat bija dari Api Induk, dari sinilah sumber panas tubuh.

Ini adalah Darah Induk, yaitu Dorje Pagmo ( Bunda Vajra Varahi ) , penekunan pembangkitan kundalini adalah melalui Bunda Vajra Varahi sebagai Adinata Adhistana.

Ada Tiga Syarat Dalam Penekunan Kundalini :
1. NAFAS :
Dibagi menjadi : halus, perlahan dan panjang ( Api Lembut ) dan Kasar, cepat dan pendek ( Api Keras ) ( Pernafasan Berritme )

2. PIKIRAN
Istana Kelahiran Dharma yang berlokasi di empat jari di bawah pusar, berbentuk mirip Bintang Daud.

Dilihat dari atas berbentuk Bintang Daud, dilihat lurus adalah dua segitiga berdiri ; Dorje Pagmo ada di segitiga atas, dari sinilah api bangkit, setinggi dua jari atau boleh juga memvisualisasikan satu segitiga

Kemudian menggunakan tanur tinggi ( pernafasan penuh ) untuk meniup Api Induk, Api Induk akan bergoyang, akan memancar, meledak-ledak bagaikan matahari , juga akan naik ke atas. Naik sampai ke manipura cakra, sampai anahata cakra, visudhi cakra, ajna cakra, sekujur tubuh adalah api, menggunakan kekuatan nafas, supaya dia menjadi hangat, merah bercahaya, lari ke bagian atas. Ini semua memerlukan pikiran.

Menekuni pembangkitan Kundalini juga membutuhkan kesabaran. Harus menggunakan pernafasan penuh untuk menghirup, dan pikiran tidak boleh terpecah, tiada suara.

3. GESEKAN
Saat tidak bisa bangkit, harus menggunakan cara tekanan, menggunakan cara gesekan, supaya bisa dibangkitkan. Seperti saat cuaca sedang dingin, kedua telapak tangan saling digesekkan, menghasilkan panas ; Juga bagaikan kayu yang digesekkan untuk menghasilkan api, tidak hanya menggunakan angin untuk menghasilkan api, juga perlu untuk menggunakan metode menggesekkan kayu.

Api lembut dan api kasar (Ritme pernafasan) saling berpadu , kemudian menggunakan gesekkan untuk menghasilkan panas, setelah dipanaskan, bervisualisasi api membumbung ke atas, api bisa membakar bindu, sekujur tubuh berada dalam api.

Manfaat Pembangkitan Kundalini :
1. Bindu menjadi prana, sepenuhnya Anasrava.
2. Tubuh sangat sehat, daya tahan tubuh bertambah kuat.
3. Kondisi batin tenteram, prana harmoni, suasana hati bebas dari kekhawatiran.
4. Batin sejuk dan damai.
5. Menghasilkan Mahasukha dan abhijna.
6. Membakar habis klesha.
7. Leluasa dan ringan, tidak terombang ambing oleh dunia fana.
8. Mudah memasuki Samadhi Terang Api.

Dalam Samadhi membuka lima cakra, membuka sushumna, menyaksikan terangnya Buddhatta.

Kundalini disebut juga api internal, hangatnya roh, ular roh. Penekunan ini membutuhkan konsistensi dan ketekunan.

Menekuni pembangkitan kundalini, menggunakan pernafasan penuh sebanyak 10x sampai di manipura cakra, kemudian 10x lagi sampai ke anahata cakra, terus demikian sampai ke ajna cakra, maka bindu akan larut turun.

Bangkitnya kundalini dapat menghasilkan sinar, dapat menyaksikan sinar internal dan eksternal. Sadhana Pembangkitan Kundalini berhubungan dengan Pencapaian Kebuddhaan Secara Langsung dan Sinar Pelangi.

Dalam menekuni Sadhana ini harus senantiasa berdoa memohon adhistana Guru, Yidam, Dharmapala dan Bunda Vajra Varahi.

Terakhir, Dharmaraja Liansheng menggunakan lelucon mengenai “Rasa Gatal yang Timbul Bertahap Selama Tujuh Tahun.” sebagai perumpamaan tahapan pembangkitan kundalini :
Tahun pertama adalah masih baru, tahun ke dua adalah telah familiar, tahun ke tiga adalah kebosanan dikala api masih belum bangkit, tahun ke empat adalah sedikit menarik, tahun ke lima adalah mulai ada api ( pembangkitan), tahun ke enam mulai meronta, tahun ketujuh sekujur tubuh adalah api.

Namun ini semua membutuhkan penekunan bertahun-tahun, bukan sesuatu yang bisa dicapai hanya sekejap saja.

Juga bisa menggunakan Metode Memukul, memukul semua nadi sekujur tubuh , supaya tidak terrintangi, namun juga tidak perlu terlampau keras. Metode memukul bisa melancarkan peredaran darah, dengan sendirinya bisa menghasilkan panas ; Menggunakan panas eksternal untuk membantu panas internal, kemudian menggunakan visualisasi, kemudian menggunakan pernafasan, maka Kundalini pun bangkit !

Leave a comment »

Usnisa Vijaya Talisman

cunsengfomu talisman

 

 

Usnisa vijaya /Cunseng Fomu talisman

Leave a comment »

Amogaphasa Talisman

amogapasa talisman

 

Mantra Rahsaya Usnisa yg Suci

Mantra Cakra Pemenuh Keinginan :
“OM . PA MO. WU XU NI XIA. BI MA LEI. HUM PEI”
(嗡 帕摩 無許尼夏 畢瑪雷 吽 呸)
Sumber : Amoghapasavalokitesvaratantra

Mantra ini adalah mantra rahasya Usnisa Teratai Putih tanpa noda yang mengandung mahaadhistana mebikis dan menyucikan karma buruk bagi yang dapat melihat , menyentuh (versi tulisan sansekertanya) dan membabarkan mantra ini.
Mantra ini tercatat dalam bentuk aksara sansekerta kuno dalam Amoghapasavalokitesvaratantra dan di Sutra Mendirikan Bangunan (建屋經)
Pahalanya adalah :
Bagi yg dapat melihat aksaraNya akan memperoleh mahaadhistana. Bila mantra ini diletakkan di atas pintu atau tempat yang tinggi, atau di tempat tinggi dimana banyak dilewati orang, barangsiapa yang telah melewati Nya, akan memperoleh mahadhistana (Pemberkatan/pemberkahan) yang sangat kuat, akan membangkitkan inspirasi menyucikan trikarma. Mengikis karma buruk sejak masa tak terhingga.
Setiap hari menjapakan Nya 7 kali dapat terlahir di Tanah Suci, setelah menjapa mantra ini, meniupkan Qi kepada pakaian atau dupa bakaran, dapat menyucikan diri sendiri dan makhluk lain. Bila dupanya dibakar akan memiliki kekuatan penyucian.

Di Tibet, mantra ini sering ditulis diatas kertas dan diletakkan diatas tubuh almarhum, dapat membantu membangkitkan aspirasi kesucian bagi almarhum.
Supaya mereka tdk terjerumus kealam rendah.
Bila hanya mengingat mantra ini 1 kali, kekuatanNya mampu mengikis Pancagarukhakarma.
Segala kejahatan dan halangan kegelapan batin dapat dihancurkan, selamanya tdk akan terjatuh di alam rendah.

Mantra ini dapat membuat orang mengingat kehidupan lampau dan melihat kehidupan yg akan datang.
Tiap hari menjapa 7 kali , pahalanya bagaikan memberi persembahan pada Buddha yg tak terhingga banyaknya.
Setelah menjapanya ditiupkan ke pasir dan pasir ditebar diatas mayat atau kuburan, akan dapat menyeberangkan arwah. Bila dapat ditupkan di minyak wangi , maka bau minyak wangi akan membuat orang ter adhistana dan terinspirasi mencapai ke Buddhaan.
Umumnya
Kl cari d Shambala Buddhist Shop, harganya sekitar 100rb lebih (wujudnya lembaran kain)
Kl d Counter feng shui d bbrp toko Buku G*a*e*i*, harganya sekitar 450rb-an (Wujudnya lempengan Kayu)

Kl mau cetak perbanyak utk dibagi” silahkan
diutamakan dlm wujud stiker (agar mudah digunakan)
tp kl lembaran kertas/lembaran kain tdk dilarang
(ada baiknya menululis fungsinya di lembar sebaliknya, agar umat&siswa yg akan mengambil tau fungsi & cara penggunaann

source : http://www.wihara.com/forum/true-buddha-school/15648-mantra-rahsaya-usnisa-yg-suci-usnisa-vijaya-dharani.html

sedangkan Amogapasa Avalokitesvara versi TBSN

Mantra Hati Amoghapasa Avalokitesvara: “Om. A Mo Ga. Pi She Ya. Hum Pan Zha.”

Perkenalan Gambarupang Amoghapasa Avalokitesvara
Bodhisattva Amoghapasa Avalokitesvara, bertubuh putih, berwajah 3 bertangan 4, setiap wajah bermata 3, tangan kanan memegang japamala, berikutnya botol suci, tangan kiri memegang teratai, berikutnya tali.

Amogapasha avalokitesvara

Amoghapasa Avalokitesvara adalah salah satu dari 7 Avalokitesvara, setara dengan Bhagawati Cundi, nama Tantranya adalah Vajra Menuntun Secara Setara. Di Tantra Timur adalah sesosok Avalokitesvara yang sangat rahasia, Ia adalah salah satu dari 7 Avalokitesvara di Istana Avalokitesvara Garbhadhatu.

Di dalam Tantra Timur, Ia berkepala 3 dan bertangan 4, setiap wajah bermata 3, bertangan 4. Satu tangan memegang japamala; menjapa nama-Nya, memperoleh penyeberangan.
Satu tangan memegang teratai, menitis di teratai, bencana sirna, rintangan karma sirna, berkah meningkat.
Satu tangan memegang botol suci; setiap orang yang memiliki rintangan karma, menggunakan air amrta dari botol suci, rintangan karma pun sirna; baik neraka, alam pretta, maupun alam hewan, semua rintangan karma sirna.
Satu tangan memegang tali, dengan tali menuntun ke alam Sukhavatiloka Barat.

Amogha artinya semua permohonan tidak akan sia-sia, semua harapan diikat dengan tali, agar semua harapan dapat tercapai.
Menyeberangkan secara setara adalah siapapun Anda, Anda akan dituntun tanpa ada perbedaan, siapapun yang memohon padanya, akan kontak batin, akan kontak yoga.

Ikrarnya yang paling mulia berada pada tali dan amogha nya.

“Om. A Mo Ga. Pi She Ya. Hum Pan Zha.” adalah mantra pendek-Nya. “A Mo Ga” adalah nama Amoghapasa Avalokitesvara.

Yang dijelmakan-Nya ada Mantra Persembahan Amoghamani, selain itu juga ada Mantra Penerangan juga merupakan jelmaannya.

Mantra Persembahan Amoghamani atau persembahan yang luas dan tidak sia-sia, juga ada kaitan dengan yidam yang satu ini, yidam ini bisa mengubah persembahan menjadi luas dan tidak sia-sia.

Memberikan persembahan kepada Avalokitesvara ada kuncinya, harus menggunakan bedak padat, lipstik, pensil alis, cermin, bulu mata palsu, bedak tabur, pemerah pipi.

Persembahan untuk Avalokitesvara diutamakan persembahan yang kita sukai; memberikan persembahan kepada Buddha dan Bodhisattva, Mereka belum tentu menghendaki barang Anda, asalkan kita suka, Mereka pun suka. Sedangkan memberikan persembahan kepada dewa, kita berikan apa yang mereka sukai, ini adalah kunci terpenting dari persembahan, maka akan mudah mencapai kontak yoga.

Tatacara Sadhana Penjapaan Bodhisattva Amoghapasa Avalokitesvara, silahkan klik situs internet berikut ini:
Web: http://indonesia.tbsn.org/modules/news1/article.php?storyid=25

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 83 pengikut lainnya.